Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Garden By The Bay


__ADS_3

Selang beberapa hari, kini Kanaya dan Bisma benar-benar mengajak Aksara berjalan-jalan sore di area Garden By The Bay. Garden By The Bay sendiri adalah sebuah taman yang menyimpan koleksi kurang lebih 1,5 juta tanaman. Di area ini adalah area publik yang bisa dimanfaatkan para warga dan wisatawan untuk bersantai, berolahraga, atau pun melakukan aktivitas lainnya.


Tempat yang berhadap-hadapan dengan Marina Bay Sands ini merupakan salah satu ikon negara Singapura dengan Super Tree yang menjulang begitu tinggi, ada pula Flower Dome yang merupakan sebuah konsevatori dalam ruangan yang memiliki berbagai macam jenis bunga yang pada musimnya akan bermekaran dengan indah. Ada kalanya di sini terdapat festival bunga Sakura, bunga tulip, dan aneka bunga lainnya yang digelar berdasarkan musimnya.


Kali ini, Kanaya, Bisma, dan Aksara menyusuri setiap jalanan di area Garden By The Bay.


“Jadi, Garden By The Bay seperti ini ya Bunda?” tanya Aksara kepada Bundanya.


“Iya, Aksara … ini adalah taman. Bisa jadi ruang terbuka publik juga. Beberapa tempat gratis. Akan tetapi, jika kamu ingin melihat aneka bunga, kita bisa memasuki Flower Dome atau Cloud Forest,” jelas Kanaya kepada putranya itu.


“Oh … tetapi, kita jalan-jalan saja Bunda. Aksara sudah senang banget. Anginnya sejuk,” jawab Aksara.


Tidak dipungkiri memang angin bertiup begitu sejuk di Garden By The Bay. Tidak jarang banyak orang yang memanfaatkan untuk berolahraga sore seperti berjalan kaki, berlari, atau pun senam.


“Di depan Garden By The Bay itu apa Bunda?” tunjuk Aksara pada sebuah bangunan yang menjulang begitu tinggi dengan kapal di atasnya.


“Itu namanya Marina Bay Sands, Aksara … itu salah satu gedung ikonik di Singapura, dengan bentuk kapal di atasnya,” jawab Aksara.


Melihat Marina Bay Sands, Kanaya teringat dengan pertemuannya dengan Bisma dulu. Di Skypark Observations Deck, Bisma mengetahui bahwa statusnya sudah menjadi janda, lantas Bisma mengatakan keinginannya untuk mengejar Kanaya. Kanaya menghela nafas panjang, tidak menyangka tahun-tahun memang telah berlalu begitu cepat. Kini pria itu telah menjadi suaminya dan begitu sabar kepadanya.


“Indah banget ya Bunda … Aksara suka. Aksara akan mengingat ini semua. Nanti kalau sudah kembali ke Jakarta, pasti Aksara akan kangen deh kemari,” ucap Kanaya.


Bisma yang mendengar ucapan anaknya pun tersenyum, “Kita bisa jalan-jalan kemari kalau kamu liburan kenaikan kelas nanti, Aksara. Jakarta ke Singapura hanya dua jam perjalanan dengan menggunakan pesawat. Jadi kita bisa sering-sering ke mari,” balas Bisma.

__ADS_1


“Iya Ayah … yang penting tidak mengganggu pekerjaan Ayah dan juga Bunda,” sahutnya.


Rupanya Aksara pun tumbuh menjadi anak yang berpengertian. Usianya memang masih 7 tahun, tetapi anak itu sudah memiliki pemikiran bahwa kedua orang tuanya bekerja. Membiarkan orang tuanya bekerja. Liburan bisa dilakukan di lain waktu.


“Kamu anak yang baik, Nak,” ucap Bisma sembari mengusapi puncak kepala Aksara.


Anak yang terbiasa hidup berdampingan dengan teman-teman di Panti Asuhan. Tentu memiliki empati dan pengertian yang lebih tinggi. Mungkin karena sudah lama tinggal di Panti Asuhan, harus memahami anak-anak yang lain, Aksara pun juga memiliki pengertian yang tinggi.


“Nanti di Jakarta, Aksara ingin sekolah di Sekolah Dasar biasa atau Homeschooling saja di rumah?” tanya Bisma.


Tampak Aksara berpikir dan mengira-ira mana sekolah yang baik baginya. Walaupun Aksara juga tidak tahu Homeschooling itu seperti apa.


“Homeschooling itu seperti apa Yah?” tanya Aksara.


“Homeschooling tidak apa-apa, Ayah … tetapi, nanti kalau SMP, Aksara sekolah di umum saja Ayah,” balasnya.


Mendengar jawaban Aksara, agaknya Kanaya dan Bisma lega. Sebab, anak di usia Sekolah Dasar masih perlu diawasi, terlebih mereka pernah kehilangan Aksara. Sehingga mereka tidak tenang jika harus berjauhan dengan Aksara. Ada ketakutan jika terjadi hal-hal yang buruk lagi.


“Kamu yakin?” tanya Kanaya.


Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Bunda … Aksara yakin. Namun, usai lulus nanti dan akan masuk ke SMP, izinkan Aksara untuk sekolah umum saja ya Bunda,” permintaannya kali ini kepada Bundanya.


“Iya Nak … pasti. Terima kasih, dengan begitu Bunda lega. Bunda takut jauh dari kamu lagi,” balas Kanaya sembari merangkul bahu putranya itu.

__ADS_1


Aksara lantas tersenyum dan menatap Bundanya itu, “Sekarang sambil jalan-jalan lagi yuk Bunda … ke kolam itu Bunda,” tunjuk Aksara pada setiap kolam yang berada di dalam area Garden By The Bay.


Ketiganya pun kemudian berjalan-jalan bersama Aksara. Lantaran di Garden By The Bay begitu sejuk, sehingga ketiganya tidak merasa lelah. Dan kini, mereka tampak melihat dan duduk-duduk di area Spider Nest dan area bermain air. Aksara tampak mengamati beberapa anak yang bermain di sekitar pancuran air dengan berlari-larian dan berbasah-basahan di sana.


“Kamu mau main air?” tanya Bisma.


“Tidak Ayah … hanya lihat saja,” sahut Aksara. “Dulu kalau hujan, terkadang Aksara main hujan-hujanan sama teman-teman Aksara, Ayah … tetapi, usai itu harus mandi dengan air hangat. Kata Bu Lisa supaya tidak masuk angin,” cerita Aksara yang teringat bagaimana dulu dirinya dan teman-temannya di Panti Asuhan bisa bermain hujan-hujan.


“Kamu juga hujan-hujanan, Aksara?” tanya Kanaya.


“Iya Bunda … seru banget dulu waktu main hujan-hujanan. Badan dan pakaian yang basah dipakai untuk seluncuran di lantai keramik. Seru sekali,” ceritanya lagi.


Kanaya pun tersenyum, di Panti Asuhan memang minim fasilitas. Sehingga seluncuran pun hanya dilantai dan memanfaatkan celana mereka yang basah usai bermain hujan-hujanan untuk meluncur. Mendengar cerita Aksara, agaknya Kanaya ingin memasang sebuah seluncuran di kolam renang miliknya sehingga Aksara bisa bermain seluncuran sepuasnya di rumah.


Mengingat hari kian petang, Kanaya dan Bisma lantas mengajak Aksara pun pulang kembali ke apartemen mereka.


“Sudah malam, Aksara. Mau pulang sekarang? Sambil kita beli makan malam yuk … nanti minggu depan tugas Ayah selesai dan kita kembali ke Jakarta yah,” ucap Kanaya.


“Iya Bunda … nanti belikan boneka Putri Aurora untuk Syilla ya Bunda … Syilla suka sekali Putri Aurora,” pinta Aksara kepada Bundanya.


Kanaya pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala putranya itu, “Iya … nanti Bunda dan Ayah belikan untuk Syilla. Kamu sayang banget sama Syilla ya Aksa?” tanya Kanaya dengan tiba-tiba.


“Iya Bunda … Aksara sayang banget sama Syilla. Dia itu cantik, lucu, dan pandai. Seperti Princess Aurora. Aksara sayang sama dia,” jawab Aksara dengan yakin.

__ADS_1


Mendengar cerita Aksara dan juga bagaimana putranya itu selalu mengingat Arsyilla, agaknya memang Aksara begitu menyayangi Arsyilla. Agaknya lucu juga jika putranya itu bisa memiliki Arsyilla saat dirinya dewasa nanti.


__ADS_2