
Sementara itu di Rumah Tahanan, Papa Jaya tampak mendatangi Darren. Bukan untuk membebaskan pria itu, tetapi untuk mengorek informasi dan juga memastikan di mana anaknya itu meninggalkan Aksara begitu saja.
Sama seperti peribahasa bahwa saat anak bertingkah laku yang tidak baik, maka orang taulah yang menanggungnya. Sama seperti Papa Jaya yang merasa harus bertanggung jawab terhadap kesalahan Darren ini. Papa Jaya merasa bertanggung jawab secara moral kepada Kanaya. Masih terlintas dalam pikirannya, bagaimana dulu Darren melecehkan Kanaya dan membully wanita itu, memberikan kekerasan secara verbal. Sekarang, nyatanya putranya kembali menyakiti Kanaya dengan menculik buah hati Kanaya dan Bisma.
"Katakan Darren, di mana kamu meninggalkan Aksara saat itu?" tanya Papa Jaya kini kepada Darren.
Pikir Papa Jaya, jika Darren mengakui lokasi di mana dia menaruh Aksara, timnya akan menyisir keberadaan Aksara dari tempat itu. Mencari ke tempat-tempat di sekitarnya.
Akan tetapi, Darren justru menatap Papa Jaya dengan nyalang, "Pasti Papa akan membantu Kanaya kan? Darren tahu dengan pasti kalau Papa sangat menyayangi Naya. Ya, Papa bahkan lebih sayang kepada Naya, wanita yang di dalam tubuhnya tidak mengalir darah Papa. Akan tetapi, Papa tega dan kejam kepada darah daging Papa sendiri," teriak Darren saat itu.
Bagi Darren, sangat terlihat jelas bagaimana Papanya sangat menyayangi Kanaya. Sebagai seorang putra kandung, tentu Darren tidak menerima semua itu. Dia merasa bahwa dirinya jauh lebih berhak dibandingkan dengan Kanaya. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya, Papanya sendiri mengabaikannya.
"Papa hanya bersikap adil, Darren. Mereka yang melakukan kesalahan harus dihukum. Tidak peduli siapa pun dia. Lagipula, kamu juga tahu sejak kecil Papa selalu adil kepadamu dan juga Giselle. Tidak membeda-bedakan kalian berdua. Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Darren. Katakan di mana kamu meninggalkan Aksara," ucap Papa Jaya yang masih mencoba menekan Darren supaya putranya itu mau berbicara dengan jujur.
"Bukan Darren yang menculik Aksara." Darren berbicara dan dia masih berusaha mengelak. Pria itu tidak tahu jika Papanya sudah mengantongi bukti berupa rekaman CCTV yang dia dapatkan dari Bisma.
Papa Jaya tersenyum getir, tidak menyangka pria bebal yang dia hadapi sekarang ini adalah putra kandungnya, darah dagingnya. Akan tetapi, kenapa putranya itu memiliki sifat, karakter, dan perilaku yang begitu menyimpang darinya.
Anak yang sedari kecil mendapatkan didikan dan bimbingan darinya, menaburkan pelajar dan nilai-nilai kehidupan dengan baik, nyatanya saat dewasa Darren justru sama sekali tidak memiliki semua itu. Pria itu tumbuh dengan sifatnya yang arogan, karakter dalam dirinya pun lebih mengarah ke karakter-karakter yang negatif.
__ADS_1
Merasa bahwa Darren masih belum mau mengakui tindakannya, Papa Jaya akhirnya mengeluarkan handphonenya, menunjukkan sebuah video kepada Darren.
"Dengan bukti seperti ini, kamu masih mengelak Darren?" tanya Papa Jaya dengan dalam, tatapan mata pria paruh baya itu begitu tajam saat ini.
"Dia bukan aku, Pa," sanggahnya. Ya, Darren masih berusaha untuk mengelak.
Pria itu dengan sungguh-sungguh mengakui bahwa pria yang muncul di video itu bukan dirinya. Rasanya Papa Jaya begitu kehilangan kesabarannya. Ingin rasanya Papa Jaya mengangkat tangannya dan menampar putranya sendiri.
"Baiklah … jika kamu terus-menerus mengelak, Darren. Mendekamlah selamanya di dalam penjara. Kamu tidak bisa membayangkan bagaimana jika kamu dan Sandra berapa di posisi Bisma dan Kanaya saat ini. Kamu tidak tahu rasanya bagaimana dijauhkan dari putra kandungmu." Papa Jaya berbicara dengan rasa getir di dalam dada.
Darren pun mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap wajah Papanya yang merah padam lantaran sedang emosi. Pria itu sebenarnya bisa membayangkan bagaimana seandainya Ravendra diambil dari sisinya. Hanya saja perasaannya sudah mati saat ini, sehingga yang Darren pikirkan adalah terus menyakiti Kanaya. Melihat kehancuran Kanaya sangat diinginkan oleh Darren sekarang ini.
Rupanya pria itu masih berusaha menguji kesabaran Papanya sendiri. Mendengar bahwa putra kandungnya sendiri telah muak dengan dirinya, Papa Jaya seakan murka. Putra yang adalah darah dagingnya, putra yang dia besarkan dengan sepenuh hati, justru mengatakan muak dengan dirinya.
"Baiklah Darren … jika memang kamu telah muak dengan Papa. Lebih baik, mulai saat ini tidak ada hubungan lagi antara kau dan Papa. Lupakanlah bahwa kamu pernah memiliki aku sebagai Papamu, dan aku akan melupakan bahwa kau adalah putraku. Hiduplah di jalan penuh kegelapan yang telah kamu pilih ini. Mendekamlah dalam waktu yang lama di dalam penjara," ucap Papa Jaya dengan murkanya yang tak tertahan lagi.
Dengan emosinya yang meluap-luap saat ini, Papa Jaya memilih memutuskan hubungan antara dirinya dengan Darren. Ada rasa sedih, marah, geram, dan juga malu melihat putranya yang bersikap selalu melanggar hukum. Putra yang justru terus-menerus mencoreng nama baiknya sebagai seorang Pengusaha besar di Tanah Air ini.
Dengan dada yang bergemuruh, Papa Jaya meninggalkan rumah tahanan. Pria itu memilih kembali ke kediamannya dan mulai menggerakkan para orang kepercayaan dan juga detektif untuk menemukan Aksara.
__ADS_1
Melihat suaminya yang begitu kusut, Mama Sasmita pun menghampiri suaminya itu. "Istirahat juga, Pa … jaga kesehatan Papa. Kenapa Papa terlihat begitu marah sekarang ini?" tanya Mama Sasmita perlahan.
Terdengar bagaimana Papa Jaya yang mendengkus kesal, "Darren sudah keterlaluan, Ma… hari ini juga tidak ada hubungan antara Papa dan dia. Papa sudah memutuskan hubungan dengan dia. Semua orang berpikir bahwa hubungan darah jauh lebih kental, dibandingkan air. Nyatanya anak yang di dalamnya mengalir darah Papa, justru berlaku seperti itu. Dia terus-menerus mengelak bahwa bukan dia yang menculik Aksara. Bukankah orang yang menjemput anak orang lain tanpa izin dan meninggalkan begitu saja adalah penculikan?" ucap Papa Jaya.
Mama Sasmita tampak mengusapi punggung suaminya, berusaha menenangkan suaminya yang benar-benar tengah emosi itu.
"Sabar Pa … Mama kira beberapa tahun berada di dalam penjara menjadi pembelajaran berharga bagi Darren. Dia akan bisa berperilaku baik usai keluar dari Lembaga Pemasyarakatan. Akan tetapi, semua sia-sia. Dia tetap melakukan yang baik menurut pemikirannya sendiri," ucap Mama Sasmita.
"Benar Ma … Papa juga berpikir bahwa dia akan bertobat, hidup di jalan yang lurus. Nyatanya tidak, dia tetap menyakiti Kanaya," ucap Papa Jaya sekarang ini.
Mama Sasmita kemudian mengangguk, "Posisi kita sebenarnya serba salah, Pa… Darren putra kandung kita, Kanaya juga wanita yang dekat di hati kita," ucap Mama Sasmita kini.
Apa yang diucapkan Mama Sasmita ada benarnya. Di satu sisi ada Darren sebagai putra kandungnya, di satu sisi ada Kanaya yang jelas menjadi korban dari apa yang telah dilakukan Darren. Wanita paruh baya itu lantas menatap suaminya, "Papa yakin dengan apa yang Papa katakan sekarang ini? Tidak akan menyesal di kemudian hari?" tanya Mama Sasmita perlahan.
Memang ada baiknya untuk mengambil keputusan di saat kepala dingin. Jika mengambil keputusan saat tengah emosi yang terjadi justru akan menjadikan penyesalan di kemudian hari. Mendengar pertanyaan Mama Sasmita, perlahan Papa Jaya menganggukkan kepalanya.
"Iya Ma … Papa sudah sampai di keputusan terakhir Papa," jawab Papa Jaya dengan yakin.
Agaknya Papa Jaya sudah sampai di keputusan finalnya. Lebih baik memutuskan hubungan dengan anak yang berkali-kali mencoreng nama baiknya dan mengatakan muak dengan Papanya tadi. Sekalipun hatinya marah, tetapi Papa Jaya masih berharap suatu hari nanti putranya benar-benar berubah menjadi sosok yang baik. Hanya saja untuk saat ini, seberat apa pun tuntutan yang diberikan Kanaya dan Bisma kelak, Papa Jaya akan membiarkan Darren untuk kembali menebus dosa-dosanya kali ini. Biarlah putranya itu belajar dari kesalahannya, dan menerima semua risiko akibat perbuatannya.
__ADS_1