Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Keluarga yang Menyayangi Aksara


__ADS_3

Keesokan harinya, siang hari datangnya pasangan muda dengan menggendong seorang bayi datang ke Panti Asuhan Kasih Ibu. Pasangan muda itu datang dengan orang tua dan mertuanya. Mereka membawa banyak sekali hadiah mulai dari sembako, susu formula bubuk, makanan ringan, peralatan sekolah, hingga buku-buku bacaan. Semua kado itu akan diberikan untuk seluruh anak yang berada di Panti Asuhan Kasih Ibu.


Rombongan itu memasuki Panti Asuhan dan disambut hangat oleh Kepala Panti Asuhan yaitu Ibu Lisa. Ya, Bu Lisa menerima dengan baik keluarga muda itu.


“Terima kasih untuk kunjungannya Bapak dan Ibu. Saya sangat berterima kasih karena Bapak dan Ibu Raditya sudah berkenan berbagi kasih kepada anak-anak yang ada di sini,” ucap Bu Lisa dengan tulus.


Rupanya yang datang mengunjungi Panti Asuhan siang itu adalah pasangan Raditya Wibisono dan istrinya Khaira Amaira. Keduanya datang ke Panti Asuhan untuk berbagi kasih sebagai wujud syukurnya atas kelahiran putri pertama mereka yang bernama Arsyilla. (Yang mau ceritanya Radit dan Khaira, silakan mampir dan membaca karya Author yang berjudul Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta).


“Sama-sama Bu Lisa, kami juga berterima kasih karena sudah disambut dengan baik di sini,” sahut Radit yang juga mengucapkan terima kasih karena telah disambut dengan begitu baik di tempat tersebut.


Sebenarnya, ide berbagi itu adalah ide dari istrinya Radit, yaitu Khaira. Bagi Khaira sendiri, pasca melahirkan dan memiliki seorang bayi rasanya dia ingin berbagi. Sebab bagi Khaira berbagi sejatinya tidak harus menunggu kapan seseorang berpunya. Dengan apa yang kita miliki, asalkan tulus dan ikhlas semuanya bisa dilakukan. Berbagi tanpa menunggu waktu.


Pasangan paruh baya yang turut menemani Radit dan Khaira ke panti asuhan pun merasa bahwa ide berbagi kasih adalah sebuah ide yang mulia.


“Makasih Khaira, kamu masih sangat muda, tetapi sudah berpikir untuk berbagi kepada anak-anak di sini,” ucap Bunda Dyah yang tak lain adalah Ibunya Khaira.


Wanita muda yang berparas ayu itu justru menatap suaminya, “Semua ini adalah ide dari Mas Radit juga, Khaira hanya mengikuti keinginan suami,” jawab wanita itu dengan begitu lembut.


Merasa sang istri tengah memujinya, pria yang bernama Radit itu mulai bersuara, “Sejatinya Radit hanya ingin berbagi kasih saja. Sejatinya memberi tidak harus menunggu kita kaya, asalkan hati ikhlas kita bisa memberi untuk sesama. Ini wujud syukur Radit sudah bisa mendapatkan seorang bayi dan mengingat perjuangan Khaira kemarin, Radit jadi ingin berbagi kasih kepada anak-anak di sini,” balas pria itu yang kemudian diangguki oleh seluruh keluarganya.


“Mas, aku mau main sama anak-anak di sini boleh?” tanya Khaira kepada suaminya itu.


“Boleh Sayang … Arsyilla biar sama Eyangnya, kamu boleh spent time bersama anak-anak di sini,” balas Radit.


Usai mendapatkan izin dari sang suami, Khaira pun lantas mendatangi kerumunan anak-anak itu.


“Halo adik-adik … mau enggak Tante bacakan cerita untuk kalian?” tanya Khaira. Wanita muda itu menawarkan untuk membacakan cerita bagi anak-anak yang duduk melingkarinya itu.


“Mau ….” Anak-anak pun menyahut dengan bersamaan.

__ADS_1


“Sebelumnya kita berkenalan dulu yah, nama Tante adalah Khaira, nanti kita kenalan satu per satu yah,” ucapnya.


Kemudian Khaira mengambil satu buku dan mulai membacakan buku dongeng untuk anak-anak di situ.


Suatu hari, terlihat seekor Ibu Itik sedang mengerami telur-telurnya. Ia sudah tidak sabar menunggu anak-anaknya lahir ke dunia. Akhirnya, hari yang di tunggu ibu itik pun tiba. Telur-telur pun satu per satu menetas dan anak-anaknya keluar dari cangkangnya. Namun, ibu itik sangat terkejut dari beberapa anaknya ada yang berbeda. Satu anaknya tersebut memiliki warna yang berbeda dari saudara-saudaranya. Ia memiliki warna abu-abu dan memiliki badan yang lebih besar dari yang lain.


Melihat anaknya yang berbeda ibu itik terheran-heran. Namun, ia tidak peduli dan menyambut anak-anaknya lahir ke dunia. Ibu itik langsung mengajak anak-anaknya berenang bersama di danau.


Ketika mereka berenang, mereka pun melewati hewan lain yang melihat ibu itik dan anak-anaknya. Namun, mereka pun berbisik-bisik.


"Siapa itu? Dia sangat berbeda dari saudara-saudaranya yang lain, ia pun sangat jelek." Bisik-bisik hewan yang melihat keluarga itik tersebut. Mendengar yang di katakan hewan-hewan yang lain membuat sang ibu merasa sedih. Namun, ia tidak peduli karena satu anaknya memang berbeda dari yang lain. Akan tetapi, dia tetap anaknya.


Semua hewan mengejek itik abu-abu. Bahkan saudaranya sendiri. Itik abu merasa sangat sedih. Ia pun memutuskan untuk pergi karena ia tidak mau lagi tinggal di sana. Ia pun berjalan kesana-kemari dan bertemu dengan seorang anjing yang sedang mencari makan. Melihat sang anjing, itik abu pun ketakutan karena ia takut di makan olehnya. Namun, sang anjing malah berlari menjauhi itik abu-abu. Melihat anjing yang berlari menjauhinya, ia merasa semakin sedih karena anjing pun takut melihatnya.


Ia pun melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan tersebut ia merasa kelelahan dan tertidur di depan sebuah rumah. Tiba-tiba, datanglah seekor Kucing dan Ayam datang menghampirinya. Itik abu-abu pun bangun dari tidurnya dan melihat dua binatang tersebut. Namun, mereka langsung mengusir Itik abu-abu agar segera pergi dari depan rumah tersebut.


Dengan perasaan sangat sedih, ia pun melanjutkan perjalanan. Ia berjalan sangat jauh dan akhirnya, ia beristirahat di pinggir sungai. Ia melihat serombongan angsa lewat. Ia pun sangat iri melihat kecantikan Angsa-angsa tersebut.



"Aku sedih karena aku jelek dan tidak bisa seperti kalian." Jawab Itik abu sedih.



Rombongan Angsa hanya tertawa.*


"Siapa yang bilang kamu jelek? Kamu sangat cantik seperti kami." Jawab Angsa.


__ADS_1


Rombongan Angsa pun mengajak Itik abu mendekat ke tepi sungai. Itik abu-abu sangat terkejut melihat sosok Angsa putih di dalam air. Ia tidak melihat dirinya yang jelek dan di takuti di dalam air tersebut. Ia heran, siapa Angsa yang sangat cantik tersebut.


"Angsa cantik itu adalah dirimu. Kamu sama seperti kami."


Itik abu-abu sangat senang. Kini, ia bukan Itik yang buruk rupa lagi. Ia adalah seekor Angsa yang sangat cantik. Ia pun ikut terbang bersama Angsa yang lain dan mencari tempat yang sangat hangat untuk mereka tinggali bersama.


(Itik Kecil Buruk Rupa - Hans Christian Andersen)


Khaira membacakan dongeng itu dan anak-anak terlihat antusias. Akan tetapi, saat anak-anak yang lain mulai melanjutkan aktivitas yang lainnya, ada seorang anak laki-laki yang masih duduk di hadapan Khaira. Khaira pun menghampiri anak kecil itu.


“Hei, halo … nama kamu siapa Nak?” tanya Khaira dengan lembut. Khaira duduk di depan anak kecil yang berusia 4 tahun itu.


“Namaku Aksara Adhi Narotama, biasa dipanggil Aksara,” jawab bocah itu dengan penuh percaya diri.


“Wah, nama kamu bagus. Aksara … ya Aksara adalah nama yang bagus. Umur kamu berapa tahun?” tanya Khaira lagi.


“Tiga - empat tahun,” jawab Aksara kecil dengan menggemaskan.


Khaira pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala Aksara dengan lembut. Rasanya anak kecil di hadapannya itu menggemaskan dan juga kasihan di waktu yang hampir bersamaan.


“Kenapa Aksara tidak ikut makan kue bersama teman-teman yang lainnya?” tanya Khaira.


“Aksara suka dongeng Itik Kecil Buruk Rupa itu. Aksara merasa bahwa Aksara adalah Itik Buruk Rupa itu,” ucap Aksara dengan begitu polosnya.


Khaira pun beringsut dan membawa Aksara dalam pangkuannya. Aksara kembali berbicara kepada Khaira.


“Iya … Aksara tidak punya siapa-siapa. Buktinya Aksara tinggal di panti asuhan dan tidak punya keluarga. Namun, suatu hari nanti Aksara mau menjadi anak yang berhasil,” ucap Aksara dengan penuh percaya diri.


“Kamu harus sekolah yang pandai ya Aksara … kamu mau tidak sekolah, Tante akan sekolahkan kamu?” tawar Khaira sembari mengusapi rambut hitam milik Aksara.

__ADS_1


Aksara pun mengangguk, “Mau … bolehkah Aksara memanggil Tante dan Om dengan sebutan Ibu dan Ayah?” tanya Aksara.


Seakan ada dorongan dalam hati Aksara kecil waktu itu untuk bisa memanggil pasangan muda yang baru dia temui dengan memanggilnya Ibu dan Ayah. Bocah kecil itu merasa seperti Itik kecil buruk rupa yang tidak mempunyai siapa-siapa. Akan tetapi, Khaira dan Radit yang baru saja ditemuinya nyatanya bisa membuat Aksara ingin memanggil keduanya dengan sebutan Ayah dan Ibu.


__ADS_2