Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Rasa Jengkel


__ADS_3

Dokter muda nan cantik yang baru saja datang dan menjadi pusat perhatian itu bernama Dokter Cynthia. Seorang Dokter yang menangani bagian spesialisasi kulit. Kecantikan yang dimilikinya, menjadikan Dokter Cynthia menjadi Dokter tercantik di Rumah Sakit itu. Kini, Dokter yang cantik itu tengah berjalan dan seolah matanya hanya menatap pada Bisma.


Kepekaan seorang Kanaya, dia tahu bahwa Dokter yang berparas ayu itu tengah menatap suaminya. Ada rasa sebal di dalam dada saat mendapati ada wanita lain yang diam-diam menatap suaminya. Akan tetapi, Kanaya merasa sedikit lega karena suaminya terlihat tidak menghiraukan Dokter cantik itu. Bisma tetap fokus kepada istrinya dan beberapa rekan yang terkadang datang untuk berjabat tangan dengannya.


Hingga akhirnya, Dokter Cynthia itu pun menghampiri Bisma dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Bisma.


“Hai Dokter Bisma …” sapanya dengan begitu manis.


Bisma pun mengangguk dan menjabat tangan Dokter Cynthia.


Akan tetapi, tanpa diduga, Cynthia mengikis wajah dan melakukan cipika-cipiki di pipi Bisma. Pemandangan yang tentunya membuat Kanaya membolakan kedua matanya. Sekaligus cium pipi kanan dan pipi kiri adalah salam yang lumrah bagi masyarakat Ibukota, tetapi Kanaya tetap merasa tidak nyaman dengan cium pipi kanan dan kiri, terutama kepada lawan jenis.


Bisma sadar bahwa apa yang dilakukan Dokter Cynthia pasti memercik api di dalam hati istrinya. Perlahan, Bisma segera mundur, pria itu kemudian menyentuh bahu istrinya dan mengenalkan Kanaya kepada rekan Dokternya itu.


“Kenalkan dia istri saya, Kanaya.” ucap Bisma dengan begitu sopan.


“O … istrinya Dokter Bisma ya? Saya kira Dokter belum memiliki istri.” ucap Cynthia sembari tersenyum, dia sedikit mengangguk kepada Kanaya.


Sama halnya dengan Kanaya, wanita hamil itu berusaha sabar dan tidak tersulut emosi. Sekalipun tidak dipungkiri ada rasa tidak suka di dalam dirinya.


“Boleh saya duduk di sini?” tanya Cynthia kepada Bisma.


Dengan cepat Bisma pun menghalau, “Lebih baik Dokter duduk di tempat yang lain saja. Sudah ada yang duduk di sini.” ucapnya dengan tegas.


Merasa ditolak, Cynthia pun mengangguk, “Ah, oke … baiklah. Saya akan duduk di sana lagi.” kemudian dia pergi dan memilih duduk berjarak beberapa meja di depan Bisma. Akan tetapi, lagi-lagi Cynthia memilih tempat duduk yang bisa berhadapan dengan Bisma.

__ADS_1


Sekalipun dia berbicara dengan rekan semejanya, tetapi pandangan matanya tetap saja memperhatikan Bisma. Sejenak melirik dan juga diam-diam memperhatikan Bisma.


Sadar dengan sikap Dokter Cynthia, Kanaya pun mulai resah. Wanita itu terlihat menunduk, dan tidak berselera dengan berbagai menu berbuka puasa yang disuguhkan di salah satu resto milik chef terkenal Ibukota itu. Sekalipun cita rasa makanan itu sangat enak, aromanya menggugah selera, tetapi semuanya hambar untuk Kanaya.


“Kamu enggak makan Sayang?” tanya Bisma kepada istrinya. Pria itu bahkan membawa satu sendok berisi makanan yang hendak dia suapkan untuk istrinya.


Akan tetapi, Kanaya menggelengkan kepalanya, “Aku enggak berselera makan.” ucapnya dengan lesu.


“Mau pulang sekarang?” tanya Bisma lagi.


“Mau …” jawab Kanaya dengan cepat.


Sehingga Bisma pun menaruh sendok dan garpu di sisi piringnya, kemudian dia berpamitan kepada rekan-rekannya bahwa dia pulang terlebih dahulu. Pria itu bahkan membantu Kanaya berdiri, dan segera meraih pinggang istrinya kemudian berjalan meninggalkan resto itu.


Begitu sudah sampai di mobil, Kanaya lantas mengambil tissue basah dari tasnya. Mengambil satu helai dan memberikannya kepada suaminya itu.


Bisma pun melihat Kanaya dengan pandangan yang terlihat bingung, “Apanya yang dibersihkan?” tanya Bisma.


“Pipi kamu.” jawab Kanaya lagi.


Tangan Bisma pun terulur menerima sehelai tissue basah itu, dan mengelap seluruh wajahnya. Bukan hanya kedua pipinya, tetapi seluruh wajahnya pun juga dia bersihkan. Setelahnya pria itu mengambil hand sanitizer yang selalu tersedia di dashboard mobilnya, menyemprotkannya ke tangannya. Mensteril kedua tangannya.


“Sudah bersih. Apa lagi?” tanya Bisma kepada Kanaya.


“Tau.” jawab Kanaya yang kali ini benar-benar menunjukkan rasa jengkelnya kepada suaminya itu.

__ADS_1


Bisma pun enggan menginjak pedal dengan kakinya, pria itu beringsut guna menatap wajah istrinya yang kini sedang sebal. “Kamu cemburu?” tanyanya perlahan.


Kanaya pun mengedikkan bahunya, “Enggak.” jawabnya dengan singkat.


Merasa bahwa istrinya tengah berbohong, Bisma kemudian membawa satu tangan istrinya dan menggenggamnya. “Maaf ya … aku juga enggak tahu kalau Dokter Cynthia datang dan tiba-tiba cipika cipiki sama aku.” Bisma meminta maaf dengan menunjukkan wajah yang bersalah.


“Berarti kalau aku ketemu teman cowok dan aku cipika-cipiki boleh dong?” tanya Kanaya yang masih enggan menatap wajah suaminya.


“No, enggak boleh.” sought Bisma dengan posesif.


“Lha itu, kamu tadi aja boleh. Emang gak bisa menghindar apa?” Kanaya lagi-lagi terlihat begitu sebal.


“Maaf … itu tadi aku beneran enggak tahu. Kalau tahu, aku sudah menghindar. Swear!” Bisma pun berbicara dengan serius saat ini. Merasa istrinya masih mengambek, kemudian Bisma pun mulai menginjak pedal dan mulai mengemudikan mobilnya perlahan meninggalkan restoran tersebut.


“Jangan marah. Gak akan terjadi lagi.” ucapnya sembari terus mengendalikan stir mobil dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain menggenggam tangan milik istrinya.


“Enggak terjadi lagi kalau aku tahu, kalau di Rumah Sakit kan ya aku enggak tahu.” sahut Kanaya. Untuk masalah berdebat dengan kaum wanita memang para pria tidak akan pernah menang. Ada saja jawaban yang diberikan kaum wanita saat berdebat.


Bisma pun sekilas melirik wajah istrinya itu. “Tidak akan. Janji.” ucapnya dengan begitu meyakinkan.


Di tengah-tengah Bisma yang sedang mengemudi, pria itu pun mendengar bunyit perut yang seolah kosong dan minta diisi, kemudian pria itu melirik ke arah istrinya.


“Kamu lapar ya Sayang? Mau mampir makan dulu? Tadi kamu kan juga sama sekali enggak makan. Yuk, makan apa … mumpung kita di jalan, aku siap jadi driver kamu.” ucapnya yang berusaha mendapatkan kembali hati istrinya.


“Gak laper.” Kanaya nyatanya masih bersikap keras kepala. Mengelak bahwa dirinya sebenarnya sangat lapar.

__ADS_1


Bisma kemudian mengurai satu tangannya yang menggenggam tangan Kanaya, kemudian tangan itu bergerak untuk mengelus perut istrinya. “Anak Ayah laper ya? Mau makan apa Sayang? Yuk, Ayah belikan makanan yang enak dan bergizi. Bundanya baru sebel ya Sayang, jadi kamu laper di dalam sini.” ucap Bisma yang berbicara dengan buah hatinya yang masih berada di dalam rahim istrinya itu.


“Ayo makan Sayang … si baby juga laper tuh. Kalau Bundanya enggak makan, dia mendapatkan nutrisi dari mana coba?” Bisma masih berusaha membujuk istrinya itu. Rupanya memang jika sedang sebal dan jengkel, membujuk Kanaya memang harus sabar dan penuh perjuangan. Tidak mudah untuk meluluhkan Kanaya.


__ADS_2