Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Beberapa Keanehan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian …


Aksara menjalani hari-harinya dengan menjalani Homeschooling di rumah. Anak itu terlihat begitu serius bersekolah. Bahkan Aksara juga termasuk anak yang cerdas sehingga setiap pembelajaran dari gurunya bisa dia terima dengan cepat. Jika beberapa anak akan dominan kuat di menghafal atau logika, Aksara justru termasuk anak yang kuat dengan logikanya. Pelajaran Matematika menjadi mata pelajaran yang Aksara sukai setiap kali bersekolah. Bukan berarti untuk pelajaran lain nilainya jelek, tetapi Aksara terlihat lebih gemar berhitung dan membaca buku-buku ilmu pengetahuan.


Bisma menjalani profesinya sebagai Dokter Spesialis Anak dengan baik. Namun, pria itu memilih untuk mengurangi jam praktiknya di kliniknya, itu semua dilakukan supaya Bisma memiliki banyak waktu bersama dengan Aksara.


Sementara Kanaya tetap menjalani pekerjaannya sebagai Direktur Keuangan di Jaya Corp. Namun, Kanaya memilih bekerja separuh waktu di kantor, selebihnya dia akan mengerjakan pekerjaan dari rumah. Dengan demikian, Kanaya memiliki waktu yang lebih banyak bersama dengan Aksara.


"Bunda, apa Bunda sedang sakit?" tanya Aksara yang tampak memperhatikan Bundanya itu.


"Tidak itu, Sayang. Emangnya Bunda terlihat sakit yah?" tanya Kanaya kini kepada Aksara.


Anak berusia tujuh tahun itu tampak menganggukkan kepalanya, "Iya tuh … keliatannya Bunda sakit deh," balas Aksara kini.


"Bukan sakit … hanya saja Bunda merasa kecapekan Aksara. Beberapa hari ini banyak laporan keuangan di perusahaan yang harus dicek. Beberapa malam Bunda kurang tidur," keluh Kanaya kali ini kepada putranya.


"Bunda tidur dulu saja … tidak perlu menunggui Aksara. Biar Bunda sehat, Aksara bisa bermain sendiri kok," balas Aksara kali ini.


Selain mewarisi karakter Bisma yang sabar dan pengertian, Aksara juga memiliki kepedulian yang tinggi karena dirinya pernah tinggal di Panti Asuhan. Harus peduli dengan sesama teman-temannya yang dulu hidup bersamanya.


"Tidak perlu Aksara … Bunda seneng banget bisa menemanimu seperti ini. Saat jauh darimu dulu, Bunda begitu sedih dan kesepian. Sekarang Bunda begitu bahagia bisa kembali bersamamu," aku Kanaya kali ini dengan jujur.


"Baik Bunda … yang penting jangan terlalu dipaksakan," balas Aksara.


Akan tetapi, menemani Aksara belajar dan menonton film siang itu Kanaya merasa matanya begitu berat, hingga Kanaya justru tertidur di kamar Aksara karena tidak bisa lagi menahan kantuk. Melihat Bundanya yang tertidur, Aksara memilih keluar dari kamarnya. Aksara memilih menuju ke Perpustakaan yang memang sengaja dibuatkan Ayah Bisma untuknya. Aksara memilih belajar dan sekaligus memberi waktu bagi Kanaya untuk istirahat.


Beberapa jam pun berlalu, sampai waktunya Ayah Bisma datang dari Rumah Sakit. Pria itu terkejut melihat suasana rumah yang sepi.


"Sayang," panggil Bisma begitu memasuki rumah. Namun, sang istri yang dicari nyatanya tidak menjawab.


Justru Aksara yang keluar dari perpustakaan dan menghampiri Ayahnya itu.


"Ayah, Ayah sudah pulang?" tanya Aksara.


"Iya sudah … Bunda kamu di mana Aksara?" tanya Bisma kali ini kepada Aksara.


"Bunda tidur di kamarnya Aksara, Yah… Bunda capek tuh Ayah. Tadi Aksara pikir kalau Bunda sakit, ternyata Bunda hanya bilang kecapekan," ucap Aksara lagi.


Tampak Bisma mengernyitkan keningnya, karena istrinya itu tergolong orang yang tidak pernah tidur siang. Akan tetapi, sekarang justru Kanaya tengah tertidur. Bisma pun langsung menuju kamar Aksara, dan melihat Kanaya yang masih tidur dan terlihat begitu pulas.


"Sayang," panggil Bisma kepada istrinya itu sembari menepuk lengan Kanaya dengan lembut. Selain itu, Bisma juga mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya. Meminta istrinya itu untuk bangun.

__ADS_1


Beberapa kali membangunkan, barulah Kanaya mengerjap. Wanita itu terlihat kaget saat mendapati suaminya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Eh, Mas … sudah pulang?" tanya Kanaya kali ini.


"Iya sudah … kamu kecapekan yah?" tanya Bisma kini.


Dengan cepat Kanaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya… capek. Kerjaan banyak banget. Laporan yang dicek juga semakin banyak,” keluh Kanaya kali ini kepada suaminya.


Bisma lantas membantu Kanaya untuk bangun, membopong wanita itu untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.


“Sekarang … istirahat dulu saja. Biar aku yang temani Aksara. Kamu capek kan? Jadi istirahatlah,” balas Bisma.


Dalam kondisi seperti ini rasanya Kanaya benar-benar bersyukur karena suami dan anaknya benar-benar sosok yang pengertian dan memberikan waktu untuknya beristirahat. Kanaya pun mengangguk. Dia pikir bisa tidur sebentar untuk memulihkan kembali energinya.


***


Beberapa hari kemudian …


Tengah malam, Kanaya terbangun. Wanita itu merasakan kedinginan. Tubuhnya mengigigl. Kanaya meringkuk di atas ranjang dengan menyelimuti dirinya dengan selimut yang tebal, tetapi nyatanya tubuhnya masih kedinginan.


Lantas, Kanaya pun mencoba membangunkan suaminya perlahan.


“Hmm, apa?” Bisma rupanya menyahut dengan cepat dan pria itu segera membuka matanya. Melihat sosok Kanaya yang terlihat kedinginan sekarang ini.


“Kamu kenapa?” tanya Bisma kepada istrinya itu.


“Aku kedinginan, Mas … dingin banget,” balas Kanaya saat ini.


Bisma lantas menyentuh kening istrinya dengan telapak tangannya, mencoba mengukur suhu tubuh istrinya itu dengan telapak tangannya.


“Kamu demam, Sayang …,” ucap Bisma kali ini.


Bisma kemudian mematikan AC di kamar mereka, mengambil termometer dan mengecek suhu tubuh Kanaya sekarang.


“38͒⁰ Celcius, kamu demam Sayang,” ucap Bisma kali ini.


“Dingin Mas,” keluh Kanaya kali ini.


Bisma lantas seketika menerka, kenapa istrinya tiba-tiba merasakan demam mendadak. Padahal selama ini kehidupan Kanaya cukup sehat dengan mengonsumsi sayuran dan olahraga juga. Pria itu lantas mengernyitkan keningnya, tengah malam begini, dia menanyakan hal yang cukup sensitif kepada istrinya itu.


“Sayang, kapan terakhir kali kamu datang bulan?” tanya Bisma sekarang ini.

__ADS_1


Tentu saja sebagai Dokter, Bisma bertanya terlebih dahulu. Untuk bertanya dan memastikan keadaan Kanaya supaya dia tidak memberikan obat dengan sembarangan kepada istrinya itu.


“Sebelum ke Singapura,” jawab Kanaya.


“Itu artinya sudah hampir dua bulan,” balas Bisma dengan cepat.


“Aku tidak berani memberimu sembarangan obat dulu karena takut kalau kamu ternyata ‘isi’. Jadi, sekarang selimutan dulu saja yah … aku masih pengompres demam saja, itu bisa menurunkan suhu tubuhmu,” jelas Bisma kali ini.


Sampai akhirnya, Bisma mengompres kening Kanaya. Pria itu terlihat begitu telaten, Bisma tetap terjaga sampai Kanaya kembali tertidur. Setelah suhu tubuh Kanaya turun, barulah Bisma kembali merebahkan dirinya dan tidur di sisi istrinya itu.


Hingga pagi menjelang, Bisma terbangun lebih dahulu. Pria itu terlihat menyeduh Teh di dapur dan meminta Bibi Sari, ART-nya untuk membuatkan Bubur Ayam untuk Kanaya.


“Ayah, Bunda di mana?” tanya Aksara pagi itu.


Biasanya di meja makan selalu ada Bunda dan Ayahnya, tetapi kali ini yang terlihat hanyalah Ayahnya seorang diri. Sehingga Aksara pun menanyakan keberadaan Bundanya.


“Bundamu masih tidur, Aksara … semalam Bunda demam. Jadi, biarkan Bunda beristirahat terlebih dahulu,” balas Bisma.


Aksara pun menganggukkan kepalanya. Beberapa hari ini Aksara juga merasa Bundanya terlihat sering kelelahan dan sering tertidur di siang hari. Aksara sudah menebak bahwa mungkin saja Bundanya itu sedang sakit.


“Ayo, kita bawa Bunda ke Dokter, Ayah … Aksara takut kalau Bunda sakit,” ucap Aksara kali ini.


“Iya Nak … nanti kita bawa Bunda ke Dokter yah,” balas Bisma kali ini.


Sampai akhirnya, Kanaya terbangun. Wajah wanita itu terlihat sayu sekarang ini. Demamnya sudah turun, tetapi masih terlihat kalau wanita itu kurang sehat.


“Sarapan dulu, Sayang ….”


Bisma berdiri dan mengambilkan semangkok Bubur Ayam dan secangkir Teh hangat untuk istrinya itu.


“Makasih Mas,” sahut Kanaya.


Hingga akhirnya, dengan perlahan Kanaya mencoba memakan Bubur Ayam itu dan meminum Teh hangat beraroma melati itu. Setelahnya, Kanaya memilih duduk masih di meja makan dengan punggung yang bersandar di kursi.


“Sayang, aku belikan test pack yah? Kamu test dulu, setelah kita tahu jawaban barulah kita ke Rumah Sakit,” ucap Bisma kali ini.


“Test pack, Ayah? Apa Bunda?” tanya Aksara dengan cepat.


Bisma sedikit mengangguk kepada putranya itu, “Mungkin saja, Aksara … kita test dulu biar tahu hasilnya,” jawab Ayah Bisma.


Aksara pun mengangguk dan memilih diam. Bukannya dia tidak tahu, tetapi dia tahu kalau test pack adalah sebuah alat untuk memprediksi kehamilan seseorang. Jika demikian, mungkinkah Bundanya akan memiliki baby lagi?

__ADS_1


__ADS_2