
Pertemuan dramatis dan penuh haru akhirnya menjadi hari yang paling membahagiakan untuk Bisma dan Kanaya. Putra kecilnya sudah banyak berubah, dari tingginya, kemampuan bicaranya, hingga perkembangan kognitif Aksara. Semuanya itu membuat Kanaya dan Bisma pun begitu takjub.
Bu Lisa pun turut memberikan penjelasan kepada Aksara.
"Aksara, sekarang sudah ada Ayah dan Bundanya Aksara. Orang tua yang Aksara tunggu-tunggu selama ini sudah berada di depan mata Aksara. Aksara tentu senang kan?" tanya Bu Lisa kepada Aksara.
"Iya, Bu," sahut Aksara dengan singkat.
"Nah, karena Aksara sudah menemukan Ayah dan Bundanya. Aksara ikut Ayah dan Bunda pulang yah?" jelas Bu Lisa.
Saat anak yang tidak sengaja dia temukan itu sudah menemukan orang tua kandungnya, maka Bu Lisa pun dengan ikhlas akan melepas anak tersebut kepada orang tua kandungnya. Lagipula, ini bukan kali pertama. Sudah beberapa kali terjadi kejadian seperti ini.
"Tapi, Bu … bagaimana dengan Ayah Radit, Ibu Khaira, dan Arsyilla?" tanya Aksara.
Mendengar ada sosok lain yang disebut oleh Aksara, Kanaya dan Bisma pun saling pandang. Siapa orang-orang yang namanya disebut oleh Aksara itu. Juga, Aksara menyebut mereka dengan nama Ayah dan Ibu. Sudah pasti, mereka adalah orang yang spesial bagi Aksara.
"Mereka siapa Bu Lisa?" tanya Kanaya.
"Oh, mereka adalah salah satu donatur tetap di Panti Asuhan ini. Pasangan muda yang bernama Pak Radit dan Ibu Khaira. Mereka berdua sangat menyayangi Aksara, bahkan mereka juga menyekolahkan Aksara," jawab Bu Lisa.
Mendengar jawaban Bu Lisa, Kanaya justru berlinang air matanya. Hampir setiap hari dia berdoa kepada Tuhan dan memohon ada orang yang tergerak hatinya untuk menolong Aksara. Rupanya hal itu benar-benar dijabah Allah. Ada pasangan muda yang berbesar hati menyekolahkan Aksara.
"Ibu Khaira, Ayah Radit, dan Arsyilla adalah keluarga bagi Aksara. Mereka selalu datang setiap bulan ke Panti Asuhan untuk mengunjungi Aksara. Selain itu, putri mereka yang bernama Arsyilla juga sangat menyayangi Aksara. Mereka berdua seperti adik dan kakak," jelas Bu Lisa lagi.
"Alhamdulillah, saya benar-benar berterima kasih karena Allah mengirimkan keluarga yang sangat menyayangi Aksara. Di saat kami terpisah jauh darinya, ada keluarga Bapak Radit yang menolong Aksara," balas Kanaya.
Bisma pun turut menganggukkan kepalanya, "Benar, apakah kami bisa mendapatkan alamat rumah tempat tinggal Bapak Radit, Bu Lisa? Kami ingin berterima kasih secara langsung," ucap Bisma.
"Maaf Pak, sayangnya saya tidak mempunyai alamat mereka. Mereka hanya berkunjung rutin setiap awal bulan untuk menemui Aksara dan berbagi kasih untuk anak-anak di sini," jawab Bu Lisa.
Mereka semuanya pun terdiam, terlebih Kanaya dan Bisma menyadari bahwa Aksara menyayangi dan mengharapkan kedatangan mereka. Untuk itu, kali ini Kanaya akan memenangkan hati putranya itu.
"Aksara Sayang, mau tidak pulang ke rumah Ayah dan Bunda? Semalam saja dan besok kita naik pesawat ke Singapura. Bunda berjanji, di awal bulan kita akan selalu datang ke Panti Asuhan ini supaya kamu bisa bertemu dengan Ayah Radit, Ibu Khaira, dan Arsyilla. Bagaimana Aksara?" tanya Bunda Kanaya dengan lembut.
__ADS_1
Sejujurnya, Kanaya sangat ingin membawa pulang Aksara. Akan tetapi, membujuk Aksara tetap membutuhkan waktu. Terlebih sudah empat tahun lamanya mereka terpisah. Sehingga kali ini, Kanaya pun harus memberikan pengertian kepada Aksara.
"Benarkah setiap bulan kita akan ke sini? Aksara masih bisa bertemu dengan Ayah Radit, Ibu Khaira, dan Arsyilla?" tanya Aksara secara langsung.
Kanaya dan Bisma sama-sama menganggukkan kepalanya, "Benar Aksara, kami berjanji kepadamu," jawab Bisma.
Mendengar janji yang diucapkan sang Ayah dan kesungguhan hati kedua orang tuanya, Aksara pun menganggukkan kepalanya.
"Iya," jawabnya dengan lirih.
Mendengar jawaban Aksara, Bu Lisa pun akan mempersiapkan barang-barang Aksara terlebih dahulu. Aksara pun mengikuti Bu Lisa untuk kembali ke kamarnya sebentar. Di sana Aksara menyimpan fotonya bersama keluarga Ayah Radit.
"Aksara sudah bertemu untuk Ayah dan Bundanya Aksara, tetapi Aksara berjanji akan datang kemari setiap awal bulan di waktu yang biasanya Ayah, Ibu, dan Arsyilla kemari. Aksara selalu menyayangi kalian," gumamnya lirih sembari memeluk sebuah foto bersama Ayah Radit, Ibu Khaira, dan Arsyilla.
Benar bahwa dirinya sudah bertemu orang tua kandungnya, tetapi Ayah Radit dan Ibu Khaira sudah seperti orang tuanya sendiri. Aksara sangat menyayangi mereka dan juga menyayangi Arsyilla tentunya.
Petang itu juga, Aksara berpamitan dengan teman-temannya di Panti Asuhan Kasih Ibu yang jumlahnya kurang lebih 30 orang itu. Mereka melepas kepergian Aksara dengan isak tangis. Bagi mereka yang tinggal di Panti Asuhan, sekalipun tidak terhubung karena darah, tetapi mereka bisa akrab dan hidup bersama karena hati.
"Sampai bertemu lagi Aksara."
"Jangan lupakan kami, Aksara."
"Sering-sering main kemari, Aksara."
Berbagai pesan diberikan oleh teman-teman Aksara itu. Aksara pun menganggukkan kepalanya dengan meneteskan air matanya. Momen itu begitu haru.
Aksara lantas menghambur dalam pelukan Bu Lisa, "Ibu, terima kasih," ucap Aksara dengan terisak.
Bu Lisa pun memeluk Aksara dengan begitu eratnya, "Iya Aksara, kamu sekolah yang rajin seperti nasihat Ibu Khaira dan Ayah Radit yah. Jadi anak yang berhasil, jangan nakal yah," pesan Bu Lisa kepada Aksara kecil.
"Iya Ibu ... Bu, sampaikan sayang Aksara untuk Ayah Radit, Ibu Khaira, dan Syilla ya Bu," ucap Aksara.
Tidak menyangka Aksara pun menitipkan salam sayangnya untuk keluarga kecil yang begitu menyayanginya itu.
__ADS_1
"Iya Aksara, pasti Ibu akan sampaikan," jawab Bu Lisa.
Setelah itu, teman-teman Aksara datang dan memeluk Aksara. Sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Aksara, tetapi memang ini bagi mereka untuk berpisah.
Lantas Bu Lisa menyerahkan sebuah kotak penyimpanan kepada Kanaya.
"Bu Kanaya, ini adalah tas dan barang-barang Aksara saat saya menemukannya," ucap Bu Lisa.
Kanaya pun menerima semua itu dengan terisak. Bayangan saat kehilangan Aksara dulu begitu membekas dan seakan kembali menyeruak. Kendati demikian, Kanaya tetap menerimanya.
"Terima kasih banyak Bu Lisa, di lain waktu kami akan kemari. Terima kasih banyak sudah mengasuh, merawat, dan membesarkan Aksara selama ini. Terima kasih banyak," ucap Kanaya.
Setelahnya mereka berpamitan, dan membawa Aksara bersama mereka. Papa Jaya yang melihat Kanaya dan Bisma bisa berkumpul lagi dengan Aksara begitu bahagia.
"Akhirnya, kalian bisa berkumpul lagi. Papa sangat bahagia," ucap Papa Jaya.
"Kami berterima kasih banyak, Pa ... jika orang-orang Papa tidak mencari Aksara, kami akan tetap terpisah darinya," balas Kanaya.
Dalam perjalanan dari Panti Asuhan menuju kediaman Pradhana, Kanaya duduk dan menggenggam tangan putranya itu seakan tak ingin lagi berpisah dari Aksara. Bahkan sepanjang perjalanan, Kanaya juga menanyakan kegiatan Aksara selama di Panti Asuhan. Hingga akhirnya mobil Papa Jaya berhenti di kediaman mereka. Kanaya, Bisma, dan Aksara kembali memasuki rumah mereka.
"Ini rumah kita, Aksara ... rumah kamu," jelas Bisma.
Aksara terkejut melihat rumah dengan gerbang yang begitu besar itu. Anak itu lantas melihat ke Ayah dan Bundanya.
"Rumah kita sebesar ini?" tanyanya dengan begitu polosnya.
"Iya Nak, rumah kamu ... rumah kita," jawab Bisma.
Kemudian mereka berjalan dan memasuki rumah dengan tipe Mediterania yang begitu megah itu. Lagi-lagi Aksara kagum dengan rumah besar, dengan halamannya yang luas. Tidak mengira bahwa dia memiliki orang tua yang kaya raya.
"Teman-teman Aksara boleh main ke sini?" tanya Aksara lagi.
"Boleh Nak, kapan-kapan ajak saja teman-teman Aksara kemari," jawab Kanaya.
__ADS_1
Lantas Kanaya menatap putranya itu, "Nanti kita undang Ayah Radit, Ibu Khaira, dan Syilla main kemari juga yah," ucap Kanaya.
Aksara pun langsung menjawab, "Iya mau ... mereka sangat baik pada Aksara. Menyayangi Aksara, dan Aksara sangat sayang sama Syilla," jawab Aksara.