
Kurang lebih setelah sepekan berlalu, Bisma mengajak Kanaya dan bayi Aksara untuk pindah ke kediaman mereka yang baru. Pria itu memastikan bahwa rumahnya sudah bersih, lengkap dengan furniture dan berbagai perabotan rumah, kamar untuk Aksara, dan juga keperluan lainnya yang sebelumnya sudah dipindahkan sebelumnya. Saat keduanya sama-sama libur di akhir pekan, barulah dia membawa istri dan anaknya untuk menempati istana mereka berdua.
“Welcome home Bunda Kanaya dan Aksaranya Ayah,” ucap Ayah Bisma dengan tersenyum lebar saat membuka pintu rumah baru mereka untuk pertama kalinya.
“Makasih Ayah,” jawab Kanaya dengan menggendong Aksara memasuki rumah baru mereka itu.
“Mau room tour sebentar, Sayang?” tawar Bisma yang menawarkan kepada Kanaya untuk room tour sejenak, supaya mereka lebih mengenal setiap bagian dari rumah itu.
Kanaya pun mengangguk, “Iya, mau … tapi, Ayah yang gendong Aksara ya,” sahut wanita itu dengan menyerahkan Aksara ke dalam gendongan Ayahnya.
Bisma pun segera menerima Aksara dengan tangannya dan segera menggendongnya, “Sini, Aksa ikut Ayah yah.” Kemudian dia membawa istrinya untuk melihat-lihat beberapa ruangan di rumah mereka itu.
“Ini ruang tamu Sayang … nanti kalau kamu tidak suka dengan furniture atau penataannya, kamu ganti saja. Ini kan hanya sementara. Rumah ini menghadap ke Timur supaya saat pagi sinar matahari masuk ke dalam rumah. Lalu, di sana ada dapur kotor dan dapur kering. Kalau weekend, kamu boleh memasak di sana.” Bisma menunjuk pada dapur yang terlihat dari ruang tamu itu.
Kanaya pun tersenyum, “Padahal sekarang setiap hari aku masak loh, masak MPASI-nya Aksara sih,” jawabnya kali dengan tertawa.
“Iya, kamu memang jarang masak, tetapi buat Aksara pasti MPASI-nya buatan kamu sendiri. Makanya nih, anak Ayah makin chubby. Ya kan Aksara?” Bisma pun berbicara dan turut menowel pipi Aksara yang begitu chubby.
Setelahnya keduanya pun berjalan menaiki lantai dua, di lantai dua difungsikan sebagai kamar untuk Bisma dan Kanaya, kamar Aksara, ruang kerja Bisma, dan juga tempat bermain untuk Aksara.
__ADS_1
“Nah, ini kamar Aksara, Sayang … aku sengaja buat seperti yang di apartemen kita karena aku sudah desain kamar Aksara yang di sana. Pengaturan furniture juga aku sama kan. Kamar ini juga menghadap ke Timur, supaya pagi hari sinar mataharinya masuk dan Aksara lebih sehat,” jelasnya kepada Kanaya.
Kanaya pun memperhatikan setiap sudut kamar Aksara itu, dalam hatinya dia begitu bahagia karena suaminya bukan hanya seorang Dokter yang hebat, tetapi tanpa dikira suaminya juga memiliki bakat untuk desain rumah yang juga bagus.
“Kamu yang mendesain ini, Mas?” tanya Kanaya perlahan.
Bisma pun mengangguk, “Iya, aku yang menggambarnya. Gimana, kamu tidak suka ya?” tanyanya kepada Kanaya.
Dengan cepat Kanaya pun menggelengkan kepalanya, “Hasil desain kamu ini bagus banget. Sampai pencahayaan tiap kamar aja kamu pikirkan. Selain Dokter yang keren, kamu juga seorang desainer interior yang handal deh, Mas,” ucapnya sembari mengangkat dua ibu jarinya untuk suaminya itu.
Bagi Kanaya, semakin hari dia hidup bersama dengan Bisma, melihat keseharian pria itu, melihat sifat yang baik dan talenta lain yang dimiliki oleh Bisma benar-benar membuat Kanaya begitu bangga kepada Bisma. Rasanya, dia sangat beruntung memiliki Bisma dalam hidupnya.
Ya, sebenarnya dia tidak memiliki kemampuan lebih perihal desain, tetapi di waktu senggang pria itu suka menggambar, sehingga di waktu luangnya, Bisma memang lebih banyak menggambar. Salah satu hasil gambarannya pun terwujud dalam rumah bergaya Mediterania dengan dua lantai itu.
“Kamu autodidak aja sekeren ini, gimana kalau kamu menjadi Arsitek pasti bakalan lebih keren.” Kanaya berbicara sembari tertawa. Bukan sekadar candaan, tetapi memang rumah baru yang mereka tempati itu begitu indah dan mewah.
“Udah ah, jangan memujiku terus. Aku malahan jadi malu, yuk kita kamar kita.” Pria itu kini menarik tangan Kanaya supaya mengikutinya menuju kamar utama yang berada berdekatan dengan kamar Aksara.
Bisma membuka pintu kamar utama itu, dan membawa istrinya untuk masuk. “Nah, ini kamar kita Sayang … suka enggak?” tanyanya lagi kepada Kanaya.
__ADS_1
Kamar yang luas dengan tempat tidur berukuran super king size, lengkap dengan walk in closet, dan kamar mandi dalam. Kamar itu terlihat mewah, memadukan warna putih dan lavender sebagai cat nya.
“Suka banget, warnanya lavender. Kesukaan aku,” ucap Kanaya dengan matanya yang berbinar.
Sejenak wanita itu berjinjit, dan melabuhkan satu kecupan di pipi suaminya.
Cup.
“Makasih Mas, sudah membuatkan istana bagi kita berdua. Aku sangat senang sekali.” Kanaya berbicara dengan sungguh-sungguh. Hatinya meluap dengan kebahagiaan saat ini. Tidak mengira suaminya akan benar-benar membangun sebuah hunian yang indah untuk mereka bertiga,
“Kurang Sayang, cuma di pipi itu enggak kerasa,” jawabnya dengan tertawa.
Dengan cepat Kanaya menutupi kedua telinga Aksara, “Sayangnya Bunda, jangan dengerin Ayah ya. Ayah kamu berbahaya,” ucapnya dengan memincingkan matanya kepada Bisma.
Sementara Bisma justru tergelak dalam tawa, “Kamu bisa-bisanya sih, aku cuma bercanda. Ini kamar kita. Jangan biarkan kamar kita ini menjadi dingin, karena di kamar ini, di rumah ini, kita akan merendak kasih kita sepanjang waktu, setiap hari, sampai kita menua bersama. Jangan bosan denganku, dan jangan pernah berpaling dariku. I Love U, Kanaya Salsabilla,” ucap pria itu dengan mengacak gemas puncak kepala istrinya.
Kanaya pun menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, “I Love U Too, Mas Dokter Bisma,” balasnya dengan tersenyum.
Kendati demikian di dalam hatinya, Kanaya berdoa semoga kebahagiaannya bersama suaminya tidak akan terusik dengan apa pun. Semoga saja, dirinya bersama Aksara bisa merenda kasih bersama-sama. Kiranya kebahagiaan yang saat ini akan terus menyertai perjalanan rumah tangga mereka.
__ADS_1