
“Kamu masih sedih?” tanya Bisma kali ini.
Sebagai seorang suami, orang yang paling dekat dengan Kanaya, Bisma ingin mengakomodir perasaan istrinya itu. Setidaknya dia siap memberikan telinganya untuk mendengarkan cerita atau luapan perasaan dari istrinya itu.
Kanaya pun tersenyum getir, “Yang aku sesalkan bukan karena tersebarnya foto-foto masa laluku dan bagaimana hubunganku dengan keluarga Jaya Wardhana. Yang aku sedihkan, begitu mudahnya orang membuat penilaian hanya berdasarkan unggahan di media sosial yang belum tentu kebenarannya. Agaknya memang selamanya hidupku berteman dengan dengan perundungan (bully) dan juga pergunjingan orang lain.” ucapnya dengan menghela napas panjang.
“Memang ada pepatah berbunyi ‘gajah di depan mata tidak tampak, sementara kuman di seberang lautan tampak.’ begitulah manusia, Sayang … jadi jangan merasa bersedih lagi ya.” ucapnya yang berusaha menenangkan Kanaya.
Mendengar ucapan suaminya itu, Kanaya itu pun mengangguk, “Iya Mas … makasih banyak, Mas. Sekarang kalau kamu mau ke Rumah Sakit enggak apa-apa, Mas. Aku akan istirahat di rumah saja. Kasihan banyak pasien yang menunggu kamu. Maafkan aku sudah menyita waktu kamu.” ucap Kanaya sungguh-sungguh karena dia merasa tidak enak.
Bisma pun menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa ... sekarang kan kamu lebih membutuhkan aku. Jadi, biar aku temenin kamu dulu saja."
Kendati demikian Kanaya justru bersikeras untuk diam di apartemen seorang diri dan meminta suaminya itu untuk melanjutkan tugasnya.
"Aku tunggu di apartemen tidak apa-apa, Mas ... nanti kalau ada apa-apa, aku bakalan hubungi kamu kok. Kan aku masih ingat, bahwa dalam hidupmu adalah pula bagian yang kamu dedikasikan untuk melayani masyarakat, jadi tunaikan tugasmu. Banyak anak-anak yang menunggu ingin mendapatkan pengobatan darimu." ucap Kanaya kali ini.
__ADS_1
Sungguh, dia tidak ingin egois. Dia justru harus mendorong suaminya itu untuk melakukannya tugasnya. Merasa diingatkan oleh Kanaya, Bisma pun mengangguk.
"Baiklah ... aku akan kembali ke Rumah Sakit. Terima kasih ya, karena kamu mengingatkanku pada panggilanku sebagai seorang Dokter. Serius, di apartemen sendiri tidak apa-apa?" tanya Bisma sebelum mulai berdiri dari hendak berjalan keluar dari apartemen.
Kanaya pun mengangguk, "Tidak apa-apa Mas, aku akan menunggu kamu pulang. Selamat bertugas Mas Dokterku. Kasihan banyak anak-anak dan orang tuanya yang mungkin saja sudah mengantri dari pagi, mereka perlu kamu supaya mereka cepat sembuh. Aku akan baik-baik di sini. Aku tidak sendirian kok karena kamu akan selalu bersamaku di mana pun aku berada." ucapnya sembari tersenyum kepada suaminya itu.
Bisma tertawa mendengar setiap kalimat yang diucapkan oleh istrinya itu, tetapi dia pun merasa bahagia karena mungkin saja di Rumah Sakit sana banyak anak-anak dan juga orang tua yang menunggu kedatangannya. Berbekal dengan nasihat dari istrinya itu pun, Bisma memilih untuk kembali ke Rumah Sakit.
"Baiklah Sayang ... aku kembali ke Rumah Sakit ya. Jangan segan untuk mengabariku. Kalau kamu merasa kesepian pun, kamu bisa mengabari aku." ucap pria itu.
Kemudian Bisma sedikit menunduk dan mencium kening istrinya itu. "Aku berangkat ke Rumah Sakit ya Sayang … hati-hati di rumah. I Love U." pamitnya kepada sang istri yang memilih beristirahat di apartemen itu.
Keesokan harinya, Kanaya kembali bersiap di pagi hari untuk berangkat bekerja. Bahkan pagi ini wajah wanita sudah terlihat ceria dan kembali bersemangat. Bisma pun tampak heran karena istrinya sudah tidak bersedih seperti tempo hari.
"Kamu yakin akan masuk ke kantor Sayang?" tanya Bisma kepada istrinya itu.
__ADS_1
Dengan cepat Kanaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas … kalau aku libur terus nanti laporan keuangan perusahaan tidak selesai-selesai dong." ucapnya sembari memoles wajahnya dengan sedikit make up.
Bisma pun mengangguk, "Oke … asalkan tidak boleh sedih ya. Ingat Sayang, kamu sedang hamil juga. Harus bahagia." pesannya kepada istrinya.
"Iya Mas … aku gak akan sedih-sedih lagi kok, karena aku ingat perkataanmu dulu. Bahwa gambar diri kita bukan ditentukan oleh omongan orang lain, tetapi gambar diriku ditentukan oleh diriku sendiri. Biarkanlah orang-orang berpersepsi dengan pikirannya, aku akan berusaha tidak terpengaruh. Lagipula, kalau aku terus menerus terpuruk, mereka yang merundungku akan lebih bahagia. Aku akan melawan mereka dengan bahagia. Biarkan anjing menggonggong, kafilah berlalu." ucapnya sembari menguatkan hatinya sendiri.
Bisma pun memeluk istrinya itu dari belakang, "Semoga pikiran ini, kamu tanamkan terus ya … tidak semuanya ucapan orang harus kita masukkan ke telinga, baik dan buruk itu sudah menjadi penilaian orang. Lakukanlah hal yang baik dan jangan terpengaruh. Benar, gambar dirimu, personamu itu kamu yang menentukan. Aku seneng karena istriku ini benar-benar sosok wanita kuat. Kamu benar-benar berhasil mengubah takdirmu, Sayang. Tidak ada lagi Kanaya yang bertubuh gemuk dan merasa insecure, yang ada adalah Kanaya yang sudah lahir baru, Kanaya yang selalu berpikiran positif, dan Kanaya yang lebih percaya diri. Aku bangga padamu."
Inilah pengakuan dan penilaian dari sudut pandang Bisma. Ya, pria itu telah melihat bagaimana istrinya berevolusi dari Kanaya dengan size XXL yang berhasil memangkas habis lemak di badannya. Kanaya yang semula merasa insecure dan kini menjadi wanita yang percaya diri, juga Kanaya yang kini berani mengambil kesempatan dan keluar dari zona nyamannya sebagai seorang Novelis dan mencoba bekerja di perusahaan.
Mendengar ucapan suaminya, Kanaya pun tersenyum, "Itu semua karena kamu dan perkataanmu yang selalu memotivasi aku … dan Kanaya ini akan benar-benar menyandarkan hidupnya sepenuhnya kepadamu. I Love U, Mas Dokterku."
Usai telah siap dengan persiapannya, keduanya lantas bergegas untuk segera berangkat ke tempat pekerjaan masing-masing. Seperti biasa, Bisma mengendarai mobilnya dengan lebih hati-hati. Baginya keselamatan istri dan buah hatinya yang berada dalam rahim istrinya itu jauh lebih berharga. Kendati demikian, tetap saja tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di Jaya Corp.
"Aku turun ya Mas … makasih sudah mengantar aku. Bye Mas Dogan." ucapnya sembari melambaikan tangannya kepada suaminya itu.
__ADS_1
Kemudian Kanaya saat hendak memasuki lobby, dia beberapa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengeluarkannya perlahan. Melakukan relaksasi untuk dirinya sendiri. Kemudian dia berjalan seperti biasanya, bila ada staf yang menatapnya aneh atau memiliki persepsi apa pun tentangnya, Kanaya akan menghiraukannya. Sebab dia tahu, bahwa gambar diri bukan berdasarkan pada penilaian orang lain. Gambar dirinya ditentukan oleh dirinya sendiri. Bahkan Kanaya juga tidak sungkan menyapa beberapa staf yang dia temui selama berada di kantor.
Melangkah dengan penuh percaya diri dan mengembangkan senyuman di sudut bibirnya, Kanaya benar-benar telah berubah. Dia berhasil menekan rasa insecure-nya dan menjadi Kanaya yang lebih berpikiran positif dan juga memancarkan aura positif dalam dirinya.