
Hari berganti hari, minggu pun sudah berganti dengan minggu. Tidak terasa bayi Aksara sudah berusai hampir 6 bulan. Aksara tumbuh dengan baik dan sehat, bayi yang memiliki pipi yang chubby itu sudah bisa menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri, sudah bisa mengangkat kepalanya, dan seolah hendak belajar duduk. Kian hari, Aksara tumbuh menjadi bayi yang begitu menggemaskan.
“Mas, bisa minta tolong pegangkan Aksara dulu? Aku mau ambil MPASI-nya Aksara sebentar,” pinta Kanaya kepada suaminya.
Ya, Aksara sudah berusia 6 bulan, sehingga bayi itu mulai mendapatkan makanan pendamping ASI, dan sekalipun Kanaya bekerja, tetapi dia membuatkan MPASI untuk Aksara dengan tangannya sendiri. Dia ingin bahwa makanan yang dimakan Aksara setiap harinya merupakan menu bintang lima yang terdiri dari karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Selain itu, Bisma pun terkadang turut menjelaskan kombinasi MPASI yang tepat dan seimbang untuk Aksara.
“Sini, Bunda … biar Ayah yang gendongkan Aksara dulu,” jawab pria itu. “Yuk, Nak, kita ikuti Bundamu ke dapur dan sehabis ini makan yah, biar kamu tumbuh sehat dan kuat.” Ayah Bisma terlihat bahagia sekali setiap kali turut mengasuh Aksara.
Setelah Kanaya menyiapkan MPASI bagi Aksara, Bisma pun segera meletakkan bayi Aksara di sebuah bouncer dan mengatur posisinya dengan setengah duduk. Setelahnya Kanaya segera menyuapi bayinya itu dengan menu MPASI yang sudah dibuatnya.
“Yuk, makan Sayang … Aakh, pinternya anak Bunda,” ucap Bunda Kanaya sembari menyuapkan satu sendok demi satu sendok MPASI ke dalam mulut Aksara.
Aksara pun juga tampak lahap menerima suapan dari Bundanya itu. Bahkan sering kali bayi berusia 6 bulan itu menjulurkan lidahnya, dan merasa tidak sabaran untuk terus memakan MPASI buatan tangan Bundanya.
“Aksara makannya pinter ya, Bunda.” Bisma berbicara kepada istrinya. Si Ayah sembari memegang tissue untuk membersihkan mulut bayi Aksara yang belepotan.
Kanaya pun mengangguk, “Iya, bener, Yah … semoga saja makannya pinter dan enggak ada acara GTM (Gerakan Tutup Mulut) ya Ayah,” jawab Kanaya.
“Ya, bagaimana bayi tetap ada fasenya tidak mau makan sih, Sayang. Misalnya saat mereka mau tumbuh gigi, atau mengalami perkembangan fase lainnya, sudah pasti ada demam dan gerakan tutup mulut yang menyertai,” jelas Bisma kepada Kanaya.
“Uhm, tapi aku tidak khawatir, karena Ayahnya Aksara kan Dokter Anak. Apa-apa bisa langsung diperiksa sama Ayah ya Nak, imunisasi saja langsung diimunisasi Ayah di klinik. Senangnya ya Nak,” sahut Kanaya dengan tertawa.
__ADS_1
Sama halnya dengan Kanaya, Bisma pun juga tertawa, “Kamu bisa aja, berarti bermanfaat banget ya aku menjadi Dokter Spesialis Anak karena bisa langsung imunisasi Aksara,” sahut pria itu dengan menowel pipi Aksara yang terlihat chubby.
“Iya, Ayah yang berfaedah banget. Imunisasi tinggal ikut ke klinik, berat badan juga dipantau, makanannya juga dipantau. Ah, bahagia banget jadi Aksara,” ucap Kanaya sembari terus menyuapi Aksara.
“Kamu bisa aja, Sayang … nanti kalau Aksara besar dia cita-citanya jadi apa ya? Mungkinkah tidak dia menjadi seorang Dokter?” tanya Bisma kepada Kanaya. Sesekali dia juga memperhatikan bayi Aksara.
Kanaya mengedikkan bahunya. “Aku sih enggak tahu, Mas … hanya saja untuk mimpi dan cita-citanya, kita yang akan memotivasinya. Biarkan dia menjadi orang seperti yang sudah dia cita-citakan. Namun, jika dia memilih menjadi Dokter, aku pun tidak keberatan.” Kanaya menjawab dan merasa bahwa apa pun cita-cita anaknya nanti bukan masalah. Hingga saat dewasa nanti Aksara ingin menjadi Dokter, dirinya juga tidak keberatan.
“Iya, hanya saja semoga Aksara menjadi anak yang membanggakan kedua orang tuanya. Menjadi pria yang mau berusaha dan bekerja keras untuk menjadi sesuai yang dia cita-citakan,” ucap Bisma yang mengatakan harapannya untuk sang anak kelak.
“Oh, iya Sayang … besok sore aku ajak keluar ya,” lanjut Bisma yang mengatakan kepada Kanaya bahwa dia akan mengajak istrinya itu untuk keluar.
Kanaya mengangguk, “Kemana Mas?” tanyanya kepada suaminya.
***
Keesokan harinya …
Seusai pulang dari bekerja, Bisma mengajak Kanaya dan juga bayi Aksara menuju sebuah tempat yang dia rahasiakan terlebih dahulu tempatnya. Tentu tempat ini adalah tempat yang sudah dia bangun sendiri, dia membuat desainnya sendiri, dan tempat ini akan dia persembahkan untuk istri dan putranya tercinta.
Akan tetapi, pria itu masih saja diam dan tidak mengatakan kemana dia membawa Kanaya dan Aksara saat ini.
__ADS_1
“Kita mau kemana sih Mas?” tanya Kanaya yang seolah tidak tahu dengan arah yang ditempuh oleh suaminya itu.
Bisma hanya diam, dia hanya sedikit tersenyum dan terus melajukan mobilnya. Pikirnya saat ini, semakin istrinya itu penasaran rasanya justru akan semakin baik.
Hingga tidak berselang lama, mobil itu memasuki sebuah perumahan yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Jaya Corp dan Rumah Sakit tempat Bisma bekerja. Kemudian, Bisma menghentikan mobilnya di sebuah gerbang teralis dengan cat hitam.
“Ini tempatnya siapa, Mas? Teman kamu?” tanya Kanaya lagi.
Kali ini Bisma menggeleng, pria itu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan membawa istrinya itu memasuki bangunan tersebut.
Begitu gerbang telah dibuka, terlihat sebuah rumah dua lantai dengan halamannya yang luas. Rumah bergaya Mediterania modern itu tampak berdiri dengan indah dengan perpaduan cat berwarna putih dan cokelat. Gaya arsitektur mediterania identik dengan bangunan di Yunani dan Spanyol, bangunan yang bermandikan cahaya matahari.
Kanaya pun terbelalak melihat bangunan yang terlihat begitu mewah itu, “Ini rumahnya siapa Mas? Bagus banget sih arsiteknya,” ucapnya yang begitu terpukau dengan rumah yang ada di hadapannya itu.
Bisma tersenyum, kemudian dia menyerahkan sebuah kunci kepada Kanaya, “Ini rumah buat kamu, Sayang … buat kita bertiga,” ucapnya dengan tenang.
Kanaya pun tak kuasa meneteskan air matanya, tidak mengira bahwa suaminya itu akan memberikannya sebuah kejutan tak terkira berupa sebuah rumah dengan konsep mediterania yang mewah itu.
“Rumah kita?” tanya Kanaya dengan berkaca-kaca.
“Ya, rumah kita. Kita akan segera pindah ke mari, mengingat Aksara yang semakin besar dan membutuhkan ruang gerak yang lebih luas. Jika kita masih tinggal di apartemen kasihan Aksara. Dia juga membutuhkan udara yang segar, sinar matahari yang langsung masuk ke dalam rumah, dan halaman ini bisa untuk bermain. Bagaimana kamu suka?” tanya pria itu kepada istrinya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Kanaya pun memeluk tubuh suaminya yang masih menggendong Aksara itu, “Makasih banyak Mas … ini terlalu berlebihan. Ini indah dan mewah banget,” ucap wanita dengan menangis.
“Sama-sama Sayangku. Ini istana baru bagi kita bertiga dan mungkin anak kita nantinya jika kamu mau hamil lagi, kita bangun rumah tangga kita dan memenuhinya dengan cinta,” jawab Bisma sembari merangkul bahu istrinya.