
Setelah seharian bermain di taman atau melakukan earthing time, malam harinya Aksara tampak lebih cepat tidur. Mungkin karena sejak siang, energinya digunakan untuk aktivitas fisik dan itu cukup membuatnya kelelahan. Sehingga, malam bayi itu segera tertidur.
Bisma dan Kanaya pun tengah bersantai di balkon kamar mereka, sembari merasakan angin malam yang bertiup semilir menerpa keduanya.
“Capek Mas?” tanya Kanaya kepada Bisma.
Pria itu pun mengangguk, “Iya, lumayan,” jawabnya.
Setelahnya Kanaya pun mencoba memijat area punggung Bisma perlahan, sebisanya saja. Sebab, dirinya memang tidak mahir untuk pijat-memijat. Akan tetapi, dia mau berusaha untuk bisa memijat Bisma yang agak kecapean.
Bisma pun tersenyum merasakan pijatan Kanaya di punggungnya, “Kamu bisa memijat?” tanyanya kepada Kanaya.
Sang istri pun justru tertawa, “Enggak sih, aku enggak bisa memijat. Sebisanya saja. Enggak enak ya Mas?” tanyanya kepada Bisma.
Sama halnya dengan Kanaya, Bisma juga tertawa, “Cuma tanya, tetapi makasih ya sudah berusaha. Walau pun kamu tidak bisa,” ucap Bisma pada akhirnya.
“Abis, tadi kamu semangat banget earthing timenya sama Aksara, sekarang kecapean deh.” Kanaya berbicara sembari masih mencoba memijat lengan Bisma.
“Enggak apa-apa Sayang, kan ya bermain sekalian menstimulasi Aksara. Capek sedikit enggak apa-apa,” jawab Bisma sembari menoleh menatap Kanaya.
“Udah, udah aja Sayang. Justru sakit kamu pijat.” Bisma berbicara jujur, dipijat Kanaya justru lengannya terasa sakit. Oleh karena itulah, Bisma meminta Kanaya untuk menyelesaikan pijatannya saja.
Merasa suaminya yang mengeluh sakit usai dia pijat, akhirnya Kanaya pun menghentikan pijatannya. Wajahnya sedikit cemberut saat itu, “Kan tujuanku baik, supaya kamu enggak kecapean, tetapi kalau enggak suka ya enggak apa-apa,” ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya. Merasa tidak bisa memijat dengan benar, membuat Kanaya cemberut.
“Jangan cemberut … aku tahu saat ini kamu tengah cemberut kan?” tanya Bisma pada akhirnya kepada Kanaya.
Tidak ingin mengelak, Kanaya pun mengangguk, “Iya, kan aku cuma ingin membantumu saja, supaya capekmu hilang. Sebab, aku tahu bermain di outdoor bersama bayi itu capek banget,” jawab Kanaya.
Dia sering kali menemani Aksara bermain di playground saat siang, mengikuti pergerakan Aksara yang sangat aktif membuatnya kelelahan. Maka dari itu, Kanaya pun tahu pasti Bisma pun juga kelelahan saat ini.
__ADS_1
Bisma pun merangkulkan tangannya di bahu Kanaya, “Pijatin aku dengan cara lain saja, Sayang …”
Kanaya pun tersenyum, dia tahu bahwa itu adalah sebuah kode dari suaminya. Tak ingin menolak karena melayani suami adalah ibadah, maka Kanaya pun mengangguk.
"Ayo, mau di mana?" tawarnya kali ini kepada Bisma.
Melihat Kanaya yang seketika mengiyakan permintaannya, Bisma pun tersenyum, "Serius, kamu mau?" tanyanya kepada Kanaya sekali lagi.
"Iya mau, tetapi jangan di sini, Mas. Banyak nyamuk, aku nanti digigit nyamuk," jawabnya. Sebab balkoni mereka cukup remang, memungkinkan ada nyamuk di sana.
Bisma pun menyeringai, "Baiklah, yuk ke dalam," ajaknya. Pria itu pun berdiri dan menggandeng tangan Kanaya untuk mengikutinya.
Rupanya tempat yang dituju Bisma sekarang ini adalah sofa di kamarnya. Pria itu segera menginstruksikan kepada Kanaya untuk duduk di pangkuannya.
"Sini Sayang," ucapnya dengan lirih.
Kanaya pun tersenyum, kali ini dia menuruti saja permintaan suaminya itu. Perlahan, dia mendaratkan dirinya dalam pangkuan suaminya. Wanita itu mengikis wajahnya dengan wajah suaminya, hingga perlahan Kanaya melabuhkan bibirnya di atas bibir Bisma. Menyesap dua lipatan bibir suaminya itu perlahan, membiarkan kedua bibirnya menari-nari di atas bibir suaminya.
Menjeda sejenak ciumannya, Bisma lantas menelisipkan untaian rambut Kanaya di belakang telinga. Pria itu tampak mengamati leher Kanaya yang jenjang dan segera mendaratkan bibirnya di sana. Kemudian diikuti dengan menggigitnya kecil dan menyesapnya dalam-dalam.
Ya Tuhan, Kanaya hingga memejamkan matanya dan juga nafasnya memburu saat Bisma menggigit lehernya. Rasanya dadanya kian sesak saja, hingga tangan Kanaya kian berpegangan kencang di bahu Bisma.
"Astaga, Mas," ucapnya dengan meremas rambut Bisma dengan tangannya.
Seolah tak menghiraukan ucapan Kanaya, tangan Bisma pun bergerak dengan begitu lembut mengusap lembutnya lengan Kanaya. Gerakan naik turun yang membuat sekujur tubuh Kanaya meremang. Wanita itu benar-benar sesak nafas saat suaminya menyentuhnya.
Tidak sampai di situ, Bisma kembali melabuhkan bibirnya di antara kedua belah lipatan bibir Kanaya. Memagutnya dengan begitu lembut dan memberikan gigitan kecil di sudut bibirnya. Tangannya pun berusaha mengeksplorasi lekuk feminim Kanaya yang begitu lembut. Hingga tanpa disangka pria itu berhasil melepaskan pakaian Kanaya begitu saja.
Penjelajahan bibirnya pun kini menyusuri ke area dada Kanaya. Meremasnya perlahan, dan seolah tidak sabar dia membawa satu buah persik itu masuk ke dalam rongga mulutnya. Menyapu dengan ujung lidahnya dan menggigitnya. Bak tiada hari esok untuk menikmati ranumnya buah persik milik istrinya itu.
__ADS_1
Saat suaminya menyentuhnya, menciumnya, membuainya, Kanaya bak terombang-ambing di tengah samudra yang luas. Dirinya hanya bisa mengikuti sangat nahkoda, yaitu suaminya sendiri yang menuntunnya untuk sama-sama menikmati samudra cinta yang dalam itu.
Hingga akhirnya, Bisma mengangkat tubuh Kanaya perlahan. Menyatukan diri dengan saling duduk dan berhadap-hadapan. Kedua netra yang sama-sama terselimuti kabut saling pandang disertai peluh yang seolah membasahi tubuh keduanya.
"Ah, Sayang … gerakkan pinggulmu," ucap Bisma yang seolah memberikan instruksi kepada Kanaya.
Mengikuti instruksi suaminya, Kanaya pun bergerak perlahan. Membiarkan tangannya berpegangan hingga mencengkeram pundak Bisma. Terkadang wanita itu menelungkung tubuhnya, saat merasakan gelombang yang menerpanya.
"Mas, aduh Mas," ucap Kanaya yang merasakan bagian tubuhnya bergetar.
Bisma pun justru tersenyum menatap Kanaya, rasanya kali ini istrinya itu bertambah kali-kali lipat kecantikannya di hadapannya.
"Lihat aku, Sayang," ucap Bisma dengan menangkup wajah Kanaya untuk melihatnya.
Kanaya menggeleng, matanya terpejam, dan dia justru mencerukkan kepalanya di dada bidang suaminya yang kali ini juga basah oleh peluh.
"Ya Tuhan, aku enggak tahan," racau Kanaya kali ini.
Sengatan yang dia terima sudah melihat arus listrik 220 Volt, tetapi agaknya Bisma masih berusaha untuk menahannya. Di saat tenaga Kanaya hampir habis, justru pria itu terlihat masih bisa tahan dengan semuanya.
Mendengar istrinya yang seolah tak kuasa menahan gelombang lagi. Bisma pun mengangkat tubuh Kanaya tanpa melepas penyatuannya. Menidurkan istrinya itu di sofa dan menindihnya. Membuat dirinya bersatu padu, saling melengkapi satu sama lain.
Mendekati ambang batasnya, Bisma menhujam dengan begitu dalam. Menghentak dengan kian cepat, hingga akhirnya pria itu menggeram.
"Ah, ini luar biasa, Sayang," racaunya kali ini dengan memegangi pinggang Kanaya.
Tanpa bisa ditahan lagi, Bisma pun kian menghentak. Begitu dalam dan cepat, hingga nektar cinta hasil percintaan mereka mengarungi samudra pun keluar. Keduanya hancur berkeping-keping, menuju pulau impian, sekalipun harus hanyut bahkan larut dalam samudra cinta itu, tetapi sejuta rasa yang mereka terima begitu membuncah.
Kanaya pun memeluk Bisma dengan eratnya, nafasnya masih terengah-engah dan wanita itu masih memejamkan matanya.
__ADS_1
"Aku cinta kamu, Mas Bisma. Sangat mencintaimu," ucapnya dengan lirih.
Bisma pun yang mencerukkan wajahnya di leher Kanaya pun mengangguk. "Aku tahu, Sayang … dan aku pun sangat mencintaimu. I Love U."