
Sore hari, tepat jam 16.00 Bisma sudah kembali menunggu di Lobby Jaya Corp. Kali ini dia memilih untuk memasuki Lobby, dan menunggu istrinya di dalam lobby tersebut. Maka dari itu, wajah Bisma pun cukup familiar di Jaya Corp. Juga banyak staf Jaya Corp yang akhirnya tahu bahwa pria yang sering kali menunggu di Lobby adalah suami dari Chief Financial Officer (Direktur Keuangan) Jaya Corp yaitu Kanaya.
Bisma pun termasuk pria yang sabar, dia menunggu Kanaya dengan tenang dan tidak terlihat terburu-buru. Menunggu lima hingga sepuluh menit pun tidak menjadi masalah bagi Bisma, dan yang menjadi ciri khasnya pria itu akan langsung tersenyum begitu melihat wajah istrinya yang keluar dari lift dan berjalan perlahan ke arahnya. Senyuman yang teduh dan senyuman yang begitu menghangatkan hati Kanaya.
Seperti sekarang ini, Bisma pun tersenyum saat istrinya tengah berjalan menghampirinya.
“Maaf, aku agak lama, Mas … tadi aku ke toilet sebentar.” ucap Kanaya begitu sudah berdiri di hadapan suaminya itu.
Dengan cepat Bisma pun mengangguk, “Iya … tidak masalah kok, kan ya aku masih di sini menunggu kamu. Yuk, kita ke Rumah Sakit. Seperti biasa, tadi siang sudah aku daftarkan.” ceritanya kepada istrinya itu jika dia sudah mendaftarkan istrinya terlebih dahulu.
“Enak ya punya suami Dokter, daftar-daftar periksa sudah didaftarkan. Besok kalau melahirkan di Rumah Sakit tempat Ayahnya bekerja, juga tercover biayanya enggak nih?” Kanaya hanya sebatas bercanda sebenarnya, tidak bermaksud menjadi asuransi dari Rumah Sakit tempat suaminya bekerja itu.
Di satu sisi, Bisma justru mengangguk, “Sudah pasti dapat dong Sayang … kalau pun tidak tercover, tenang saja suami kamu ini masih bisa membiayai semua biaya persalinan kamu. Mau kelas VVIP pun, insyaallah, aku bisa Sayang.” jawabnya dengan menatap wajah suaminya.
“Amin … aku kan juga bekerja, Mas. Kita pakai bersama.” Kanaya pun berkata kepada suaminya itu.
Bisma pun mengangguk, “Iya Sayang … yang penting kamu dan buah hati kita sehat.” ucapnya sembari membukakan pintu mobilnya bagi Kanaya.
“Makasih Mas Dokter …” jawab Kanaya sembari tersenyum dan memasuki mobil itu.
__ADS_1
Perjalanan dari Jaya Corp menuju Rumah Sakit hanya membutuhkan waktu sekian menit saja, dan kini keduanya tengah menunggu antrian di Poli Kandungan. Beberapa kali Kanaya tampak menguap dan mengeluh bahwa dirinya sudah mengantuk kepada suaminya itu.
“Mas, aku kok ngantuk banget …” keluhnya sembari menyeka air mata yang keluar begitu saja di sudut matanya setiap kali dia menguap.
Bisma justru tersenyum, “Sabar ya … nanti begitu sudah sampai di apartemen, kamu boleh tidur.” sahutnya dengan tenang.
Hingga tidak menunggu waktu lama, kini nama Kanaya telah dipanggil dan kemudian keduanya sama-sama memasuki ruang pemeriksaan itu.
“Selamat sore Bu Kanaya dan Dokter Bisma …” sapa Dokter Indri kepada keduanya. “Bagaimana Bu, apakah sehat? Ada keluhan dan sebagainya?” tanya Dokter Indri sebelum melakukan pemeriksaan.
Jika pada pemeriksaan sebelumnya, Kanaya mengaku tidak ada keluhan. Kali ini tampaknya berbeda. “Saya jadi lebih sering mengantuk dan kecapean saja Dokter. Selebihnya sehat.”
Mendengar keluhan dari Kanaya, Dokter Indri pun tersenyum, “Tidak apa-apa Bu, itu masih wajar. Keluhan Ibu masih terkait dengan produksi progesteron di tubuh ibu hamil. Jika, mual dan muntah tidak ada kan Bu?”
“Baik Bu, jika sudah, kita lakukan pemeriksanaan dengan USG ya. Untuk mengetahui kondisi janinnya.”
Mulailah Kanaya berbaring di atas brankar dan sebuah USG Gell dioleskan di atas perutnya, kemudian mulailah Dokter Indri menggerakkan transducer di tangannya dan mulai menjelaskan bagian-bagian yang tampak dalam layar monitor itu kepada Kanaya dan juga Bisma.
“Baik, kehamilan sekarang sudah 22 minggu ya Bu. Panjang kepala hingga kaki bayi kurang lebih 28 centimeter, dan beratnya sekarang sudah mencapai 485 gram. Perkembangan janinnya baik ya, Bu. Pada usia ini, organ-organ dalam tubuh janin sudah terbentuk hampir sempurna. Apakah mau sekalian mengetahui jenis kelaminnya?” Dokter Indri bertanya kepada Kanaya dan Bisma.
__ADS_1
Sebelum menjawab, Kanaya tampak menatap wajah suaminya terlebih dahulu. Saat suaminya itu mengangguk, barulah Kanaya pun menjawab, “Ya Dok … boleh. Kami juga ingin tahu.” jawabnya dengan tersenyum.
Mulailah Dokter Indri menggerakkan transducer dan mengarahkannya ke bagian vital dari si bayi. Beberapa saat mencari dan mencoba menggerakkan transducer di tangannya, akhirnya apa yang mereka cari pun terlihat.
“Ibu dan Dokter Bisma pengennya baby nya apa dulu nih?” tanya Dokter Indri kepada mereka berdua.
“Mau laki-laki atau perempuan sama saja, Dok.” giliran Bisma yang menjawab pertanyaan Dokter Indri tersebut.
Dokter Indri pun tersenyum, “Benar ya … anak itu anugerah. Mau laki-laki atau perempuan sama saja. Namun, kali ini Dokter Bisma dan Ibu diberi anugerah nih sama Tuhan, debaynya cowok ya. Ini saja tunjukkan bagiannya, bisa dilihat di monitor. Jadi ini, perut bayi, ini pantatnya, dan ini ada monasnya. Selamat ya.” jawab Dokter Indri.
Kanaya dan Bisma pun sama-sama tersenyum, tidak menyangka bahwa mereka akan dianugerahi bayi dengan jenis kelamin laki-laki. Sebab, keduanya memang tidak mempermasalahkan jenis kelamin bayinya nanti. Yang menjadi doa Bisma adalah istrinya itu mengandung dengan sehat dan bahagia, bayi yang masih berada di dalam rahim istrinya juga tumbuh sehat, lengkap, dan sempurna.
“Ada teman buat nonton Moto GP.” celetuk Kanaya tiba-tiba.
Dokter Indri pun turut tertawa, “Iya … teman Papanya nanti ya.” sahutnya.
Setelah pemeriksanaan dengan USG selesai, mulailah perawat membersihkan sisa-sisa USG Gell di perut Kanaya, menyekanya dengan tissue dan membantu Kanaya untuk merapikan kemejanya.
“Sudah 22 Weeks, artinya sudah separuh jalan ya Bu. Perut Ibu sudah keliatan menonjol. Jika tidak ada keluhan, obat yang saya berikan bisa diminum dengan rutin. Saya tambahkan kalsium, karena pembentukan tulang rawan pada bayi akan berkembang dengan pesat. Jadi obat dan vitamin tolong diminum dengan rutin ya.”
__ADS_1
Keluar dari ruang pemeriksaan, Bisma dan Kanaya pun sama-sama tertawa. “Tidak menyangka baby nya cowok ya Mas … kamu senang?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.
Bisma pun mengangguk, “Senanglah … ya, padahal mau cewek atau cowok tidak masalah. Mau cewek atau cowok, mereka tetap anakku, anak kita. Buah hati kita.” jawabnya dengan bahagia. Sebab dia memang tidak mempermasalahkan. Sebagai pengantin baru, calon orang tua baru, yang dia harapkan adalah mendapatkan satu anak terlebih dahulu. Sebab, anak adalah anugerah, dan Bisma akan menerima dengan senang hati apa pun anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya dan juga istrinya.