Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Beberapa Keanehan


__ADS_3

Sebagai pasangan muda dan tinggal di sepetak apartemen, weekend dimanfaatkan Dokter Bisma dan Kanaya untuk cleaning day. Sekadar menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi, mengganti sprei, mencuci, dan menjemur pakaian. Keduanya memang terlihat begitu kompak untuk urusan rumah tangga. Jika Kanaya menyapu, maka Bisma yang akan mengepel lantai. Jika Kanaya mengganti sprei tempat tidur mereka, maka Bisma yang akan menaruh semua cucian kotor dalam mesin cuci sekaligus mencucinya. Semua dilakukan bersama.


Akan tetapi, akhir pekan ini Kanaya justru seolah mager, dan tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Sepanjang pagi, hingga menjelang siang wanita itu justru asyik bergelung dengan selimutnya yang bermotif bunga-bunga itu.


“Ayo Sayang, kita bersih-bersih apartemen enggak pagi ini? Sudah hampir siang loh.” ucap Bisma sembari mengambil duduk di samping istrinya itu.


Namun, dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Hari ini libur dulu bersih-bersihnya boleh enggak sih Mas? Aku rasanya kok malas ngapa-ngapain, mager banget akunya.” ucapnya sembari berguling ke kanan dan ke kiri, seolah merasa begitu nyaman dengan tempat tidurnya itu.


Bisma pun tertawa, “Tumben … biasanya kamu rajin. Tumben sih mager? Jangan-jangan kamu mau masuk periode palang merah Sayang.” pria itu menebak bahwa mungkin saja istrinya itu akan memasuki periode haid-nya. Sebab beberapa wanita memang memiliki kebiasaan tersendiri yang berbeda menjelang masa periodenya.


Kanaya pun menggeleng, “Enggak tahu, cuma aku males banget ini Mas. Badanku juga rasanya kedinginan gitu, ngantuk terus deh rasanya.” ucapnya sembari beberapa kali menguap hingga matanya terasa berair.


Melihat istrinya yang mungkin saja dalam masa periode haid dan juga mungkin kecapean dengan pekerjaannya, Bisma pun mendekat dan menarik selimut guna menyelimuti badan istrinya yang mengeluh kedinginan itu. “Ya sudah, kamu tidur dulu aja, aku biar bersihin apartemen ini. Banyakan istirahat aja, biar badan kamu lebih enak.” ucapnya kemudian ditutup dengan mendaratkan kecupan sayang di kening Kanaya.


Setelahnya, Bisma pun memilih untuk menyapu apartemen tersebut dan juga menggunakan vacuum cleaner untuk menyedot debu di karpet dan sofa. Lantai rumah pun dia pel dengan menggunakan pewangi beraroma sere. Setelah itu, pria itu yang memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, begitu selesai dia juga yang langsung menjemurnya. Tidak terasa, matahari pun semakin meninggi, sudah nyari tengah hari Bisma membersihkan apartemennya.


Sepanjang waktu bersih-bersih tentu membuat pria itu lapar, menyadari bahwa Kanaya mungkin saja masih tidur, maka pria itu memilih untuk memesan makanan dan es cendol durian. Keliatannya memang di panas yang terik dan menikmati es cendol dengan durian terasa enak.

__ADS_1


Setelah makanan yang dipesan pun tiba, Bisma lantas membawa makanan itu dan juga membawa satu piring yang sudah berisi nasi, lengkap dengan lauknya dan masuk ke dalam kamarnya. Dengan sabar pria itu membangunkan istrinya, “Ayo Sayang bangun dulu … makan dulu yuk, kamu belum makan. Masak mau tidur terus sih?” ucapnya sembari menggoyang tubuh istrinya supaya bisa segera bangun.


Perlahan Kanaya pun mengerjap, mengucek sejenak dua matanya, dan perlahan kelopak matanya terbuka perlahan-lahan, dia tersenyum menatap suaminya yang sudah ada di sampingnya. “Tidurku lama ya Mas?” tanyanya begitu bangun.


Bisma pun mengangguk, “Iya … nyaris setengah hari kamu tidur. Makan dulu yuk.” ucapnya sembari membawa satu piring dengan aneka sayur dan lauk itu.


“Sampai dibawain ke sini? Padahal makan di meja makan pun gak apa-apa loh Mas.” ucapnya sembari menerima satu piring itu dan menaruh di atas pahanya.


Menerima piring itu, kemudian Bisma membuka es cendol durian yang berada dalam wadah gelas cup itu. Entah mengapa, bagi Kanaya aroma cendol durian itu terasa menyengat. Tiba-tiba saja, perutnya bergejolak dan dia menaruh piring berisi makanan itu di atas tempat tidur begitu saja dan berlari ke kamar mandi.


Air dari wastafel langsung dia nyalakan, dan mulailah keluar semua isi perutnya, hingga lidahnya terasa begitu pahit rasanya. Menyadari, istrinya terlihat aneh dan tidak sehat, Bisma berlari dan memijat punggung istrinya itu. Bahkan pria itu berdiri di belakang Kanaya sembari memegangi untaian rambutnya yang cukup panjang. Puas mengeluarkan cairan dari perutnya, Kanaya membasuh mulutnya dengan air. Gadis itu tampak berkaca-kaca dengan wajah yang begitu pucat pasi.


Kanaya menggeleng, “Enggak … aku cuma kecapean atau mungkin masuk angin aja sih Mas.” akunya yang mengira mungkin sedang masuk angin.


“Kamu mau ke mana sekarang? Aku bantu.” tanya Bisma yang tampak khawatir begitu istrinya itu hendak berjalan.


“Aku mau ke dapur, ambil air putih hangat Mas.” ucapnya.

__ADS_1


Dengan sigap, Bisma mengangkat badan Kanaya, menggendongnya ala bridal style dan mendudukkannya di kitchen island. Pria itu yang mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air putih hangat, lantas menyerahkannya kepada Kanaya, “Ini … diminum dulu.” ucapnya.


Akan tetapi, saat indera penciumannya mencium bau dari aroma Sere yang menurutnya tidak enak itu, Kanaya segera berlari dan menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu kembali berlari menuju kamar mandinya dan lagi-lagi mengeluarkan cairan dari perutnya. Entah, rasanya perutnya bergejolak dengan hebat. Lagi-lagi Bisma pun berlari untuk mengejar istrinya itu. Puas mengeluarkan semua cairan dari perutnya, kedua kaki Kanaya begitu lemas. Wanita itu pun luruh begitu saja dan terduduk di lantai kamar mandi. Kini dia benar-benar menangis dan memegangi lututnya yang terasa lemas.


Bisma pun berjongkok di depan istrinya itu, “Kamu kenapa? Kalau tidak sehat, kita ke Rumah Sakit saja yuk.” Ajaknya lagi kepada istrinya.


Kanaya hanya menggeleng dan terus menangis, “Enggak … aku ngerasanya kok di sekitar dapur baunya menyengat banget sih Mas? Aroma Citronella (Sere) ya Mas? Biasanya kan aromanya apel.” protesnya yang merasa lantai di dapur baunya berbeda.


Bisma pun mengangguk, “ Iya … yang apel habis, jadi aku pakai seadanya. Kamu kok aneh sih Sayang? Enggak tahan dengan bau menyengat ya? Jangan-jangan kamu …” ucap pria itu menggantung begitu saja.


Sebagai Dokter, Bisma hanya menduga kemungkinan yang terjadi pada istrinya itu mulai dari mengeluh capek, kedinginan, dan sekarang mual muntah saat mencium sesuatu yang menyengat di indera penciumannya.


Perlahan pria itu mengusap punggung Kanaya, “Kita cek ke Dokter Kandungan yuk? Mau ya? Atau aku belikan test pack, besok pagi kamu cek ya.” ucapnya yang meminta istrinya itu untuk mengecek terlebih dahulu. Dari arah pembicaraan Bisma, pria itu menduga bahwa mungkin saja kehidupan baru sedang tumbuh dalam rahim istrinya itu. Jikalau benar, maka Bisma akan begitu bersyukur karena akhirnya Allah kabulkan keinginannya.


Namun dengan cepat Kanaya menyanggahnya, “Enggak lah Mas … mungkin mau memasuki periode dan aku mungkin masuk angin.” sahutnya yang masih memegangi perutnya.


Seolah tak ingin berdebat, Bisma pun mengangguk. “Ya sudah, penting kamunya segera sembuh. Namun, aku nanti keluar sebentar ya. Aku belikan test pack. Test dulu aja. Hasilnya apa pun tidak masalah buatku, itu juga bantu supaya kamu tidak sembarangan minum obat. Okay?” pinta pria itu kepada Kanaya.

__ADS_1


Mengurangi risiko jika saja salah diagnosis, dan membuat istrinya itu tidak sembarangan minum obat. Sedang jika dugaannya benar, maka memang istrinya harus mendapatkan obat yang benar dan tepat, juga tidak diperbolehkan sembarangan mengonsumsi obat.


__ADS_2