
Kanaya hanya mengangguk pasrah saat suaminya itu menyarankan untuk melakukan test pack. Dia tahu pasti, mungkin saja suaminya yang sebenarnya adalah Dokter Spesialis Anak itu pun bisa mendiagnosis sakit lainnya berdasarkan gejala yang timbul. Oleh karena itu, Kanaya pun mengikuti advice dari suaminya yang merupakan seorang Dokter itu.
Ketika istrinya terlihat lebih tenang, Bisma pun menawarkan diri untuk kembali menggendong Kanaya, tetapi wanita itu menolaknya, merasa tidak enak dengan suaminya yang harus menggendongnya.
“Bantu aku berjalan saja Mas … aku masih kuat berjalan kok.” ucapnya sembari perlahan bangkit.
Tanpa menunggu waktu lama, Bisma pun merangkul bahu istrinya itu, kemudian memapahnya untuk berjalan. “Pelan-pelan saja Sayang …” ucapnya.
Kemudian Bisma menyingkirkan gelas cup berisi es cendol durian itu, hanya ada piring berisi makanan yang belum tersentuh sama sekali karena Kanaya lebih dahulu muntah dan berlari ke kamar mandi. “Aku suapin lagi ya … makan dikit-dikit aja. Porsi kecil, tetapi lebih sering itu lebih baik. Karena semua isi perutmu sudah kamu muntahkan, sekarang perut kamu kosong.” ucap pria itu menjelaskan kepada Kanaya.
“Kamunya sudah makan Mas?” tanya Kanaya yang sudah mengunyah suapan pertama dari suaminya itu.
Bisma pun menggeleng, “Belum … kamu dulu aja. Habis ini aku baru makan.”
Mengetahui bahwa suaminya belum makan, Kanaya merasa sedih. Tangannya bergerak untuk mengambil sendok dan mengisinya dengan nasi dan sayuran, lalu mengangkat sendok itu ke hadapan mulut suaminya. “Buka mulutnya yuk Mas … aakk … kamu sampai belum makan.” ucapnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Dengan tersenyum, Bisma pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Kanaya. Sepiring nasi beserta sayur dan lauknya pun tandas, mereka saling menyuapi satu sama lain. Hingga perutnya benar-benar kenyang.
Usai menyelesaikan makan siang, Bisma berpamitan untuk ke apotek sebentar, sudah jelas tujuannya adalah membelikan test pack untuk istrinya itu. Di apotek, pria itu membeli beberapa test pack untuk mengetahui kehamilan dari yang mulai berharga murah hingga yang berharga mahal, tidak lupa dia membeli gelas takar yang akan digunakan untuk menampung urine dan melakukan test kehamilan.
Begitu dirasa sudah mendapatkan semua yang dia mau, pria itu kembali ke rumah dan segera menemui istrinya.
“Gimana mual lagi enggak, pas aku keluar tadi?” tanyanya dengan khawatir.
Dengan cepat Kanaya pun menggeleng, “Enggak. Aku baik-baik saja kok. Sudah beli semuanya?” tanyanya.
Satu kantong plastik berukuran sedang di tangan suaminya sudah menjadi bukti bahwa yang dicari suaminya itu sudah didapatkan. Pria itu mengangkat sedikit kantong plastik itu, “Sudah dong … besok pagi dicek yah, aku temenin.” ucapnya dengan penuh semangat.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, seperti ucapannya kemarin, Bisma bangun terlebih dahulu. Dengan tenang dia memandangi wajah istrinya yang masih terlelap. Lantaran hari ini pun masih hari libur, maka Bisma membiarkan Kanaya untuk tidur lebih lama. Memandangi wajah Kanaya yang masih terlelap menjadi pemandangan yang indah buat Bisma.
Hingga beberapa saat, Kanaya pun bergerak dan perlahan-lahan mulai membuka matanya. Wanita itu tersenyum, saat memandang Bisma yang sudah bersandar di head board yang memandanginya.
“Morning Mas …” sapanya kepada suaminya itu dengan suara serak khas bangun tidur.
“Morning Wifey …” sapanya sembari mengusap puncak kepala Kanaya.
Membiarkan sejenak Kanaya untuk mengumpulkan kesadaran, kemudian Bisma berdiri dan mengulurkan satu tangannya kepada Kanaya. “Ayo Sayang …” ucap pria itu sembari tersenyum.
“Hmm, kenapa Mas?” tanya Kanaya yang justru tampak bingung kali ini.
Bisma pun tersenyum, “Ke kamar mandi, ayo cek urine. Aku temenin. Pagi ini kan.” ucap pria itu dengan tenang.
“Sampai di sini saja Mas … aku bisa sendiri. Malu dong.” ucapnya sembari menundukkan wajahnya.
Bisma pun tertawa, “Padahal aku juga sudah lihat semuanya. Masih malu-malu aja sih.” sahutnya dengan mengusap puncak kepala istrinya itu.
Setelahnya pria itu memberikan dua test pack dan sebuah gelas takar. “Tahu caranya kan? Gelas ini untuk urine, lalu masukkan test packnya. Tunggu sampai hasilnya keluar.” penjelasannya kepada istrinya itu.
“Punya suami Dokter emang beda ya, semuanya dijelaskan. Makasih Pak Dokternya aku.” ucap Kanaya sembari menerima gelas takar dan test pack itu.
Sebelum Kanaya melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Bisma pun mencegahnya sejenak, “Apa pun hasilnya jangan bersedih. Mau negatif atau positif tidak masalah. Kalau positif bersyukur, kalau negatif juga bersyukur berarti kita harus lebih giat ikhtiarnya.” ucapnya dengan tenang.
Dengan mengangguk samar, kemudian Kanaya masuk ke dalam kamar mandi. Mulailah kali ini Kanaya melakukan uji reaksi kimia layaknya masa SMA dulu sendirian di kamar mandi itu. Wanita beberapa kali terlihat cemas saat mulai membuka kemasan test pack dan memasukkannya ke dalam gelas takar yang sudah terisi urine itu.
__ADS_1
“Ya Tuhan, apa pun hasilnya semoga Mas Bisma tidak kecewa. Aku takut kalau ternyata hasilnya negatif, Mas Bisma yang akan kecewa.” gumamnya sembari menggigit bibir bagian dalamnya.
Detik-detik menunggu hasil pergerakan di test pack itu membuat Kanaya berjalan mondar-mandir, rasanya ada hal yang harus dia pertaruhkan saat menunggu hasil test pack itu. Perlahan test itu berakhir, satu garis merah. Kanaya menghela napasnya, “Satu garis merah artinya negatif, mungkin saja negatif.” batinnya dalam hati.
Namun beberapa saat kemudian, satu garis merah perlahan naik. Satu garis lagi berwarna agak pink, tidak sepenuhnya merah tebal. Dua garis. Wanita itu membelalak dan menutup wajahnya.
Merasa tidak yakin, mulailah dia mengetes dengan alat test pack yang lebih mahal, memasukkannya ke dalam gelas takar. Tidak perlu waktu lama, keluarlah bunyi layaknya sebuah jam weker.
Tttiiittt ….
Kanaya lantas mengerjap, dan memfokuskan pandangannya pada apa yang tertera di layar pada test pack digital itu. Semoga saja apa yang dia kali ini benar, dan dia tidak salah lihat.
“Gimana Sayang hasilnya? Ini sudah lebih dari 5 menit.” tampak tidak sabar, Bisma pun mengetuk pintu kamar mandi itu.
Sementara di dalam Kanaya sudah mulai menangis, dia membilas terlebih dahulu test packnya dan memegang test pack yang digital itu. Perlahan dia keluar dari kamar mandi, dan yang langsung dia lakukan adalah memeluk suaminya itu dengan begitu eratnya. Membenamkan wajahnya ke dalam dada suaminya.
Merasa aneh dengan sikap istrinya, Bisma pun mengusap punggung istrinya itu, “Udah jangan sedih … kalau negatif tidak apa-apa kok. Kan bisa usaha lagi, penting kamu jangan sedih, aku gak apa-apa kok.” ucap pria itu.
Merasa istrinya justru masih sesegukkan, kembali Bisma bersuara untuk menenangkan istrinya itu, “Gagal enggak apa-apa, kan kita bisa coba lagi …” ucapnya kali ini kepada istrinya.
Hingga akhirnya, Kanaya dengan bibirnya yang bergetar sedikit berjinjit dan berbicara dengan lirih di sisi telinga suaminya itu, “Kamu akan menjadi Ayah, Mas … aku akan menjadi Ibu. Positif, Mas. Hasilnya positif.” ucap Kanaya dan kembali menangis dalam pelukan suaminya.
Tangisan bahagia tentunya, menyadari bahwa Tuhan sudah menjawab doa dan harapan mereka berdua. Air mata bahagia.
Mengurai pelukannya, Kanaya lantas memberikan test pack digital itu dari saku celananya, “Positif!” ucapnya dengan tersenyum di tengah derai tangisannya.
Wajah Bisma pun terlihat merah, bahkan pria itu menitikkan air matanya, tak kuasa menahan haru. “Alhamdulillah … akhirnya doa kita didengarkan Allah.” ucap pria itu begitu melihat hasil dari test pack tersebut, lantas dia kembali memeluk istrinya dengan begitu eratnya.
__ADS_1