
Kembali ke rumah, tanpa sosok Aksara di sisinya sama saja membuat Kanaya begitu hancur. Wanita itu sudah sekian jam lamanya menangis, kata-kata sebanyak apa pun tidak bisa melukiskan hancurnya dirinya saat ini. Sama halnya dengan Bisma, ada rasa kehilangan dan berharap bahwa putra kecilnya akan segera ditemukan.
Akan tetapi, Bisma harus menguatkan hatinya terlebih dahulu karena ada hati yang harus dia jaga. Dia harus menguatkan Kanaya. Jika dua orang sama-sama rapuh, maka tidak ada sosok yang menguatkan dan menenangkan. Sekalipun Bisma pun hancur, tetapi pria itu berusaha kuat karena dia juga harus menguatkan Kanaya.
“Besok kita mencari Aksara lagi ya Sayang …,” ucapnya.
Kanaya tak menjawab, wanita itu memilih masuk ke dalam kamar Aksara. Merebahkan dirinya di sana dan memeluk selimut Aksara.
“Mas Bayinya Bunda … kamu di mana? Bunda kangen kamu, Nak.”
Pemandangan yang menyiksa hati Bisma, hatinya bergemuruh dan terasa begitu sesak karena melihat istrinya yang sangat hancur seperti ini. Pria itu berdiri di batas antara connecting room kamarnya dengan kamar Aksara dengan meneteskan air matanya. Bahkan Bisma benar-benar terisak kali ini, pria itu menutupi wajahnya dan berlari.
“Hatiku sesak, Naya … aku kehilangan Aksara, dan sekarang aku tak kuasa melihatmu seperti ini,” pria itu berbicara lirih dengan sesegukan dan menutupi wajahnya.
Bukannya cengeng, pria pun bisa menangis. Lantaran rasa sakit, hancur, dan kehilangan yang dirasakannya kali ini. Air mata seolah menjadi sebuah bahasa yang bisa mengungkapkan hatinya saat ini. Terlebih saat Kanaya berbicara dengan pilu dan telinganya mendengarnya, kian menambah rasa sakit di dadanya.
“Aksa … kamu di mana, Nak? Ayah dan Bunda merindukanmu,” ucapnya.
***
Sementara itu di sebuah taman …
Lantaran ditinggal sendiri, Aksara pun mulai menangis. Ya, bocah berusia 2,5 tahun itu menangis terisak.
“Yayah … Nda …,” teriakannya dalam tangisannya.
Beberapa orang yang berada di taman pun menaruh iba kepada Aksara, di mana orang tuanya, bagaimana bisa anak sekecil itu duduk sendiri di taman. Hari sudah petang, sementara Aksara masih menangis sendirian di taman itu.
__ADS_1
Rupanya tangisan Aksara menggugah hati salah seorang perempuan paruh baya di sana. Wanita itu pun mendatangi Aksara dan menggendongnya.
“Cup cup cup … jangan menangis Sayang. Anak cakep kok menangis,” ucap perempuan paruh baya itu.
“Yayah … Nda,” teriak Aksara lagi.
“Ayah dan Bunda kamu di mana Sayang?” tanya wanita itu lagi.
Dengan cepat Aksara menggelengkan kepalanya, “Tak ada Yayah … Nda Naya,” ucapnya.
Lantas dengan hati yang terasa iba, wanita itu membawa Aksara ke tempatnya. Sebuah Panti Asuhan bernama Kasih Ibu. Ya, wanita itu bernama Bu Lisa, seorang kepala panti asuhan yang kebetulan malam itu, tengah melintas taman itu.
Setibanya di panti asuhan, Bu Lisa memandikan Aksara dengan air hangat. Menyuapi bocah itu, dan memberikan susu.
“Nama kamu sapa Nak?” tanya Bu Lisa.
“Wah, kamu memiliki nama yang bagus. Aksara yah?” sahut Bu Lisa.
“Iya, Aksaranya Yayah Nda,” sahutnya.
Aksara sebenarnya ingin memberitahukan bahwa dirinya adalah Aksara milik Ayah Bisma dan Bunda Kanaya. Lantaran hari sudah begitu gelap, Bu Lisa pun menidurkan Aksara. Setelahnya, Bu Lisa membuka tas yang dimiliki Aksara. Di sana terdapat sebuah nama bernama Aksara Adhi, 2,5 tahun. Ada juga beberapa barang Aksara seperti baju ganti, hingga wadah makan siang Aksara yang sudah tidak ada isinya.
Bu Lisa pun mengelus dada, “Kenapa kamu bisa di taman sendirian, Nak? Orang tuamu pasti mencarimu kemana-mana. Besok Ibu akan membawa kamu ke taman lagi ya, siapa tahu orang tuamu mencarimu,” ucap Bu Lisa.
Rasanya Bu Lisa begitu iba dengan Aksara, anak kecil dengan keterlambatan bicara dan harus terpisah dengan kedua orang tuanya. Situasi yang mengharu biru.
***
__ADS_1
Keesokan harinya tiba …
Bisma dan Kanaya tiba-tiba bersikap dingin. Masing-masing saling menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Aksara. Kanaya beberapa kali meneteskan air matanya, rasanya matanya begitu perih lantaran sekian waktu lamanya dia habiskan untuk menangis. Sementara Bisma memilih diam, karena sejujurnya dirinya sangat rapuh. Semalam bahkan pria itu tidak bisa tidur karena memikirkan Aksara.
Menjelang jam 09.00 pagi, Papa Jaya rupanya datang ke rumah Kanaya dan Bisma.
“Bisma dan Naya, sekali lagi maafkan Papa …,” ucap Papa Jaya begitu mendatangi rumah itu.
Sementara Kanaya dan Bisma hanya diam. Mereka sudah mengantongi siapa pelaku penculikan Aksara. Untuk itu, rasanya Kanaya dan Bisma pun enggan dengan Papa Jaya sekarang ini. Ada rasa ketakutan karena Darren adalah putra kandung Papa Jaya.
“Kali ini pun Papa tidak akan mentolerirnya. Papa sudah melaporkan Darren ke kantor polisi. Dia sudah berada di rumah tahanan sekarang ini,” ucap Papa Jaya.
Pria paruh baya itu benar-benar bersikap tanpa pandang bulu. Tidak peduli bahwa putranya sendiri yang mencelakai Aksara, nyatanya Papa Jaya justru melaporkan Darren kepada pihak yang berwajib.
Mendengar ucapan Papa Jaya, Kanaya dan Bisma pun saling pandang. Tidak mengira sebenarnya dengan sikap yang diambil Papa Jaya saat ini. Tidak menyangka seorang Papa melaporkan putranya sendiri ke pihak yang berwajib.
“Maafkan Papa … Papa lagi-lagi gagal mendidik Darren,” ucap Papa Jaya.
Merasa bahwa Bisma dan Kanaya sama-sama tidak menjawab, tentu saja Papa Jaya tahu bahwa tidak mudah berada di posisi Kanaya sekarang ini. Terlebih, para orang tua pun akan melakukan hal yang sama jika terjadi sesuatu dengan anaknya.
"Kalian jangan khawatir karena Papa Jaya tetap akan melakukan pencarian terhadap Aksara sampai ketemu. Papa Jaya akan usahakan yang terbaik bagi Aksara. Bagaimana pun Aksara adalah cucu Papa dan Papa sangat menyayangi. Papa pamit dulu," ucap Papa Jaya.
Sepeninggal Papa Jaya, Kanaya hanya menangis. Seolah wanita itu benar-benar kehabisan kata-kata. Hanya air matanya saja yang berderai. Rasa sakit dan kehilangan membuatnya begitu patah hati rasakan. Dengan sesegukan, Kanaya berjalan dan hendak kembali memasuki kamar Aksara. Akan tetapi, saat hendak menaiki anak tangga, rupanya Kanaya terjatuh.
"Naya … Naya …" teriak Bisma.
Pria itu berlari dan segera merengkuh Kanaya yang jatuh dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sayang, kumohon jangan seperti ini. Naya!" lagi Bisma berteriak. Tanpa berpikir panjang, Bisma langsung membopong Kanaya dan membawa wanita itu ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan.