
Beberapa hari setelah mendapatkan peringatan dan nasihat dari sang kakak,revan hanya diam memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya ke depannya.
"Selamat pagi"sapa ocha dan adrian yang baru datang.
Adrian yang terlalu khawatir mendorong istrinya di atas kursi roda untuk mengunjungi kamar sang papah yang tak jauh dari kamar ocha.
"Mas,aku bisa jalan sendiri kenapa pakai kursi roda segala sih?"ucap ocha.
"Mau tetap di situ atau aku gendong aja?"jawab adrian semakin posesif pada kesehatan istrinya.
"Bagaimana keadaan kamu nak?"tanya diana pada menantunya.
"Aku udah merasa baikan mah, nanti siang udah boleh pulang kok"jawab ocha.
"Bagaimana bisa kamu masuk rumah sakit?.
Apa adrian menyakitimu?"tanya baskoro.
Adrian menelan ludahnya kasar,bisa kena omel sampai malam kalau ocha sakit gara-gara dirinya.
Apalagi dia tahu mereka sangat menyayangi istrinya.
"Kenapa muka kamu tegang gitu adrian?.
Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya diana.
"Tidak pah,ini bukan salah mas adrian kok.
Perut ocha cuma merasa kram kemarin mungkin karena efek hamil muda"tutur ocha.
"Oh memang kalau hamil muda itu cukup rentan,kamu banyak istirahat aja.
Kemarin bunda nur sama pak bastian juga ke sini untuk jenguk papah.
Mamah dan papah juga akan bantu kamu agar baik-baik saja sampai kamu lahiran"terang diana.
Ceklek pintu terbuka,muncullah revan yang baru keluar untuk mencari sarapan.
"Kak adrian dan kak ocha ada di sini?"tanya revan.
"Iya kami baru datang,apa kamu sudah makan?".
"Sudah barusan kak,bagaimana keadaan kak ocha?"tanya revan lagi.
"Kakak iparmu baik-baik aja.
Apa kamu jadi hari ini menikah dengan hera?"tanya adrian.
"Jangan mimpi mamah papah merestui kalian,kalau kamu masih nekat melakukannya silahkan.
Tapi siap-siap untuk hidup miskin di luar sana.
Mencari pekerjaan itu gak semudah yang kamu pikirkan.
Tanya sama kakakmu dia butuh beberapa tahun untuk membangun bisnis sekarang"terang diana.
"Bahkan yang membuat papah masuk ke rumah sakit itu kamu revan yang bebal.
Untung saja papah gak kenapa-napa"tambah diana.
"Maafkan revan mah"jawab revan lirih.
"Revan pamit mau bertemu dengan hera di apartemen?"ucap revan.
"Untuk apa kamu menemui perempuan itu lagi?"bentak diana.
__ADS_1
"Aku udah memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan hera mah"jawab revan.
"Apa kamu yakin?"tanya diana memastikan.
"Aku yakin,aku lebih memilih keluargaku sendiri.
Aku gak mau kalian kenapa-napa karena aku"putus revan.
"Good boy, itu baru anak papah"puji baskoro.
"Aku pergi dulu"pamit revan kemudian segera mencium tangan orang tuanya dan sang kakak sebelum keluar dari ruangan itu.
**Di dalam apartemen hera terlihat sudah bersiap karena hari ini ia dan revan akan melakukan ijab qobul.
Ya walaupun acara hanya sederhana tapi itu tak menjadi masalah untuk hera.
Namun ia cukup cemas karena beberapa hari ini revan tak dapat di hubungi.
Ingin sekali ia menyusul revan ke rumah sakit namun ia tak mau mendengar umpatan dari keluarga revan yang tak menyukainya.
"Mana si revan,kenapa belum kelihatan sih?"gerutu hera mondar mandir sambil menggenggam ponsel di tangannya.
Ia bahkan sudah memakai kebaya putih lengkap dan memakai riasan.
"Aduh perut aku sakit sekali"rintih hera lalu segera pergi ke dalam kamar mandi.
Kini revan sudah sampai di apartemennya langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.
Ia memindai ruang tamu tak menemukan hera di sana.
Lalu ia segera berjalan menuju kamar.
Ia melihat ada benda yang pernah ia temukan di supermarket.
"Apa ini, tunggu bukankah ini pembalut wanita.
Ceklek pintu kamar mandi terbuka,hera belum menyadari keberadaan revan di dalam kamar itu.
"Gila udah dua hari datang bulan kenapa perut aku masih gak enak ya"gumam hera lalu berjalan ke meja rias untuk memperbaiki make up-nya.
Mata revan membulat melihat ada noda darah di belakang rok batik yang hera kenakan.
"Hera apa kamu datang bulan?"tanya revan membuat hera terkejut.
"Re-revan sejak kapan kamu datang?"tanya hera terbata.
"Sepuluh menit yang lalu,jadi pembalut ini milik kamu?"tanya revan lagi sambil menunjuk pembalut yang ia ambil di atas nakas.
"Ehmm itu..
"JAWAB HERA!".
"Iya itu punya aku,biasa hamil muda sering ngeflek kayak gini mungkin karena aku kelelahan dan banyak pikiran revan".
"Kamu pikir aku bodoh,mana ada orang hamil mengeluarkan darah seperti orang sedang datang bulan.
Lihat di rok kamu ada noda darah cukup banyak dan membekas"tutur revan dengan tersenyum smirk.
"Apa?".
Hera meraba bagian belakang tubuhnya dan benar saja apa yang di katakan revan.
Ia segera mengambil celana di lemari dan baju ganti dan bergegas ke kamar mandi.
"Untuk memastikan ini semua aku harus membawa hera periksa.
__ADS_1
Bahkan selama sebulan lebih hera tak ada tanda-tanda seperti orang hamil mual tau pun muntah"gumam revan curiga.
"Revan aku bisa jelasin semuanya sama kamu?"ucap hera yang baru keluar dari kamar mandi dan mendekati revan.
"Tidak perlu lebih baik kamu ikut aku"titah revan menarik tangan hera untuk mengikutinya.
"Kita mau kemana?"tanya hera pasrah mengikuti langkah pria itu.
Tanpa menunggu lama mereka sudah berada di dalam mobil.
Revan segera melajukan mobilnya menuju dokter kandungan.
Ia hanya ingin memastikan apakah hera benar-benar hamil atau tidak.
Mata hera melotot setelah mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah klinik.
"Untuk apa kita ke sini revan?"tanya hera heran.
"Ayo turun?"titah revan tanpa menjawab pertanyaan hera.
"Kita tidak perlu ke sini revan,aku baik-baik saja".
Hera berusaha untuk menghindar ia takut revan mengetahui semuanya.
"Kenapa apa yang kamu takutkan?"tanya revan melihat wajah tegang hera saat ini.
Beruntung klinik tidak terlalu ramai,revan segera menarik tangan hera masuk ke dalam ruang dokter.
"Bagaimana ini?"batin hera cemas.
"Ada yang bisa kami bantu?.
Ibu ada keluhan apa ya?"tanya seorang dokter perempuan.
"Tolong dokter periksa apakah wanita ini hamil atau tidak?"ucap revan.
"Baik,mari ikut saya buk?"pinta dokter pada hera.
Dengan terpaksa hera mengikuti dokter itu.
Dokter memberikan sebuah wadah kecil untuk menampung air urine hera.
Hera ragu karena ini masa haid baru dua hari yang lalu.
Pasti ada noda darah yang masuk ke dalam urinenya.
Di dalam kamar mandi hera sengaja menyiasatinya dengan memberikan sedikit air urine yang di campur dengan air keran.
"Semoga dokter itu tidak curiga dan semua rencanaku berhasil".
Hera menunggu hasil pemeriksaan dokter yang lain dengan cemas.
Begitu pun dengan revan sangat penasaran hasil pemeriksaan dokter.
"Pak ibu, hasilnya sudah keluar ternyata hasilnya negatif.
Bu hera tidak hamil bahkan dia saat ini sedang datang bulan.
Perut nyeri yang di alami bu hera ini normal karena kebanyakan wanita pada awal haid memang seperti itu.
Saya akan memberikan obat pereda nyeri saja ya, untuk mengurangi rasa sakit dan memperlancar pengeluaran darah kotor"terang dokter itu.
Revan yang dari tadi menunduk mengepalkan tangannya mencoba menahan emosinya.
Berani sekali hera membohonginya, sebelum keluar dari ruangan dokter ia tak akan meluapkan emosi di depan umum.
__ADS_1
Revan memilih berjalan lebih dulu ke dalam mobilnya.
Meninggalkan hera yang berjalan dengan lambat di belakangnya.