Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Hari Kelabu


__ADS_3

Hari ini, Kanaya berangkat ke Jaya Corps dengan diantar oleh Bisma. Wanita itu, tampak lebih tenang hari ini. Semalam usai bisa berbicara dengan suaminya, membagi bagaimana perasaannya dan menyatakan ungkapan cintanya, Kanaya merasa benar-benar lega. Pengobat rasa gelisah dan kekalutannya adalah suaminya sendiri. Sungguh, Kanaya merasa beruntung karena bisa memiliki Bisma sebagai suaminya.


“Semangat ya bekerjanya hari ini … nanti sore aku jemput,” ucap Bisma sebelum istrinya itu turun dari mobilnya.


Kanaya pun mengangguk, “Iya … Mas Dokter juga yang semangat bekerjanya. I Love U,” ucap Kanaya.


Nyatanya, Bisma masih menahan tangan Kanaya, “Give me a kiss,” ucap pria itu dengan melepaskan sit bealtnya, Bisma bergerak dengan menyondongkan tubuhnya ke arah Kanaya, bibirnya bergerak dan melabuhkan sebuah kecupan yang dalam di bibir Kanaya.


Mmmphh!


“I Love U, Sayang … jangan berpikiran yang aneh-aneh. Nanti sore aku jemput ya,” ucap Bisma.


Wajah Kanaya pun bersemu merah, tidak mengira suaminya akan memberikan sebuah kecupan di bibirnya. Kanaya lantas tersenyum, “Iya, Mas Dokter … ditunggu ya sore nanti. I Love U too,” sahut Kanaya.


Wanita itu lantas turun dari mobil, dia melambaikan tangannya untuk suaminya tercinta. Pagi hari yang sangat indah bagi Kanaya. Tiba di kantor dengan diantar oleh suami, diberikan kecupan sayang, dan juga nanti sore akan dijemput. Benar-benar sempurna.


Hanya saja, Kanaya tidak menyadari bahwa dari kejauhan ada dua netra yang memperhatikannya dari jauh. Siapakah dia? Darren. Ya, Darren melihat bagaimana Kanaya begitu bahagia dengan hidupnya. Melihat Kanaya yang bahagia rasanya membuat Darren begitu benci. Ingin rasanya dia mencelakai Kanaya dan suaminya.


Pria itu pun memukul stir kemudinya, dan menggeram.


“Bisa-bisa kamu bahagia, di saat tidak ada kebahagiaan sama sekali dalam hidupku. Aku akan pastikan bahwa kebahagiaanmu tidak akan berlangsung lama. Aku akan membuatmu menangis sampai kamu tidak tahu lagi caranya menghentikan tangisanmu. Kebahagiaan itu akan kuhapuskan dalam hidupmu,” ucap Darren dengan emosi.


Setelahnya, Darren rupanya membuntuti mobil Bisma. Setidaknya untuk bisa mencelakai Kanaya, dia harus menentukan target yang paling bisa membuat Kanaya hancur. Saat ini, target Darren adalah Bisma. Pria itu dengan tenang membuntuti mobil Bisma dari jauh. Bahkan Darren membuntuti Bisma hingga ke Rumah Sakit. Setelahnya, Darren masih menunggu hingga pria itu keluar dari Rumah Sakit nantinya.


Jam pun berlalu. Hari yang semula pagi, telah berganti menjadi siang hari. Menjelang jam makan siang, Bisma kembali keluar dari Rumah Sakit. Tujuannya adalah menemani Aksara untuk bermain di Daycare sebelum nanti akan melanjutkan praktik di Kliniknya. Pria itu pun juga dengan santai melajukan mobilnya, tidak merasa jika ada mobil lain yang tengah membuntutinya.


Setibanya di Daycare, Bisma segera memasuki Daycare itu dan si Ayah muda itu terlihat begitu bahagia bersama dengan Aksara. Hampir setiap siang, Bisma selalu mengajak Aksara untuk bermain bersama. Setidaknya sembari bermain, dia bisa sekaligus menstimulasi Aksara supaya putranya bisa segera berbicara dengan lancar.


Hampir dua jam lamanya, Bisma berada di Daycare. Setelahnya, Bisma meninggalkan Daycare dan kemudian menuju ke kliniknya.


Di sinilah, Darren memikirkan sebuah rencana untuk mencelakai Kanaya. Rasanya, dengan bermain-main dengan Kanaya akan sangat menyenangkan. Darren memilih untuk menunggu di Daycare dan menunggu beberapa saat berlalu. Setelahnya dia akan melakukan aksinya.

__ADS_1


Menjelang pukul 16.00, Darren masuk ke Daycare dan mencari Aksara. Pria itu bahkan dengan santai bertanya kepada petugas Daycare.


“Selamat sore, saya datang untuk menjemput Aksara,” ucap Darren.


Tidak langsung percaya, pihak Daycare pun menanyakan siapa Darren. Sebab, biasanya Kanaya dan Bisma sendirilah yang selalu menjemput Aksara. Tidak pernah mewakilkan kepada orang lain.


“Saya Om nya Aksara,” ucap pria itu.


Setelah beberapa saat terlibat pembicaraan, pihak Daycare pun menyerahkan Aksara kepada Darren.


Pria itu bersandiwara dengan menggendong Aksara.


“Aksa, ikut Om yah,” ucapnya.


Setelahnya, Darren dengan segera membawa Aksara memasukkan bocah berusia hampir 2,5 tahun itu ke dalam mobil dan membawa Aksara ke sebuah Taman Kota.


“Ayo kita turun di sini, Aksara,” ucapnya.


Lantaran Aksara masih terlalu kecil, bocah itu pun mau-mau saja digendong Darren. Lagipula, Aksara sudah pernah melihat wajah Darren sebelumnya, sehingga bocah itu tidak menangis saat Darren menggendongnya.


Pria itu menyeringai penuh tawa, “Nikmati kehancuranmu, Naya!”


***


Usai menjemput Kanaya di Jaya Corp, Bisma dan Kanaya sama-sama menuju ke Daycare. Sepasang orang tua itu datang dengan bergandengan tangan.


“Sore, kami datang untuk menjemput Aksara,” ucap Bisma.


Akan tetapi, pihak Daycare memberitahu bahwa Aksara sudah dijemput oleh seorang pria yang mengaku sebagai Om nya.


Ya Tuhan, hati Kanaya rasanya begitu bergemuruh. Firasat buruk yang kemarin dia rasanya bahwa suaminya berada di dalam bahaya. Nyatanya kini putranya, Aksara berada di dalam bahaya. Wanita itu menangis, berlinangan air mata, dalam hatinya dia yakin bahwa Aksara dalam keadaan yang tidak aman.

__ADS_1


“Mas, Aksara kita, Mas …,” ucap Kanaya terisak.


“Sabar Sayang … kita cari Aksara,” ucap Bisma.


Pria itu sempat emosi karena menyerahkan Aksara begitu saja kepada pria yang tidak mereka kenal. Bahkan Bisma akan menuntut Daycare tersebut. Lantas Bisma pun berteriak, “Saya minta rekaman seluruh CCTV. Sekarang juga!” ucapnya dengan menggebrak meja.


Mulailah petugas membawa Bisma dan Kanaya ke controll room, dan menunjukkan rekaman CCTV. Kejadian di dekat meja penerima tamu di Daycare itu tersorot jelas oleh kamera CCTV, dan di sana mereka berdua melihat sosok pria yang sudah mereka kenal.


“Darren!” ucap keduanya.


Bisma dengan segera meminta bukti rekaman CCTV itu dan akan segera melakukan laporan ke kantor polisi bahwa Darren tengah menculik Aksara. Sementara Kanaya segera menelpon Papa Jaya.


Papa Jaya


Berdering


“Ya, halo Naya … ada apa?” tanya Papa Jaya melalui sambungan teleponnya.


“Pa … tolong Naya, Pa … Darren menculik Aksara, Pa,” ucap Kanaya dengan terisak.


Sebagai Ibu hatinya sangat hancur, dia sangat yakin bahwa Darren berniat jahat kepada putranya, Aksara.


“Kenapa Naya? Jelaskan yang sebenarnya kepada Papa,” ucap Papa Jaya.


Dengan tersedu sedan, Kanaya menceritakan semuanya kepada Papa Jaya. Saat ini, Kanaya dan Bisma tengah mencari keberadaan Aksara dan menyisir beberapa tempat di ibukota. Papa Jaya juga menyanggupi untuk membantu proses pencarian Aksara.


“Papa akan bergerak, Naya … Papa akan menyewa orang-orang handal untuk menemukan Aksara. Aksara pasti ditemukan,” ucap Papa Jaya.


Bersama Bisma, Kanaya menyisir satu per satu tempat yang dimungkinkan didatangi Darren. Mereka pun mendatangi sebuah taman kota. Kanaya berlarian seperti orang gila, menangis, dan meneriakkan nama putranya.


“Aksara … Aksara … kamu di mana Nak?” teriakannya dengan begitu pilu.

__ADS_1


Beberapa orang pun mengamati Kanaya yang nyaris seperti wanita gila. Bisma pun merangkul bahu Kanaya, “Jangan seperti ini Sayang … ayo kita cari lagi.” ucapnya.


“Aksara, Mas … di mana Aksara. Aku tidak bisa hidup tanpa Aksara. Aksara … Aksaranya Bunda ….”


__ADS_2