
Tepat seperti prediksi Bisma, malam ini pun Bunda Hesti meminta kepada Kanaya dan Bisma untuk menginap di rumah mereka. Untung saja dari apartemennya, Kanaya sudah mempersiapkan baju ganti yang dia taruh di mobilnya. Sehingga saat Bunda Hesti memintanya untuk menginap, Kanaya tidak lagi kebingungan perihal baju ganti.
Malam ini Bisma, Kanaya, Bunda Hesti, dan Ayah Tirta menikmati malam di serambi rumah. Di mana ada sebuah taman kecil di sana. Menikmati malam dengan secangkir Kopi Hangat dan juga pisang goreng. Akan tetapi, Kanaya tidak meminum kopi karena dia memiliki asam lambung. Sehingga Bumil ini memilih untuk meminum Teh hangat saja.
"Sudah berapa minggu, Naya?" tanya Bunda Hesti kepada menantunya itu.
"Kalau tidak salah 36/37 minggu Bunda." jawabnya.
Kemudian Bunda Hesti sedikit meraba perut buncit Kanaya memegang beberapa bagian. Sebab biasanya bidan memang bisa memprediksi usia kehamilan dengan hanya memegangnya saja. "Iya … sudah turun bayinya." ucap Bunda Hesti usai memegang perut Kanaya.
"Nanti kalau USG tanya saja posisi bayinya, ada plasenta previa (plasenta yang menutupi jalan lahir) tidak? Juga kalau pengen lahiran normal, mulai perbanyak jalan kaki di pagi hari, berhubungan suami istri juga boleh karena bisa mengeluarkan hormon oksitosin." Penjelasan Bunda Hesti yang berprofesi sebagai Bidan kepada Kanaya.
Mendengar penjelasan dari Bundanya, Kanaya pun mengangguk, "Iya Bunda … melahirkan itu sakit enggak Bunda?" tanyanya kepada Bunda Hesti.
Paling tidak Bunda Hesti berprofesi sebagai Bidan dan sering membantu calon ibu melahirkan, juga Kanaya sama sekali masih awam dan tidak tahu menahu tentang proses melahirkan itu seperti apa, sehingga dia bertanya kepada Bunda Hesti.
“Pasti sakit, Nay … tetapi, cuma sebentar kok. Kalau Bunda, sekalipun sebagai Bidan, Bunda membantu para calon ibu untuk melahirkan normal. Akan tetapi, kamu memilih senyamannya kamu saja. Bisa normal ya berjuang normal. Jika tidak bisa Caesar pun tidak masalah. Sekalipun melahirkan Caesar, kamu tetap Ibu sepenuhnya.” ucap Bunda Hesti.
Tidak dipungkiri memang banyak orang-orang berpikiran bahwa mereka yang menjadi ibu sepenuhnya adalah mereka yang melahirkan bayi secara normal. Merasa bahwa proses pembukaan demi pembukaan yang begitu sakit dan menyiksa itu adalah proses yang menjadikan seorang wanita menjadi ibu seutuhnya dan sepenuhnya. Padahal, mereka yang melahirkan secara normal pun juga sama kesakitannya. Merasa bius secara total, hingga rasa sakit yang teramat sangat pasca operasi. Maka dari itu, Normal dan Caesar hanya metode persalinan. Para ibu adalah wanita yang sempurna.
Kanaya pun mengangguk, dia bersyukur karena Bunda Hesti rupanya tidak mengharuskan dirinya untuk melahirkan secara normal. “Naya lihat hasil pemeriksaan nanti ya Bunda … kalau sekiranya bisa normal, Naya akan berusaha melahirkan secara normal, tetapi kalau nyatanya ada kondisi yang membuat bayi tidak bisa dilahirkan secara normal, maka Naya akan memilih melahirkan secara Caesar.” balasnya kepada ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Bunda Hesti pun mengangguk, “Iya Nay … tenang saja. Apa pun keputusan yang kamu ambil. Bunda dan keluarga ini akan selalu mendukung kamu. Ya sudah, sekarang sudah malam … ditambah justru gerimis. Sana masuk ke kamar, istirahat.” ucap Bunda Hesti.
Bisma pun segera bangkit dan mengulurkan tangannya untuk meraih tangan istrinya dan menuntunnya untuk memasuki kamarnya yang berada di lantai dua.
“Pelan-pelan naik tangganya, Sayang …” ucap Bisma yang mengingatkan istrinya itu untuk hati-hati.
Kanaya pun tersenyum, “Ada kamu yang menggandeng tanganku. Sudah pasti, aku akan aman.” jawabnya seraya tersenyum.
“Kamu bisa aja … abis ini istirahat aja, rebahan. Seharian juga kamu banyak duduk, apalagi siang tadi banyak kerabat yang datang.” Bisma meminta kepada istrinya itu untuk istirahat dan rebahan. Sebab sejak siang, Kanaya pun berkumpul dengan kerabat yang datang untuk merayakan lebaran di kediaman Pradana.
“Aku sebenarnya masih pengen di bawah tadi, lihat gerimis, Mas … anginnya pasti seger, terus ada pretikor.” ucapnya.
“Aroma alami yang dihasilkan saat hujan jatuh di tanah kering, atau semerbak aroma bau tanah yang terkena guyuran air hujan itu namanya Pretikor, Mas,” jawabnya.
“O … itu namanya pretikor yah? Biasanya anak kedokteran enggak paham istilah kayak gitu sih Sayang. Tahunya semerbak bau tanah yang kena hujan, gitu aja.” Bisma ber-O ria dan mengangguk.
Kanaya pun kemudian tersenyum, “Gak apa-apa, lagian itu kata serapan juga kok Mas. Enggak tahu juga enggak apa-apa,” sahutnya dengan tertawa.
Sesampainya di kamar, Bisma kemudian membuka jendela kaca di kamarnya, kemudian mempersilakan istrinya untuk duduk di sana. “Tuh, aku buka dulu jendelanya. Katanya kamu pengen lihat hujan.”
Kanaya kemudian tersenyum, “Makasih … pengertian banget sih Mas.” ucapnya. “Euhm, kalau hujan-hujan gini jadi inget kamu waktu nunggu di luar rumahku hujan-hujan itu. Romantis dan dramatis.” kenangnya saat suaminya dulu begitu bersikeras menunggu jawaban dari Kanaya hingga rela membiarkan dirinya berdiri di bawah guyuran air hujan.
__ADS_1
Bisma kemudian tertawa, “Itu perjuanganku Sayang … enggak sia-sia juga kan aku hujan-hujan dan akhirnya dapat jawaban dari kamu.” jawabnya dengan terkekeh geli.
Perlahan Kanaya berdiri dan dia memeluk suaminya itu dari belakang, “Perjuangan kamu enggak sia-sia, Mas. Semoga kamu mau terus berjuang untukku dan anak kita ya Mas. Apalagi dengan Dokter Cynthia itu, jangan macem-macem. Awas!”
Ucapannya terdengar begitu serius dan Kanaya memeluk pinggang Bisma dengan begitu posesif. Bisma pun tersenyum dan juga menumpukan kedua tangannya di kedua tangan Kanaya yang saat ini melingkar di pinggangnya itu.
“Enggak akan Sayang … percaya sama aku. Suamimu ini tidak akan membuka celah bagi siapa pun. Janji.” jawabnya dengan begitu serius.
Helaan napas terdengar keluar dari mulut Kanaya, wanita itu kini justru menumpukan wajahnya di punggung suaminya, “Aku wanita yang pernah terluka, Mas … luka yang kualami di masa lalu bukan sekadar luka goresan, tetapi layaknya luka ada sebuah pedang yang menghunus dengan begitu dalam. Jadi, mungkin saja jika aku terluka lagi, aku gak akan tahu caranya bangkit dan aku tidak akan menaruh kepercayaan lagi kepada pria.” ucap Kanaya sembari memejamkan matanya.
Sebagai seorang Dokter dan pernah mendapat ilmu kejiwaan juga, bagaimana pun juga luka di masa lalu bisa kembali menyeruak ke permukaan dan Bisma saat tahu itu. Perlahan pria itu membalikkan badannya guna bisa melihat wajah istrinya itu. Pria itu sedikit menunduk dan mengangkat dagu istrinya dengan ibu jari dan jari telunjuknya, menyapa bibir itu dengan begitu lembut, mencecap manis bibir itu dengan memejamkan matanya, dan tangannya menggenggam kedua tangan Kanaya. Ciuman disertai dengan rintik hujan di luar sana yang membuat suasana begitu syahdu. Perlahan, Bisma mengurai jarak wajahnya, dan kedua netranya menyorot tajam wajah Kanaya.
“Percayalah kepadaku, kepada cinta kita berdua, Sayang … selamanya aku akan menjaga kesetiaanku kepadamu. Aku pun juga berharap, kamu juga akan melakukan hal yang sama. Jangan ragukan diriku dan cintaku.” ucapnya dengan menatap wajah Kanaya dengan begitu lekatnya.
Perlahan Kanaya mengangguk dan sebuah senyuman terbit di wajahnya, “Iya … aku percaya. Sejak pertama bertemu lagi denganmu, aku selalu percaya dan bahkan menaruh kepercayaanku kepadamu. I trust you.” ucap Kanaya.
“Seluruh hidupku akan menjadi catatan yang bisa kamu percaya. Jangan berpikiran yang macam-macam, yang pasti cinta dan kesetiaanku mutlak hanya untukmu. Yang pasti tetaplah dampingi aku, kita menjalani semua ini. Dari awal hubungan kita sudah melewati berbagai ujian bukan? Jadi ke depannya, aku percaya kita akan semakin dikuatkan.” ucap Bisma.
Usai mengatakan semua itu, Bisma kembali menundukkan wajahnya dan kembali mencium bibir yang sudah menjadi candu baginya itu. Menciumnya dengan begitu dalam, mencecap rasa manis yang layaknya nektar yang selalu dia reguk tiap kali menyapa bibir yang tipis dan begitu ranum itu. Mensesap dua belahannya atas dan bawah. Saat napasnya terengah-engah, pria itu menyatukan keningnya dengan kening istrinya, membuat puncak hidung mereka pun bertaut satu sama lain.
Perlahan Bisma bergerak ke kanan dan ke kiri, hingga ujung hidung itu saling bergerak. Kemudian pria itu, membawa Kanaya dalam pelukannya. “Aku cinta kamu, Naya … I Love U Everyday.” ucapnya dengan memejamkan matanya dan memeluk erat wanita yang begitu dicintainya itu.
__ADS_1