
Jika ada orang yang memiliki perencanaan yang matang, maka orang tersebut adalah Bisma. Pria yang memiliki perencanaan yang matang dan bertindak sesuai dengan rencana yang sudah dia tentukan sebelumnya. Beberapa hari setelah kedatangan mereka dari Turki, Bisma meminta izin kepada Ayah dan Bundanya untuk tinggal di apartemennya.
“Ayah, Bunda … sekarang kami akan belajar untuk membina rumah tangga dan mengisi satu sama, jadi besok kami izin untuk mulai tinggal di apartemen ya Bunda dan Ayah. Lagipula apartemennya dekat dengan tempat kerja kami berdua, jadi lebih mudah dijangkau.” izin Bisma kepada kedua orang tuanya.
Ayah Tirta dan Bunda Hesti pun mengangguk mendengar izin yang diucapkan putranya itu. Tidak dipungkiri sebenarnya mereka ingin tinggal dengan Bisma dan juga Kanaya. Akan tetapi, sebagai orang tua mereka pun mendukung niatan Bisma untuk belajar membina rumah tangganya.
“Sudah pasti Ayahmu ini dan Bundamu akan memberi izin. Seyogyanya memang begitu, usai menikah anak laki-laki akan meninggalkan Ayah dan Ibunya, kemudian bersatu dengan istrinya. Belajar mandiri, membina rumah tangga berdua, saling mengenal dan mengisi satu sama lain. Kalau kalian tidak berumah tangga sendiri, kalian tidak akan tahu rasanya menjalankan peran sebagai suami dan istri.” nasihat dari Ayah Tirta kepada Bisma dan juga Kanaya malam itu.
“Yang disampaikan Ayah kamu benar, dan kami tidak keberatan. Lagipula kita masih berada di dalam satu kota. Jika libur dan tidak capek, kunjungilah kami.” ucap Bunda Hesti dengan tersenyum menatap Bisma dan Kanaya.
Pasangan suami istri itu pun lega, karena ternyata Ayah Tirta dan Bunda Hesti sama-sama mendukung rencana mereka untuk membangun kehidupan rumah tangga yang mandiri.
***
Keesokan harinya, Bisma dan Kanaya bersiap untuk memindahkan barang-barang mereka ke apartemen yang akan mereka tempati. Sebenarnya barang yang mereka pindahkan tidak banyak, hanya beberapa koper yang berisi pakaian saja. Selebihnya tanpa sepengetahuan Kanaya, Bisma sudah mendesain apartemen yang akan mereka tempati dan juga mengisi beberapa perabotan di sana. Bahkan apartemen tersebut juga sudah dibersihkan terlebih dahulu.
Siang menjadi sore hari, Kanaya dan Bisma sama-sama menuju apartemen yang akan menjadi rumah bagi mereka. Belajar mandiri sekalipun hanya di ruangan berukuran satu petak tidak masalah. Selain itu, mereka juga sama-sama bekerja, sehingga apartemen menjadi pilihan yang tepat bagi keduanya.
__ADS_1
“Silakan masuk Sayang …” ucap Bisma sembari membukakan pintu apartemen itu untuk istrinya.
Kanaya pun tersenyum dan mulai menginjakkan kakinya memasuki apartemen tersebut. Dia masuk, kemudian matanya mengedar untuk melihat setiap sudut di apartemen itu. Mulai dari ruang keluarga berukuran kecil, dapur dengan kitchen islandnya, juga dua kamar yang berada di sana. Kanaya lantas berjalan dan membuka tirai jendela dari apartemen mereka itu, pemandangan ibukota langsung terlihat dari jendela kaca tersebut. Wanita itu tersenyum karena setidaknya di akhir pekan, dia tidak akan jenuh dengan menghabiskan sepanjang waktu dengan menatap pemandangan ibukota dari lantai 15 apartemennya itu.
Setelah puas melihat pemandangan dari kaca jendela di apartemen itu, Bisma lantas menarik tangan Kanaya, membawanya untuk melihat kamar yang akan kita tempati berdua.
“Ini kamar kita Sayang … gimana kamu suka enggak?” tanya Bisma kepada Kanaya.
Belum menjawab, Kanaya justru melihat pada kamar berukuran cukup besar dengan tempat tidur berukuran super king size di tengah-tengahnya, kamar mandi dalam, dan walk in closet berukuran mini. Gadis itu tersenyum kemudian mengapitkan tangannya ke lengan suaminya.
“Suka … bagus banget sih. Yang desain ini semua siapa?” tanya Kanaya sembari sedikit menengadahkan wajahnya guna menatap wajah suaminya yang tengah tersenyum itu.
Kanaya tampak mengerutkan keningnya, lantas menatap suaminya itu, “Jangan bilang, Pak Dokter ini yang mendesain dan menyiapkan semuanya ini ya?”
Anggukan yang diberikan Bisma cukup menjawab pertanyaan Kanaya. Dengan cepat Kanaya berdiri di hadapan suaminya itu. “Serius, kamu yang desain semua ini? Kamu itu Dokter atau Desain Interior sih? Semua ini bagus banget, seperti yang ada di mimpi aku.” jawab Kanaya tampak seolah tak percaya.
Bisma pun tertawa, “Mungkin aku masuk ke dalam mimpimu dan mencuri mimpimu itu, sehingga aku bisa mempersiapkan semuanya seperti yang kamu impikan. Jadi, inilah apartemen kita … kita akan belajar membina rumah tangga kita di sini. Sekalipun kita sama-sama bekerja, dan bertemu di pagi hari sebelum bekerja, dan sore hari selepas bekerja, hunian kecil ini akan tetap hangat dan hidup. Kita akan saling mengisi satu sama lain, dan menghidupkan rumah ini tentunya.” ucap Bisma sembari memegangi bahu Kanaya.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Kanaya justru memeluk Bisma, dengan kedua tangannya yang melingkari pinggang suaminya itu, “Terima kasih banyak Mas … sekalipun saat kita bekerja tempat ini akan kosong, tetapi cinta kita akan tetap terisi kan. Juga, weekend bisa kita manfaatkan untuk menyemarakkan tempat ini. Terima kasih, sudah menyiapkan tempat untukku berteduh. Rasanya sekarang, dalam hidup yang naik turun ini, aku benar-benar memiliki sandaran hidup.” ucap Kanaya sembari mencerukkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, menghirupi aroma sandalwood yang begitu menenangkan di indera penciuman Kanaya.
Respons dari seorang Bisma pun, dia langsung membelai rambut hingga punggung Kanaya. Mengusapnya dengan begitu lembut. “Makasih juga karena sudah menerimaku. Seperti ucapanku dahulu, seumur hidup bersandarlah padaku. Kamu adalah tulang rusukku dan aku akan menjadi tulang punggungmu. Punggung yang akan menanggung seluruh hidupmu, dan punggung yang akan menjadi tempatmu bersandar. Kita sama-sama belajar, semoga saja usai tinggal di tempat ini, Allah segera akan menganugerahkan seorang bayi yang akan meramaikan tempat tinggal ini. Sehingga peran kita tidak hanya sebagai seorang Suami dan Istri, tetapi juga menjadi Ayah dan Ibu untuk anak-anak kita nanti.”
Jika bagi beberapa orang usai menikah ingin menghabiskan waktu bersama, tetapi Bisma justru ingin segera mendapatkan momongan. Waktu bersama bisa dibangun setiap waktu, tetapi mendapatkan momongan adalah benar-benar anugerah. Ada pasangan yang sekian tahun menunggu dan Allah masih belum meridhoi, karena itulah dia ingin Allah segera titipkan buah hati yang akan melengkapi kebahagiaan mereka dan juga sekaligus mengajarkan mereka berdua untuk menikmati peran baru sebagai orang tua.
“Amin … kan kita juga tidak menunda Mas, sekarang berdoanya kan supaya Allah berkenan untuk menganugerahkan buah hati kepada kita berdua.” ucap Kanaya yang mengaminkan ucapan suaminya itu.
Bisma pun menganggukkan kepalanya, “Benar banget … intinya ya berdoa dan berusaha. Kalau sudah hidup berdua, kitanya bisa lebih bebas dan lebih gencar usahanya.” ucapnya sembari terkekeh.
“Ya ampun Mas … sejak kapan kamunya jadi kayak gini?” sahut Kanaya dengan cepat.
“Sejak merasakan nikmatnya nektar cinta bersama kamu, Sayang.” ucap pria itu sembari menggigit hidung istrinya itu. Begitu gemas rasanya dengan istrinya yang cantik itu.
Sementara Kanaya mengerucutkan bibirnya sembari mengusap hidungnya yang sedikit memerah, “Kadang aku tuh gak nyangka ya kok suamiku bisa kayak gini. Kamu itu kalau kerja serius banget, kalau sama aku beda banget.” Kanaya berbicara dengan menggerutu karena suaminya itu memang sosok yang serius saat bekerja.
“Ya masak, aku mau serius sama kamu Sayang? Ya serius, ya bercanda, biar rumah tangga kita berdua lebih berwarna. Ya kan …” sahutnya dengan cepat.
__ADS_1
Bisma lantas memegangi kedua bahu istrinya dan menatapnya dengan dalam, “Karena … dengan bersamamu lah aku bisa menunjukkan diriku yang sebenarnya. Tidak ada yang kututupi bersamamu, aku bebas berekspresi. Sementara kalau kerja, ya aku harus serius, tetapi harus ramah juga karena yang aku hadapi adalah anak-anak. Kalau bersamamu ya inilah aku … apa adanya. Bahkan sisi-sisi lainku dan mungkin sisi terburukku pun akan kamu ketahui semuanya.” ucap pria itu dengan menatap lekat pada sosok istrinya itu.