Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Upaya Stimulasi 1


__ADS_3

Menyadari lambatnya kemampuan Aksara untuk berbicara, Kanaya sebagai seorang Ibu merasa harus bertanggung jawab untuk bisa menstimulasi Aksara secepat mungkin. Faktanya, tidak ada orang tua di dunia ini yang membiarkan anaknya begitu saja saat si anak tidak berkembang dengan sempurna. Sama halnya dengan Kanaya yang juga tidak menginginkan terjadi keterlambatan dalam proses tumbuh kembang Aksara. Oleh karena itu, hari ini Kanaya akan menemui Direktur Utama Jaya Corp yaitu Papa Jaya dan meminta izin untuk bekerja setengah hari dalam kurun waktu setengah bulan ini.


Kanaya tahu benar dengan posisinya sebagai Direktur Keuangan akan sangat sulit untuk mendapatkan izin tersebut. Namun, kali ini prioritas utamanya adalah Aksara. Untuk itu, Kanaya siap mengorbankan semua termasuk pekerjaannya untuk bisa mengejar keterlambatan dalam tumbuh kembang Aksara.


Kanaya memasuki ruangan Papa Jaya dengan langkah gontai, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu sang CEO.


“Masuk,” sahutan suara dari dalam saat terdengar bunyi ketukan pintu.


Kanaya lantas membuka daun pintu perlahan dan menyapa Papa Jaya, “Siang, Pa …,” sapanya kali ini.


“Ada apa, Naya? Tumben kamu naik ke mari mencari Papa?” tanya Papa Jaya. “Duduk dulu, kenapa kamu terlihat cemas?” tanya Papa Jaya lagi. 


Memang terlihat bahwa Kanaya terlihat cemas, oleh karena itu Papa Jaya pun mempersilakan Kanaya untuk duduk terlebih dahulu. Papa Jaya akan mendengarkan alasan atau tujuan apa yang membawa Kanaya hingga menemui dirinya sekarang ini.


“Begini Pa, ada yang ingin Naya sampaikan,” ucap Kanaya membuka pembicaraan dengan Papa Jaya.


Kali ini Kanaya datang memang sebagai seorang staf di Jaya Corp, bukan sebagai Kanaya yang sudah diangkat anak oleh Jaya Wardhana. Untuk itu, Kanaya pun mempersiapkan dirinya dan berusaha menyusun kalimat dengan benar dalam otaknya.


“Pa, sebenarnya Naya datang karena ingin meminta kepada Papa untuk memberikan izin kepada Kanaya untuk bekerja setengah hari dari perusahaan dan setengah hari dari rumah. Hal ini Naya minta karena Aksara mengalami keterlambatan dalam berbicara, terapis mendiagnosisnya terkena Speech Delay. Naya dan Mas Bisma harus lebih fokus dan menstimulasi Aksara, Pa,” cerita Kanaya pada akhirnya kepada Papa Jaya.


Papa Jaya mendengarkan cerita Kanaya itu, beberapa kali Papa Jaya tampak mengangguk merespons cerita Kanaya. “Sejak kapan Aksa Speech Delay?” tanya Papa Jaya.


“Sebenarnya beberapa waktu lalu, Naya dan Mas Bisma sudah curiga respons Aksara sangat lambat, kosakata yang dia miliki sangat sedikit, dan ada beberapa hal lainnya. Kami menstimulasinya sendiri, tetapi sudah dua tahun usia Aksara tidak ada perkembangan. Jadi, kali ini Naya ingin meminta izin kepada Papa terlebih dahulu sebelum ke bagian personalia. Namun, jika rasanya permintaan Naya ini berat, maka Naya siap untuk mengundurkan diri dari perusahaan karena Aksara saat ini prioritas utama Naya dan Mas Bisma,” cerita Kanaya lagi.


Kali ini Kanaya benar-benar bertekad bahwa dia siap melepaskan posisinya. Tidak masalah jika harus meninggalkan pekerjaannya untuk mengasuh Aksara.


Akan tetapi, Papa Jaya pun nyatanya merespons lain, “Baiklah Naya, dua minggu saja kan? Selama dua minggu ini kamu boleh mengambil cuti itu, beritahukan ke bagian personalia,” ucap Papa Jaya.

__ADS_1


Mendapat izin dari Papa Jaya benar-benar membuat Kanaya begitu lega. “Makasih Pa,” ucap Kanaya. Tidak menyangka jika Papa Jaya akan memberikan izin kepada Kanaya.


“Iya, fokus sama Aksa dulu. Oh,iya … akhir pekan datanglah ke rumah, kami akan membuat makan bersama menyambut bebasnya Darren,” jelas Papa Jaya.


Tidak ingin menolak, kanaya hanya mengangguk saja. “Baik Pa, nanti Naya akan datang bersama Mas Bisma,” ucapnya dan sekaligus undur diri dari ruangan sang CEO.


...🌸🌸🌸...


Sesampainya di rumah, Kanaya segera memegang kendali atas Aksara. Untuk urusan di dapur dia serahkan sepenuhnya kepada ART. Kanaya segera menstimulasi Aksara perlahan.


“Mas Aksara, kita main container play yuk sama Bunda,” ajaknya kepada Aksara.


Kanaya mengambil sebuah kontainer plastik berukuran besar dan memasukkan mainan Aksara ke dalamnya. Hingga hampir separuh kontainer itu berisi mainan. Setelahnya Kanaya memberikan instruksi sederhana kepada Aksara.


“Mas Aksa, coba dong mainnya ini dipindahkan ke wadah yang lain. Bantu Bunda yuk,” ajaknya.


Kanaya lantas mendekatkan sebuah wadah kepada Aksara, “Coba taruh di sini ya Mas, mainannya,” pinta Kanaya lagi.


Rupanya Aksara dengan cepat mengikuti instruksi Kanaya. Bocah berusia 2 tahun itu terlihat begitu excited memindahkan mainan. Hingga sampai pada taraf di mana Kanaya memberikan instruksi lainnya, “Bunda minta mainan yang Dokter dong, Mas,” pintanya.


Aksara pun mengambil sebuah action figure Dokter itu dan menyerahkannya kepada Bundanya. 


“Nda, Dokter … Ayah,” ucapnya.


Maksud dari Aksara adalah, “Bunda, Dokter ini seperti Ayah,” tetapi karena kemampuan bicaranya yang terbatas, sehingga kata yang dia ucapkan juga terbatas.


Kanaya kemudian mengangguk, “Iya, Ayahnya Mas Aksa adalah Dokter. Dokter ini seperti Ayah kan?” tanyanya.

__ADS_1


Aksara kemudian mengangguk, “Ya, Ayah … Dokter,” ucapnya lagi.


“Sekarang coba dong, kumpulkan semua mainan yang berwarna biru untuk Bunda,” pinta Kanaya lagi.


Aksara tampak melihat mainan berwarna biru yang dipegang Kanaya, “Biyu … biyu, Nda,” ucapnya sembari berteriak.


“Iya Mas Aksara, coba ambilkan mainan yang berwarna biru ini untuk Bunda yah,” pinta Kanaya lagi.


Aksara kemudian mengangguk dan mulai mengambil mainan berwarna biru. Akan tetapi, saat semua mainan biru di dalam kontainer habis, Aksara tampak menangis.


“Nda, biyu … tak ada,” ucapnya.


Dari sinilah kemudian Kanaya memberikan pemahaman kepada Aksara secara sederhana, “Wah, iya … di mana mainannya ya Mas?” tanya Kanaya.


“Tak ada, Nda …,” teriak Aksara kali ini.


Hingga beberapa saat kemudian, Kanaya menunjukkan sebuah wadah berisi semua mainan biru, “Nih, mainannya tidak ada di kontainer besar, bukan berarti mainannya hilang.”


Seketika wajah Aksara terlihat lega, bocah kecil itu tampak mengambil mainan berwarna biru itu. “Biyu … biyu, Aksala,” ucapnya.


“Mainan berwarna biru punya Aksara?” tanya Kanaya sembari mengulangai kata Aksara.


Bocah itu mengangguk, “Yah, Aksala,” sahutnya lagi.


Setidaknya saat ini Kanaya sudah mengikuti saran yang diberikan terapis untuk mengajak Aksara bermain kontainer play. Sekaligus saat Aksara bertanya, terjadi kontak mata tiga arah dan Kanaya akan mulai memberikan maknanya. 


Memang terasa berulang-ulang, tetapi Kanaya akan melakukannya dengan sabar. Saat ini kunci utama untuk menolong Aksara bertumbuh dengan baik adalah kesabaran. Oleh karena itu, Kanaya akan pelan-pelan menemani Aksara bermain dan sekaligus belajar. Berharap, dari salah satu menstimulasi ini Aksara akan paham dan menemukan bahasa itu sendiri. Sama seperti mainan biru yang diambil dan disingkirkan tersendiri hingga akhirnya tidak terlihat, begitu pula bahasa bagi seorang anak, sekali pun tidak terlihat bukan berarti bahasa itu tidak ada. 

__ADS_1


Kanaya yakin dengan kesabaran, kerja keras, dan semangat semuanya akan membuahkan hasil. Begitu juga harapannya bagi Aksara, dengan melatihnya dengan sabar, maka semua akan mendapatkan jalannya.


__ADS_2