
Akhir pekan ini menjadi hari yang dinantikan Kanaya dan Bisma. Hari ini akan menjadi hari pertama bagi mereka untuk ngedate, layaknya pasangan muda yang tengah pacaran. Padahal sebenarnya kencan atau ngedate pun juga diperlukan bagi pasangan yang sudah menikah dan yang sudah memiliki anak.
Sebab pasangan yang sudah menikah dan sudah memiliki buah hati, ingin memiliki waktu berdua akan sangat sulit. Padahal meluangkan waktu untuk berkencan nyatanya akan bermanfaat untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Sebagaimana yang sudah direncanakan Kanaya dan Bisma sebelumnya, hari ini mereka menitipkan Aksara kepada Eyang Hesti dan juga Eyang Tirta.
“Akhirnya kesampaian juga jalan-jalan ngedate sama kamu, Sayang,” ucap Bisma sembari mengemudikan stir mobilnya.
Kanaya pun mengangguk, “Iya, setelah sekian lama. Padahal juga dulu kita berkendara berdua juga loh sebelum Aksara lahir,” jawabnya sembari tertawa.
Bisma tertawa, “Hanya saja rutenya cuma sebatas apartemen ke Jaya Corp, lanjut ke rumah sakit. Gitu aja terus lima hari dalam seminggu,” jawabnya sembari tertawa.
“Abis gimana lagi, Mas … kita berdua sama-sama bekerja. Jadi ya, mau tidak mau harus seperti itu.” Kanaya menjawab suaminya itu.
Mobil yang ditumpangi keduanya pun melaju menuju kawasan Pantai Indah Kapuk. Pantai dengan area hutan mangrove yang bernama Taman Wisata Alam Mangrove menjadi destinasi yang hendak mereka kunjungi kali ini. Bisma segera memarkirkan mobilnya begitu sudah sampai di tempat itu.
Rentetan pepohonan hijau seolah menyapa Kanaya dan Bisma siang itu. Juga jajaran pohon mangrove yang berada di bibir pantai kian menambah pesona tempat itu. Sementara itu, Bisma dan Kanaya berjalan berdua melintasi jembatan kayu memanjang dengan pohon mangrove yang tumbuh begitu subur.
Tidak perlu menunggu, karena Bisma segera menautkan jari jemarinya dan menggenggam erat tangan Kanaya. Keduanya berjalan menyisiri jembatan kayu itu.
“Jadi, ini tempat yang ingin kamu datangi?” tanya Bisma perlahan sembari terus berjalan dan menggandeng tangan istrinya itu.
Kanaya pun mengangguk, “Iya … keliatannya melihat pantai rasanya tenang dan bisa refreshing. Lagian di Jakarta, mau wisata ke mana lagi Mas?”
“Banyak dong, ke Puncak Bogor bisa, mau ke Pulau Seribu bisa, ke Ancol juga bisa. Atau ke Monas dan Kota Tua juga bisa,” jawab Bisma sembari tertawa.
Kanaya juga ikut tertawa, “Ke Pekan Raya Jakarta seru kali ya Mas? Aku dulu waktu kecil sering ke Pekan Raya Jakarta sama mendiang Ayah dan Bunda. Naik bus gratis dari depan Monas. Udah seneng banget di sana, cuma jalan-jalan, lihat Ondel-Ondel, dan beli jajanan di Pekan Raya Jakarta,” kenang Kanaya saat mengingat bagaimana dia berjalan-jalan ke Pekan Raya Jakarta yang diadakan menjelang Hari Ulang Tahun Kota Jakarta pada setiap tahunnya.
__ADS_1
“Dulu, kamu kalau ke PRJ beli apa Sayang?” tanya Bisma perlahan.
Kanaya mengedikkan bahunya, “Beli apa ya Mas, aku lupa sih. Waktu itu aku masih kecil. Setelah kuliah, aku sudah jarang ke PRJ. Yang pasti sih, selalu beli Kerak Telor dan Harum Manis itu. Receh banget ya aku waktu kecil dulu,” ceritanya lagi.
Ya, dari kecil sebenarnya keluarga Kanaya bukan keluarga kaya raya. Keluarganya terbilang sederhana dan dari kelas menengah tengah, sehingga sebatas bisa jalan-jalan ke PRJ dan membeli Kerak Telor saja sudah membahagiakan.
“Tidak apa-apa Sayang, itu kenangan kamu waktu kecil dulu. Kapan-kapan boleh lah kalau ada PRJ kita jalan-jalan ke sana. Aku dulu sih waktu SMP nonton konser musik di PRJ. Seru banget,” kenang Bisma yang rupanya pernah menonton konser musik di PRJ.
“Aku justru belum pernah melihat konser musik,” sahut Kanaya dengan menghela nafasnya.
“Serius?” Bisma bertanya dan seolah tak percaya. Istrinya itu kan anak Ibukota, bagaimana mungkin belum pernah merasakan keseruan menonton konser musik gratis di Pekan Raya Jakarta.
Kanaya mengangguk, “Iya, serius. Kalaupun lihat ya dari siaran televisi aja,” jawabnya.
“Iya,” sahut Kanaya dengan tertawa.
Kini keduanya telah berdiri di bibir pantai, melepas sepatu yang mereka kenakan dan membiarkan telapak kaki mereka merasakan pasir dan pantai yang menyapa mereka. Angin yang bertiup dengan semilir seolah terasa benar-benar menyejukkan.
“Mau naik perahu?” tawar Bisma sembari menunjuk perahu yang bisa membawa mereka mengelilingi pantai. Sekali perjalanan akan ditempuh kurang lebih selama 20 menit dengan perahu itu.
Kanaya pun mengangguk, “Mau, tapi pegangi ya Mas,” pintanya.
Bisma pun tertawa, “Tanpa kamu minta, aku juga akan memegangi kamu. Menjaga kamu,” jawab pria itu sembari melingkarkan satu tangannya di pinggang ramping milik istrinya.
Setelahnya, Bisma pun menyewa perahu itu dan seorang Bapak-bapak yang mengemudikan perahu itu untuk mengelilingi kawasan Pantai Indah Kapuk. Bisma dan Kanaya duduk dan saling berpegangan, merasakan sensasi berwisata air dengan menaiki perahu.
__ADS_1
“Pernah naik perahu sebelumnya?” tanya Bisma lagi.
Kanaya menggeleng, “Enggak, ini yang pertama kali.” Kanaya menjawab dan tertawa, mungkin terkesan aneh, tetapi semua yang pertama dalam hidupnya justru dia alami dan rasakan bersama dengan Bisma.
Kemudian Bisma mengeluarkan handphone dari saku jaket yang saat dia kenakan, “Kita selfie ya Sayang buat kenang-kenangan,” ucapnya sembari mengarahkan kamera dan mengabadikan momen berdua.
Berbagai pose mereka ambil, sekadar menaiki perahu dan berfoto-foto saja rasanya sudah begitu menyenangkan bagi Bisma dan Kanaya.
Saturdate kali ini terasa ampuh karena mereka memiliki waktu yang lebih intens berdua, melepaskan stress dari pekerjaan, dan juga mengisi daya kembali bagi keduanya sebelum berganti pada rutinitas yang sudah menunggunya lagi. Rasanya benar-benar menyenangkan.
“Mas, aku pegang airnya ini boleh?” tanya Kanaya. Dia ingin sembari membiarkan tangannya menyentuh air pantai itu.
Bisma mengangguk, “Boleh … kamu mau teriak juga enggak apa-apa,” jawabnya.
Kanaya pun tersenyum, dia lantasnya memegangi air pantai itu dengan tangannya. Wanita itu beberapa tersenyum dan terlihat begitu bahagia. Bisma pun secara diam-diam mengabadikan momen itu dengan kamera handphonenya. Melihat istrinya yang terlihat bahagia dan menikmati kencan bagi mereka hari itu membuat Bisma merasa lebih bahagia.
Usai hampir setengah jam mengelilingi pantai dengan perahu, sekarang keduanya memilih untuk mengunjungi kafe yang berada di kawasan itu. Sekadar bersantai dan memesan minuman dingin yang akan melegakan tenggorokannya yang kering.
“Jadi suka jalan-jalan hari ini?” tanya Bisma lagi sembari meminum es kelapa muda yang sangat cocok dinikmati di hari yang terik.
Kanaya mengangguk, “Suka, banget malahan. Keliatannya kita harus sering-sering agendakan jalan-jalan kayak gini, Mas. Biar pemandangannya gak hanya apartemen, ya walaupun di apartemen saja aku juga sih,” ucapnya yang juga menyeruput es kelapa mudanya.
Bisma mengangguk, “Oke, siap. Aku akan sering-sering ajak kamu jalan-jalan. Bawa Aksara juga, Sayang. Biar dia juga belajar mengenal alam,” jawabnya.
Melihat wajah sumringah istrinya yang penuh kebahagiaan, agaknya memang Bisma harus lebih sering membawa istrinya itu keluar rumah dan kencan berdua. Sebab, kencan bukan hanya berlaku bagi mereka yang masih muda dan pacaran, pasangan suami istri juga membutuhkan kencan untuk sekadar membuat kenangan indah berdua, meredakan stress karena pekerjaan dan mengasuh anak, juga untuk membangun keharmonisan rumah tangga.
__ADS_1