
Rupanya kabar kelahiran Aksara tidak hanya didengar oleh keluarga dan karyawan Jaya Corp. Berdasarkan dari seolah kenalan yang bekerja di Jaya Corp, Sandra pun mendengar bahwa Kanaya sudah melahirkan seorang bayi laki-laki, berdasarkan informasi tersebutlah Sandra ingin menemui Darren dan menceritakan kabar tersebut.
Siang itu, Sandra dengan semangat mengunjungi Darren di dalam rumah tahanan. Setelah beberapa kali mengunjungi Darren, kini wajah Sandra pun cukup dikenal oleh petugas rumah tahanan tersebut. Sehingga petugas rutan pun cukup hafal jika Sandra datang untuk menemui Darren.
“Mengunjungi Pak Darren kan Bu?” tanya seorang petugas rumah tahanan saat sandra tengah mengisi daftar kunjungan di sebuah buku besar.
Wanita itu pun mengangguk, “Iya Pak … saya ingin menemui Pak Darren,” jawabnya dengan sedikit tersenyum.
Hingga tidak menunggu waktu lama, Sandra pun kini bisa bertemu muka dengan Darren.
“Hei, Darren,” sapa Sandra kepada pria itu.
Semakin lama di dalam rumah tahanan, terlihat tubuh Darren yang seolah berkurang berat badannya. Juga ada kelopak hitam di bawah matanya.
Di dalam hatinya, Sandra sejujurnya tidak tega melihat pria tampan yang dulu selalu tampil manly dan menawan, kini terlihat lesu dengan mengenakan seragam narapidana. “Bagaimana kabarmu?” tanya Sandra kepada Darren.
Tampak helaan napas terdengar dari Darren, “Seperti biasa … tidak ada yang berubah. Hanya saja, hari Lebaran lalu, aku mendapatkan remisi (pengurangan hukuman kurungan),” ceritanya kepada Sandra.
Wajah wanita itu pun tersenyum, “Oh ya … benarkah? Mendapat pengurangan hukuman berapa bulan?” tanya Sandra dengan terlihat antusias.
“6 bulan, lumayan masa kurungannya berkurang setengah tahun,” jawabnya dengan tersenyum.
Akhirnya setelah beberapa kali datang dan mengunjungi Darren, baru kali ini Sandra bisa melihat senyuman di wajah Darren. Dulu, pria itu selalu tersenyum menatapnya, dan baru kali ini Sandra kembali bisa melihat senyuman itu.
__ADS_1
“Aku turut berbahagia untukmu,” sahut Sandra.
Sekalipun Sandra memiliki niatan tersembunyi, tetapi sejujurnya dia pun bahagia saat mendapati Darren mendapatkan remisi saat hari raya Idul Fitri lalu. Sandra pun juga berharap, Darren bisa segera keluar dari rumah tahanan ini.
“Ada apa kamu datang kemari?” tanya Darren pada akhirnya kepada Sandra.
“Oh … aku hanya ingin menjengukmu. Setelah lebaran, baru kali ini aku menjengukmu, dan … ada kabar yang harus kamu dengar,” ucap Sandra pada akhirnya.
Tampak Darren mengernyitkan keningnya, kemudian pria itu bertanya, “Kabar apa?”
Sandra sejujurnya ragu apakah dia harus menyampaikan kabar ini kepada Darren, atau menyimpannya sendiri. Sayangnya, Darren seolah mendesak dan ingin mendengar kabar apa yang dibawa Sandra kali ini.
“Euhm, Kanaya sudah melahirkan dan bayinya laki-laki. Sudah pasti dia dan suaminya akan semakin bahagia.” Sandra berbicara perlahan dengan matanya yang memperhatikan reaksi dari seorang Darren.
“Benarkah?” tanya Darren. Tentu saja pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan yang tidak sesungguhnya.
Sandra mengangguk, “Iya … setelah lebaran Kanaya melahirkan bayinya,” jawab Sandra lagi. Kemudian wanita itu meraih tangan Darren, “Lupakan Kanaya, Darren … terimalah aku. Kita bisa memulai lagi dari awal bukan? Aku berjanji akan setia padamu. Tidak akan ada pria yang lainnya,” ucap Sandra kali ini dengan sungguh-sungguh.
Akan tetapi, Darren lagi-lagi hanya diam. Pria itu teringat bagaimana Bisma yang pernah mendatanginya dan memintanya secara langsung untuk melupakan istrinya, dan sekarang mendengar bahwa Kanaya sudah melahirkan, tentu saja kebahagiaan keluarga kecil itu akan kian melimpah. Sementara di satu sisi, ada Sandra yang saat ini berbicara dengan sungguh-sungguh bahkan wanita itu juga berkali-kali mengunjunginya menunjukkan kesungguhannya. Benar-benar situasi yang membuat Darren begitu dilema rasanya.
“Aku berkata sungguh-sungguh, Darren … apa kamu tidak bisa melihat ketulusan di mataku?” tanya Sandra lagi kepada Darren.
Pria itu justru menunduk, “Maaf Sandra … hanya saja, aku masih pusing. Aku tidak tahu harus bagaimana?” jawabnya yang benar-benar dilema dengan keadaannya sekarang ini.
__ADS_1
“Aku akan menunggumu, Darren … tidak masalah bagiku,” jawab Sandra lagi dan seolah bersikeras dengan keputusannya bahwa dia akan menunggu Darren.
“Jangan bercanda, San … waktuku masih lama di sini. Lebih dari satu tahun, itu waktu yang lama.” Darren menjawab dan meminta Sandra supaya tidak bercanda.
Akan tetapi, Sandra justru tertantang untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menunggu Darren dan tidak bermain-main dengan ucapannya. Kali ini, Sandra harus menjamin bahwa dirinya bisa memiliki Darren.
***
Di sisi lain, Bisma tengah menyiapkan untuk membuka tempat praktiknya. Sebagaimana ucapannya dahulu bahwa dia akan menjadikan rumah asli Kanaya sebagai tempat praktik dan membuka apotek di sana.
Sebelum melakukan soft launching, pria itu melihat keseluruhan rumah Kanaya itu. Bangunan itu masih ada bentuknya yang semula, hanya saja warna cat rumah itu berubah. Selain itu, dia juga akan menyeleksi untuk apoteker yang akan bekerja untuknya dan beberapa karyawan lainnya.
“Untuk tempat pemeriksaan di lantai dua kan Dok?” tanya seorang pekerja renovasi rumah itu kepada Bisma.
“Iya, kamar di lantai dua akan saya gunakan untuk ruang pemeriksanaan. Antrian bisa di bawah saja, Pak,” jawab Bisma,
Mulailah pekerja tersebut mengajak Bisma untuk naik ke lantai dua. “Ini ruang pemeriksaan nanti, Dokter. Apakah masih ada yang harus diubah?”
Bisma memperhatikan kamar yang semula adalah kamar Kanaya saat gadis itu, mengubah cat kamar itu menjadi warna biru langit yang cerah, memasang berbagai wallpaper khas anak-anak, menaruh meja, dan beberapa alat pemeriksaan di sana.
Kamar kamu, aku alih fungsikan menjadi tempat pemeriksaan anak-anak nanti, Naya … Sebelum soft launching, aku akan mengajakmu ke sini dan menunjukkan hasil dari renovasi rumahmu ini. Kuharap, kamu menyukainya.
Dokter itu bergumam dalam hatinya, dan kemudian sekilas menganggukkan kepalanya, “Baik Pak … sudah. Jadi masih perlu berapa lama lagi untuk finishingnya?” tanya Bisma kepada pekerja itu.
__ADS_1
“Tiga minggu, Dok … tiga minggu lagi, semua sudah siap dan mulai bisa membuka tempat praktik di sini,” jawab pekerja itu.