
Sudah dua minggu berlalu, itu berakhir sudah dua minggu juga Kanaya bekerja separuh hari kerja di Jaya Corps. Kendati demikian dia tetap bisa melakukan semuanya dengan baik, bahkan tak jarang malam hari dia gunakan untuk tetap bekerja. Terutama untuk laporan keuangan yang harus segera dia kerjakan, Kanaya akan meluangkan waktu di malam hari untuk mengecek laporan keuangan.
Sementara Bisma sendiri juga melakukan jadwal praktik di kliniknya dengan waktu yang baru. Memberi banyak waktu untuk berada di rumah dan menstimulasi tumbuh kembang Aksara. Pekerjaan menstimulasi anak itu cukup melelahkan, tetapi Kanaya dan Bisma tetap melakukannya dengan sukacita. Mereka berpikir jika mereka terlambat kali ini, yang kasihan adalah justru Aksara.
Namun, setelah dua minggu berlalu, agaknya Aksara mulai mengalami sedikit peningkatan walaupun tidak drastis. Dia bisa merespons lebih baik. Saat dipanggil namanya segera menoleh dan menyahut. Kendati demikian untuk berbicara masih belum mengalami peningkatan yang signifikan.
“Mas Aksara, Bunda menunggu waktu saat Mas Aksara bisa memanggil Bunda dengan benar. Bunda akan menunggu waktu saat Mas Aksara bisa berbicara, bernyanyi, dan bercerita. Tidak masalah jika saat ini Mas Aksara belajarnya lebih banyak, tetapi nanti saat Mas Aksara kian bertumbuh, lakukanlah hal-hal yang menyenangkan dengan Bunda yah,” ucap Aksara sembari memangku Aksara di pangkuannya.
Aksara yang masih berusia 2 tahun itu mengangguk, lantas dia kembali berlari-larian dan mengeluarkan mainan di Container Play. Rasanya sudah dua minggu berjalan, tetapi Aksara masih begitu suka bermain dengan Container Play.
Melihat istrinya yang sedang bersedih, Bisma pun duduk mendekati Kanaya. Pria itu merangkul bahu istrinya, “Sabar saja Sayang … sama seperti kamu dulu yang butuh waktu lama untuk diet. Aksara juga begitu nanti. Kita tunggu bersama-sama setiap Aksara bisa bertambah kosakatanya, bisa memanggil kita dengan benar, bisa bernyanyi, bahkan bisa bercerita banyak hal dengan kita,” ucap Bisma.
Sebagai suami dan sebagai seorang Ayah sesungguhnya Bisma pun begitu sedih, tetapi ada hati yang harus dia kuatkan. Dia tidak ingin istrinya terus-menerus menangis dan bersedih. Bahkan Bisma tahu bahwa saat mengetahui terapis memvonis Aksara mengalami Speech Delay, porsi makan Kanaya berkurang, jam tidurnya juga berkurang. Bisma sangat tahu, tetapi dia hanya berdiri di samping Kanaya. Mendampingi istrinya itu adalah setiap fase hidupnya. Susah maupun senang, sedih maupun bahagia, sehat maupun sakit, Bisma berjanji akan selalu menemani Kanaya.
“Semoga saja ya Mas, aku sedih sebenarnya. Namun, saat bisa melihat Aksara tertawa, tersenyum, itu benar-benar mengobati kepedihan di hatiku,” ucap Kanaya.
Bisma pun mengangguk, “Sama Sayang … sebagai orang tua kita juga sudah melakukan yang terbaik. Yang salah adalah saat kita tahu badan Aksara bermasalah dan kita tidak mengupayakan apa pun, itu kita yang salah. Akan tetapi, sekarang kan kita sedang berusaha dan akan terus berusaha. Iya kan?” tanya Bisma kepada Kanaya.
“Iya Mas, walaupun sudah ada sedikit peningkatan sih. Responsnya lebih cepat, setiap dipanggil namanya bisa langsung menoleh atau menyahut, tetapi untuk berbicara tetap belum ada peningkatan sih,” cerita Kanaya ini.
__ADS_1
“Ini, aku juga mengamati perkembangan Aksara. Kita kan bisa evaluasi bersama-sama. Setidaknya ada peningkatan kan?” tanya Bisma.
Dengan cepat Kanaya mengangguk, “Iya, ada peningkatan,” jawabnya dengan menghela nafasnya.
“Ya sudah, temenin Aksara bermain lagi yuk …,” ajak Bisma kepada istrinya.
Setelahnya, keduanya sama-sama menemani Aksara bermain. Dari bermain Container Play, bermain bola, membacakan buku, semuanya dilakukan bersama-sama. Kedua orang tua itu terlihat begitu padu untuk menstimulasi Aksara. Capek di badan bisa hilang, asalkan Aksara kian bertumbuh dengan baik.
“Ayo tendang bolanya, Mas Aksa,” instruksi Bisma kepada putranya itu.
Aksara pun dengan kakinya menendang bola itu, “Ola … ola,” ucapnya.
Aksara pun mulai kembali menendang bola itu, “Bo … la …,” ucapnya.
“Good!” Kanaya dan Bisma setengah berteriak bersamaan.
Keduanya begitu senang karena itu adalah kosakata yang bisa diucapkan Aksara dengan benar. Semoga saja Aksara benar-benar mengalami peningkatan dalam berbicaranya. Itu akan selalu dinantikan Kanaya dan Bisma.
Sementara Aksara terlihat tertawa-tawa dan menendang bola itu, “Yah, Yah … bo … la,” ucapnya lagi.
__ADS_1
Bisma kemudian mengangguk, “Iya Nak, bola. Bolanya ditendang-tendang sama Mas Aksa yah?” tanyanya.
Keseruan mereka bermain masih berlangsung, hingga menjelang malam. Kanaya mulai menyeka keringat di badan Aksara dan mengganti pakaian yang dikenakan Aksara karena pakaian yang dikenakannya sebelumnya berkeringat, supaya tidak menimbulkan biang keringat Kanaya selalu menggantikan pakaian Aksara yang basah karena keringat.
Setelah malam tiba dan Aksara telah terlelap, Kanaya dan Bisma duduk bersama berdua. Biasanya sebelum tidur memang mereka gunakan untuk mengobrol bersama.
“Seneng sih tadi, Aksara bisa mengucapkan bola dengan benar,” ucap Kanaya memulai ceritanya.
“Iya, aku juga,” jawab Bisma.
“Semoga setiap hari semakin banyak keajaiban buat Aksara dan buat kita berdua ya Mas,” lanjut Kanaya. Wanita itu tampak menghela nafasnya perlahan, “Pertumbuhan anak adalah keajaiban dan sayang untuk dilewatkan. Apalagi Aksara baru di masa-masa emasnya, dia bisa terus berkembang dengan baik, itu yang aku nanti-nantikan,” sambung Kanaya.
Bisma pun mengangguk, “Benar Sayang … apa yang kamu ucapkan benar. Aku terkadang berpikir, mungkin hidup rumah tangga harmonis, baik-baik saja, rupanya Tuhan menguji kita melalui Aksara. Dia mau kita menjadi orang tua yang sabar, semangat, dan terus berjuang bersama Aksara. Ujian itu bentuknya bisa apa saja. Aku harap, apa pun ujian yang datang di depan nanti, kita akan terus bergandengan tangan dan menghadapi semuanya bersama-sama yah?”
Kanaya lantas menatap wajah suaminya, “Jujur aku selalu rapuh, Mas … tetapi, bersamamu, aku merasa mendapatkan kembali kekuatan penuh. Semoga saja kita bisa terus bersama, saling bergandengan tangan. Saling mencintai, saling mendukung,” ucap Kanaya dengan sungguh-sungguh.
Bisma lantas merangkul bahu Kanaya, dan mendaratkan satu kecupan di kening istrinya itu, “Iya … semoga saja. Kendati demikian, aku berharap cobaan yang akan datang tidak melebihi kekuatan kita.”
“Iya Mas, semoga saja. Semoga saat ini Tuhan mendengar permohonan kita,” sahut Kanaya.
__ADS_1