
Keesokan harinya, rupanya kediaman Bisma dan Kanaya kedatangan sepasang tamu yang sebenarnya cukup mengejutkan bagi Kanaya. Sebab, keduanya datang tiba-tiba. Kendati demikian Kanaya tetap berbahagia menerima kedatangan tamu tersebut.
"Ayo-ayo, silakan masuk," ucap Kanaya mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Makasih, Kak," jawab tamu tersebut.
Setelahnya, Kanaya pun memanggil suaminya yang tengah bermain dengan Aksara di ruangan bermain.
"Mas, ada tamu, Mas…" Kanaya berbicara dan memberitahu suaminya itu.
"Siapa Sayang?" tanya Bisma kepada istrinya itu.
"Giselle dan Gibran yang datang," jawab Kanaya.
"O … mereka, baiklah aku akan keluar dan membawa Aksara," sahutnya kali ini.
Hingga akhirnya, Bisma pun keluar dan menyapa Giselle dan Gibran.
"Wah, tumben nih pada main ke sini," sapa pria itu sembari mengulurkan tangannya menjabat tangan Giselle dan juga Gibran.
"Halo, Mas …" sapa Giselle dan Gibran bersamaan.
Setelahnya Kanaya turut bergabung dengan Bisma, Aksara, Giselle, dan Gibran. Wanita itu membawakan minuman dan camilan untuk Giselle dan Gibran.
"Ayo, silakan diminum dulu. Kok tumben kalian datang ke mari tanpa menelpon terlebih dahulu sih? Dadakan ya?" tanya Kanaya kali ini kepada Giselle.
__ADS_1
Gadis yang dulu menjadi adik iparnya itu pun tertawa, "Dadakan kayak tahu bulat ya Kak Naya," sahutnya dengan tertawa.
"Iya, kayak tahu yang digoreng dadakan," balas Kanaya.
“Aksara sudah besar ya Kak, sudah usia berapa sekarang?” tanya Giselle kepada Kanaya.
“Satu tahun, 2 bulan Onty,” jawab Kanaya dengan menirukan suara anak kecil.
Giselle tertawa melihat Kanaya, gadis itu juga tampak gemas melihat Aksara yang lucu dan sedang belajar berjalan ke sana kemari.
“Cakep banget sih, Aksara … tetapi, wajahnya dominan mirip Mas Bisma ya Kak,” celetuk Giselle kali ini.
Apabila orang-orang akan berkata bahwa anak laki-laki akan mewarisi wajah Ibunya, tetapi nyatanya Aksara justru lebih mirip Bisma. Dari mata, alis, hidung, bentuk wajahnya, semua mirip dengan Bisma. Hanya bagian bibirnya saja yang terlihat mirip Kanaya.
Mendengar ucapan Giselle, Bisma pun tertawa, “Iya, dia memang mirip Ayahnya. Bundanya hanya sebagai jalan keluar aja ya?”
“Sapa tau, nanti sifatnya yang mirip Kakak,” kali ini Gibran tampak terlibat dalam pembicaraan dan menjawab mungkin saja nanti Aksara memiliki sifat dan karakter yang mirip dengannya.
Sebab, memang seorang anak tidak hanya mewarisi darah dan wajah kedua orang tuanya, anak-anak juga mewarisi sifat dan karakter dari orang tuanya. Maka, Gibran pun berbicara demikian kepada Kanaya.
Akan tetapi, Kanaya justru menghela nafasnya, “Kalau aku bisa memilih, aku berharap Aksara akan mewarisi sifat dan karakter Ayahnya yang baik, sabar, dan juga teliti.”
Sebuah harapan dan doa yang Kanaya harapkan supaya putranya itu justru mewarisi sifat dan karakter dari suaminya. Sebab, di mata Kanaya, Bisma memang sosok pria yang baik hati, sabar, suka menolong, teliti, dan juga pintar. Masih banyak kebaikan dari seorang Bisma, dan Kanaya berharap Aksara akan mewarisi semuanya itu.
Bisma kemudian tertawa, “Kamu jangan memujiku di hadapan orang lain, Sayang … bisa tambah malu aku,” ucapnya dengan menatap wajah Kanaya.
__ADS_1
Tidak menyangka ruang tamu itu justru riuh dengan tawa dari Kanaya, Bisma, Giselle, dan juga Gibran. Terlalu banyak membahas tentang Aksara, Kanaya sampai lupa apa yang membuat Giselle dan Gibran datang ke rumahnya.
“Tuh, kebanyakan ngobrolin Aksara dan Ayahnya, aku sampai lupa bertanya kalian datang ke mari pasti ada alasannya kan?” tanya Kanaya kali ini sembari menatap wajah Giselle dan Gibran bergantian.
Akan tetapi, keduanya sama-sama diam, hingga akhirnya Giselle pun mengangguk, “Hmm, iya Kak, begini … kami sebenarnya datang mau main saja sih. Kangen sama bayi cakep ini, enggak ngira sudah besar sekarang. Terus, kami datang mau memberikan undangan ini buat Kak Naya dan Mas Bisma,” ucapnya sembari menyodorkan sebuah undangan berwarna merah muda itu kepada Kanaya.
Kanaya tersenyum menerima undangan itu, sejujurnya dia sudah memprediksi sebelumnya bahwa Giselle dan Gibran datang ke rumahnya karena maksud tersendiri. Kendati demikian, mendengar undangan yang dibawa Giselle, Kanaya pun bahagia.
“Wah, akhirnya menuju halal. Selamat yah …” Kanaya berbicara dengan membuka undangan tersebut.
“Datang ya Kak,” ucap Giselle kali ini kepada Kanaya.
Kanaya pun mengangguk, “Sudah pasti, aku akan datang ke pernikahanmu,” jawabnya.
Setelahnya Gibran yang berbicara kepada Bisma, “Datang ya Mas, aku berharap rumah tangga kami nanti bisa rukun dan solid seperti rumah tangga Mas Bisma dan Kak Naya,” ucap Gibran kali ini.
Bisma lantas tersenyum, “Rumah tangga kami masih banyak kurangnya. Tidak ada rumah tangga yang sempurna, semua memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kuncinya sih bangun komunikasi yang baik, saling berkomitmen, dan juga saling mencintai,” nasihat Bisma kepada Gibran.
“Benar Mas, hanya saja aku bahagia melihat Mas Bisma dan Kak Naya yang saling mengisi satu sama lain,” lanjut Gibran yang merasa bahagia melihat kekompakan Kanaya dan Bisma.
Setelah itu, Giselle memberikan sebuah paper bag kepada Kanaya, “Kak, ini ya buat bikin seragam. Kak Naya sudah seperti kakak kandung bagiku, jadi temani aku dan bergabung dengan keluarga Wardhana ya,” ucapnya.
Kanaya menerima paper bag itu kemudian menatap suaminya terlebih dahulu, terlihat Bisma mengangguk. Hingga akhirnya Kanaya pun kembali bersuara, “Baik … aku dan Mas Bisma akan menemani kamu di hari pernikahan kalian, aku doakan kalian berdua saling mengisi satu sama lain, saling menyayangi, dan bahagia bersama sampai tua nanti,” ucap Kanaya dengan tulus.
“Ya, nanti kami akan datang dan bergabung dengan keluarga Wardhana. Jadi, sudah berapa persen persiapan kalian?” tanya Bisma kali ini kepada Giselle dan Gibran.
__ADS_1
“Hampir 70 persen sih Mas, kali ini Papa Jaya ingin menggelar pernikahan yang meriah dan mengundang banyak rekan bisnisnya,” jawab Giselle.
Bisma dan Kanaya pun mengangguk karena hal yang wajar bagi keluarga Wardhana untuk menggelar pernikahan mewah, setelah menggelar pernikahan Darren dan Sandra yang hanya dilangsungkan di dalam Lembaga Permasyarakatan beberapa bulan yang lalu.