
Usai makan malam, tidak perlu ditanya lagi Bisma dengan cepat membawa istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar. Dia menyadari bahwa apa yang disampaikan Bundanya sangat benar, wajah Kanaya terlihat lebih pucat. Oleh karena itu, malam ini memang digunakan keduanya untuk istirahat bersama.
“Jadi, panggilan sayang kamu ke aku itu Mas?” tanya Bisma dengan tiba-tiba saat mereka sedang berjalan menuju kamarnya.
Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Tidak … itu cuma formalitas aja di hadapan Bunda dan Ayah kok.” ucap Kanaya dengan menampilkan wajahnya yang bersemu merah.
“O … aku kira, kamu sekarang panggil aku itu, Mas Bisma. Boleh juga kok.” sahut pria itu, dia tidak keberatan jika Kanaya memanggilnya Mas.
“Kalau kamu suka, tidak masalah kok. Aku bisa memanggilmu, Mas Bisma. Ehem, Mas Bisma ….” godanya kepada suaminya itu.
“Apa Dek Naya ….” sahutnya yang justru membuat Kanaya tertawa hingga memegangi perutnya.
Seumur hidup, tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan adek. Tentu saja, Kanaya tertawa hingga perutnya terasa begitu sakit. Entah kenapa panggilan itu terasa asing di telinganya.
“Bahagia banget sih dipanggil Adek … berarti mulai sekarang aku panggil Adek yah?” tanyanya sembari menggenggam tangan Kanaya.
Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Jangan dong … aneh banget asli dipanggil Adek. Mending panggil Naya aja seperti biasanya. Seumur hidup, enggak pernah ada yang memanggilku Adek.” jawab Kanaya dengan berusaha menyeka air mata di sudut matanyakarena terlampau banyak tertawa. Perutnya seakan terguncang, hingga matanya pun berair.
“Ya sudah … aku panggil Sayang aja deh. Naya Sayang ….” ucap Bisma yang kali ini justru memeluk Kanaya dari belakang. Pria itu membenamkan kepalanya di bahu istrinya dan menghirupi aroma wangi yang menguar dari rambut istrinya itu.
Sementara Kanaya merasa bahagia karena mendapatkan suami yang benar-benar mencintainya, tetapi dipeluk dengan tiba-tiba seperti ini, Kanaya masih merasa canggung. Bisma menjadi pria pertama yang melakukan kontak fisik dengannya. Membiarkan suaminya itu memeluknya, Kanaya pun menaruh kedua tangannya di atas tangan suaminya itu yang sedang melingkari perutnya itu.
“Kenapa Mas?” tanyanya kepada Bisma.
__ADS_1
Bisma pun menggelengkan kepalanya, “Enggak apa-apa … benar, wajah kamu pucet. Kamu istirahat aja, biar aku yang packing buat perjalanan kita besok ke bandara. Kamu boleh tidur duluan.”
Kanaya pun mengurai pelukan Bisma yang melingkari perutnya itu, “Yuk, kita packing barengan. Kita siap-siapkan bersama biar bisa cepet selesai dan bisa istirahat barengan.” sahut Kanaya yang mulai berjalan mengambil kopernya.
Tanpa banyak bicara, keduanya sama-sama mengisi koper masing-masing dengan berbagai pakaian, handuk, peralatan mandi, dan juga keperluan pribadi. Dua koper akan menemani perjalanan mereka selama 10 hari ke depan. Memanfaatkan waktu untuk menjalani masa bulan madu, dan bisa berhenti sejenak untuk memikirkan pekerjaan.
Sepuluh hari yang akan mereka renda bersama untuk menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya. Tidak lama kemudian, keduanya telah siap dengan koper-koper keduanya.
"Sudah semua Sayang ... sekarang tidur yuk. Besok kita akan menempuh perjalanan udara cukup panjang. Jangan sampai kamu pucet hingga akhirnya sakit. Kalau sakit, honeymoon kita gagal dong." ucapnya sembari menarik tangan istrinya itu menuju tempat tidur mereka.
Kanaya hanya mengikuti suaminya itu, tetapi karena kamar ini masih terasa asing. Sehingga dia susah memejamkan matanya.
"Kamu enggak bisa tidur?" tanya Bisma perlahan.
Dengan cepat Kanaya pun mengangguk, "Iya ... pertama kalinya aku tidur di kamar kamu." jawabnya.
"Tidak, mungkin aku hanya belum terbiasa." jawab Kanaya.
Bisma pun membawa kepala Kanaya ke dadanya, tangannya mengusap-usap lengannya dengan lembut, "Sekarang tidurlah ... nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa. Good night. Aku cinta kamu, Naya."
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya, Ayah Tirta dan Bunda Hesti mengantarkan Bisma dan Kanaya menuju bandara. Kali ini akan menjadi penerbangan keduanya sebagai suami istri. Perjalanan bulan madu yang tentunya akan sangat istimewa bagi Bisma dan Kanaya.
__ADS_1
“Hati-hati di sana ya. Nikmati liburan kalian berdua, sebelum nanti kembali ke Jakarta dan mulai bekerja lagi.” pesan dari Ayah Tirta kepada Kanaya dan Bisma.
“Iya Yah … kami akan liburan dan jalan-jalan di sana.” sahut Bisma.
“Yang terpenting, tidak lama nanti segera ada kabar baik yang dibawa ya … biar masa tua kami semakin semarak dengan lahirnya seorang cucu.” giliran Bunda Hesti yang berpesan kepada Bisma dan Kanaya.
Bisma pun menggelengkan kepalanya, “Sabar Bunda … intinya Bisma dan Naya sama-sama tidak menunda kok. Semoga saja Allah akan menyegerakan.” sahutnya dengan begitu bijak.
Tidak lama kemudian, keduanya memeluk Ayah Tirta dan Bunda Hesti, lantas mulai memasuki pintu keberangkatan guna melakukan cek dan menunggu di ruang tunggu sebelum dipersilakan memasuki pesawat. Bisma yang kali ini begitu antusias melakukan cek dan juga pria itu begitu terus menggenggam tangan Kanaya hingga ke ruang tunggu.
Hal yang sama pun terjadi ketika berada di dalam pesawat. Seolah pria itu tidak akan membiarkan tangan Kanaya terlepas begitu saja dari tangannya.
“Kamu takut aku hilang ya Mas? Kok tanganku gak dilepasin.” tanya Kanaya sembari menunduk melihat tangan keduanya yang saling menggenggam satu sama lain.
Bisma pun tersenyum, “Seumur hidup, aku bakalan terus genggam tangan kamu ini. Tidak akan kubiarkan kamu berjalan sendiri. Aku ada bersamamu.” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Perkataan sang suami yang membuat Kanaya begitu menghangat, perlahan gadis itu beringsut dan mulai menaruh kepalanya di bahu suaminya. “Terima kasih Mas, buat semuanya. Aku rasa, jika aku tidak pernah bertemu kamu, aku tidak akan pernah bangkit. Aku akan tetap menjadi Kanaya yang insecure dan putus asa. Rasanya semua perkataanmu sejak dulu seperti lentera dalam hidupku. Lentera yang memberikan cahaya, hingga perlahan aku mau berjuang dan berusaha, bahkan perkataanmu banyak mengubah pola pikir aku. Tanpa kamu tahu, sejak dulu aku selalu menanamkan semua perkataanku di otak aku ini.” kali ini Kanaya mengakui bahwa dirinya memang memasukkan setiap ucapan Bisma ke dalam otaknya.
“Ah, kamu segitunya Sayang … aku jadi malu loh ini.” jawab Bisma sembari tersenyum.
Kanaya pun kembali mengangguk, “Benar … jujurly, aku enggak bohong. Rasanya kamu itu berjasa banget buat aku.” imbuhnya kali ini.
Bisma pun lantas tertawa, “Makasih … padahal ya aku berkata apa adanya. Sekarang, jangan ragu untuk berbagi denganku ya. Berawal dari honeymoon trip kali ini, semoga kita bisa semakin terbuka dan kompak satu sama lain.” ucapnya sembari melihat wajah Kanaya dari samping. “Sekarang tidurlah dulu, perjalanan udara kita masih panjang. Masih 8 jam di udara, sini sandaran di bahu aku aja.” ucapnya sembari membawa kepala Kanaya untuk bersandar di bahunya.
__ADS_1
Kanaya pun tersenyum, “Kamu tidak keberatan jika aku sandaran kayak gini selama 8 jam?” tanyanya.
Dengan cepat Bisma menggelengkan kepalanya, “Tidak … justru seumur hidup, aku mau kamu selalu bersandar padaku.” ucap pria itu dengan sungguh-sungguh.