Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Calon Uncle!


__ADS_3

Kabar bahwa Kanaya telah melahirkan nyatanya didengar juga oleh Papa Jaya dan juga Mama Sasmita. Sudah pasti, Papa Jaya dan Mama Sasmita turut berbahagia, baginya Kanaya bukan sekadar bekas menantu atau orang lain, tetapi mereka justru mengangkat Kanaya menjadi anak mereka. Sehingga, saat Kanaya melahirkan keduanya turut berbahagia. Anak yang baru saja dilahirkan Kanaya juga akan menjadi cucu mereka.


Hari ini, Papa Jaya dan Mama Sasmita ingin mengunjungi Kanaya dan bayinya. Sudah beberapa hari berlalu sejak Kanaya melahirkan bayinya, sehingga mengunjungi sekarang merupakan waktu yang tepat. Tidak lupa Papa Jaya dan Mama Sasmita pun mengabarkan kepada Gisell bahwa Kanaya sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Maka dari itu, seluruh keluarga Wardhana akan mengunjungi Kanaya.


Apartemen Kanaya dan Bisma yang tidak begitu besar mendapat kunjungan dari Papa Jaya, Mama Sasmita,Gisell, dan juga seorang pria yang merupakan sosok yang pernah Gisell ceritakan sebelumnya.


“Halo Naya … gimana sudah makin sehat?” sapa Mama Sasmita kepada Kanaya. Raut wajah penuh kebahagiaan terlihat di wajah ayu Mama Sasmita.


“Sudah lebih sehat, Ma … sudah bisa mulai berjalan walau masih pelan-pelan, karena terkadang luka sayatan di perut terasa sakit,” jawab Kanaya.


Kanaya pun kemudian menyorot pada wajah Gisell yang kali ini terlihat lebih tenang dan warna merah jambu seolah menghiasi kedua pipinya.


“Halo Onty Gisell,” sapanya kepada Gisell seolah dia tengah menirukan suara seorang bayi.


Gisell kemudian tertawa, tidak menyangka bahwa wanita yang sudah anggap seperti kakaknya sendiri itu akan menggodanya. “Kak Naya …,” jawabnya dengan rona merah di wajahnya.


“Babynya cakep ya Kak … siapa namanya?” tanya Gisell yang seolah mengalihkan pembicaraan.


Rasanya begitu lucu melihat wajah penuh cinta dan kedua mata Gisell yang terlihat berbinar, rasanya Kanaya ingin selalu menggodai Gisell. “Namanya Aksara, Onty ….”


Sementara itu, Papa Jaya tampak mengamati setiap sudut apartemen Kanaya dan Bisma. Memperhatikan sekelilingnya, kemudian melihat pada wajah Kanaya dan Bisma. Pria paruh baya itu kemudian berdehem, hingga semua yang ada di ruang tamu itu kini melihat kepada Papa Jaya.


“Ehem, Naya … Bisma, begini. Apartemen ini memang mewah dan letaknya juga dekat dengan Jaya Corp dan Rumah Sakit tempat Bisma bekerja. Akan tetapi, karena kalian sudah memiliki anak, apakah kalian tidak berpikir untuk pindah ke rumah? Di mana ada banyak ruangan dan halaman yang bisa untuk bermain Aksara nanti,” tanya Papa Jaya kepada Kanaya dan Bisma.


Perlahan Bisma pun tersenyum, “Bisma sudah memikirkannya, Pa … tetapi, kami berdua ingin berada di apartemen ini dulu karena Bisma ingin membangun sebuah rumah bagi kami dari nol.”


Di luar prediksi semua orang, rupanya Bisma sendiri sudah merancangkan untuk membangun sebuah rumah bagi istri dan anaknya nanti. Sebuah rumah yang akan menjadi saksi kisah perjalanan rumah tangga mereka dari waktu ke waktu dan juga sebuha rumah yang akan menjadi lingkungan tumbuh kembang bagi Aksara.


Papa Jaya pun lantas mengangguk, ada kelegaan yang tersirat di wajahnya. Sebab, pria yang menikahi Kanaya ini bukan hanya baik, tetapi juga memiliki pemikiran yang matang. Tidak ada lagi kecemasan dari Papa Jaya kepada Kanaya dan Bisma.

__ADS_1


“Baiklah … jika demikian, Papamu ini sudah lega,” ucap Papa Jaya.


“Mama juga lega, memang untuk pasangan yang baru menikah apartemen menjadi pilihan yang tepat. Akan tetapi, begitu sudah memiliki buah hati, kita membutuhkan lingkungan yang jauh lebih besar,” ucap Mama Sasmita yang sependapat dengan Papa Jaya.


“Terima kasih sudah memperhatikan dan mencemaskan kami.” Kanaya mengucapkan terima kasih untuk perhatian dari keluarga Wardhana kepada mereka. Sebab jika keluarga tidak menyayanginya, maka Papa Jaya dan keluarga tidak akan mencemaskannya.


Sama halnya dengan Bisma, pria itu tidak terlihat tersinggung. Justru dia menganggap bahwa pertanyaan dari Papa Jaya merupakan bentuk kasih sayangnya kepada Kanaya. Lagipula, Bisma diam-diam juga tengah menyiapkan sebuah rumah impian bagi Kanaya dan juga Aksara. Istana yang penuh cinta yang akan dihuni oleh mereka bertiga.


Obrolan seputar rumah tinggal nyatanya justru membuat mereka mengabaikan sosok pria yang sedari tadi hanya diam dan hanya mendengarkan obrolan dari lainnya. Perlahan Kanaya melihat Gisell, “Jadi, siapa nih Onty Gisell? Apakah calon Uncle nya Aksara?” tanya Kanaya secara to the point.


Sontak saja, kini semua mata menatap pada pria yang sedari tadi hanya menunduk itu. Hingga akhirnya, pria itu perlahan mengangkat wajahnya dan menyapa Kanaya.


“Hai Kak Naya, aku Gibran," ucapnya memperkenalkan diri kepada Kanaya.


Dalam hatinya Kanaya sudah mengira bahwa pria itu adalah Gibran, rekan seuniversitas Gisell yang sempat dicurhatkan oleh Gisell beberapa bulan yang lalu.


“Hai, salam kenal … aku Naya, dan dia suamiku Bisma.” Kanaya pun mengenalkan dirinya dan juga Bisma sebagai suaminya kepada pria itu.


“Dari Bandung, Kak,” jawabnya singkat.


“Wah, boleh dong jika suatu saat kami jalan-jalan ke Bandung bisa mampir,” sahut Bisma yang tengah berupaya membangun komunikasi dengan pria bernama Gibran itu. Setidaknya dengan komunikasi, maka tidak ada rasa canggung.


Gibran pun mengangguk, “Silakan Kak … nanti bisa aku anterin muter-muter Bandung,” jawabnya dengan sembari menatap Bisma.


Di tengah obrolan kedua pria itu, Kanaya kemudian kembali bersuara, “Jadi ini, Aksara manggilnya apa dong Gibran? Om atau Uncle?” Tentu saja Kanaya kali ini hanya menggodai Gibran dan Gisell saja.


“Terserah aja, Kak … Memanggil Om tidak apa-apa, memanggil Uncle juga tidak apa-apa,” sahutnya.


“Menurut kamu, enaknya dipanggil apa, Gisell?” tanya Kanaya yang kali ini justru menanyai Gisell. Padahal Gisell terlihat begitu menjaga imagenya, tetapi Kanaya justru sedang bersikap jahil kali ini.

__ADS_1


Seolah gelagapan, Gisell kemudian tersenyum, “Uncle keliatannya lebih cocok, Kak,” jawabnya.


“Uncle atau calon Uncle?” celetuk Bisma dengan tiba-tiba.


“Dipanggil Uncle saja, Kak.” Gisell sembari berbicara sembari menunduk.


Seluruh orang yang berada di situ pun tertawa, rupanya mengerjai orang yang tengah kasmaran itu sangat menyenangkan. Kebahagiaan saat itu bukan sekadar pada seluruh orang yang menyambut kelahiran Aksara, tetapi juga kepada Gisell diharapkan bisa mendapatkan kebahagiaannya bersama pria bernama Gibran itu.


Terlebih dengan Papa Jaya dan Mama Sasmita yang terlihat sudah menerima Gibran, sehingga Kanaya dan Bisma juga berharap bahwa Gisell akan mendapatkan kebahagiaan dengan menemukan pria yang bisa mencintai dan menerimanya apa adanya.


...🍃🍃🍃...


Dear All,


Sembari menunggu Bab selanjutnya. Mampir yuk ke karya teman-temanku.



Sekadar Istri Siri karya Aisy Arbia





Ternyata Itu Cinta karya Aveiiiii


__ADS_1



Silakan mampir dan tinggalkan jejak ya Bestie. 💓💓


__ADS_2