Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Tidak Sepenuhnya Menerima


__ADS_3

Kanaya masih bisa menerima keputusan Papa Jaya yang hendak mewariskan Jaya Corp kepadanya. Kanaya sepenuhnya tahu bahwa sepenuhnya dia adalah orang luar. Orang yang di dalam dirinya tidak mengalir darah Jaya Wardhana, tetapi justru Papa Jaya mengambil keputusan besar dengan menyerahkan Jaya Corp kepadanya. Kanaya sudah berusaha meminta Giselle dan Gibran untuk mengelola Jaya Corp. Sebab, bagi Kanaya Giselle dan Gibran lebih layak untuk mengelola dan mewarisi Jaya Corp.


“Terimalah Kak Naya … lagipula selama bertahun-tahun Kakak bekerja di Jaya Corp. Setidaknya Kakak mengetahui kinerja di Jaya Corp,” ucap Giselle kali ini.


Helaan nafas yang terasa berat keluar dari hidung Kanaya, “Sebaiknya kamu saja Giselle. Aku yakin kamu dan Gibran bisa mengelola Jaya Corp dengan baik,” balas Kanaya kini.


Seolah ingin menjadi seorang penengah, Bisma lantas kembali berbicara kepada Papa Jaya.


“Pa, yang disampaikan Kanaya benar … lebih baik Giselle dan Gibran yang mengelola Jaya Corp. Kanaya secara garis keturunan tidak layak untuk menerimanya. Jangan sampai di kemudian hari justru tertawa kemelut perebutan kuasa di Jaya Corp,” ucap Bisma kali ini.


Ucapan Bisma pun sepenuhnya benar karena memang berdasarkan garis keturunan, Kanaya tidak layak menerimanya. Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk di kemudian hari, memang sebaiknya Jaya Corp diwariskan kepada anak kandung Jaya Wardhana.


Usai mendengar perkataan Bisma, Papa Jaya pun mengernyitkan keningnya. “Tidak masalah Bisma … Giselle, Gibran, dan Sandra akan menjadi saksi bahwa Jaya Corp selamanya akan menjadi milik Kanaya. Papa hanya meminta bahwa sekalipun sudah berganti kepemimpinan, Papa harap nama Jaya Corp jangan sampai hilang. Papa harap nama Jaya Corp akan tetap berjaya sebagai salah satu perusahaan rekonstruksi di negeri ini,” jawab Papa Jaya.


Terlihat Gibran, Giselle, dan Sandra menganggukkan kepalanya. Di sini juga, Papa Jaya seakan mengukuhkan bahwa Giselle, Gibran, dan Sandra tidak boleh mengusik Jaya Corp dari tangan Kanaya.


“Mohon dipikirkan lagi Pa,” pinta Kanaya kali ini.


“Ini sudah keputusan final, Naya … di lain waktu kita akan mengesahkan semuanya. Papa percaya, di tanganmu Jaya Corp akan semakin besar,” ucap Papa Jaya.


Kanaya pun memilih diam. Sekuat apa pun dia mengelak dan tidak ingin menerima keputusan Papa Jaya. Semuanya sia-sia, karena Papa Jaya jika sudah memutuskan sesuatu akan tetap melakukannya dan tidak akan menarik keputusannya kembali.


“Mengapa Papa tidak ingin terus memegang Jaya Corp? Papa masih muda dan juga Kanaya yakin bahwa Papa bisa terus memegang Jaya Corp hingga 20 tahun lagi,” balas Kanaya.


Papa Jaya lantas tertawa mendengar perkataan Kanaya yang terdengar polos itu. “Sekarang Papamu ini sudah berusia di atas 54 tahun, Naya … masa pegawai untuk pensiun saja di usia 58 atau 60 tahun. Tidak ada salahnya jika Papa memilih pensiun dini. Papa juga ingin menikmati hidup. Menikmati hari tua bersama Mamamu,” balas Papa Jaya.


Mama Sasmita yang sejak tadi diam, akhirnya juga membuka suaranya, “Benar Naya … hampir separuh lebih usia Papamu dihabiskan untuk berbisnis dan mengembangkan Jaya Corp. Ada kalanya seseorang mengambil keputusan besar dalam hidupnya, dan Mama juga mendukung apa yang diputuskan oleh Papamu,” ucap Mama Sasmita kini kepada Kanaya.


“Baiklah … jika itu keputusan Papa dan Mama. Hanya saja Kanaya tidak ingin di kemudian hari terjadi kudeta kekuasaan di Jaya Corp,” ucap Kanaya pada akhirnya.

__ADS_1


Giselle lantas melirik kepada Kanaya, “Tidak Kak Naya … kami akan hidup dengan cara kami sendiri. Aku justru sangat bangga karena Mas Gibran mau berusaha dengan kekuatannya sendiri. Pria sejati tentu mau berjuang dan berusaha,” balas Giselle.


Setelahnya, Giselle melirik sekilas kepada Sandra, “ Kak Sandra juga tidak keberatan kan?” tanya Giselle kini.


Sandra yang sedari diam pun perlahan juga menganggukkan kepalanya, “Iya … aku tidak keberatan. Nanti aku sampaikan keputusan Papa dan Mama ini secara baik-baik kepada Darren,” balas Sandra pada akhirnya.


Sampai pada akhirnya, Papa Jaya pun melirik kepada Sandra, “Nanti Papa akan berikan sebuah perusahaan lain kepadamu Sandra … hanya saja Papa akan mengatasnamakannya untuk kamu. Tentu kamu mengetahui bukan? Ini semua karena semata-mata Papa tidak percaya kepada Darren. Jadi, perusahaan yang akan Papa berikan padamu nanti, Papa akan atasnamakannya untukmu,” balas Papa Jaya.


Sandra pun merespons dengan memberikan anggukan samar, “Baik Pa … terima kasih,” balasnya.


Sekian waktu berada di kediaman Jaya Wardhana, akhirnya Kanaya memutuskan untuk pulang. Lagipula hari sudah malam, pasti Aksara juga sudah menunggunya. Oleh karena itu, Kanaya dan Bisma pun segera pamit dan menuju ke kediaman Ayah Tirta dan Bunda Hesti.


“Mas, aku kok masih enggak yakin yah?” ucap Kanaya kali ini kepada suaminya saat keduanya berada di dalam mobil menuju kediaman Bunda Hesti.


“Dicoba dulu saja Sayang … aku pun tidak yakin dengan keputusan Papa Jaya. Akan tetapi, semuanya sudah diputuskan bukan?” respons Bisma kepada istrinya itu.


“Aku hanya sebatas orang luar bagi keluarga Jaya Wardhana, lantas menerima tanggung jawab sebesar Jaya Corp sudah pasti tidak mudah,” balas Kanaya kali ini.


Pasalnya seorang Ibu hamil tidak boleh terlalu banyak pikiran hingga berakhir stress yang justru bisa berdampak untuk kesehatan dan perkembangan janin. Oleh karena itu, Bisma pun meminta kepada Kanaya untuk tidak terlalu banyak pikiran.


“Iya Mas, aku juga fokus ke kehamilanku dulu, ke kamu, dan Aksara. Bagaimana pun keluargaku itu nomor satu buatku,” balas Kanaya kini.


“Nah, gitu … yang paling penting Ibu Hamil jangan terlalu banyak pikiran. Lagipula, kamu juga masih hamil muda. Jadi, fokus ke kehamilan kamu dulu saja,” pinta Bisma kali ini.


Perjalanan malam membelah keramaian kota Jakarta akhirnya pun telah mereka lalui bersama. Sekarang, mereka telah tiba di kediaman Bunda Hesti.


“Selamat malam Ayah dan Bunda,” sapa Kanaya begitu memasuki kediaman mertuanya itu.


“Iya, masuk-masuk,” terdengar suara Ayah Tirta yang menyahut dari dalam.

__ADS_1


“Aksaranya mana Ayah?” tanya Bisma kepada Ayahnya itu.


“Aksaranya sudah tidur … ini sudah jam 21.00 juga. Aksara sudah mengeluh mengantuk tadi,” balas Ayah Tirta.


Bisma lantas menoleh menatap istrinya itu, “Gimana Sayang, Aksara sudah tidur tuh?” tanya Bisma kali ini kepada Kanaya.


Belum sempat Kanaya menjawab, rupanya Bunda Hesti menuruni anak tangga dan menyambut kedatangan Kanaya dan Bisma.


“Aksaranya sudah tidur … ini juga sudah malam. Lebih baik kalian menginap di sini saja,” pinta Bunda Hesti kali ini.


Bisma dan Kanaya pun saling pandang, sebenarnya mereka ingin kembali pulang soalnya besok pagi Aksara harus kembali bersekolah.


“Baiklah Bunda, tetapi besok kami kembali pagi-pagi ya Bunda … soalnya Aksara sekolah,” balas Bisma.


Bunda Hesti pun menganggukkan kepalanya, kemudian menyuruh Kanaya dan Bisma untuk segera beristirahat. “Iya, tidak masalah … sekarang istirahat saja. Ini sudah malam. Kanaya juga baru hamil, jangan terlalu kecapekan,” ingat Bunda Hesti kali ini.


Bisma kemudian menggandeng tangan istrinya itu dan membawanya memasuki kamarnya yang berada di lantai dua. Membuka pintu kamarnya perlahan dan menyuruh Kanaya untuk memasuki kamarnya.


“Ayo, istirahatlah,” ucap Bisma kali ini.


Kanaya menganggukkan kepalanya, kemudian wanita itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Bisma yang tidak pernah berubah. Sudah sekian tahun dirinya menjadi istri Bisma, tetapi kamar milik suaminya itu begitu klasik dan menciptakan ketenangan sendiri bagi mereka yang memasukinya.


Bisma kemudian mengambil sebuah kaos dan celana dari lemari pakaiannya dan menyerahkannya kepada Kanaya.


“Pakai bajuku dulu yah … tidurnya biar nyaman,” ucap Bisma kini.


Kanaya pun menganggukkan kepalanya dan menerima pakaian ganti yang diberikan suaminya itu. Kemudian Kanaya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Celana panjang training dan kaos oblong dengan ukuran pria kini dikenakan Kanaya. Membuat kaos itu terlihat kebesaran dipakai oleh Kanaya.


Bisma nyatanya justru tertawa melihat istrinya itu, “Kebesaran ya Sayang? Gak apa-apa yah? Cuma buat tidur semalam saja kok,” balas Bisma kini.

__ADS_1


Kanaya pun menganggukkan kepalanya, kemudian wanita itu memilih untuk menaiki ranjang dan menyandarkan punggungnya di headboard. Rasanya begitu lelah, Kanaya yakin pasti malam ini dirinya akan lebih cepat terlelap karena begitu capek dan banyak pikiran malam ini.


__ADS_2