
Menceritakan masalah personal kepada orang lain yang dipercaya adalah curhat. Hari ini, Gisell bangun dengan menimbang-nimbang haruskah dirinya curhat dengan Kanaya. Kemarin saat Papa Jaya dan Mama Sasmita mengunjunginya, Gisell memang disarankan untuk bisa mengobrol banyak dengan Kanaya.
Di tengah keraguannya, Gisell akhirnya memutuskan untuk menghubungi Kanaya, mantan kakak iparnya yang sudah seperti kakaknya sendiri.
Kanaya
Berdering
“Halo Kak Naya …” sapa Gisell ketika panggilannya sudah terhubung.
Di seberang sana, Kanaya pun menjawab sapaan Gisell. “Hai, Gisell … bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kamu tidak menghubungiku. Kamu sehat?” tanya Kanaya yang terlihat excited.
“Iya Kak … beberapa waktu ini aku rasanya sangat stuck dengan kuliahku.” keluhnya kepada Kanaya melalui panggilan telepon itu. “Kak, boleh aku mengobrol. Ada yang ingin aku ceritakan?” tanya Gisell melalui panggilan seluler itu.
Kanaya pun tersenyum, “Tentu boleh … kamu sudah seperti adikku sendiri, Sell. Tidak usah sungkan. Ada apa?”
Gisell pun berbaring dan pandangannya menerawang pada langit-langit kamarnya sebelum berbicara, “Kak … ada seorang pria yang dekat denganku.” ucapnya lirih. Membuka sessi curhat itu dengan mengatakan bahwa ada seorang pria yang saat ini dekat dengannya.
Mendengar cerita dari Gisell, tentu saja Kanaya merasa bahagia. Bahkan wanita itu pun mengulas senyuman mendengar kalimat pembuka dari Gisell.
“Lalu, bagaimana Sell?” tanya Kanaya. Sebuah pertanyaan yang sejujurnya meminta Gisell untuk kembali bercerita kepadanya.
“Namun, aku takut Kak …” sambung Gisell sembari gadis itu menggigiti kuku di jarinya. Sebuah tanda jika Gisell memang sedang panik dan merasa tidak percaya diri.
__ADS_1
Di seberang sana Kanaya pun menghela napasnya mendengarkan ucapan Gisell. Sebuah ketakutan yang dialami Gisell agaknya menyita perhatian Kanaya. Hingga akhirnya, Kanaya pun kembali bertanya kepada Gisell.
“Apa yang kamu takutkan?” tanya Kanaya dengan suaranya yang terdengar begitu lembut.
“Aku takut, jika pada akhirnya akan diperlakukan buruk oleh pria itu. Atau bisa saja pria itu memiliki motif tersembunyi denganku.” sahut Gisell.
“Coba ceritakan secara jelas terlebih dahulu, Sell.” pinta Kanaya yang meminta Gisell untuk bercerita secara jelas dan tentunya lebih terbuka.
Sebab jika Gisell masih berusaha menahan dan tidak bersikap terbuka, Kanaya pun tidak bisa mendengarkan semuanya. Jika pun memberikan solusi, Kanaya pun bingung harus memberikan solusi dari mana.
“Ada seorang pria di kampusku yang baik dan sekarang cukup dekat denganku Kak … nama pria itu adalah Gibran, pemuda baik dan juga berasal dari Indonesia, dia tinggal di Bandung. Dari sikap baiknya selama ini, keliatannya dia suka denganku. Hanya saja, aku takut untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Suatu hari, Gibran pernah bercerita bahwa jikalau aku mau, dia akan menikahi usai kami sama-sama lulus kuliah. Hanya saja, aku tidak yakin. Aku terlalu takut untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Aku takut, apa yang terjadi pada Kak Naya dulu akan terjadi juga padaku. Diperlakukan buruk oleh suami sendiri, ditolak, dan juga lebih buruknya menerima kekerasan verbal. Itu semuanya, jelas karena berat badanku. Aku masih gemuk, Kak. Mungkinkah ada pria yang menerimaku tulus?” cerita Gisell pada akhirnya kepada Kanaya.
Memang terkadang, orang akan menjadikan pengalaman dari orang lain sebagai sebuah tolok ukur. Padahal jalan hidup satu orang dengan yang lainnya jelas berbeda. Namun, memang tidak sepenuhnya menjadi salah Gisell jika dia memiliki pemikiran dan ketakutan seperti itu. Semua itu tentu didasari karena dia adalah saksi mata bagaimana Kanaya dulu diperlakukan dengan buruk oleh kayak kandungnya sendiri, Darren. Secara tidak langsung, apa yang dulu dia lihat justru menjadi layaknya peristiwa traumatik dalam otaknya.
Di seberang sana Gisell pun mengangguk, “Iya Kak … dulu Kak Naya bagaimana bisa menerima Dokter Bisma? Apa yang membuat Kakak yakin untuk menerimanya?” tanya Gisell kali ini. Mungkin saja jawaban yang diberikan Kanaya akan bisa membantunya untuk memutuskan keputusannya nanti.
“Bagiku … Mas Bisma adalah pria yang sangat baik, kami dulu satu kelas di SMA. Lagipula, awal kami bertemu dia tahu sebesar apa aku dulu. Ya, aku bertemu dengannya saat berat badanku masih bersize XXL, tetapi dia memperlakukanku dengan baik. Dia menyukaiku ternyata sejak kami sama-sama berada di SMA, bagiku itu bukti bahwa dia tidak terpengaruh dengan besarnya badanku dulu. Jika ada orang yang memotivasiku untuk berubah, itu adalah suamiku. Dari dulu, dia yang memotivasiku untuk berusaha, berubah, bahkan aku bisa diet ini sedikit banyak karena ucapannya.” cerita Kanaya.
Dalam hal ini Kanaya hanya bercerita, tidak bermaksud untuk menggurui atau menghakimi Gisell. Setidaknya mereka saling bercerita, keputusan yang diambil pun akan dikembalikan kepada pribadi yang bersangkutan.
Gisell pun mengangguk mendengarkan setiap cerita dari Kanaya, tetapi dia pun bersyukur karena Kakaknya itu sudah menemukan kebahagiaan bersama pria yang menyayanginya dan memotivasinya kapan pun.
“Jadi, menurut kamu harus bagaimana Kak?” tanya Gisell kali ini meminta pendapat dari Kanaya.
__ADS_1
Tidak langsung menjawab, Kanaya tampak berpikir terlebih dahulu dan berusaha memberikan nasihat yang tentunya tepat untuk Gisell.
“Yakinkan dirimu sendiri dulu, Sell. Saat otakmu masih merasa ragu, coba tanyakan pada hatimu. Apa yang kamu inginkan, seberapa yakin kamu dengan langkah yang kamu ambil, benarkah dia mencintaimu? Semuanya akan teruji oleh waktu. Waktu akan menguji kesungguhan cinta. Karena itu, coba tanyakan terlebih dahulu pada hatimu. Aku tidak ingin kamu mengambil sebuah keputusan hanya berdasarkan pada saranku saja. Namun, jika kamu mengambil sebuah keputusan, aku ingin itu murni hasil keputusanmu tidak ada intervensi dari siapa pun. Jika pria itu memang baik, setiap perilaku dan tutur katanya akan mencerminkan kebaikan dia. Cuma … aku ingin menasihatimu saja, jangan merasa rendah diri dengan keadaan diri kita sendiri. Berat badan yang banyak tidak membuat seseorang terpuruk. Miliki pola pikir positif dan terus afirmasi ke diri sendiri bahwa gambar diriku tidak ditentukan oleh orang lain. Citra diriku dibentuk oleh diriku sendiri. Semangat ya Sell … aku yakin kamu akan menemukan jawabannya.” ucap Kanaya.
Di seberang sana, Gisell pun mengangguk. “Iya Kak … ah, rasanya lega bisa cerita dengan kamu, Kak. Rasanya aku sekarang sedikit lebih percaya diri, Kakak sudah seperti Bestie buatku. Makasih ya Kak, lain waktu aku akan menghubungimu lagi, jangan bosan untuk mendengarkan curhatku.” ucap Gisell di seberang sana.
...🍃🍃🍃...
Dear All My Bestiee,
Mampir juga ke karya teman-teman aku yang lainnya ya. Silakan bisa meninggalkan jejak juga di sana.
Makasih ya buat semuanya..
Love U All...
__ADS_1
Kirana🧡🧡