Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Happy 9 Weeks!


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, kini Kanaya dan Bisma dengan membawa serta Aksara datang ke Rumah Sakit tentunya untuk melakukan pemeriksaan perdana untuk buah hatinya. Secara khusus, kali ini Kanaya dan Bisma membawa serta Aksara tentunya untuk mengenalkan Aksara dengan calon adiknya nanti sejak dini.


Merasa begitu excited, Bisma sejak pagi sudah mendaftarkan Kanaya untuk periksanaan kandungan, sehingga bisa mendapatkan nomor antrian lebih dahulu. Lagipula, mereka juga mengingat bahwa Aksara harus sekolah, sehingga tidak perlu sampai malam berada di Rumah Sakit.


“Nanti Aksara ikut lihat waktu Bunda diperiksa boleh?” tanya Aksara kali ini kepada Kanaya.


“Iya … boleh,” sahut Kanaya.


“Gimana perasaan Bunda?” tanya Aksara lagi. Agaknya Aksara yang dalam fase kritis itu banyak bertanya kepada Bundanya.


“Bunda baik-baik saja, Aksara … semoga adik kamu di dalam perut Bunda juga baik dan selalu sehat ya,” balas Kanaya.


Bisma pun tersenyum mendengar berbagai pertanyaan yang diucapkan Aksara, bagi Bisma itu adalah bukti jika Aksara sayang dengan Bundanya dan juga calon adiknya. Semoga saja jika adiknya sudah lahir nanti Aksara bisa tetap menyayangi adiknya juga.


Begitu telah tiba di Rumah Sakit, lantas Kanaya, Bisma, dan Aksara berjalan menuju Poli Kandungan. Lantaran Kanaya sudah didaftarkan oleh Bisma sebelumnya, sehingga mereka mendapat nomor antrian 4 kali ini.


“Dulu Bunda waktu hamil kamu juga periksanya sama Dokter Indri, Aksara … Dokternya baik dan sabar banget. Idolanya para Ibu Hamil di sini,” cerita Kanaya kali ini kepada Aksara.


Setidaknya Kanaya ingin memberitahukan bahwa dulu saat dirinya hamil Aksara, Kanaya juga rutin memeriksakan kandungannya. Tidak membedakan antara kehamilan pertama dan kehamilannya kedua sekarang ini.


“Jadi, dulu Bunda juga periksa di sini yah? Sudah lama sekali loh Bunda,” jawab Aksara lagi.


“Iya … sudah tujuh tahun berlalu. Dulu Bunda merasa senang banget tiap kali datang ke sini dan memeriksakan kandungan Bunda, karena waktu periksa Bunda bisa melihat perkembangan kamu di dalam rahim Bunda. Dengar detak jantung kamu, melihat pergerakanmu, dan mengetahui ukuran tubuhmu selama di dalam rahim Bunda,” cerita Kanaya lagi. Seakan memori bagaimana dulu dirinya hamil Aksara berputar kembali.


Aksara perlahan pun tersenyum mendengar cerita Bundanya itu. Itu berarti Bundanya sangat menyayanginya sejak dirinya berada di dalam kandungan.


“Kalau Ayah?” tanya Aksara kini sembari menoleh ke arah Ayahnya.


“Kalau Ayah jadi Ayah yang siaga Aksara … Ayah selalu mengantar dan mendampingi Bunda kamu untuk periksa, bahkan Ayah juga mendampingi Bunda saat kamu dilahirkan. Ayah melihat kamu lahir dengan kepala dan mata Ayah sendiri,” jawab Bisma kali ini.

__ADS_1


“Ayah kamu selalu sayang kepadamu sejak kamu berada di dalam kandungan Bunda. Ayah selalu membuatkan susu khusus Ibu Hamil yang tinggi asam folat supaya Bunda dan kamu sehat,” tambah Kanaya bercerita kepada Aksara.


Di sela-sela cerita mereka, rupanya seorang perawat mulai memanggil nama Kanaya. Perawat tersebut mulai mengukur berat badan, tekanan darah, dan mencatat hari pertama dan hari terakhir menstruasi. Setelahnya Kanaya pun segera memasuki ruang pemeriksaan Dokter Indri.


“Halo Dokter Indri,” sapa Kanaya begitu memasuki ruangan Dokter Indri.


Dokter Spesialis Kandungan yang masih muda dan ramah itu pun tersenyum, berdiri dan memeluk Kanaya.


“Wah, apa kabar Bu … istrinya Dokter Bisma kan yah?” sapa Dokter Indri kepada Kanaya.


“Iya Dok … saya datang lagi nih ketemu Dokter Indri,” ucap Kanaya kali ini.


Lantas Dokter Indri mempersilakan mereka untuk duduk, “Silakan duduk … kalau tidak salah pasti ada berita baik nih,” ucapnya.


“Iya Dok,” sahut Kanaya sembari tersenyum.


“Ini babynya yang lahir sama saya dulu kan Bu?” tanya Dokter Indri lagi.


Aksara lantas mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Dokter Indri, “Halo Dok … aku Aksara,” ucap Aksara kali ini memperkenalkan dirinya.


“Wah, pintar ya Aksara … sudah besar. Dulu Dokter yang bantuan Bunda kamu melahirkan kamu,” sahut Dokter Indri.


Setelahnya, Dokter Indri pun segera mempersilakan Kanaya untuk menaiki brankar dan mulai akan melakukan pemeriksanaan dengan USG. Akan tetapi, mengingat usia kandungan masih muda, maka Dokter Indri akan memeriksa Kanaya dengan menggunakan USG Transvaginal yang dimasukkan ke dalam inti tubuh Kanaya. Dengan melakukan USG jenis ini maka saluran reproduksi mulai dari rahim, leher rahim, bahkan sampai indung telur bisa terlihat.


Mulailah Dokter Indri menginstruksikan kepada Kanaya untuk membuka kedua pahanya dan sedikit menekuk lutut, lantas tongkat USG yang sudah diberikan gel dimasukkan ke dalam inti tubuh Kanaya.


“Selamat datang di usia kehamilan 9 minggu ya Bu,” ucap Dokter Indri kali ini dengan menggerakkan transducer di tangannya.


Saat Kanaya diperiksa, Bisma dan Aksara turut mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan Dokter Indri. Terlebih Bisma begitu membuka telinganya supaya mengetahui kondisi janin Kanaya sekarang ini.

__ADS_1


“Pada usia 9 minggu, embrio atau bakal janin Ibu sudah sebesar buah anggur, dan panjangnya sekitar 4,24 centimeter. Di usia kehamilan 9 minggu ini kepala janin yang akan berkembang dengan pesat, ekor punggung bayi sudah menyusut dan hampir menghilang. Di usia kehamilan ini, kita bisa mendengarkan detak jantung si baby,” jelas Dokter Indri.


Lantas transducer kembali digerakkan dan Dokter Indri seakan mendeteksi detak jantung babynya.


Deg … Deg … Deg …


Suara yang cukup kencang itu nyatanya membuat Kanaya meneteskan air mata. Rasa haru benar-benar melingkupinya saat ini. Tidak mengira bahwa ada kehidupan baru yang berada di dalam rahimnya.


“Masyaallah,” ucap Bisma yang turut mendengarkan detak jantung babynya.


“Suara apa itu Ayah?” tanya Aksara. Anak itu juga merasa heran, karena melihat Ayahnya yang menitikkan air mata.


“Itu suara detak jantung adik kamu, Aksara,” jawab Bisma.


Kembali ke pemeriksanaan Dokter Indri, kemudian menunjukkan hasil pemeriksaan dengan USG Transvaginal itu kepada Kanaya.


“Ini janinnya ya Bu Kanaya … akan terus berkembang. Ini rahimnya Bu Kanaya. Sejauh ini, kondisi janin dalam keadaan baik. Hanya saja Bu Kanaya jaga pola makan, jangan kelelahan, dan stress. Karena plasenta belum terbentuk, hindari berhubungan suami istri karena dalam cairan pria mengandung hormon Prostaglandin yang justru memicu kontraksi dan membuat dedek bayinya terganggu. Kalau pun harus berhubungan suami istri, harus berhati-hati dan tidak menekan perut yah,” jelas Dokter Indri dengan begitu detail dan rinci.


Inilah yang membuat Kanaya kembali menjalani pemeriksaan bersama Dokter Indri karena Dokter Indri begitu detail dalam menjelaskan. Sehingga dirinya pun yang orang awam bisa mendengar dan menerima penjelasan Dokter Indri dengan baik.


Mengakhiri sessi pemeriksaan dengan USG, lantas dilanjutkan dengan konsultasi bersama.


“Gimana, tadi Aksara dengar detak jantung adiknya kan. Senang tidak?” tanya Dokter Indri kini kepada Aksara.


Tampak Aksara menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “Iya senang … kayak detak jantung kita ya Dok,” respons Aksara kali ini sembari memegangi dadanya yang berdetak.


“Iya benar, seperti jantung kita yang berdetak. Dari dalam kandungan organ jantung manusia pun bertumbuh dan berkembang dengan pesat,” jawab Dokter Indri. “Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Dokter Indri kini kepada Kanaya dan Bisma.


“Sementara belum ada Dokter … tadi penjelasannya sudah lengkap dan sangat jelas,” balas Kanaya.

__ADS_1


“Baik … nanti saya akan resepkan Asam Folat dan juga penambah darah untuk Bu Kanaya yah. Sekali lagi selamat ya Bu Kanaya … selamat Dokter Bisma akan bertambah nih jagoannya,” ucap Dokter Indri.


Kanaya dan Bisma pun merasa lega karena kandungannya dalam kondisi baik dan sehat. Hanya saja Bisma agaknya harus berpuasa, setidaknya menunggu hingga plasenta terbentuk dan tidak terlalu sering menyemburkan cairan berbalut cintanya setiap kali berhubungan suami istri dengan Kanaya.


__ADS_2