Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Mengunjungi Mertua


__ADS_3

Di akhir pekan ini, cukup pagi Bunda Hesti menghubungi Bisma. Biasanya memang wanita paruh baya itu jarang menghubungi anaknya. Akan tetapi, hari ini berbeda, karena Bisma bangun karena mendengar bunyi deringan dari handphonenya.


Bunda Hesti


Memanggil


Segeralah Bisma beringsut, tangannya berusaha meraih handphonenya yang berada di atas nakas.


“Halo … selamat pagi, Bunda.” sapa pria itu sembari menguap dan beberapa kali mengucek matanya.


“Halo Bisma, kalian sudah bangun belum?” tanya Bunda Hesti disertai dengan kekehan karena menelpon anaknya di pagi hari.


“Sudah dong Bunda, ada apa?” tanya Bisma lagi kepada Bundanya.


“Nanti kalian main ke sini ya, Bunda akan memasak makanan kesukaan kamu. Menginaplah di sini semalam ya, Bunda dan Ayah kangen dengan kalian berdua.” ucap Bunda Hesti dan kemudian mengakhiri panggilannya.


Bisma kembali menaruh handphonenya di atas nakas, kemudian melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 05.30, masih pagi pantas saja istrinya masih belum terbangun. Di hari weekend, memang Bisma membiarkan Kanaya bangun agak siang karena dia tahu bahwa Senin hingga Jumat sudah dihabiskan Kanaya untuk bekerja. Di hari Sabtu dan Minggu, pria itu seolah memberikan kelonggaran kepada istrinya untuk bangun agak siang.


***

__ADS_1


Menjelang sore, barulah Kanaya dan Bisma menuju kediaman mertuanya. Seperti biasanya, keduanya sama-sama menyapa dengan wajah penuh kebahagiaan.


“Selamat sore Ayah … Bunda.” sapa Kanaya dan Bisma bersamaan.


Bunda Hesti pun berdiri dan memeluk menantunya itu dengan penuh sayang. Kemudian tangannya terulur untuk mengusap perut menantunya yang sudah mulai membuncit.


“Cucu Bunda di sini bagaimana kabarnya Sayang?” tanya Bunda Hesti kepada Kanaya.


“Baik Bunda … kemarin periksa sudah memasuki 22 weeks.” Jawabnya.


“Wah, sudah setengah jalan. Kamu sehat-sehat ya, apa ada keluhan. Kalau ada apa-apa bisa tanya-tanya ke Bunda juga. Jangan sungkan ya.” pinta Bunda Hesti kepada menantunya tersebut.


Kanaya pun mengangguk, “Iya Bunda … terima kasih.”


“Ayo, sekarang kita makan bersama. Bunda kamu sudah menyiapkan semua ini, dan ini menu favorit kamu, Bisma.” ucap Ayah Tirta yang menunjukkan pada sebuah mangkok besar yang berisi Ikan Kuah Asam Pedas itu.


Wajah Bisma pun tampak tersenyum lebar melihat makanan kesukaannya tersaji di atas meja. Sehingga, Kanaya pun sekaligus mengetahui bahwa suaminya itu menggemari boga bahari. Akan Kanaya ingat dan mempraktikkannya di kemudian hari untuk memasakkan suaminya saat hari libur nanti. Mungkin sehabis ini, Kanaya akan bertanya resep Ikan Kuah Asam Pedas itu kepada Bunda Hesti, sehingga dia tinggal memasaknya di hari libur nanti.


Mereka berempat lantas menikmati makan malam itu dengan tenang dan diselingi dengan berbagai obrolan yang membuat suasana di meja makan itu terasa hangat. Usai makan malam, Kanaya pun membantu Bunda Hesti untuk membersihkan meja makan dan membawakan beberapa buah yang digunakan sebagai pencuci mulut.

__ADS_1


“Kamu ada ngidam atau apa gitu enggak Naya?” tanya Bunda Hesti kepada Kanaya saat keduanya sama-sama membersihkan meja makan.


“Keliatannya enggak terlalu ngidam, Bunda … kapan hari hanya pengen rujak buah saja. Mual dan muntah juga enggak.” jawabnya.


“Bagus berarti … sehat ya buat kamu dan babynya. Kalau pengen makanan atau sesuatu, telepon Bunda saja nanti Bunda masakkan buat kamu. Bisma juga mendampingi kamu dengan baik kan?” tanya Bunda Hesti lagi.


Sebelum menjawab, Kanaya tampak melihat suaminya dari jauh. Wanita itu pun tiba-tiba tersenyum, “Mas Bisma sangat baik Bunda … dia mendampingi Naya dengan baik.” jawabnya dengan satu tangan yang mengusap perutnya.


“Alhamdulillah … Bunda merasa tenang. Bisma itu anaknya dingin, walaupun dingin bukan berarti dia tidak peka. Justru dia sangat peka. Hanya saja karena pendiam, orang-orang akan mengira kalau dia cuek.”  cerita Bunda Hesti sembari mengamati putranya itu.


Kanaya pun mengangguk, dia mengingat kembali bahwa semasa SMA pun Bisma adalah siswa yang pendiam dan tidak banyak terlibat dalam kegiatan di SMA. Hanya menjadi anggota majalah dinding saja yang sejauh ini Kanaya ingat. Akan tetapi, baginya justru Bisma adalah orang yang berhati hangat.


“Mas Bisma orang yang baik dan perhatian kok Bunda.” ungkap Kanaya dengan sungguh-sungguh.


“Syukurlah … semoga kalian bisa saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Apa pun tantangan yang ada di depan, jika kalian saling bergandengan tangan maka semuanya bisa diselesaikan bersama juga.” nasihat Bunda Hesti kepada Kanaya.


Mendengar nasihat dari Bunda Hesti, tentu saja Kanaya justru merasa bersyukur. Terkadang dalam hidup dia merindukan sosok Bundanya yang akan menasihati bahkan memarahinya. Kini, ada sosok Bunda Hesti yang menasihatinya membuat Kanaya bahagia.


“Iya Bunda … doakan juga kami bisa saling bergandengan tangan hingga di akhir usia kami nanti.” jawabnya.

__ADS_1


Perlahan satu tangan Bunda Hesti terangkat, dan tangan itu mengusap lembut sisi wajah Kanaya, “Pasti … Pasti Bunda berdoa semoga kamu dan Bisma selalu hidup bahagia, saling memiliki sampai tua nanti. Sekarang, karena besok libur, kalian menginap di sini ya. Besok temani Bunda memasak. Mau ya?”


Saat Bunda Hesti sudah memintanya seperti ini, maka Kanaya pun tidak bisa mengelak lagi. Mau tidak mau, dia pun menuruti keinginan Bunda Hesti untuk kembali menginap di kediaman mertuanya itu. Lagipula, keesokan harinya memasak bersama dengan Bunda Hesti juga akan menjadi agenda yang menyenangkan bagi Kanaya.


__ADS_2