
Beberapa pekan pun telah berlalu, usia kehamilan Kanaya pun mulai bertambah usianya. Kali ini Kanaya dan Bisma akan kembali mengunjungi Dokter Indri untuk memeriksakan kehamilannya. Berharap di minggu kali ini, Kanaya dan Bisma bisa mengetahui jenis kelamin bayi mereka.
“Mas Aksara, nanti ikutan Bunda dan Ayah ke Rumah Sakit lagi yah? Kita akan cek adik bayinya lagi,” ucap Kanaya yang kali ini mendatangi Aksara di kamarnya dan hendak mengajak anaknya itu untuk ke Rumah Sakit.
“Iya Bunda … nanti Aksara ikut,” balasnya.
“Nanti kelihatan adiknya enggak Bunda?” tanya Aksara kepada Bundanya itu.
“Kelihatan di monitor hasil USG-nya seperti dulu itu Mas Aksara. Kenapa, Mas Aksara sudah pengen ketemu adiknya yah?” tanya Kanaya sembari tersenyum menatap putranya itu.
Tawa pun terlihat jelas di wajah Aksara. Anak itu beberapa kali menganggukkan kepalanya, “Iya … nanti bisa diajak main lego, adiknya kalau sudah lahir,” balas Aksara.
Kanaya dan Aksara pun mengobrol untuk beberapa saat kemudian, sampai akhirnya Kanaya memilih bersiap sebelum nanti sore akan mulai ke Dokter.
***
Beberapa jam setelahnya …
Kini Kanaya, Bisma, dan Aksara sudah kembali berada di Rumah Sakit. Aksara sendiri termasuk anak yang baik dan tidak merengek-rengek. Biasanya anak seusianya akan masih suka merengek atau tidak mau menemani orang tua ke Rumah Sakit, tetapi tidak bagi Aksara. Aksara justru tumbuh menjadi anak yang baik.
“Kita harus ke Rumah Sakit lebih sering ya Bunda?” tanya Aksara lagi kali ini.
“Iya, sebulan sekali untuk cek perkembangan adik bayi,” balas Kanaya.
Aksara hanya menganggukkan kepalanya, dan beberapa kali mengamati beberapa pasien yang juga sedang mengantri, menunggu namanya dipanggil, dan kemudian mendapatkan pemeriksaan.
__ADS_1
Setelah hampir lima belas menit menunggu, akhirnya giliran Kanaya yang dipanggil namanya.
“Pasien dengan nama Ibu Kanaya, silakan,” ucap seorang perawat yang mempersilakan Kanaya.
Kanaya pun menganggukkan kepalanya dan mulai memasuki ruangan Dokter Indri. Tidak lupa dua pria kesayangannya turut mendampinginya masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Suami siaga dan anak yang begitu penyayang, ya Bisma dan Aksara juga turut mendampingi Kanaya.
“Halo, Bu Kanaya, dan Dokter Bisma … apa kabar?” sapa Dokter Indri kepada keduanya.
“Baik Dokter,” sapa keduanya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Aksara juga apa kabar?” tanya Dokter Indri kini kepada Aksara.
“Baik juga Dokter,” balas Aksara.
Dokter Indri lantas melihat buku catatan pemeriksaan Kanaya sebelumnya, dan mencatatkan sesuatu di sana. “Sudah 18 weeks seharusnya kali ini ya Bu … nanti kalau posisi debaynya bagus, kita bisa lihat jenis kelaminnya sekaligus. Ada keluhan tidak Bu?” tanya Dokter Indri kepada Kanaya.
Memang di kehamilan kedua ini, Kanaya juga tidak ada keluhan berarti. Tubuhnya begitu sehat. Hanya saja ketika malam, dirinya lebih cepat terlelap. Mungkin efek kehamilan juga yang membuat Kanaya cepat mengantuk dan tertidur.
“Baiklah … kita akan lakukan pemeriksaan dengan USG ya Bu. Silakan naik ke brankar dan kita akan lihat dengan USG,” jelas Dokter Indri.
Seorang perawat membantu Kanaya untuk menaiki brankar, dan kemudian mengangkat sedikit kemeja yang dikenakan Kanaya, lantas USG gell mulai dioleskan di permukaan perut Kanaya. Dokter Indri juga sudah bersiap dengan transducer di tangannya.
“Usia kehamilan benar yah … di usia 18-19 minggu. Janin Ibu sekarang besarnya kira-kira seukuran lobak dengan berat kurang lebih 150 gram dan panjangnya kira-kira 12 centimeter. Di kehamilan ini, tempurung bayi berkembang dengan baik ya Bu. Tulang rawan dan tempurungnya kian mengeras. Selain itu, plasentanya berkembang pesat. Plasenta janin sudah berkembang pesat dengan ribuan pembuluh darah yang dapat membantu mengoptimalkan fungsinya untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin dan membuat zat sisa janin. Tali pusatnya pun sudah menjadi lebih kuat dan tebal." Dokter Indri menjelaskan semua itu dengan begitu detail kepada Kanaya.
Kanaya juga mendengarkan semua penjelasan Dokter Indri, salah satu hal yang dia sukai ketika hamil adalah mendapatkan pengetahuan dari Dokter Spesialis Kandungan yang begitu baik seperti Dokter Indri. Rasanya semua pengetahuan yang dia dapatkan sekarang ini sangat bermanfaat sekali.
__ADS_1
“Mau sekalian melihat jenis kelaminnya Bu Kanaya dan Dokter Bisma?” tanya Dokter Indri kepada mereka berdua.
“Ya, boleh sekalian, Dok.” Bisma yang menjawab, karena dia pun ingin mengetahui jenis kelamin anak keduanya kali ini.
Kembali Dokter Indri menekan-nekan transducer di perut Kanaya, mengarahkannya ke posisi jenis kelamin bayi. Sedikit berputar, sedikit menekan, hingga terlihatlah tampilan di layar monitor yang saat itu juga direkam oleh Bisma dengan handphonenya.
"Selamat ya Bapak dan Ibu ... wah, babynya ada Monas nya ya ini. Jadi baby Bapak dan Ibu adalah laki-laki. Selamat," ucap Dokter Indri.
Kanaya dan Bisma sama-sama tersenyum. Sebab perihal jenis kelamin bayi, Kanaya dan Bisma sama-sama tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Seorang bayi adalah anugerah dari Allah. Oleh karena itu, Bisma dan Kanaya mensyukuri apa pun jenis kelamin bayinya itu.
“Adiknya cewek atau cowok Ayah?” tanya Aksara. Mungkin karena Aksara belum terlalu mengerti apa yang diucapkan Dokter Indri barusan, sehingga Aksara bertanya kepada Ayahnya itu.
“Adik kamu cowok nanti, Nak,” jawab Bisma.
Aksara mengangguk dan justru tersenyum lebar, “Yee, adiknya cowok,” ucapnya kali ini.
Rupanya ucapan Aksara didengar juga oleh Dokter Indri, “Kenapa Aksara senang yah adiknya cowok?” tanya Dokter Indri.
“Iya Dokter,” jawab Aksara dengan cepat.
Tentu saja Aksara senang karena dengan demikian sosok adik cewek di dalam hidupnya tidak akan tergeser. Ya, Arsyilla di dalam memori ingatannya tidak akan digantikan oleh adiknya sendiri nanti. Itulah alasan yang membuat Aksara senang.
Usai melakukan pemeriksaan dengan USG, sisa-sisa gell di perut Kanaya pun lantas dibersihkan oleh seorang perawat dengan menggunakan tissue, kemudian Kanaya kembali duduk bersama suami dan anaknya.
“Selamat ya Bu Kanaya dan Dokter Bisma, karena tidak ada keluhan, jadi saya akan resepkan vitamin dan asam folat, selain itu saya juga mulai akan berikan kalsium karena bayinya akan menyerap banyak kalsium untuk pembentukan tulang rawannya,” jelas Dokter Indri.
__ADS_1
Mengakhiri pemeriksaan, mereka berpamitan dengan Dokter Indri. Bisma menggandengan istrinya di tangan kanan, dan menggandeng Aksara di tangan kiri. Sosok Ayah yang begitu baik dan penuh kasih sayang. Sampai beberapa pasien yang ada di rumah sakit pun mengamati ketiganya.