Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
H-3 Before Wedding Day


__ADS_3

Usai menyelesaikan program spesialisasi di Singapura, rupanya Bisma langsung tancap gas untuk mengurus pernikahannya dengan Kanaya. Seolah semesta turut mengizinkan, karena Bisma pun juga sudah kembali bekerja di Rumah Sakit di Ibukota. Sehingga, baik Bisma dan Kanaya sama-sama mengurus sendiri persiapannya mereka menjelang hari H pernikahan.


Mulai dari mengurus pendaftaran pernikahan, menemui Wedding Planner, memilih kebaya dan beskap untuk akad, dan katering, semua dilakukan berdua. Seolah keduanya memang ingin memiliki pengalaman yang seru dan menyenangkan untuk mengurus pernikahannya, sekalipun capek, tetapi Bisma dan Kanaya sama-sama bersemangat untuk mengurus satu demi satu.


“Semua dokumen untuk pendaftaran pernikahan sudah diurus, menemui Wedding Planner juga sudah, baju pengantin sudah, katering sudah, masih apa lagi sih yang harus kita urus?” tanya Bisma kepada Kanaya.


Kanaya tersenyum dan menatap Bisma, “keliatannya sih semuanya sudah. Tinggal menunggu hari H. Enggak menyangka, tiga hari lagi saat itu tiba.” ucap Kanaya yang benar-benar tidak menyangka bahwa hari bahagianya bersama Bisma tinggal menghitung hari saja.


Bisma pun mengangguk setuju, “benar. Membayangkan enam bulan yang lalu, saat aku mengutarakan perasaanku, terus kamu yang masih belum yakin denganku. Sekarang rasanya cukup melegakan tinggal 3 hari di depan mata menuju hari menuju halal,” ucapnya sembari melirik wajah Kanaya dari samping. “Mendapatkanmu itu perjuangan banget.” sambungnya sembari terlihat mengusap wajahnya perlahan.


“Mau bagaimana lagi, sebagai wanita yang pernah mengalami kegagalan sebelumnya, jelas saja aku masih ragu. Ada ketakutan tersendiri untuk mencoba sebuah hubungan yang baru.” jawab Kanaya dengan sungguh-sungguh.


Tidak dipungkiri, sekalipun hubungannya terdahulu dengan Darren tidak berdasarkan cinta, tetapi tetap saja ada ketakutan dalam hati Kanaya. Takut menghadapi kegagalan selanjutnya, takut kembali dihina secara verbal, takut dengan pahitnya berumah tangga yang tidak didasarkan atas sebuah ikatan yang didasarkan pada cinta.


Menyadari dengan apa yang diucapkan oleh Kanaya, Bisma perlahan menautkan jari jemarinya, guna menggenggam tangan Kanaya, “nasib sebuah hubungan itu berbeda satu dengan yang lainnya, Nay … semoga bersamaku, tidak ada kata kegagalan ya. Kita jalani bersama. Okay?”

__ADS_1


Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “Iya … semoga nasib hubungan kita akan langgeng. Insyaallah sampai till jannah.” ucap Kanaya dengan bibirnya yang terasa bergetar. Kendati demikian, itulah doa yang dia ucapkan, ingin bersama dengan hingga till jannah. Bahkan setelah mereka tiada di dunia ini, yang Kanaya inginkan adalah bisa bertemu kembali di surga sana.


Usai mengucapkan kata-kata tersebut, Kanaya lantas teringat sesuatu yang dia lewatkan. Perlahan, dia kembali menatap Bisma, “Euhm, masih ada satu hal yang terlewatkan. Kita belum mengunjungi makam kedua orang tuaku. Maukah kamu menemaniku ke sana?” Tanya Kanaya sembari menatap wajah Bisma, berharap pria itu mau menemaninya untuk mengunjungi pusara kedua orang tuanya.


“Sudah tentu aku mau, Nay … kita berangkat sekarang ya. Mumpung hari masih siang.” ucap Bisma yang seketika beranjak dari tempat duduknya. Pria itu lantas menggenggam tangan Kanaya hingga menuju ke mobilnya.


Dalam perjalanan, tidak lupa Kanaya membeli bunga tabur dan juga air mawar untuk menabur bunga di pusara kedua orang tuanya. Begitu sudah memasuki sebuah pemakaman umum di area Ibukota itu, keduanya sama-sama berlutut di dua makam yang berdampingan satu sama lain.


“Assalamualaikum Ayah dan Bunda ….” sapa Kanaya kepada pusara yang di dalamnya raga kedua orang tuanya di semayamkan.


Dalam setiap perkataan yang Bisma ucapkan, hanya mampu membuat Kanaya secara tiba-tiba berderai air matanya. Pria yang saat ini berjongkok di sampingnya, kiranya memang jodoh yang Allah kirimkan untuknya. Ada rasa sedih karena saat hari bahagia itu tiba tidak ada ayah dan bundanya yang akan menyaksikan kebahagiaannya. Namun, di satu sisi Kanaya pun merasa terharu saat mendengar bahwa Bisma berjanji akan menjaga dirinya. Semoga saja yang pria itu ucapkan selaras dengan ucapannya.


Sembari memegangi nisan batu dengan nama yang terpahat di sana, Kanaya pun terisak, “Bisma adalah pria yang Naya cintai Ayah, Bunda … semoga kali ini Naya akan menemukan kebahagiaan bersama Bisma.” ucapnya sembari terisak pilu.


Dadanya tiba-tiba merasa sesak saat mengakui di hadapan pusara kedua orang tuanya bahwa Bisma adalah pria yang dicintainya. Tentunya pengakuan Naya adalah pengakuan yang tulus dan murni dari dalam hatinya. Mungkin memang hanya air mata yang bisa mewakili perasaannya saat itu.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama, Bisma merangkul bahu Kanaya, “Ssstttsss … tenang Naya … aku ada di sini. Jangan bersedih lagi ya. Ayah dan Bunda sudah bahagia di atas sana. Mereka sudah bertemu satu sama lain di surga-Nya Allah. Sekalipun, kamu seorang diri, tetapi ada aku bukan? Ada aku yang akan selalu menemani kamu.” Bisma berkata dan meyakinkan Kanaya bahwa dirinya akan selalu ada menemaninya. Dirinya akan selalu ada bersamanya.


Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “iya … terima kasih.” ucapnya sembari terisak pilu.


Setelah dirinya merasa lebih tenang, Kanaya dan Bisma lantas menaburkan bunga di atas pusara Ayah dan Bundanya dan diakhiri dengan menyiramkan air mawar. Gadis itu lantas tersenyum, “Naya, pulang dulu ya Ayah dan Bunda … semoga di sana Ayah dan Bunda tidak mengkhawatirkan Naya. Naya akan selalu menjalani hidup ini dengan baik.”


Bisma pun mengangguk, “Bisma akan selalu menjaga Naya, Ayah dan Bunda …” lagi dia berucap sekali lagi. “Kami pamit ya Ayah dan Bunda ….” Pria itu lantas membantu Kanaya untuk berdiri, kemudian menautkan jari jemarinya ke dalam genggaman Kanaya.


“Kita pulang sekarang ya? Nanti lain waktu, kita akan mengunjungi pusara Ayah dan Bunda lagi. Kamu jangan bersedih ya. Calon pengantinku ini malahan sering nangis menjelang hari H pernikahan.” ucapnya sembari menggenggam tangan Kanaya dan berjalan keluar dari tempat pemakaman umum itu.


Kanaya pun tersenyum, “makasih banyak ya, sudah bersamaku sejauh ini. Sudah lega sekarang, karena sudah mengenalkan kamu kepada Ayah dan Bunda. Jika beliau berdua masih hidup, tentu mereka akan sangat bahagia bisa melihatmu.” ucap Kanaya yang membayangkan wajah bahagia kedua orang tuanya.


Bisma pun tertawa, “Aku yakin di atas sana saja Ayah dan Bunda juga bahagia melihat kamu sekarang. Seorang wanita yang berhasil mengubah takdirnya, secara fisik yang kamu dahulu gemuk dan sekarang bisa begitu langsing. Dalam karier, kamu pun sukses menjadi dewan direksi di perusahaan.” Bisma menjeda sejenak ucapannya, “jadi, benar yang aku dengar tadi, kalau pria ini yang kamu cintai? Kenapa kalau sama aku tidak mengakui kalau kamu cinta aku?”


“Stop. Jangan menggodaku.” sahut Kanaya sembari menggelengkan kepalanya. Dia tahu, pasti Bisma tengah menggodanya lantaran dia memang jarang sekali mengucapkan jika dia mencintainya.

__ADS_1


Sementara Bisma justru tergelak dalam tawa, menggodai Kanaya seperti ini justru sangat menyenangkan baginya. Melihat Kanaya tertawa hingga wajahnya bersemu merah, sungguh pemandangan yang sangat indah di mata Bisma.


__ADS_2