
Di akhir pekan ini, Kanaya dan Bisma memilih untuk mengunjungi kediaman Ayah Tirta dan Bunda Hesti. Sebab, beberapa hari sebelumnya Bunda Hesti telah menelpon bahwa mereka merindukan bayi Aksara, sehingga Kanaya dan Bisma pun memilih menghabiskan akhir pekan di rumah Ayah Tirta dan Bunda Hesti.
"Siang Eyang Kakung dan Eyang Putri," sapa Kanaya dan Bisma bersamaan begitu memasuki rumah yang terlihat asri itu.
"Eh, ada Mas Bayi Aksara nih. Yuk, masuk-masuk," balas Bunda Hesti yang terlihat begitu bahagia melihat kedatangan Kanaya, Bisma, dan juga Aksara.
"Sini digendong Eyang Putri ya," ucap Bunda Hesti sembari meminta Aksar dari gendongan Kanaya dan segera menggendongnya menuju bagian taman untuk menemui Eyang Kakung Tirta.
Kanaya pun tersenyum, dia lantas melihat kebahagiaan di wajah Bunda Hesti saat menggendong Aksara.
"Kalau Aksara datang, Bunda keliatan seneng banget ya Mas?" ucap Kanaya kali ini dengan terus mengamati Bunda Hesti yang menggendong Aksara.
Bisma pun mengangguk, "Iya … Bunda itu menjadi bidan juga karena seneng sama anak-anak," cerita Bisma kepada Kanaya.
"Benarkah? Kalau gitu kenapa Ayah dan Bunda hanya memiliki anak satu kalau suka anak-anak?" tanya Kanaya lagi.
Bisma pun mengedikkan bahunya, "Aku kurang tahu. Katanya sih, waktu melahirkan aku dulu Bunda itu diinduksi alami sampai 19 jam. Aku dilahirkan normal, tetapi abis itu Bunda trauma melahirkan gitu. Makanya Bunda jadi bidan supaya bisa menolong para calon ibu untuk bisa melahirkan dan tidak mengalami trauma setelahnya," cerita Bisma kepada Kanaya.
"O … begitu. Mulia sekali ya Bunda. Aku kadang ingin punya berprofesi yang bisa banyak nolong orang. Rasanya puas banget kan bisa nolongin orang gitu. Membantu orang hamil, melahirkan, sampai nanti bisa lihat bayinya tumbuh besar. Seneng banget sih," respons Kanaya kepada Bisma.
Bisma tersenyum mendengar ucapan istrinya itu, "Kamu juga harus bangga pada dirimu sendiri. Kamu juga wanita yang berprofesi keren. Walaupun enggak berhubungan langsung dengan manusia, tetapi dampaknya kan dirasakan manusia juga," ucap Bisma yang membesarkan hati istrinya itu.
Kanaya kemudian mengangguk, "Iya Mas, makasih ya sudah membesarkan hatiku," ucapnya sembari duduk di ruang tamu.
Saat Aksara datang ke rumah Eyangnya, rasanya Kanaya dan Bisma menjadi banyak memiliki waktu luang berdua. Seperti sekarang ini, Bunda Hesti dan Ayah Tirta asyik mengasuh Aksara. Kemudian Bisma dan Kanaya pun memilih untuk duduk bersama sembari ngobrol berdua.
"Kalau ke rumah Eyangnya, rasanya aku jadi banyak memiliki waktu luang," ucap Kanaya dengan tiba-tiba.
"Enggak apa-apa. Kan ya sekali-kali juga," sahut Bisma.
Lagipula memang saat seorang cucu datang, para Eyangnya akan begitu bahagia. Seperti Bunda Hesti dan Ayah Tirta sekarang ini. Seolah, waktu untuk bisa bermain dan mengasuh cucunya harus dimaksimalkan sedemikian rupa.
"Sayang, mau ke kamar? Temenin aku tidur," ajak Bisma dengan tiba-tiba.
Mendengar kata tidur, agaknya mulai bergeser maknanya bagi Kanaya. Hingga wanita itu pun tertunduk malu, wajahnya merona merah.
__ADS_1
"Kamu kenapa, pipi kamu merah? Emang ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Bisma kepada Kanaya.
Dengan cepat Kanaya menggeleng, sungguh malu karena tiba-tiba sensor dalam otaknya justru memikirkan hal yang lain.
"Eh, enggak Mas… enggak apa-apa kok." Kanaya menjawab sembari membuang muka, dia harus segera membuang pikirannya yang mulai ternoda karena mendengar ajakan suaminya itu.
"Kamu tidur saja, Mas … kan itu Aksara juga sama Eyangnya. Aku di sini dulu, nanti aku bangunin." Kanaya pun mempersilakan Bisma untuk tidur siang, beristirahat. Sebab, Kanaya tahu bahwa terkadang suaminya itu kurang tidur.
Intensitas pekerjaan yang tinggi di Rumah Sakit dan di klinik. Juga Bisma yang selalu membantunya di rumah. Agaknya, sesekali membiarkan suaminya tidur siang tidak masalah.
Mengangguk, akhirnya Bisma memilih menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Sementara itu, Kanaya masih berada di ruang tamu. Berjaga-jaga jika nanti baby Aksara menangis dan membutuhkan ASI.
Lantaran hanya menunggu dan membuatnya mengantuk, maka Kanaya pun memilih untuk pergi ke dapur. Di sana dia membuka lemari es, dan dia melihat ikan patin di sana. Mulailah Kanaya berpikir untuk membuat Ikan Kuah Asam Pedas yang merupakan menu masakan kesukaan suaminya.
Mulailah Kanaya menjelajah dalam mesin pencarian untuk mencari resep ikan kuah asam pedas. Memperhatikan apa saja bahan-bahannya dan bagaimana cara memasak. Merasa yakin bahwa dia bisa memasak, maka Kanaya sedikit berlari mencari Bunda Hesti terlebih dahulu.
"Bunda, ikan patinnya boleh enggak Naya masak?" tanya Kanaya terlebih dahulu kepada Bunda Hesti.
Bunda Hesti pun mengangguk, "Kamu mau masak apa?" tanyanya kepada Kanaya.
Sekalipun Kanaya tidak yakin bahwa masakannya akan berhasil dan enak. Akan tetapi, dia mau mencobanya terlebih dahulu. Lagipula, tidak ada salahnya mencoba. Selain itu, Kanaya pun ingin memasakkan untuk suaminya.
Bunda Hesti pun tersenyum sembari menepuk bahu menantunya itu, "Yuk, Bunda ajarin buah Ikan Kuah Asam Pedas kesukaan suamimu. Aksara biar sama Eyang Kakungnya dulu."
"Serius Bunda mau mengajari Naya?" tanya Kanaya dengan matanya yang terlihat berbinar.
Bunda Hesti pun mengangguk, "Iya, yuk ke dapur … Bunda ajarin."
Mulailah Bunda Hesti dan Kanaya menuju dapur. Hal pertama yang dilakukan adalah memfillet ikan dan mencurahkan perasan air jeruk nipis supaya ikannya tidak amis. Kemudian mendidihkan air ke dalam panci, memasukkan tulang dan kepala ikan terlebih dahulu untuk membuat kaldu ikan yang lezat. Setelah mendidih, saring kaldu ikan. Pisahkan tulang-tulangnya. Lalu, tuang kembali ke dalam panci. Masak hingga mendidih.
Saat air telah mendidih dan aroma kaldu ikan itu telah tercium, mulailah Kanaya menambahkan rempah-rempah yang sudah dihaluskan terlebih dahulu menjadi bumbu halus, daun jeruk, cabe rawit, cabe merah, belimbing wuluh, dan juga perasan jeruk nipis yang akan menciptakan rasa kuah yang asam.
Terus masak hingga mendidih, lalu Kanaya mulai memasukkan daging ikan yang sebelumnya telah di-fillet. Ikan Kuah Asam Pedas pun sudah jadi.
Kanaya tersenyum puas melihat hasil kreasinya siang itu yang diajari Bunda Hesti membuat masakan kesukaan suaminya.
__ADS_1
"Kamu cobain dulu, Nay … ada rasanya yang kurang enggak?" tanya Bunda Hesti kepada Kanaya.
Mulailah Kanaya mengambil sendok dan mulai merasakan kuah itu dalam satu sendok.
"Wah, ini enak Bunda… enak banget," ucapnya begitu mencecap kuah yang rasanya ada rasa Asam, manis, dan pedas yang seolah berpadu menciptakan cita rasa yang sungguh-sungguh lezat.
Bunda Hesti pun tersenyum, "Berarti kapan-kapan bikin sendiri udah bisa loh ya? Kan sudah Bunda ajarin. Kamu pengen belajar masak apa lagi? Nanti Bunda akan ajarin kamu. Bagi mereka yang tidak bisa masak pun, kalau mau berusaha pasti bisa kok," ucap Bunda Hesti yang seolah membesarkan hati Kanaya. Sekalipun Kanaya mengaku bahwa dirinya tidak bisa memasak, tetapi jika mau berusaha dan berlatih sudah pasti akan bisa menghasilkan masakan dengan rasa yang lezat.
Hingga beberapa saat berlalu, Bisma pun tampak keluar dari kamarnya.
"Wah, Bunda masak apa?" tanya Bisma kepada Bunda Hesti yang sedang berada di dapur.
"Yang masak bukan Bunda, tetapi Naya … gimana aromanya saja sudah harum kan?" tanya Bunda Hesti kepada Bisma.
Pria itu pun segera mengangguk, "Iya, aromanya kecium sampai ke kamar Bisma. Ikan Kuah Asam Pedas ya?" tebaknya hanya berdasarkan mencium aroma masakan itu.
Bunda Hesti dan Kanaya pun sama-sama mengangguk, "Iya…"
"Wah, jadi pengen mencicipi nih," balas Bisma dengan mendekati istrinya yang sudah duduk di meja makan.
Ya, Kanaya sudah duduk dan menunggu suaminya dan Ayah Tirta untuk bergabung dan mencicipi masakan hasil kreasinya itu.
"Tunggu Eyang Kakung dulu ya, Mas." Kanaya berbicara supaya Bisma mau menunggu Ayah Tirta terlebih dahulu.
Hingga akhirnya Ayah Tirta pun bergabung dengan mereka di meja makan.
"Wah, harum sekali nih masakannya," ucap Ayah Tirta sembari mencium aroma masakan yang terasa menggoda indera penciumannya.
"Naya yang masak, Yah," sahut Bunda Hesti menjelaskan bahwa Kanaya yang memasaknya.
Mulailah mereka berempat menikmati Ikan Kuah Asam Pedas itu. Menyeruput kuahnya terlebih dahulu. Rasa Asam berpadu dengan rasa pedasnya memang benar-benar pas. Daging ikannya yang lembut.
"Wah, rasanya enak. Pas rasa asam dan pedasnya," celetuk Ayah Tirta usai mencicipi masakan Kanaya.
"Enak banget Sayang … delicious," ucap Bisma sembari mengangkat dua ibu jari tangannya untuk Kanaya. bu jari untuk istrinya tercinta.
__ADS_1
Kanaya pun tersenyum, tidak menyangka bahwa hasil belajarnya memasak Ikan Kuah Asam Pedas akan berhasil. Melihat wajah-wajah yang terlihat bahagia saat menyantap masakannya itu benar-benar membuat Kanaya bahagia.