Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Mertua yang Perhatian


__ADS_3

Menjelang waktu makan malam,Bisma dan Kanaya turun bersama-sama menuju meja makan, di sana Ayah Tirta dan Bunda Hesti sudah duduk terlebih dahulu. Kanaya, sebagai anggota keluarga baru pun menyapa mertuanya itu, “Malam Ayah dan Bunda …” sapanya dengan tersenyum hangat kepada Ayah dan Bundanya itu.


“Iya, gimana tadi bisa istirahat?” tanya Bunda Hesti kepada Kanaya.


Belum sempat Kanaya menjawab, rupanya Ayah Tirta menginterupsi, dirinya ingin menuju kamar mandi terlebih dahulu. Semua yang sudah duduk di situ pun mengangguk.


Lantas Bunda Hesti kembali bertanya kepada Kanaya, “Kamu kok justru pucet gitu sih Naya? Kamu sakit, mau Bunda antar ke Rumah Sakit usai makan malam?” tawar Bundanya itu kepada Kanaya.


“Bisma, coba kamu periksa istri kamu sakit apa? Kok keliatan pucet gitu.” Kini justru Bunda Hesti yang meminta Bisma untuk memeriksa istrinya ini. Minimal untuk penyakit yang ringan kan sebagai Dokter, Bisma tentu bisa mendiagnosisnya.


Bisma pun tersenyum, “Biasa Bunda … pengantin baru.”


Menyadari makna yang diucapkan oleh Bisma, Bunda Hesti pun menatap Kanaya dengan berbisik, “Apa kamu pertama kali melakukan itu bersama anak Bunda? Bersama Bisma?” tanya sang Bunda kepada Kanaya.


Tidak perlu ditanya lagi bagaimana memerahnya wajah Kanaya saat ini, ingin menjawab, tapi malu. Jika tidak menjawab, rasanya juga tidak sopan.


Hingga akhirnya, Bisma yang membuka suaranya, “Kami sama-sama yang pertama untuk satu sama lain, Bunda.” jawab Bisma dengan tenang.


Akan tetapi, saat pria itu mengucapkannya, hatinya begitu bahagia. Semalam pun usai melakukannya untuk kali pertama, pria itu tertidur dengan pulas hingga pagi hari. Rasa bahagianya seolah tidak bisa diungkapkan lagi.

__ADS_1


“Maaf Naya, bukankah kamu sebelumnya pernah menikah? Jadi sama yang dulu tidak pernah menyentuh kamu?” tanya Bunda Hesti lagi kepada Kanaya.


Akhirnya Kanaya pun menggelengkan kepalanya, “Tidak Bunda … tidak sama sekali. Yang ada justru dulu Naya menjadi korban perundungan.” ucapnya dengan mata tampak berkaca-kaca.


Menyadari suara dan raut wajah Kanaya, Bisma pun menggenggam tangan istrinya itu, “Ada aku di sini ya …” ucapnya dengan penuh kesungguhan kepada Kanaya.


“Maafkan Bunda ya Naya … bukan maksud Bunda untuk mengorek kembali luka lama. Ini kejutan juga buat Bunda, ya sudah kamu istirahat saja. Biasanya wanita yang baru pertama kali bisa lemas, pucat, bahkan tidak bisa berjalan, rasa sakit, perih, dan ngilu bercampur menjadi satu.” penjelasan Bunda Hesti yang merupakan seorang Bidan pun tahu rasanya usai malam pertama.


Kemudian, Bunda Hesti menatap wajah putra itu, “Malam ini biar Kanaya istirahat dulu Bisma, kalau aku ngeyel bisa-bisa istrimu pingsan.”


Dengan cepat Bisma pun mengangguk, “Iya Bunda … Bisma tahu kok.”


Bunda Hesti pun tersenyum, “Enggak Yah … itu Naya masih kecapean usai resepsi kemarin. Wajahnya pucet karena kurang istirahat, Bunda menyuruh Naya segera tidur saja biar besok pagi bisa lebih sehat.” jawab Bunda Hesti sembari mengedipkan matanya kepada Kanaya.


Mendengar ucapan Bunda Hesti, Ayah Tirta pun mengangguk, “Iya … lagian kalian berdua kan akan bulan madu. Kapan mau berangkat? Kalian hanya mendapatkan cuti 10 hari kerja saja kan?” tanya sang Ayah tiba-tiba kepada anaknya yang baru saja menjadi pengantin baru itu.


Bisma sejenak menatap Kanaya, sebelum mulai menjawab pertanyaan Ayahnya, “Mungkin besok saja Yah … memanfaatkan waktu libur. Sekaligus Bisma mau minta izin, untuk menempati apartemen Bisma ya Yah, Bunda … Kan sekarang Bisma sudah menikah, kami ingin belajar membangun rumah tangga yang mandiri. Kami pun masih harus mengenal satu sama lain juga karena kemarin kan pacarannya long distance relationship.” ucapnya kepada kedua mertuanya.


“Iya, belajar sana … kalian harus belajar mengenal satu sama lain. Menerima kelebihan pasangan itu mudah, yang tidak mudah itu menerima kekurangannya. Sebab itu, Ayah mendukung kalau kalian saling mengenal dan belajar membina rumah tangga yang mandiri,” ucap Ayah Tirta.

__ADS_1


“Benar Bisma dan Naya, kalian baru satu hari menikah. Sebelumnya juga pacaran lintas pulau. Jadi tidak apa-apa saling mengenal dulu. Tinggal di apartemen boleh, Bunda mendukung, hanya saja terkadang kunjungilah Ayah dan Bundamu ini, biar kami tidak terlalu kesepian di hari tua. Main juga ke tempat praktik Bunda, Naya … mau konsultasi kehamilan sama Bunda juga bisa.” ucap Bunda Hesti kepada menantunya. Bagaimana pun profesinya sebagai Bidan juga pasti begitu tahu banyak hal mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan reproduksi wanita dan kehamilan.


“Baik Bunda … sudah tentu kami berdua akan sering main ke sini. Terima kasih banyak Ayah dan Bunda.” ucap Kanaya dengan tulus. Dia pun merasa bahwa kedua mertuanya begitu baik dan perhatian. Bahkan Ayah Tirta dan Bunda Hesti juga termasuk orang tua yang tidak kolot. Sekalipun anaknya hanya Bisma, tetapi mereka tidak mengekang Bisma untuk tinggal di rumah. Mereka justru mendukung Bisma dan Kanaya untuk sama-sama belajar membina rumah tangga.


Untuk itu pun, Kanaya dan Bisma saling menatap satu sama lain, keduanya bersyukur karena rencananya untuk tinggal sementara di apartemen mendapatkan restu dari Ayah Tirta dan Bunda Hesti.


Setelah itu mulailah, mereka untuk menikmati makan malam. Makan malam pertama bersama mertua. Sekaligus ini menjadi kesempatan pertama bagi Kanaya untuk mengambilkan nasi putih, sayuran, dan lauk pauk untuk suaminya. Mengisi piring kosong dengan aneka makanan untuk suaminya terlebih dahulu.


“Silakan Mas …” ucap Kanaya kali ini dengan menggigit bibir bagian dalamnya, usai memanggil suaminya dengan sebutan Mas itu.


Biasanya dipanggil Dokter, dan kini menjadi Mas, rasanya membuat Bisma pun tersenyum. Akan tetapi, Bisma menunduk sehingga kedua orang tuanya tidak akan mengetahui bagaimana raut wajahnya yang tengah tersenyum usai dipanggil istrinya itu.


“Kamu juga makan Naya … harus sehat juga kamunya.” ucap Bunda Hesti yang memperhatikan karena Kanaya sejak tadi sibuk mengisi piring suaminya, piringnya masih kosong.


Perlahan Bisma bergerak, tangannya terulur mengambil nasi putih terlebih dahulu dan mengisi piring milik Kanaya, kemudian disusul dengan aneka sayuran dan lauk-pauk, “Kamu juga makan Sayang …” ucap pria itu dengan lembut.


Kanaya pun lantas mengangguk, “Makasih Mas …” sahutnya dengan masih memanggil suaminya dengan sebutan Mas.


“Buruan dimakan, dihabiskan, usai itu kalian boleh istirahat.” ucap Bunda Hesti yang kembali menginterupsi kepada Bisma dan Kanaya pun.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, keduanya lantas sama-sama menyantap makan malam mereka. Makan malam pertama bersama mertua yang begitu baik. Di dalam hatinya Kanaya bersyukur, kini dia merasakan bahwa ada orang-orang baik yang mengelilingnya. Hatinya menghangat dengan kebaikan dan perhatian dari Ayah Tirta dan Bunda Hesti.


__ADS_2