
Beberapa saat berselang, Bisma mengatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan, dia akan mengikuti Seminar Internasional yang dilakukan melalui pertemuan secara daring mengenai Neonatal dan Down Syndrome pada anak. Bagi Bisma, seminar ini sangat cocok untuknya karena anak-anak yang diperiksa beberapa kali memang adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Untuk itu, jika mengikuti seminar itu, setidaknya Bisma bisa mengetahui treatmen untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Untuk itu, Bisma pun memberitahu Kanaya terlebih dahulu terkait jadwalnya untuk sepekan ke depan.
“Sayang, sepekan ke depan, aku ada seminar internasional di Rumah Sakit,” ucapnya kali ini kepada Kanaya.
Kanaya mengangguk mendengar ucapan suaminya itu, “Iya, terus bagaimana Mas?” tanyanya.
“Ya, untuk menjemput kamu masih bisa sih, cuma habis itu aku balik lagi ke Rumah Sakit sih. Seminarnya sih dilakukan malam hari, jadi ya harus kembali ke Rumah Sakit. Diikuti sama beberapa Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit itu, bahas Neonatal dan Down Syndrome pada Anak,” jelas Bisma kali ini kepada Kanaya.
Mendengarkan apa yang disampaikan oleh suaminya, lagi-lagi Kanaya mengangguk, “Ya sudah, enggak apa-apa. Yang penting kamunya jangan kecapean aja. Jaga kesehatan juga. Jangan sampai kamu jadi Dokter mengobati anak-anak yang sakit, justru kamu yang jatuh sakit.”
“Oke, Sayang … pasti aku juga jaga kesehatan juga. Jadi, maaf ya kalau sepekan ke depan aku bakalan lebih sibuk,” ucap Bisma lagi.
“Iya, gak apa-apa kok, Mas … asalkan seminar itu memang penting buatmu. Aku tunggu sampai kamu enggak sibuk lagi,” ucapnya.
***
Awal Pekan …
Hari ini menjadi hari pertama bagi Bisma mengikuti seminar tersebut. Praktis, sejak pulang dari kantor, Kanaya yang berjibaku mengurus Aksara seorang diri. Biasanya saat sore, ada Bisma yang mengajak Aksara bermain, tetapi ini menjadi sore pertama bagi Kanaya mengasuh Aksara sendiri.
“Nda, Nda, Yayah …” ucap Aksara. Seolah bayi kecil itu sedang mencari Ayahnya.
“Ayah sedang bekerja Sayang, selama sepekan ini Ayah sibuk. Jadi Aksara bermain sama Bunda dulu ya,” ucap Kanaya.
__ADS_1
Seolah Kanaya memberikan penjelasan kepada Aksara, berharap Aksara pun akan memahami bahwa Ayahnya sedang mengikuti seminar di Rumah Sakit. Untuk itu, Kanaya yang ada memegang kendali penuh untuk mengasuh Aksara setiap sore di rumah.
Akan tetapi, Aksara justru berteriak dan menangis.
“Yayah … Yayah …,” teriakannya menggema di dalam ruang bermain itu.
Kanaya pun segera menggendong Aksara dan memberikan jenis mainan lainnya kepada Aksara.
“Kamu kangen sama Ayah ya Nak? Sabar ya, malam ini Ayah pulangnya malam tuh,” jelas Kanaya lagi. Sekali pun, Kanaya juga tidak tahu apakah Aksara akan memahami perkataannya. Setidaknya, dia tetap memberitahukan kepada Aksara bahwa Ayahnya tengah sibuk kali ini.
***
Beberapa Hari pun Berlalu …
Sudah beberapa hari berlalu, dan hampir setiap malam Bisma tiba di rumah kurang lebih jam 22.00. Terbilang cukup malam, ada kalanya Kanaya masih terjaga dan menunggu Bisma datang. Akan tetapi, terkadang karena kecapean seharian bekerja dan mengurus Aksara sore harinya membuat Kanaya pun juga tidur lebih dulu.
Mungkin karena masih bayi dan kemampuan berbicara Aksara belum jelas, kosakatanya juga masih sedikit sehingga bayi yang hampir berusia 2 tahun itu belum bisa mengutarakan isi hatinya kepada sang Ayah. Yang bisa Aksara lakukan hanyalah memanggil-manggil Ayahnya itu, “Yayah … Yayah,” panggilnya dengan suara yang keras dan terdengar berteriak.
“Masih berapa lama lagi seminarnya Mas?” tanya Kanaya kini kepada suaminya itu.
“Masih dua hari lagi Sayang,” jawabnya.
Sontak wajah Kanaya pun seakan redup, sebenarnya dirinya juga membutuhkan suaminya itu. Beberapa hari mengurus Aksara seorang diri, membuatnya kecapean. Lebih dari itu, Aksara pun beberapa hari terakhir tantrum dan selalu memanggil-manggil nama Ayahnya.
“Kenapa seminar aja lama banget sih Mas? Kasihan Aksara tuh kangen sama Ayahnya. Biasanya setiap sore ada Ayah yang menemani main, sekarang full sama Bundanya. Sekali pun dia tidak bisa mengutarakan keinginannya, coba lihat matanya yang berbinar setiap kali melihat kamu,” jelas Kanaya saat ini.
__ADS_1
Mendengar ucapan Kanaya, Bisma pun langsung menggendong Aksara dan menciumi pipi putranya itu.
“Aksara nyariin Ayah yah? Aksara kangen Ayah?” tanya Bisma sembari menggendong Aksara.
“Yayah … aa … yah …,” sahut Aksara.
Entah sedang sensitif dan memang terlalu capek, kedua bola mata Kanaya pun berkaca-kaca, “Tuh, dia kangen kan sama Ayahnya. Beberapa malam sampai rewel karena enggak liat Ayahnya di rumah. Ya, pekerjaan itu penting, Mas … tetapi, tolong pikirkan Aksara juga,” ucap Kanaya kali ini.
Sebenarnya bukan maksud Kanaya untuk bersikap egois dan menghalangi seminar yang sedang diikuti suaminya, hanya saja sekarang ada Aksara yang juga membutuhkan Ayahnya. Pagi Ayah dan Anak itu hanya bertemu sesaat, Aksara berada di Daycare sepanjang hari, sore kembali ke rumah dan dihabiskan bermain dengan Bundanya. Tidak ada interaksi dengan sang Ayah selama sepekan ini.
Hasrat hati anak yang mencari Ayahnya, tetapi tidak bisa mengungkapkan. Sehingga, Aksara hanya bisa menangis dan lebih sering tantrum.
Bisma pun menghela nafasnya dengan berat, memang sepekan ini dengan mengikuti seminar internasional waktunya benar-benar tersita. Bahkan malam, saat dia pulang istri dan anaknya sudah terlelap.
“Maaf ya Sayang, aku jadi sibuk banget. Tinggal dua hari lagi kok, abis ini sudah enggak ada seminar lagi,” pinta Bisma yang berusaha bernegosiasi dengan Kanaya kali ini.
Merasa bahwa itu memang tuntutan dari profesinya dan juga tuntutan dari pekerjaannya, akhirnya Kanaya pun mengangguk. Setelah itu, dia meminta Aksara dari gendongan Bisma dan membawa putranya itu bermain di kamar bermain.
“Yuk, Aksara main sama Bunda yah,” ajak Kanaya begitu saja.
Daripada dirinya makin sebal, sehingga lebih baik segera membawa Aksara bermain berdua saja.
“Nda, Yayah …,” ucap Aksara sembari menoleh ke belakang pada Ayahnya saat Kanaya menggendongnya.
Kanaya pun terus berjalan dan menggendong Aksara, “Aksara main sama Bunda dulu saja ya,” jelasnya kali ini.
__ADS_1
Memang hatinya menginginkan sosok suaminya yang bisa kembali bersamanya, mengasuh Aksara bersama-sama, tetapi lantaran Bisma yang sibuk sehingga Kanaya hanya bisa menenangkan dirinya sendiri, sembari menenangkan Aksara untuk tetap baik-baik saja bersamanya.