Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
38 Weeks!


__ADS_3

Ketika masa lebaran usai, Bisma dengan segera membawa Kanaya untuk memeriksakan kehamilannya. Sebab, kehamilan Kanaya sudah memasuki trimester terakhir dan hari perkiraan lahir dari Dokter kian dekat. Oleh karena itu, Kanaya pun menurut saja saat suaminya sudah mendaftarkannya untuk melakukan pemeriksaan.


“Nanti sore seperti biasa ya Sayang … dari kantor, aku akan jemput ke Rumah Sakit untuk cek sebelum mendekati HPL nanti. Buku pemeriksanannya jangan lupa dibawa ya, aku sudah daftarkan kamu juga biar dapat antrian cepat.” katanya.


“Iya Mas … bukunya aku masukkan dulu ke dalam tas. Biar enggak ketinggalan.” ucapnya dengan tersenyum.


“Kamu kerjanya sampai kapan sih Sayang? Kapan mulai cuti? Sudah minggu menjelang kelahiran loh.” tanya Bisma yang lebih terlihat khawatir dengan hari perkiraan lahir buah hatinya yang semakin mendekat.


Kanaya kembali tersenyum, “Pekan ini terakhir bekerja Mas … aku juga sudah atur cuti melahirkan. Biasanya kan mendapatkan waktu 3 bulan, tetapi karena aku mengurus keuangan dan itu pekerjaan penting di perusahaan, jadi hanya 2 minggu cuti full, sisanya aku kerja dari rumah. Namun, untuk kerjaan yang urgent aja kok.”


Sejujurnya Bisma ingin istrinya benar-benar cuti dan menikmati masa melahirkan hingga pengalaman mengasuh seorang bayi. Akan tetapi, memang jabatan Kanaya sebagai Direktur Keuangan yang merupakan salah satu direksi yang harus mengatur keuangan perusahaan, maka Bisma pun tahu bahwa membiarkan seorang Direktur Keuangan untuk cuti terlalu lama juga tidak akan baik.


“Baiklah … yang penting, fokus sama kelahiran dan si bayi dulu. Lagian sebenarnya, kalau kamu resign dan menjadi Ibu Rumah Tangga, gajiku juga bisa untuk menghidupi kita berdua dan anak kita.” ucap Bisma kali ini.


Kanaya perlahan tersenyum dan mengusap lengan suaminya itu, “Aku percaya, gaji dan pendapatanmu itu sangat cukup, lebih malahan untuk kita bertiga. Namun, aku mulai suka dengan pekerjaanku ini. Jadi, apakah Mas Bisma masih memperbolehkan aku bekerja?” tanya Kanaya perlahan.


Melihat wajah istrinya yang terlihat begitu memohon, perlahan Bisma pun mengangguk. “Iya, tenang saja. Aku tidak akan mematahkan sayapmu. Terbanglah tinggi. Asalkan kita mengatur waktu saja, berarti nanti setelah 3 bulan, kita mulai mencari babysitter untuk si baby?” tanya Bisma lagi.


Kanaya diam, keputusan yang susah sebenarnya, “Lihat nanti ya Mas … nanti tiga bulan lagi aku akan memberikan jawabannya.” jawabnya.


Bisma mengangguk, “Oke … ya sudah. Kerjanya boleh rajin, tetapi jangan sampai kecapean ya. Ingat ada adik bayi yang sudah semakin besar.” pesannya kepada istrinya itu.


***


Sepanjang hari Kanaya bekerja dengan lebih hati-hati. Apa yang diucapkan suaminya benar. Dia boleh bekerja dengan rajin, tetapi juga harus memperhatikan bayinya yang sudah semakin besar. Untuk itu, terkadang Kanaya mengambil sedikit jeda, dia mulai berjalan hilir mudik di ruangannya, meminum air kelapa yang sudah dia bawa dari rumah, dan juga sedikit istirahat jika tendangan bayi di perutnya terasa kencang.

__ADS_1


Hingga sore tiba, Kanaya segera turun dan menemui suaminya karena sore ini dia akan memeriksakan kandungannya lagi. Seperti biasa, suaminya sudah menjemput di lobby. Tersenyum menatapnya. Rasanya setiap sore ketika jam kerja usai menjadi waktu yang sangat dinantikan Kanaya.


“Kita ke Rumah Sakit sekarang ya?” ajak Bisma begitu istrinya itu sudah mendekat.


Perlahan dia kembali mengemudikan mobilnya dan membawa istrinya ke Rumah Sakit. Karena sudah mendaftar di pagi hari, kali ini Kanaya pun mendapatkan antrian nomor satu. Dalam hatinya, Kanaya tersenyum rupanya untuk dalam periksa seperti ini menjadi istri seorang Dokter cukup menguntungkan karena dia tidak perlu antri berlama-lama.


“Halo … selamat sore Dokter Bisma dan Bu Kanaya.” sapa Dokter Indri yang selalu ramah kepada seluruh pasiennya.


“Sore Dok …” sahut Bisma dan Kanaya bersamaan.


Kemudian Dokter Indri membuka terlebih dahulu buku pemeriksanaan Kanaya, kemudian mulai menulis tanggal dan juga melihat pertambahan berat badan dan juga tekanan darah Kanaya.


“Sudah 38 Weeks ya Bu. Dari awal hamil hingga sekarang, kenaikan berat badannya hingga 17 kilogram ya Bu.” ucap Dokter Indri.


“Tidak juga kok Bu … bahkan ada yang mengalami kenaikan berat badan hingga 20 kilogram. Jadi tidak apa-apa.” penjelasan dari Dokter Indri.


Setelah itu, mulailah Dokter Indri meminta Kanaya untuk berbaring di atas brankar dan melanjutkan pemeriksanaan dengan USG.


“Nah, usai kehamilan sudah 38 minggu ya Bu. Di sini terlihat jika ruang gerak si baby di dalam sini mulai berkurang karena di dalam rahimnya babynya juga terus bergerak. Sekarang kita ukur dulu panjang bayinya, dari kepala hingga ke kaki, panjangnya sekitar 49 centimeter. Sekarang kita ukur berat badannya, wah, ternyata sudah cukup besar babynya ya Bu. Sudah 3 kilogram.” penjelasan dari Dokter Indri dengan menggerakkan transducer di tangannya.


“Posisi bayi dan plasentanya bagaimana Dok?” tanya Kanaya kali ini karena dia teringat dengan pesan dari Bunda Hesti untuk menanyakan mengenai posisi bayi dan posisi plasenta.


Mulailah Dokter Indri kembali menggerakkan transducer di tangannya, dan meminta Kanaya dan Bisma untuk memperhatikan letak posisi bayi dan plasenta melalui monitor. “Ini posisi bayinya ya Bu Kanaya dan Dokter Bisma … sayangnya, posisi bayi dalam keadaan melintang. Jadi ini kepalanya di dekat pinggang sini. Juga plasentanya menutupi jalan lahir atau plasenta previa.”


Apa yang disampaikan oleh Dokter Indri rupanya membuat sorot mata Kanaya seolah redup. Sekalipun dia tidak paham perihal ilmu kedokteran, tetapi dia tahu jika plasenta menutupi jalan lahir, maka metode persalinan yang harus dilakukan adalah Caesar. Jika Kanaya merasa sedih, Bisma juga terlihat tenang.

__ADS_1


“Jadi bagaimana Dok?” tanya Kanaya lagi. Sekalipun sudah pasti jawabannya adalah Caesar. Akan tetapi, Kanaya tetap berusaha bertanya kepada Dokter Indri.


“Jika bayi dalam keadaan terbalik, kakinya yang di bawah atau sungsang, kami masih berani untuk menyarankan kelahiran normal. Namun, jika sudah melintang seperti ini dan juga terjadi plasenta previa, maka salah satu cara yang disarankan adalah melahirkan secara Caesar. Begitu Bu.” jawaban dari Dokter Indri.


Perlahan Bisma mendekat dan menggenggam tangan istrinya itu, “Melahirkan Caesar pun juga tidak apa-apa.” ucapnya lirih kepada istrinya itu.


Memahami bahwa mungkin Kanaya sesungguhnya bisa melahirkan secara normal, perlahan Dokter Indri pun tersenyum. “Melahirkan itu memang opsi atau metode melahirkan yang banyak disarankan itu normal dan Caesar Bu. Tidak ada bedanya, karena Ibu tetap melahirkan anaknya. Apa benar sakit melahirkan normal? Jawabannya tidak juga, karena melahirkan Caesar pun juga sakit. Pemulihannya bisa lebih lama. Namun, jangan takut karena keutamaan dari sebuah operasi Caesar itu adalah ibu dan janinnya sehat dan selamat.” jelas dari Dokter Indri kepada Kanaya.


Merasa mendapat penjelasan dari Dokter Indri dan juga suaminya yang terus mendukungnya, perlahan Kanaya mengangguk. “Iya Dok … tidak apa-apa. Hanya saja, semula saya mikirnya bisa melahirkan dengan normal.”


“Tidak apa-apa Bu … semua calon Ibu juga demikian kok. Jadi sekarang, dibawa happy saja Bu. Tanamkan dalam hati dan pikiran Ibu bahwa tidak lama lagi akan bertemu dengan si buah hati. Itu saja.” tambah Dokter Indri.


“Iya Dok … tidak apa-apa. Jadi selanjutnya bagaimana Dok?” tanya Kanaya lagi.


Dokter Indri tampak berpikir dan mulai melakukan penghitung, memperkirakan kondisi janin dan jumlah air ketuban juga. “Bagaimana kita lakukan Caesar minggu depan Bu?” tanya Dokter Indri.


Kanaya pun menoleh kepada suaminya itu, “Gimana Mas?” tanyanya.


Bisma kemudian mengangguk, “Tidak masalah. Jika minggu depan sudah 39 weeks kan Dok? Organ dan sistem tubuh bayinya sudah siap untuk dilahirkan belum?” tanya Bisma kali ini kepada Dokter Indri.


“Sudah siap Bu. Bahkan sejak usai kehamilan 37 minggu, bayi sudah mulai bernapas dengan hidung dan perutnya. 39 minggu sudah siap dan kuat untuk dilahirkan.” jawab Dokter Indri.


“Tuh Sayang, jadi gimana? Aku ngikutin kamu aja karena kamu Bundanya.” ucap Bisma lagi kepada Kanaya.


“Oke Dok, tidak apa-apa. Asalkan saya dan si bayi selamat saja Dok.” ucapnya kali ini.

__ADS_1


__ADS_2