Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Kebun Raya Bogor


__ADS_3

Usai merayakan ulang tahun Aksara, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya kali ini Bisma, Kanaya, dan Aksara memilih untuk menginap di rumah keluarga Pradana. Sudah tentu, Bunda Hesti merasa bahagia karena anak-anak dan cucunya benar-benar mau menginap malam itu.


“Nah, sering-sering menginap di sini. Terkadang rumah ini sepi,” ucap Bunda Hesti yang berkata bahwa rumah itu terkadang sepi.


Bagaimana tidak sepi? Jika rumah besar yang terlihat asri itu hanya didiami oleh Bunda Hesti, Ayah Tirta, dan beberapa pembantu. Dulu, saat Bisma masih tinggal di rumah, setidaknya rumah itu lebih hidup. Sekarang, rumah itu begitu sepi. Akan tetapi, saat Bisma datang dan membawa istri serta anaknya, rumah itu kembali hidup dengan tawa, dan tangisan dari Aksara.


Kanaya pun mengangguk, “Iya Bunda, kami akan sering-sering main ke mari,” jawab Kanaya,


“Kalian besok buru-buru balik ke rumah kalian tidak?” Kali ini giliran Ayah Tirta yang bertanya kepada Bisma dan Kanaya.


“Kenapa Ayah?” tanya Bisma dengan cepat.


“Besok boleh tidak Ayah dan Bunda mengajak Aksara main-main di Kebun Raya Bogor?” tanya Ayah Tirta.


Sekalipun Aksara adalah cucunya, tetapi ketika hendak membawa pergi Aksara, Ayah Tirta tetap bertanya dan seolah meminta izin terlebih dahulu kepada Kanaya dan Bisma.


“Boleh Yah, ajak saja. Yang penting hati-hati ya Ayah, atau besok kami ikut saja, biar sama-sama piknik ke Kebun Raya Bogor,” jawab Bisma kini yang justru berniat untuk mengikuti Ayah Tirta dan Bunda Hesti jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor.


Ayah Tirta pun mengangguk, “Iya, kalian ikut saja. Kami malahan senang,” jawab Ayah Tirta.


***


Kebun Raya Bogor …


Menyingkir sejenak dari kemacetan dan hiruk-pikuk Ibukota. Ayah Tirta kali ini membawa serta istri, anak, menantu, dan cucunya untuk mengunjungi Kebun Raya Bogor. Kebun botani yang besar dan luas area mencapai 87 hektar itu menjadi pilihan bagi Ayah Tirta untuk bertamasya bersama keluarganya.


Kali ini Bisma lah yang mengemudikan mobil milik Ayahnya menuju kawasan Kebun Raya Bogor. Membelah kemacetan Ibukota menuju kota Bogor di akhir pekan memang cukup ramai lancar, tetapi Bisma dengan sabar mengemudikan mobil itu dan menuju ke Bogor bersama keluarganya.


"Pernah ke Kebun Raya Bogor sebelumnya, Nay?" tanya Bunda Hesti kali ini kepada Kanaya.


"Pernah Bunda, tapi waktu masih kecil dulu. Setelahnya, sudah jarang kemari. Dulu Naya, naik kereta terus sambung menaiki angkutan kota menuju Kebun Raya Bogor," ceritanya kali ini kepada Bunda Hesti.


"Dulu waktu SMA, pas belajar Tanaman Vegetatif juga ke Kebun Raya Bogor kan Sayang?" tanya Bisma sembari melirik Kanaya.


Sebab, seingatnya dulu saat SMA waktu kelas Biologi, mereka pernah mengunjungi tempat itu untuk melihat Tanaman Vegetatif dan juga melihat Bunga Raflesia Arnoldi yang berada di Kebun Raya Bogor.

__ADS_1


“Iyakah?” tanya Kanaya kepada Bisma.


“Iya …” sahut Bisma.


***


***Satu Hari di Masa Putih Abu-Abu … ***


“Besok seluruh anak kelas XI IPA akan mengunjungi Kebun Raya Bogor ya, di sana kalian harus mencatat berbagai tanaman vegetatif dan melihat langsung Bunga Raflesia Arnoldi,” penjelasan dari guru mata pelajaran Biologi saat itu.


Keesokan harinya, dengan menaiki bus pariwisata yang disediakan oleh Sekolah, seluruh siswa Kelas XI IPA pun bersama-sama mengunjungi Kebun Raya Bogor. Di sana, mereka diminta untuk mencatat jenis-jenis tumbuhan vegatatif yang mereka temukan. Tidak hanya itu, jikalau bisa, mereka juga diminta untuk menggambarkannya.


Saat itu, Kanaya yang cukup pendiam di kelas memilih berjalan sendiri dan mengerjakan tugas itu sendirian. Saat itu, tidak banyak siswa yang mau berteman dengan Kanaya karena tubuh Kanaya yang sangat besar saat itu. Hingga, saat dia tengah duduk dan menggambar bunga Raflesia Arnoldi itu, pensil 2B yang dia pakai pun patah, sehingga dia tidak bisa kembali menggambar. Rautan pun, Kanaya tidak membawanya.


Hingga tanpa Kanaya sadari, ada siswa pria yang menyerahkan pensil 2B nya kepada Kanaya, “Ini … pakailah pensilku dulu. Selesaikan gambarmu,” ucap pria itu dan berlalu begitu saja dari sisi Kanaya.


Akan tetapi, dari jarak beberapa meter, pria yang juga bertubuh gemuk itu pun tersenyum saat Kanaya kembali melanjutkan gambarannya dengan pensil yang dia pinjamkan.


***


“Jadi kamu sudah ingat peristiwa itu?” tanya Bisma sembari sekilas menatap wajah Kanaya yang kali ini terlihat begitu heran.


Jika itu adalah Bisma, Kanaya tentu akan begitu bahagia. Sebab, dari SMA pun Bisma sudah bersikap begitu baik padanya.


Perlahan Bisma pun menganggukkan kepalanya, “Ya, itu aku. Adi … yang setelah lulus teman-teman di kampus memanggilku Bisma,” jawabnya sembari tertawa.


Sungguh Kanaya merasakan suaminya memang sosok yang baik bahkan sejak keduanya masih di bangku putih abu-abu. Saat itu, Kanaya tidak tahu apakah dia bisa menyelesaikan tugasnya saat pensilnya patah dan tambah sial karena Kanaya tidak membawa rautan pensil saat itu. Tidak mengira, sosok siswa yang menolongnya saat itu adalah Bisma.


“Sejak dulu, kamu adalah sosok yang baik. Makasih ya sudah meminjamkan pensil 2Bmu saat itu. Berkat pensil yang kamu pinjamkan, aku bisa menyelesaikan tugas Biologi itu.” Kanaya akhirnya bisa mengucapkan terima kasih kepada siswa yang menolongnya dulu.


Bisma pun tertawa, “Itu sudah lama, Sayang … saat kita SMA. Mau lihat bunga Raflesia Arnoldi lagi sama Aksara?” tanyanya kepada Kanaya.


Kanaya pun mengangguk, “Iya, mau …”


Begitu sudah sampai di Kebun Raya Bogor, sembari melihat berbagai jenis flora (botani) yang beraneka jenisnya, dengan pepohonan yang rindang, keluarga Pradana menyisiri Kebun itu. Sembari menatap setiap burung yang berkicau di atas langit siang itu.

__ADS_1


Kemudian kini, Bisma mengajak Kanaya dan Aksara untuk melihat bunga Raflesia yang begitu besar itu.


“Aku masih ingat banget, dulu kamu duduk di sini kan?” tunjuk Bisma pada salah satu tempat di area itu.


Perlahan Kanaya mengangguk, “Seingat itu ya kamu sama aku?” tanya Kanaya.


“Iya, semua tentangmu selama tiga tahun di SMA, aku mengingatnya,” jawab Bisma dengan tersenyum.


Kanaya pun ikut tersenyum. Saat ini hatinya terasa benar-benar hangat. Ketika dia mengetahui bahwa suaminya yang sekaligus adalah pria yang sudah menjadi temannya di masa putih abu-abu selalu mengingatnya. Sekalipun waktu sudah lama berlalu, tetapi nyatanya Bisma masih mengingat semua kenangan itu.


“Aku bahagia, tidak menyangka kamu mengingat semua tentangku. Aku merasa begitu dicintai. Makasih Mas Bisma, Suamiku, Ayahnya Aksara,” ucap Kanaya kali ini dengan sedikit menengadahkan wajahnya guna menatap wajah suaminya itu.


Bisma pun mengangguk, “Sama-sama, aku berharap saat Aksara dewaasa nanti, dia akan mengingat setiap hal akan orang yang dicintainya,” ucap Bisma kali ini. “Mencintai sembari mengingat semua hal tentang orang yang kita cintai terasa sangat menyenangkan, sekalipun orang itu tidak tahu, tetapi rasa hati kita selalu bahagia karena kita selalu mengingatnya,” ucap Bisma kali ini dengan menggenggam tangan Kanaya.


Dia juga berharap bahwa Aksara saat dewasa nanti bisa mengingat setiap hal tentang orang yang dicintainya. Sebab, menurut Bisma terasa sangat menyenangkan saat mencintai sembari mengingat segala sesuatu tentang orang tersebut. Dengan mengingat orang tersebut, kita memiliki kekuatan lebih untuk terus mencintai orang tersebut. Bisma pikir saat itu, perasaan masih bias. Ternyata, semakin dia mengingat Kanaya, yang ada justru pria itu hanya bisa menyukai Kanaya saja. Sekalipun masa-masa di bangku SMA telah berlalu, tetapi semua kenangannya akan Kanaya tetap tersimpan dengan apik di dalam hati dan pikirannya.


...🍃🍃🍃...


Dear All My Bestie,


Aku bawa karya-karya teman aku ya, silakan teman-teman bisa mampir.



Sekadar Istri Siri karya Aisy Arbia





Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku karya Alitha Fransisca


__ADS_1



Silakan mampir dan tinggalkan jejak ya. 🧡


__ADS_2