Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Kabar Jejak Aksara


__ADS_3

“Kupikir, aku akan mendapatkan jejak Aksara,” ucap Kanaya sembari tertunduk lesu.


Rasanya saat mendengar putrinya Khaira yang menyebutkan nama Aksara, jantung Kanaya berdegup dengan begitu kencang. Kanaya tahu bahwa anak-anak yang memiliki nama Aksara bukan hanya anaknya saja, tetapi ada beberapa anak-anak yang memiliki nama Aksara. Akan tetapi, saat mendengar gadis itu tadi menyebut nama Kakak Aksara, jantung Kanaya berdegup dengan begitu kencangnya.


“Mas, boleh aku berbicara?” tanya Kanaya pada akhirnya.


“Iya, kamu ingin bicara apa?” tanya Bisma yang kemudian mengambil duduk di samping istrinya itu. Bisma hendak mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh istrinya itu.


“Bisa bicara dengan Papa Jaya untuk melakukan pencarian ke Panti Asuhan tidak Mas? Kenapa sekarang firasatku mengatakan mungkin saja Aksara berada di Panti Asuhan. Tidak menutup kemungkinan kan Aksara berada di Panti Asuhan. Mungkin saja saat Darren meninggalkan Aksara di taman kota, ada orang yang menemukannya dan menaruhnya di Panti Asuhan,” jelas Kanaya.


Bisma mendengarkan ucapan istrinya dengan serius. Apa yang disampaikan Kanaya begitu realistis dan logis. Bisma pun mengusap wajahnya dengan kasar, kenapa dulu mereka berdua tidak berpikir sejauh itu. Mereka lebih menitikberatkan untuk melakukan pencarian di taman-taman kota, di jalanan, di tempat tuna wisma, bahkan Kanaya yang saat itu nyaris depresi hendak mencari di pemakaman.


“Oke … aku akan telepon Papa Jaya sekarang,” balas Bisma.


Pria itu segera mengeluarkan handphonenya, mencari kontak Papa Jaya di sana dan segera menghubungi Papa Jaya. Panggilan internasional tidak masalah, asalkan dia bisa berbicara dengan jelas kepada Papa Jaya.


Papa Jaya


Berdering


“Halo, selamat siang, Pa,” sapa Bisma begitu sambungan selulernya terhubung.


“Ya Bisma … ada apa?” tanya Papa Bisma.


“Begini Pa, baru saja Kanaya terpikirkan sesuatu mengenai Aksara. Bagaimana kalau kita melakukan pencarian di Panti Asuhan yang ada Jakarta dulu, Pa … sapa tahu kita bisa mendapatkan jejak Aksara di sana,” balas Bisma.

__ADS_1


Mendengar apa yang disampaikan Bisma, Papa Jaya pun menganggukkan kepalanya, “Baik Bisma … kenapa kalian baru terpikirkan sekarang ini,” balas Papa Jaya.


“Iya Pa … maaf. Justru Kanaya yang kali ini memiliki firasat untuk mencari Aksara di panti asuhan. Lantaran kami masih berada di Singapura, tolong kepada orang-orang Papa untuk mencari jejak Aksara di Panti Asuhan ya Pa,” pinta Bisma kepada Papa Jaya.


“Ya Bisma … tenang saja. Papa akan menggerakkan orang-orang kepercayaan Papa untuk mencari jejak Aksara. Jangan khawatir, begitu kami mendapatkan jejaknya, Papa akan segera menghubungi kalian,” jawab Papa Jaya.


“Baik Pa, terima kasih banyak,” sahut Bisma dan mengakhiri panggilannya.


Usai itu, Bisma pun menatap wajahnya istrinya yang terlihat begitu resah. Pria itu menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Kanaya, meremasnya perlahan.


“Tenang Sayang … orang-orang kepercayaan Papa Jaya akan segera bergerak dan mencari keberadaan Aksara di Panti Asuhan. Kita tetap berdoa, semoga firasatmu kali ini benar,” ucap Bisma.


Kanaya pun mengangguk, matanya terlihat mulai berkaca-kaca di sana, “Iya Mas … maaf, saat melihat keluarga muda yang bahagia tadi, dan putrinya menyebutkan nama Aksara, jantungku berdebar dengan begitu kencangnya. Mungkin aku terlalu berlebihan karena aku tahu nama Aksara tidak hanya putra kita, tetapi mungkin saja dia adalah Aksara yang sama dengan putra kita,” ucap Kanaya.


***


Selang beberapa hari …


Malam itu kira-kira jam 19.00 waktu Singapura (Zona waktu Singapura memiliki selisih waktu satu jam lebih cepat dari zona Waktu Indonesia Barat - sehingga jam 19.00 di Singapura setara dengan jam 18.00 WIB). Handphone Bisma pun berdering. Tertera nama Papa Jaya di sana.


“Ya, halo Pa,” jawab Bisma menerima telepon dari Papa Jaya.


“Bisma, ada salah satu Panti Asuhan bernama Panti Asuhan Kasih Ibu. Seorang anak berusia 7 tahun bernama Aksara Adhi Narotama, dari wajahnya dia mirip dengan kalian berdua. Papa sudah melakukan pendekatan dengan kepala Panti Asuhan yang bernama Bu Lisa, memang anak bernama Aksara itu dia temukan saat berada di Taman Kota. Bu Lisa bersedia melepas anak itu jika terbukti bahwa Aksara itu adalah putra kalian. Jadi, bisakah salah satu dari kalian pulang ke Jakarta terlebih dahulu? Kita bisa lakukan tes DNA secepatnya,” balas Papa Jaya.


Ya Tuhan, mendengar kabar dari Papa Jaya, seakan-akan Bisma tidak bisa lagi berkata-kata. Firasat yang dimiliki istrinya seakan akan berbuah manis kali ini. Akan tetapi, Bisma tidak ingin memberikan harapan terlalu tinggi kepada Kanaya terlebih dahulu. Sebab, Bisma tahu bahwa Kanaya akan terluka dan kesakitan jika ekspektasi tidak sesuai dengan realita.

__ADS_1


“Baik Pa … esok kami akan terbang ke Jakarta terlebih dahulu,” balas Bisma dengan yakin.


Begitu panggilan seluler terputus, Bisma segera mencari tiket penerbangan ke Jakarta keesokan harinya, dan akan melakukan Tes DNA. Semoga saja ini akan menjadi akhir dari pencarian dan penantian panjangnya untuk Aksara. Semoga saja kali ini, Tuhan akan berbelas kasihan kepada dirinya dan Kanaya, mereka bisa berkumpul, dan bersatu lagi dengan putra mereka.


“Sayang, kita besok pulang sebentar ke Jakarta yah?” ajak Bisma kepada istrinya itu.


“Kenapa Mas?” tanyanya.


“Kita harus melakukan tes DNA, ada seorang anak bernama Aksara. Akan tetapi, bukan Aksara Adhinata Pradhana, melainkan Aksara Adhi Narotama, tetapi dari wajahnya terlihat mirip dengan kita berdua. Untuk memastikannya kita bisa melakukan Tes DNA terlebih dahulu,” jelas Bisma.


Baru dijelaskan mengenai kabar tersebut, kedua mata Kanaya mulai berlinangan air mata. Hatinya mengatakan bahwa pemilik nama Aksara Adhi Narotama itu adalah putranya itu. Rasanya, Kanaya ingin terbang ke Jakarta saat itu juga.


“Jangan terlalu mengharapkan yang terlalu tinggi, karena jika kita mengharapkan yang terlalu tinggi, jika jatuh juga akan lebih sakit. Lebih baik, kita melakukan prosedur tes DNA terlebih dahulu. Jika dia benar-benar Aksara kita, sudah pasti akan terbukti bukan?” ungkap Bisma.


Kanaya pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, “Iya Mas … hanya saja mendapatkan jejak Aksara setelah sekian lama, aku rasanya ingin menangis. Air mata ini keluar dengan sendirinya. Aku sangat merindukan momen ini. Akan tetapi, aku juga tahu bahwa lebih baik tidak mengharapkan terlalu tinggi terlebih dahulu. Aku akan mengikuti setiap prosedurnya. Jika memang dia adalah putra kita, hasil Tes DNA yang akan membuktikannya,” balas Kanaya.


Bisma pun segera merengkuh tubuh istrinya yang bergetar lantaran isakan tangis itu. Mengusapi punggungnya perlahan. Memeluk adalah caranya untuk menenangkan istrinya. Pria itu pun tidak terasa juga meneteskan air mata. Sekian tahun berlalu, baru kali ini mendapatkan jejak mengenai Aksara. Jauh di dalam lubuk hatinya, Bisma berharap bahwa anak kecil itu benar-benar putranya.


Kanaya merasakan ada rasa basah di bahunya, dengan cepat Kanaya mengurai pelukan Bisma. Wanita itu melihat wajah Bisma dengan air matanya yang berlinangan begitu saja. Dengan segera, ibu jari Kanaya bergerak dan menyeka air mata di wajah suaminya itu.


“Jangan menangis Mas … aku tahu semuanya itu begitu berat untuk kita berdua. Melihatmu menangis, aku tidak tega. Kita sudah menjalani masa-masa terberat ini bersama-sama, semoga Allah menjabah doa kita. Menjawab seruan orang yang patah hati dan remuk jiwanya seperti kita berdua. Semoga saja dia benar-benar Aksara kita,” ucap Kanaya.


Bisma pun menghela nafasnya perlahan dan menatap istrinya itu, “Iya Sayang … hatiku penuh haru rasanya. Aku ingin menyambut hari esok dan melakukan prosedur tes DNA. Aku ingin memastikan bahwa mungkin saja dia adalah putra kita. Aku sangat merindukan Aksara,” balas Bisma.


Semoga saja jejak yang mereka dapatkan kali ini benar-benar berbuah manis. Semoga saja akhir masa penantian mereka segera usai dan mereka bisa kembali berkumpul dengan putra semata wayang mereka.

__ADS_1


__ADS_2