
Suka dan duka ibarat dua sisi mata uang yang berjalan beriringan dalam hidup manusia. Itulah yang sedang dirasakan oleh Mama Sasmita dan Papa Jaya. Jika kemarin keduanya begitu berbahagia lantaran menjadi wali untuk pernikahan Kanaya dan Bisma. Hari ini, keduanya terlihat begitu cemas melihat Darren yang duduk sebagai Tersangka untuk kasus suap yang melibatkan kepala daerah.
Dalam diam, Papa Jaya menunduk. Sama halnya dengan Mama Sasmita yang terlihat begitu lesu dan matanya tampak berkaca-kaca, melihat putra satu-satunya justru berdiri sebagai tersangka. Sekalipun pengacara yang diberikan oleh Papa Jaya adalah pengacara hebat dan bisa membela tersangka, tetapi bukti-bukti yang ada faktanya justru menyudutkan posisi Darren. Maka dari itulah, Papa Jaya dan Mama Sasmita harap-harap cemas menanti putusan dari pengadilan.
Hal yang sama terjadi pada Darren, pria itu terlihat begitu lesu, bobot tubuhnya pun berkurang hingga nampak cekungan di bawah matanya. Dalam hatinya, Darren pun berharap bisa bebas. Akan tetapi, jika pun harus dihukum, Daren benar-benar berharap bahwa dia tidak akan berlama-lama mendekam di balik jeruji besi.
“Berdasarkan semua bukti yang ada, maka berdasarkan dengan Pasal 418 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) bahwa Saudara Darren Jaya Wardhana terbukti terlibat secara aktif dalam tindak pidana suap, maka pengadilan memutuskan memberikan hukuman kurungan penjara selama 4 tahun dan denda sebesar Lima Puluh Juta Rupiah.”
Vonis dibacakan disertai dengan ketokan palu hakim sebanyak tiga kali.
Mendengar putusan yang disampaikan oleh Hakim, Mama Sasmita tak kuasa menahan air matanya. Sebersalahnya Darren, dia tetap adalah anaknya. Sisi keibuannya, membuat wanita itu kesakitan dan merasakan sesak di dalam dadanya. Pun demikian Papa Jaya yang tampak begitu bersedih sekalipun tidak sampai menitikkan air matanya.
“Sabar Ma … semoga di dalam sana, Darren, anak kita akan belajar dan keluar menjadi pribadi yang lebih baik.” ucapnya membesarkan hati istrinya.
Terisak, Mama Sasmita pun mengangguk pilu, tidak mampu berkata-kata. Usai persidangan, Mama Sasmita dan Papa Jaya langsung berjalan menghampiri Darren. Mama Sasmita yang lebih emosional, langsung memeluk Darren.
“Darren … anak Mama.” ucapnya dengan terisak. Isakan yang begitu menyayat di telinganya.
__ADS_1
“Maafkan Darren, Ma … Maafkan Darren, Pa … Maaf sudah membuat Papa dan Mama kecewa. Maaf sudah mencoreng nama Papa.” sesalnya karena kali ini Darren menyadari telah berbuat kesalahan yang benar-benar mencoreng nama besar Jaya Wardhana.
Dengan cepat Papa Jaya menggelengkan kepalanya, “Tidak Darr, tidak apa-apa. Maafkan kami tidak bisa membantu banyak.” ucapan yang juga penuh penyesalan disampaikan oleh Papa Jaya.
“Darren akan menjalaninya Pa … berharap, dengan berkelakuan baik selama dalam masa tahanan bisa mengurangi masa kurungan penjara Darren. Sekali lagi Darren minta maaf Pa, Ma …” ucapnya pria yang dulunya begitu angkuh dan arogan itu kini benar-benar pilu dan menyayat hati.
Mama Sasmita mengurai pelukannya dan menatap wajah Darren, “jaga diri baik-baik Darren. Mama akan sering-sering mengunjungi kamu di sini. Maafkan Mama pula karena tidak bisa berbuat banyak.”
Darren pun menganggukkan kepalanya, “Tidak apa-apa Ma … bagaimana pun semua bukti sudah mengarah kepada Darren, jadi ya Darren akan mempertanggungjawabkan perbuatan Darren. Sampaikan permintaan maaf Darren juga untuk Kanaya, Ma. Selama berada di balik jeruji besi, Darren menyadari bagaimana sikap Darren sudah sangat menyakiti Kanaya.” ucapnya yang menyadari bahwa dirinya juga sudah banyak menyakiti Kanaya.
Isakan tangis yang mengharu biru membuat Papa Jaya merangkul bahu istrinya yang begitu bergetar itu. Peristiwa yang sangat memilukan untuk seorang Mama Sasmita. Dalam mimpi pun, dia tidak pernah membayangkan akan mendengar putusan Hakim di pengadilan dan melihat fakta bahwa putranya menjadi tersangka dan harus mendekam dalam waktu yang lama di dalam tahanan. Ya, empat tahun adalah waktu yang sangat lama. Dalam waktu selama itu, Mama Sasmita dan Papa Jaya hanya bisa mengunjungi putranya itu berdasarkan jadwal kunjungan saja.
Memang dengan bergulirnya kasus Darren, hanya orang yang menggunjingkan Papa Jaya. Sebagaimana manusia, ada yang menertawakan karena putra kandungnya justru terlibat dalam kasus suap. Akan tetapi, ada juga yang memuji sikap Papa Jaya yang justru melimpah semua kasus Darren ke pengadilan. Sekalipun di awal saat kasus Darren sedang naik ke permukaan, harga saham Jaya Corp sempat turun, dan beberapa mitra membatalkan kerja sama, tetapi masih ada mitra yang loyal dan Jaya Corp tetap bisa beroperasi, berada dalam posisi yang cukup stabil.
“Kita pulang ya Ma … nanti di lain waktu, kita akan kembali mengunjungi Darren.” ajak Papa Jaya kepada istrinya itu.
***
__ADS_1
Sementara itu, di kamar presidential suite hotel berbintang lima, Kanaya dan Bisma baru saja selesai bersantap siang. Keduanya yang sepagi melewatkan waktu sarapan, sehingga baru kali ini keduanya baru bisa mengisi perutnya.
Usai makanan yang dipesan dari restoran hotel sudah meluncur ke dalam perutnya, Kanaya pun dengan cekatan mengambilkan botol air mineral untuk suaminya. Gadis itu pun sudah membuka penutup sealnya, “Diminum dulu …” ucapnya sembari menyerahkan botol air mineral berukuran sedang itu kepada suaminya.
Dengan senang hati, Bisma pun menerimanya dan meneguk air dari botol tersebut. Kemudian pria itu pun membuka botol lainnya dan menyerahkannya kepada Kanaya, “Kamu juga minum dulu, Sayang ….”
Reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh Kanaya, wajahnya bersemu merah saat suaminya memanggilnya Sayang. Sekalipun hatinya bahagia, tidak dipungkiri bahwa dirinya benar-benar malu sebenarnya.
“Kenapa wajah kamu memerah gitu sih Sayang?” tanyanya lagi dengan menatap wajah istrinya itu. Bahkan pria yang berprofesi sebagai Dokter itu turut mengedipkan matanya kepada Kanaya.
Menggelengkan kepalanya, kemudian Kanaya pun bersuara, “Aku belum terbiasa kamu panggil Sayang …” jawab Kanaya dengan jujur.
Sebuah pengakuan yang terlampau jujur dari seorang Kanaya, pengakuan yang membuat sang Dokter justru tertawa, “Biasakan … karena aku akan terbiasa memanggilmu Sayang. Aku tunggu juga, kamu akan memanggilku dengan panggilan selain Dokter. Aku tunggu ya. Masak kita sudah jadi suami istri, manggilnya masih Dokter sih?” ucapnya sembari menggerak-gerakkan jari telunjuknya kepada Kanaya.
"Iya, nanti aku pikirkan lagi mau manggil kamu apa ... aku masih bingung. Sudah nyaman memanggilmu Dokter Bisma." lagi Kanaya menjawab dengan sangat jujur, tidak dipungkiri bahwa dirinya sudah nyaman memanggil pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu dengan sebutan Dokter Bisma. Sekalipun memang rasanya tidak ada manis-manisnya, tetapi panggilan itu menurutnya paling tepat.
"Coba dong ... kan banyak panggilan sayang dan lebih manis, aku tunggu ya." ucap Bisma yang dengan sabar akan menunggu Kanaya mengganti panggilannya.
__ADS_1