
“Kamu ngapain di sini malam-malam?” tanya Bisma yang mencari Kanaya yang rupanya tengah duduk di balkon kamar mereka.
“Enggak apa-apa, aku hanya mandangin bulan dan bintang di langit itu,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya kepada suaminya.
Bisma mengangguk, kemudian dia segera mendekap tubuh Kanaya dari belakang. Memeluknya dengan begitu erat, Bisma hanya diam dan menaruh puncak dagunya di bahu Kanaya.
“Aku kangen,” ucap Bisma kini dengan kian mengeratkan kedua tangannya yang melingkari pinggang Kanaya.
“Aku pikir, kamu udah tidak kangen sama aku,” ucapnya kali ini.
Mendengar ucapan Kanaya, refleks Bisma pun mengurai kedua tangannya di pinggang Kanaya. Pria itu lantas membalik tubuh istrinya, membuat Kanaya bisa menatapnya sekarang.
“Kamu kenapa? Masih marah karena aku seminar selama satu minggu?” tanyanya kepada Kanaya.
“Tau, pikir saja sendiri,” ucap Kanaya dengan merotasi bola matanya dengan malas.
Perlahan kedua tangan Bisma pun memegangi kedua lengan Kanaya, “Katakan, kalau kamu menyuruhku menebak-nebak aku tidak bisa karena aku tidak tahu bagaimana isi hatimu. Lagipula, sekarang aku kan sudah di sini, di sisimu. Jadi masih ngambek? Enggak mau cerita?” tanya Bisma kali ini kepada Kanaya.
Tanpa menjawab, Kanaya justru mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya itu, tangannya pun melingkari pinggang Bisma.
“Kamu seminar beneran kan Mas? Tidak ada niatan jelek di luar sana kan?” tanya Kanaya kini dengan tiba-tiba.
“Aku hanya seminar Sayang … ada cara niatan-niatan jelek. Hidupku sudah bahagia dengan memiliki kamu dan Aksara,” jawabnya dengan sungguh-sungguh.
“Ya sapa tau, kamu tergoda Ibu-Ibu atau perawat di Rumah Sakit itu,” sahut Kanaya.
Bisma pun menggelengkan kepalanya, “Tidak, percayai aku. Kamu satu-satunya pemilik hati dan tubuhku. Only you. I will always be with you,” balas Bisma dengan merengkuh tubuh Kanaya dan mengecupi puncak kepala Kanaya.
Setelah itu, lantas Kanaya mengurai sejenak pelukannya, “Duduk di situ yuk Mas, aku masih pengen di luar,” ucapnya.
“Iya, ayo … aku akan temani kamu. Lagipula kan sesiang tadi aku sudah sama Aksara, malam waktunya sama Bundanya Aksara,” jawabnya dengan menarik tangan Kanaya dan mengajaknya untuk duduk di sofa yang memang sengaja di tempatkan di balkon itu.
Usai keduanya sama-sama duduk, Kanaya lantas sedikit beringsut guna bisa menatap wajah suaminya itu, “Lalu, bukti seminarnya mana Mas?” tanyanya.
__ADS_1
Bukan bermaksud curiga, hanya saja Kanaya ingin melihat jika itu sebuah seminar paling tidak akan ada materi yang dibagikan bukan.
Bisma perlahan menarik handphone yang tersimpan di saku celananya, pria itu membuka emailnya dan terdapat dropbox yang berisi semua materi presentasi yang dia dapatkan selama seminggu mengikuti seminar. “Ini, semua slide presentasinya ada di sini kok. Kamu lihat saja semuanya,” ucap Bisma sembari memberikan handphonenya kepada istrinya.
Kanaya pun menerima handphone suaminya dan segera melihat isi setiap slide presentasi di sana, ada rasa tenang yang dirasakan Kanaya, itu berarti suaminya memang benar-benar mengikuti seminar. Merasa yakin, Kanaya lantas menyerahkan handphone itu kembali kepada Bisma.
Tidak langsung menyimpannya kembali ke dalam celana, Bisma justru kini menggunakan handphonenya, dan jari-jarinya bergerak tengah membuka Galeri di handphonenya. Pria itu lantas menunjukkan foto-foto yang digunakan dokumentasi pihak Rumah Sakit.
“Ini, foto-fotonya … aku sama sekali tidak berbohong,” ucap Bisma dengan menyerahkan handphonenya lagi kepada Kanaya.
“Iya aku percaya,” jawab Kanaya yang sembari menggeser setiap foto di Galeri milik suaminya itu.
“Kamu kangen sama aku?” tanya Bisma kini.
“Retoris banget, enggak perlu dijawab,” sahut Kanaya dengan mengerucutkan bibirnya.
Sudah jelas dirinya sangat merindukan Bisma, dalam sepakan seakan Kanaya hanya hidup berdua dengan Aksara. Rindu bisa berbagi mengasuh Aksara, rindu kebersamaan mereka usai Aksara tertidur, atau pun rindu dengan waktu untuk berdua memadu cinta.
Bisma kemudian tertawa, “Aku perlu kamu menjawabnya karena aku pengen kamu mengakui kalau kamu benar-benar kangen sama aku,” ucapnya kini.
“Maaf ya, aku juga kangen kamu … hanya saja tuntutan profesi dan dari Rumah Sakit juga, Sayang,” jawab Bisma kemudian.
“Aku bisa menahan rasa kangenku padamu, Mas … tetapi, kasihan Aksara sepanjang malam dia tantrum, rewel, manggilin Ayahnya. Hati Ibu mana yang enggak sedih melihat putranya tantrum kayak gitu. Dia juga kangen sama Ayahnya,” ucap Kanaya kali ini. Dia mencoba mengatakan yang mungkin saja Aksara rasakan selama Ayahnya mengikuti seminar.
Bisma kemudian mengangguk, “Iya, aku tahu dia pasti kangen sama aku. Pun sama halnya denganku yang juga kangen banget sama Aksara, dan … kangen juga sama Bundanya Aksara,” jawabnya. “Lalu, mau cerita apa lagi?” tanya Bisma kali ini kepada Kanaya.
“Udah sih, aku udah lega bisa ngobrol sama kamu. Seminggu aku hanya sendiri dengan Aksara. Aku lebih kasihan sama Aksara sih Mas,” ucap Kanaya. Perlahan Kanaya menatap wajah Bisma, “Tangisan kan bahasanya anak-anak, Mas … dia kangen, mencari Ayahnya, pengen main sama Ayahnya, bisanya nangis. Untuk itu, weekend itu banyakan bonding dengan Aksara dulu ya, Mas,” pinta Kanaya kali ini.
Sungguh, dirinya tidak egois. Tidak dipungkiri dirinya pun sangat merindukan suaminya, tetapi Aksara harus diprioritaskan. Setidaknya rasa kangennya dengan sang Ayah bisa terobati terlebih dahulu.
Bisma kembali mengangguk, “Makasih yah sudah ngertiin aku dan Aksara. Iya, weekend ini aku akan maksimalkan waktu bermain sama Aksara dulu. Kan ya seharian ini, aku juga yang ngasuh dia, sampai siang tadi kamu tidurnya pules banget,” sahutnya.
Kanaya lantas tertawa, “Lha yang nyuruh aku tidur siang tadi siapa coba?” tanyanya.
__ADS_1
“Aku,” jawab Bisma.
“Ya sudah dong, ya aku tidur. Kan aku capek juga Mas, seminggu ngurus Aksara sendiri.” Kanaya kembali menjawab dan dia mengakui bahwa dirinya pun kecapean.
“Iya-iya, maaf … udah bikin kamu kecapean, mau aku pijitin?” tanya Bisma kali ini.
Kanaya mengangguk, “Mau, tangan dan kakiku saja sih Mas yang pegel,” jawabnya.
Akan tetapi, Bisma kemudian berbisik di sisi telinga Kanaya, “Gak pengen dipijitin lainnya? Aku siap loh,” godanya kali ini.
Akan tetapi, Kanaya segera menggelengkan kepalanya, “Eh, enggak … gak jadi dipijitin aja,” sergahnya kini kepada Bisma.
“Kenapa Sayang, katanya capek?” tanya Bisma lagi. “Yuk, masuk ke dalam yuk, aku pijitin total biar capeknya hilang,” ucapnya dengan berdiri di hadapan Kanaya.
Kanaya mengangguk, kemudian dia memilih duduk di tepian ranjangnya sesaat. Bisma tersenyum menghampiri Kanaya, “Yuk, aku pijitin,” ucapnya.
Akan tetapi, Kanaya cepat-cepat mendorong dada Bisma membuat pria itu mengernyitkan keningnya, “Kenapa? Ditolak?” tanyanya.
Kanaya kembali mengangguk, “Iya,” jawabnya singkat.
“Kenapa?” tanya Bisma yang merasa aneh dengan penolakan Kanaya kali ini.
“Aku halangan,” jawab Kanaya.
Jujur, memang Kanaya sedang berhalangan kali ini, jadi sudah pasti dia menolak suaminya.
Seolah lemas, Bisma kemudian membanting dirinya ke atas ranjang, pria itu kemudian tengkurap di atas ranjang itu.
“Yah, pas aku di rumah malahan palang merah sih Sayang … seminggu lagi dong?” tanya kali yang seolah merengek.
Kanaya mengangguk, “Tiga minggu yah, salah sendiri seminar terus,” jawab Kanaya.
“Jangan kejem-kejem Sayang, full seminggu kosong. Sekarang harus nunggu seminggu lagi, kamu gak kasihan sama aku?” tanya Bisma kali ini.
__ADS_1
Akan tetapi, Kanaya kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang itu, dan menarik selimutnya, “Ayah Bisma puasa dulu ya, orang sabar disayang Tuhan loh, dan … suaminya yang sabar disayang Istri. Met bobok Ayah Bisma,” ucap Kanaya dengan hatinya yang sesungguhnya tertawa. Melihat suaminya yang tiba-tiba mendung tanpa hujan lantaran harus berpuasa seminggu lagi membuat Kanaya justru tertawa dalam hati.