Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Vitamin Booster


__ADS_3

Usai menikmati malam yang bergelora, Kanaya dan Bisma memilih mandi air hangat bersama. Mengguyur badannya di bawah shower yang memercikan air hangat yang akan menyegarkan tubuh mereka kembali. Setelahnya, mereka keluar dari kamar mandi, berpakaian, dan kini keduanya kembali duduk di sofa. Pintu kamar juga sudah tidak mereka kunci, berjaga-jaga jika Aksara terbangun dan mendatangi kamar mereka.


“Akhirnya … setelah empat tahun baru kali ini, kita melakukannya dengan durasi yang lama dan benar-benar rileks, tidak ada beban,” ucap Bisma dengan tiba-tiba.


Kanaya pun tertawa, sembari mencubit pipi suaminya itu, “Kalau abis dapat yang enak, pasti deh bilangnya gitu,” sahut Kanaya.


“Tidak Sayang … tadi rasanya beda karena kita sama-sama tidak ada beban. Dulu, kita kehilangan Aksara, melakukannya mungkin hanya sekadar formalitas kebutuhan suami dan istri. Kali ini benar-benar berbeda,” ucap Bisma.


Kanaya yang mendengarkan ucapan suaminya pun menimbang dalam hati, apa yang diucapkan suaminya tidak sepenuhnya salah. Kali ini rasanya memang berbeda.


“Maaf ya Mas, aku jadi merasa bersalah kepadamu,” ucap Kanaya.


“Tidak perlu meminta maaf … tidak apa-apa. Lagian itu kan dulu. Sekarang aku kan sudah mendapat vitamin booster dari kamu,” jawab Bisma.


“Yakin?” tanya Kanaya.


“Iya .,. sangat yakin,” balas Bisma.


“Cuma sekarang kita harus berhati-hati, Mas … Aksara kian dewasa. Perilaku kita harus bisa menjadi contoh dan teladan untuk Aksara. Jangan berbicara vulgar, jangan bersikap yang tidak senonoh di hadapannya. Sebab orang tua adalah cermin bagi anak,” jelas Kanaya.


Ya, orang tua adalah cermin bagi anak. Segala sikap dan tutur kata dari orang tua akan dilihat dan akhirnya ditiru oleh anak. Maka dari itu, orang tua sebagai teladan harus bersikap bijak dan tentunya hati-hati.


“Iya Sayang … lagian aku kan juga tidak aneh-aneh di hadapan Aksara. Palingan cuma cium dan peluk kamu saja. Kalau itu tidak apa-apa Sayang, karena bahasa kasih dari orang tua ke anak dan sebaliknya adalah dengan tindakan afeksi. Menunjukkan kasih sayang. Justru dia akan belajar bagaimana menyayangi dari orang tuanya. Sampai dia dewasa nanti, dia akan melakukan hal yang sama kepada pasangannya,” jelas Bisma dengan panjang lebar kepada Kanaya.

__ADS_1


“Iya Mas … aku tahu. Jadi, sekarang kita berusaha menjadi cermin yang bersih dan jernih untuk Aksara ya Mas?” balas Kanaya.


Dengan cepat Bisma pun menganggukkan kepalanya, “Iya Sayang … tidak ada orang tua yang sempurna. Namun, kita bisa belajar bersama dan menjadi teladan untuk putra kita,” balas Bisma.


Kesempurnaan itu bersifat relaitf. Sama halnya orang tua yang bisa menjadi teladan itu pun setiap rumah akan memiliki tolok ukurnya masing-masing. Akan tetapi, Bisma dan Kanaya ingin menjadi orang tua yang baik di kacamata mereka sendiri untuk Aksara tentunya.


“Mau minum sesuatu?” tanya Bisma kini kepada Kanaya.


Mereka memiliki kebiasaan akan membuat minuman dingin ‘after play’ sehingga mengakhiri sesi percintaan dengan minum bersama, mengobrol, karena itu bisa meningkatkan bounding di antara keduanya.


Perlahan Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “Mau Teh Tarik,” jawabnya.


Teh Tarik sendiri adalah perpaduan Teh dan susu, cara pembuatannya adalah ditarik dari satu gelas ke gelas yang lain hingga menghasilkan buih atau busa. Di daerah Semenanjung Melayu, Teh Tarik menjadi minuman yang digemari masyarakat seperti di daerah sebagian Pulau Sumatra, Batam, Singapura, dan Malaysia.


Pria itu segera mengambil handphonenya dan memesan Teh Tarik untuk dirinya dan Kanaya. Hanya berselang lima belas menit, dua cup gelas berukuran besar Teh Tarik dingin sudah berada di tangannya.


“Sekarang diminum dulu … tenggorokan kamu pasti kering,” ucap Bisma sembari tertawa.


Kanaya pun langsung mengerucutkan bibirnya, “Kamu jahat banget sih, Mas … kalau udah dapat vitamin boosternya, ujung-ujungnya ngeledekin loh,” jawabnya.


Keduanya pun lantas tertawa bersama, memang kenyataannya hal-hal kecil dan obrolan ringan seperti inilah yang membawa keharmonisan bagi rumah tangga Bisma dan Kanaya.


“Sayang, empat tahun ini kamu sudah melewati masa sulit … sekarang berbahagialah. Aksara sudah kembali bersama kita. Yang penting kita lebih waspada, karena ancaman bisa datang darimana saja. Bahkan tempat yang kita kira aman nyatanya juga tidak aman untuk Aksara. Jadi, jangan bersedih lagi. Yah?”

__ADS_1


Bisma benar-benar berbicara dari hatinya. Dia sangat tahu bagaimana empat tahun waktu berlalu dengan berselimut kabut mendung. Penantian yang begitu panjang, tetapi berbuah manis karena akhirnya Aksara bisa mereka temukan kembali.


“Kamu juga Mas … bukan hanya aku yang melewati masa sulit, tetapi kamu juga. Lebih tepatnya kita. Jadi, sekarang selain bersyukur kepada Allah … kita juga layak berbahagia dengan Aksara. Kita isi hari-hari penuh kebahagiaan dengan Aksara. Jangan menyalahkan diri sendiri. Di mataku dan Aksara, kamu tetap adalah Ayah yang terhebat,” balas Kanaya.


Sekalipun Bisma jarang mengungkapkan isi hatinya, tetapi Kanaya tahu bahwa pernah ada satu masa di mana Bisma merasa gagal untuk menjadi Ayah yang gagal melindungi putranya. Ada satu masa di mana Bisma merasa dirinya adalah seorang Ayah yang buruk.


Bisma pun perlahan menaruh gelas cup Teh Tarik dalam genggamannya ke atas nakas, kemudian segera merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya. Bisma memeluk tubuh Kanaya dengan begitu eratnya.


“Makasih Sayang … kamu bahkan tahu isi hatiku. Terima kasih banyak. Iya, sekarang mari kita berbahagia dan membuat kenangan yang indah bersama Aksara. Maafkan juga aku hanya bisa bersama kamu dan Aksara di sore hari,” jelas Bisma kini.


Kanaya pun balik memeluk suaminya itu, mengusapi punggungnya dengan gerakan naik turun yang begitu lembut. Perlahan Kanaya pun bersuara, “Iya … nanti Sabtu ya. Kita akan Aksara ke Singapore Zoo. Dia sudah ingin sekali melihat binatang,” balas Kanaya.


“Iya … nanti kita ke Singapore Zoo. Mumpung di Singapura, kita akan Aksara jalan-jalan dan makan-makan. Biar dia bahagia. Aku tahu Aksara pun butuh beradaptasi. Lihatlah, terkadang dia begitu sedih dan murung. Tidak mudah baginya untuk melepaskan begitu saja kehidupannya di Panti Asuhan dulu,” balas Bisma.


Sebagai seorang Dokter Anak, Bisma memang ada kalanya mengamati Aksara. Memperhatikan perilaku putranya, memperhatikan ekspresi dan raut wajahnya. Tidak mudah untuk Aksara beradaptasi, tetapi Aksara tidak pernah protes. Selama minggu ini, Aksara justru terlihat belajar beradaptasi dengan mereka tanpa protes.


“Aku tahu, Mas … semua orang pun butuh beradaptasi. Apalagi kita dulu juga langsung membawa Aksara pulang ke rumah dan keesokan harinya ke Singapura. Jadi aku tahu, Aksara merasa aneh dan kesepian. Tidak apa-apa, kita jalani pelan-pelan,” ucap Kanaya.


“Ya nanti sebulan sekali, kita datang berkunjung ke Panti Asuhan, Sayang … supaya silaturahmi dengan Bu Lisa dan Keluarga Pak Radit tetap terjalin. Juga Aksara tidak kehilangan teman-temannya begitu saja,” balas Bisma.


Kanaya merespons ucapan suaminya dengan menganggukkan kepalanya, “Mas, mau tidak kita menjadi donatur tetap untuk Panti Asuhan Kasih Ibu?” tanya Kanaya kini kepada Bisma.


Rupanya Bisma pun setuju, “Tentu aku setuju dan aku mau … bukan sekadar membalas budi, tetapi aku ingin anak-anak di sana bisa sekolah dan juga terpenuhi gizinya. Asalkan tidak keberatan dan tulus, tidak masalah Sayang,” balas Bisma.

__ADS_1


Mengingat kasih sayang Bu Lisa, dan teman-teman Aksara di Panti Asuhan, Kanaya tergerak untuk menjadi donatur tetap bagi Panti Asuhan itu. Kanaya pun ingin seperti keluarga Raditya yang memberi tidak harus menunggu kaya, memberi berdasarkan ketulusan dan keikhlasan hati. Siapa tahu dengan menjadi donatur di sana, Kanaya bisa bertemu dengan keluarga Raditya dan mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung.


__ADS_2