
Sepanjang perjalanan pulang dari Rumah Sakit, Kanaya hanya tersenyum dan mengusapi perutnya sendiri. Saat melihat dari bakal bayi yang kini telah hidup dan terus berkembang di dalam rahimnya, membuat wanita muda itu merasa begitu bahagia. Pengalaman pertama melakukan pemeriksanaan kehamilan, ternyata justru menyenangkan untuk seorang Kanaya.
“Kamu seneng banget ya Sayang?” tanya Bisma yang masih mengemudikan stir mobilnya itu. Pria itu sesekali mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.
Sebenarnya tidak perlu ditanya lagi bahwa Kanaya tentu sangat bahagia saat ini. Dari cara wanita itu tersenyum, hingga beberapa mengusapi perutnya sendiri sudah menjadi sebuah jawaban pasti bahwa wanita itu tengah bahagia.
Kendati demikian, Kanaya tetap mengangguk dan tersenyum kepada suaminya itu. “Seneng banget Mas … enggak menyangka bakalan merasakan ada kehidupan baru di dalam sini.” ucapnya sembari terus tersenyum.
“Dinikmati Sayang … karena kehamilan itu adalah momen bersejarah bukan hanya untuk para calon Ibu, tetapi juga untuk calon Ayah. Oleh karena itu, kita ciptakan momen penuh kebahagiaan bersama-sama ya.” ucapnya sembari menggenggam tangan Kanaya dan beberapa mengecupi punggung tangan wanita itu.
Begitu telah tiba di apartemen, dan hari sudah malam, Bisma lantas berinisiatif mengisi bath up dengan air hangat, menaruh bomb bath beraroma lavender yang begitu menenangkan, “Kamu mandi duluan sana Sayang … bath up-nya sudah siap. Gantian mandinya.” ucap pria itu sembari mendorong punggung Kanaya dengan perlahan dan menyuruhnya untuk segera mandi.
Hati Kanaya rasanya begitu menghangat dengan perlakuan manis dari suaminya, tidak perlu waktu lama dia segera menyegarkan tubuhnya dengan air hangat yang sudah bercampur dengan aroma lavender yang begitu menenangkan itu. Seolah-olah rasa capek setelah seharian bekerja pun hilang.
Kurang lebih 20 menit berlalu, Kanaya keluar dari kamar mandi dengan membungkus rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih di kepalanya.
“Giliran kamu, Mas … bath up-nya sudah aku isi juga. Mandi yang bersih ya.” ucapnya menyuruh suaminya itu untuk segera mandi.
Setelah keduanya sudah sama-sama segar, lantas Bisma dan Kanaya pun duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Sofa yang memang sengaja ditaruh menghadap ke jendela kaca besar dengan pemandangan ibukota itu terlihat begitu indah di malam hari. Gedung-gedung yang mulai bersinar dengan lampunya, juga kendaraan yang mengeriap di jalan raya bisa terlihat dari kaca jendela tersebut.
__ADS_1
“Mas, aku boleh tanya?” Kanaya yang sedang duduk itu, kemudian beringsut, guna bisa menatap wajah suaminya itu.
“Tanya apa?” jawab Bisma.
“Ini tadi kehamilannya kan 5 minggu, kenapa detak jantungnya lebih terdengar ya Mas … biasanya kan Dokter Kandungan juga akan memperlihatkan ke kita tentang detak jantung bayinya dan mengukur intervalnya juga kan?” tanyanya kepada suaminya itu.
“Sabar Sayang … kan kehamilan 5 minggu itu masih kecil banget, tadi Dokter Indri baru 2 milimeter kan, itu berarti masih kecil banget. Sistem tubuh dan organnya kan yang mulai terbentuk, nanti usia kurang lebih 9 minggu, kita sudah bisa mendengar detak jantung bayinya.” ucap Bisma sembari mengelus perut Kanaya yang masih rata.
Mendengarkan penjelasan dari suaminya, Kanaya terlihat sangat memperhatikan, bahkan beberapa kali wanita itu menganggukkan kepalanya, “O … berarti bulan depan kalau kita cek up lagi baru bisa mendengar detak jantung bayinya ya Mas?” tanyanya lagi.
Ya, memang karena pengalaman hamil pertama kali, Kanaya merasa ingin banyak tahu. Lagipula suaminya kan seorang Dokter, bisa dia manfaatkan dengan sebaik mungkin untuk bertanya-tanya tentang kehamilan.
“Iya Sayang … sebenarnya sekarang mungkin sudah berdetak sih jantungnya, cuma karena ukurannya yang masih kecil jadi tidak terdengar dengan maksimal. Gelombang ultrasonologi pun tidak bisa mendeteksinya.” jelas Bisma kepada istrinya itu. Pria itu berusaha menggunakan bahasa yang sederhana untuk menjelaskan kepada istrinya yang memang awam terhadap masalah organ tubuh dan kesehatan.
“Sabar ya, bulan depan kan kita akan cek up lagi, nanti akan terdengar kok detak jantung babynya.” sahutnya dengan beberapa kali mengusap-usap rambut istrinya yang setengah basah itu. “Kamu enggak Sayang, di dalam sini suaranya itu berisik loh Sayang.” ucapnya yang membuat Kanaya tertarik hingga langsung fokus mendengarkan ucapan suaminya itu.
“Bising gimana Mas?” tanya dengan bingung kepada suaminya.
“Iya, di dalam rahim kamu itu suaranya bising. Jadi di dalam sini, anak kita tuh bisa mendengarkan detak jantung kamu yang dag-dig-dug itu, bisa mendengarkan ginjal yang sedang bekerja membuang racun, bisa mendengarkan usus yang mencerna makanan, dan suara-suara lainnya yang berasal dari setiap organ di dalam sini. Bahkan dia bisa dengar suara Mamanya yang sedang mengajaknya ngobrol. Ajaib banget kan?” ucap pria itu dengan wajah bahagia bisa menceritakan hal tersebut kepada istrinya.
__ADS_1
Sebuah fakta yang baru Kanaya ketahui, kehamilan bahkan kehadiran seorang janin itu begitu ajaib. Bersyukur sekali, dia memiliki suami seorang Dokter yang bisa menjelaskan semuanya itu kepadanya.
“Aku kira di dalam sini sepi, Mas … soalnya kan begitu bayi lahir biasanya kan dikasih tempat yang sepi dan tidak terlalu berisik kan?” tanyanya lagi kepada suaminya.
Bisma pun menggeleng, “Enggak … justru di dalam sini, indera pendengaran bayi itu sudah terbiasa mendengarkan berbagai bunyi-bunyian. Bahkan musik klasik yang sebatas ditempelkan di dekat perut saja, dia bisa mendengarkannya kok.” jelasnya kembali. “Oh, iya Sayang … karena kamu hamil, sekarang biasakan mendengarkan musik klasik ya Sayang, buat merangsang kinerja otaknya dia.” ucapnya kepada istrinya itu.
“Aku enggak pernah dengerin musik tuh, Mas … hidupku kan sepi. Handphoneku aja enggak ada penyimpanan musiknya.” ucapnya sembari menyerahkan handphonenya kepada suaminya itu.
Dengan senang hati, Bisma menerima handphone istrinya itu dan melihat file penyimpanan milik istrinya, dan benarlah di sana satu lagu pun tidak ada yang tersimpan. Bisma lantas melihat kepada istrinya itu, “Hiburan kamu waktu bekerja apa?” tanya dengan seolah penuh selidik.
Kanaya menggelengkan kepalanya, “Enggak ada hiburan, paling jeda beberapa menit buat minum air putih dan lihat foto pernikahan kita berdua di meja kerja.” jawabnya dengan wajah yang tampak datar.
Jawaban yang membuat Bisma tersenyum dalam hati, rupanya dalam jeda saat bekerja istrinya itu justru memilih untuk melihat foto pernikahan mereka. Sikap manis dari seorang Kanaya, menurut Bisma.
“Dulu, waktu kamu menulis novel? Jeda waktu menulis, kamu ngapain?” tanyanya lagi kepada istrinya itu.
“Dulu kan di rumah aku itu Almarhum Ayah selalu mendengarkan radio, Mas … jadi ya, aku ikut mendengarkan apa pun yang diputar oleh Almarhum Ayah di radio itu. Mulai dari berita, fluktuasi harga saham, lagu dari mulai Koesplus, Dangdut, Campur Sari. Semua yang diputar oleh beliau, aku selalu ikut mendengarkannya.” ucapnya sembari mengingat kembali memorinya saat Ayahnya masih hidup. Sebuah radio tua berwarna hitam berbentuk persegi dengan antena di atasnya, menjadi hiburan bagi Ayah Kanaya.
Bisma pun mengangguk dan langsung merengkuh tubuh istrinya itu dalam pelukannya, “Rupanya, istriku ini memang adalah wanita yang sangat baik. Mau memberikan telinganya untuk ikut mendengarkan apa yang diputar oleh Almarhum Ayah. Kamu baik banget Sayang … sekarang, aku berikan beberapa musik klasik di dalam handphone kamu ya. Kalau jeda sambil liatin foto pernikahan kita berdua, sambil mendengarkan musik klasik karena manfaatnya bagus banget buat janin, mulai dari merangsang refleks bayi, indera pendengarannya, bahkan kamunya yang sedang hamil juga bisa lebih rileks.” ucapnya sembari mengurai sejenak pelukannya.
__ADS_1
Kanaya pun mengangguk, “Aku akan nikmati dengan benar masa kehamilanku ini. Momen bersejarah ini tidak akan aku lupakan selamanya, dan sekaligus aku bisa memanfaatkan suamiku yang Dokter ini untuk bertanya apa pun. Makasih Mas Dokter.” ucapnya sembari menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Setidaknya, kehamilan pertama tentu akan begitu berkesan untuk semua pasangan baru, itu juga yang dirasakan Kanaya dan Bisma. Kendati sama-sama belum berpengalaman, setidaknya Kanaya bisa bertanya apa pun kepada suaminya karena secara teori paling tidak suaminya pun tahu beberapa hal tentang kehamilan.