
Saat perut terasa lapar, tetapi si empunya perut rupanya masih mengelak bahwa dirinya sedang lapar. Hingga Bisma membujuk beberapa kali pun, Kanaya masih memilih mengelak. Pikirnya, tidak masalah dirinya kelaparan malam ini karena kejadian menyebalkan saat berbuka puasa tadi.
Namun, saat Bisma mengelus perutnya yang kian membuncit dan bertanya kepada si baby yang masih berada di dalam rahimnya apakah dia tengah lapar, ada rasa bersalah di dalam hati Kanaya. Dia akan menjadi Bunda yang jahat jika mengedepankan emosinya dan membiarkan babynya juga kekurangan nutrisi di dalam rahimnya.
“Ayo makan, Sayang … apa pun yang kamu mau, ayo kita beli.” ucap Bisma lagi yang masih begitu sabar membujuk istrinya itu.
Mendengar bujukan suaminya, Kanaya pun menggigit bibir dalamnya. Ingin rasanya segera menjawab ucapan suaminya itu, tetapi bagaimanapun hatinya masih jengkel. Hingga selang beberapa menit, Kanaya pun mulai membuka suaranya, “Aku mau Nasi Goreng yang dijual dengan gerobak dorong. Penjualnya yang selalu memukuli kayu hingga bunyinya Teg-teg tiap kali lewat itu.”
Permintaan yang sangat detail dari seorang Kanaya. Ada kelegaan di hati Bisma saat istrinya itu bersuara, tetapi menemukan penjual Nasi goreng dengan gerobak dorong ajaknya perlu membutuhkan perjuangan. Akan tetapi pria itu pun mengangguk, “Oke … aku carikan pelan-pelan ya.”
Sejenak Bisma menghentikan mobilnya sejenak di sebuah mini market, kemudian dia mengecek dengan handphonenya, mencari keberadaan penjual Nasi Goreng dengan gerobak dorong yang sering kali berkeliling itu. Mungkin saja ada penjual yang berhenti dan menjajakan nasi goreng di satu wilayah tertentu.
Mata Bisma membelalak, saat menemukan ada penjual Nasi Goreng dengan gerobak yang berada di area Kota Tua, Jakarta.
“Sayang, ada nih Nasi Goreng Gerobak itu, tapi di Kota Tua. Kamu mau ke sana?” tanyanya terlebih dahulu kepada istrinya.
Dengan cepat Kanaya pun mengangguk, “Iya mau …” jawabnya.
__ADS_1
Bisma pun kemudian kembali menginjak pedal dengan kakinya, kemudian mengemudikan mobilnya menuju kawasan Kota Tua. Malam ini, dihiasi dengan lampu-lampu Ibukota, kawasan Kota Tua justru terlihat semakin indah. Tidak ada kesan mistis dan menyeramkan, tetapi justru indah dan juga bangunan-bangunan kuno di sana seolah bersolek dengan aneka lampu yang menerangi kawasan tersebut.
Sesampainya di sana, Bisma lantas memesan dua porsi Nasi Goreng dengan tingkat kepedasan yang sedang saja. Keduanya duduk di sebuah tikar yang berada di area Kota Tua itu. Tidak hanya Nasi Goreng, tetapi banyak pula pilihan kuliner lainnya di area itu.
“Duduk di tikar enggak apa-apa kan?” tanya Bisma lagi kepada Kanaya.
“Iya gak apa-apa.” jawab Kanaya.
Wanita hamil itu menunggu nasi goreng pesanannya datang dengan sesekali melihat orang-orang yang masih berlalu lalang di area Kota Tua itu. Sebagai orang yang jarang keluar malam pun, Kanaya tidak menyangka bahwa area dengan bangunan kuno itu ternyata ramai dengan banyak orang di malam hari.
Hingga akhirnya nasi goreng pesanannya pun tiba, Kanaya pun segera menyantap nasi goreng itu dengan begitu lahapnya. Entah dirinya yang kelaparan, atau memang mengidam, sehingga wanita hamil itu tampak menyantap setiap sendok demi sendok nasi goreng itu hingga abis tak bersisa.
Usai kenyang, kemudian Bisma mengajak Kanaya untuk kembali ke apartemen mereka. Hari kian malam, angin malam yang terasa lebih kencang malam itu cukup membuat Bisma risau dengan kondisi Kanaya yang sedang berbadan dua, sehingga dia pun segera mengajak istrinya itu untuk kembali ke apartemen dan juga beristirahat.
***
Keesokan harinya, Kanaya bangun dengan badan yang terasa lebih pegal dari sebelumnya. Badannya kian terasa berat, pinggangnya juga lebih kencang akhir-akhir ini. Bahkan subuh tadi, dirinya pun lupa untuk menyiapkan sahur untuk suaminya.
__ADS_1
“Morning Wifey, kamu sudah bangun?” sapa Bisma yang sudah bersih dan segar, ya pria itu baru saja keluar dari kamar mandi. “Sana mandi, aku sudah siapkan air hangat di bath up.” ucapnya yang sudah menyiapkan air hangat untuk istrinya itu.
Kanaya pun masih terlihat lesu, “Badanku enggak enak rasanya, Mas … pinggangku kenceng banget.” keluhnya kali ini.
Mendengarkan keluhan dari istrinya, Bisma pun mendekat dan duduk di tepian ranjang di dekat Kanaya, “Mandi dulu saja, biar badannya enak. Lagipula hari ini kan juga libur. Mandi kan badannya jadi seger. Abis itu minum susu, terus boleh bobok lagi.” ucap pria itu.
Kanaya kemudian mengangguk, dan dia berusaha bangun perlahan dari tempat tidurnya dengan satu tangan yang memegangi pinggangnya. Wanita hamil itu segera memasuki kamar mandi dan menyegarkan dirinya dengan air hangat dan bath bomb beraroma lavender yang sudah disiapkan suaminya dalam bath up. Merendam badannya di sana untuk sesaat dan merilekskan dirinya.
Bukan sekadar sugesti, tetapi air hangat yang menyentuh setiap permukaan kulit membuat rasa capek itu hilang. Sementara aroma lavender yang lembut terasa menenangkan dan membantu pikiran menjadi lebih tenang. Bahkan Kanaya beberapa kali memejamkan matanya dan merilekskan dirinya di dalam bath up itu.
Setelahnya, dia segera membilas badannya dengan air shower yang hangat, kemudian mengenakan bathrobe untuk membungkus badannya.
Sementara di dalam kamar, Bisma tampak sedang bersantai dan di sisi nakas sudah tersedia susu khusus ibu hamil dan cookies yang juga khusus untuk ibu hamil di atas nakas itu.
“Sudah mandinya?” tanya Bisma kepada istrinya itu. “Lama banget, aku kira kamu tidur di kamar mandi. Kalau 5 menit lagi, enggak keluar aku mau susulin ke dalam.” ucapnya sembari tersenyum.
“Mau tidur di dalam sebenarnya, tapi takut kedinginan.” sahut Kanaya.
__ADS_1
“Ya sudah, itu sarapan dulu seadanya. Abis ini boleh bobok lagi. Memang kalau hamil besar itu mulai enggak nyaman Sayang … karena di dalam rahim ruang gerak si baby semakin terbatas, jadi kadang dia bergerak bisa menendang ke mana-mana bahkan kadang tendangannya masih ke ulu hati dan mengenai kandung kemih sehingga ibu hamil sering bolak-balik ke kamar mandi. Sabar ya Sayang …” ucap Bisma yang menjelaskan perkembangan dan ruang gerak si bayi yang kian terbatas.
Kanaya pun mengangguk, “Iya … gak apa-apa kok. Aku malahan seneng bisa merasakan semua momen ini. Asalkan babynya tumbuh sehat dan sempurna di dalam sini. Walaupun sekarang aku jadi lebih kecapean dan pinggang aku rasanya pegal banget, tetapi enggak apa-apa.” jawabnya dengan tersenyum bahagia melihat perutnya yang membuncit itu.