Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Dia yang Turut Menyaksikan


__ADS_3

Rupanya usai Akad Nikah berakhir, Darren dan Sandra beserta seluruh keluarga yang hadir bersama-sama memanjatkan doa yang dipimpin oleh seorang pemuka agama dari Rutan tersebut. Kemudian, pria itu menyematkan sebuah cincin emas di jari manis Sandra.


Pernikahan yang teramat singkat dan sederhana, juga pernikahan anak seorang CEO Billioner yang dilangsungkan hanya di sebuah rumah tahanan. Akan tetapi, dalam suasana kesederhanaan dan juga tempat yang tak terduga itu, para undangan yang hadir justru menitikkan air matanya. Ada rasa haru yang menyelimuti pernikahan Darren dan Sandra siang itu.


Begitu acara telah selesai, Darren dan Sandra kemudian menyalami setiap anggota keluarga yang hadir. Di luar apa yang Darren dan Sandra bayangkan, rupanya siang itu turut hadir pula Kanaya dan juga Bisma yang duduk di belakang Mama Sasmita dan Gisell. Kanaya dan Bisma datang hanya berdua dengan memakai baju batik yang senada.


Sekalipun Kanaya dan Bisma duduk dengan diam dan hanya beralaskan tikar, tetapi Bisma justru terlihat menggenggam tangan Kanaya sepanjang acara itu berlangsung. Rasanya, pria itu tak akan membiarkan tangan istrinya terlepas dari genggamannya.


Sementara itu, Darren tampak tercekat melihat kehadiran Kanaya dan Bisma. Seolah-olah rasa dalam hatinya berkecamuk menjadi satu. Ini juga menjadi pertemuannya kembali dengan Kanaya setelah sekian lama.


Dengan sikap yang terasa kaku dan juga canggung, Bisma terlebih dahulu menjabat tangan pria itu. Lantas, Bisma berkata, “Selamat buat pernikahannya,” ucapnya.


Sekali pun kalimat yang dia ucapkan begitu singkat, tetapi dalam hatinya Bisma berharap bahwa Darren benar-benar bahagia dengan pernikahannya. Sementara itu, Kanaya juga tampak menjabat tangan Darren dan juga Sandra bergantian. Jika Bisma sempat mengucapkan kata ‘selamat’, tetapi tidak bagi Kanaya. Wanita itu hanya diam, dan hanya sedikit mengangguk.


Usai menjabat tangan keduanya, satu tangan Kanaya bergerak untuk mengalung dengan indah di lengan suaminya. Bertaut di sana. Bukan sekadar sikap perlindungan diri, tetapi dia secara implisit ingin menunjukkan bahwa pria yang dia cintai hanyalah suaminya saja.


“Terima kasih sudah datang,” ucap Darren pada akhirnya.


Bisma kemudian menganggukkan kepalanya, “Sama-sama. Kami datang karena mendapat undangan dari Papa Jaya dan Mama Sasmita,” sahutnya dengan tenang.


“Selamat, San …” Kali ini Kanaya berbicara kepada Sandra memberikan selamat kepada yang dulu mengukir luka di masa lalunya.


Sandra pun mengangguk, “Makasih Nay,” jawabnya singkat dan berpegangan pada Darren.

__ADS_1


Sejujurnya Sandra sudah merasa makin pusing, sehingga dia berpegangan kepada Darren. Berharap pria yang baru saja menjadi suaminya itu akan menjadi penopangnya. Kehamilan agaknya benar-benar membuat Sandra menjadi lemah.


Kanaya pun mengangguk, setelahnya dia memilih untuk pulang terlebih dahulu dari rumah tahanan itu bersama dengan Bisma.


“Pilu ya Mas,” ucap Kanaya begitu mereka sudah memasuki mobil.


Bisma pun mengangguk, “Iya … baru kali ini aku menghadiri pernikahan yang dilangsungkan di Rumah Tahanan.” Bisma pun mengakui bahwa ini kali pertama baginya menghadiri sebuah akad nikah yang berlangsung di Rumah Tahanan.


Jika menilik bagaimana akad itu terjadi, memang sangat ironis. Siapa pun yang hadir juga akan menitikkan air matanya. Akad nikah yang baru saja mereka datangi, bukan sebatas perayaan pernikahan yang penuh sukacita, tetapi semua wajah yang hadir di sana justru berselimut dengan haru dan duka.


“Aku yakin di dalam hatinya, Mama Sasmita dan Papa Jaya hancur banget,” ucap Kanaya kali ini dengan pandangannya yang memperhatikan setiap panorama yang terlihat dari kaca jendela mobilnya.


“Hati orang tua mana yang tidak bersedih dengan sebuah pernikahan yang dilangsungkan di dalam penjara.” Bisma menyahut. Perlahan, Bisma melirik pada istrinya itu dan mulai bertanya, “Perasaan kamu gimana?” tanya pria itu dengan pelan.


Helaan napas meluncur begitu saja dari hidung Bisma, “Dia mantan suami kamu, Sayang … pria yang juga pernah mengisi hatimu. Perasaan kamu bagaimana sekarang?” tanya Bisma yang kali ini memperjelas pertanyaannya.


Dengan cepat Kanaya justru tertawa, “yah, aku baik-baik saja dong, Mas … enggak kenapa-napa juga. Emang harus bagaimana?” responsnya kali ini.


Akan tetapi, tawa Kanaya tiba-tiba sirna, dan wanita itu kembali bersuara, “Kendati demikian, aku berdoa supaya Darren dan Sandra akan bahagia bersama. Seperti katamu dulu, aku akan melupakan apa yang ada di belakangku. Melupakan dendamku kepada mereka berdua. Aku ingin menyongsong hari depan bersamamu.”


Ya, kali ini Kanaya berbicara dengan sungguh-sungguh. Sama seperti dahulu suaminya yang sudah berkata kepadanya untuk melupakan dendamnya, maka Kanaya kini sudah dalam keadaan bisa melepaskan dendam masa lalunya. Dia bisa berdamai dengan masa lalunya. Terlebih dengan memiliki Bisma di sampingnya, Kanaya hanya bisa fokus pada sosok suaminya itu. Semua kesakitan dan kepedihan di masa lalu seakan sirna.


“Syukurlah, aku bahagia mendengarnya.” Bisma berkata sembari terus melajukan mobilnya.

__ADS_1


***


Sementara itu, di Rumah Tahanan. Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Hanya sebatas nasi kotak yang dibagikan oleh keluarga Jaya kepada petugas Rutan dan juga para tahanan.


“Kamu juga makan, San.” Mama Sasmita yang rupanya juga mengingatkan kepada menantunya itu untuk makan.


Jikalau dulu, Mama Sasmita memang tidak setuju saat Darren mengutarakan niatannya untuk menikahi Sandra. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, hati dan perasaan pun turut berubah. Itu juga yang dialami oleh Mama Sasmita. Dia pun merasa kini bisa lebih ikhlas untuk menerima Sandra, terlebih wanita yang baru saja menjadi menantunya itu tengah mengandung bakal cucunya.


“Makasih Ma,” sahut Sandra dengan lirih.


Entah rasanya, hati Sandra pun seakan tidak ada kebahagiaan. Apakah itu karena hormon kehamilan yang berakibat pada perubahan suasana hatinya, atau karena pernikahan yang terjadi begitu sederhana di sebuah Mushola rumah tahanan. Ada perasaan hambar yang justru kini dia rasakan.


Sementara, begitu semua acara selesai, pengantin pun langsung berpisah. Tidak ada acara meraih malam pertama usai pernikahan. Darren tampak berdiri di hadapan Sandra, “Aku akan kembali masuk ke dalam,” pamit pria itu dengan menaruh satu tangannya di bahu Sandra.


Sandra pun mengangguk, “Iya … jaga kesehatan.”


Tergerak karena dorongan hati, Darren memilih mengambil satu langkah di hadapannya, dan pria itu segera memeluk Sandra dengan erat. Ada rasa bersalah yang dia rasakan, jujur saja bagi Darren ini juga bukanlah pernikahan yang layak dan juga bukan pernikahan yang dia impikan.


“Maafkan aku, San … aku hanya bisa menikahimu seadanya. Akan tetapi, aku janji. Saat aku sudah keluar dari rumah tahanan nanti, aku akan buatkan resepsi pernikahan termegah buatmu.” Darren berjanji dan akan memberikan resepsi pernikahan impian bagi Sandra.


Air mata Sandra luruh seketika di dada suaminya yang masih mengenakan kemeja putih dan jas hitam itu. Wanita itu terisak, “Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mau bertanggung jawab atasku dan atas anak di dalam kandungannya.”


Agaknya momen penuh haru itu harus segera berakhir, karena petugas rutan segera membawa Darren untuk kembali masuk ke dalam tahanan. Sandra menangis, berurai air mata menyaksikan Darren yang dipegang kedua tangannya dan dibawa masuk kembali ke dalam sel penjara.

__ADS_1


“Aku sayang kamu, Darren …” wanita itu merintih dan terisak. Satu tangannya memegangi dadanya yang terasa sesak. Tidak menyangka, ini adalah sebuah pernikahan yang berselimut pilu.


__ADS_2