Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Wisata Edukasi Farmhouse


__ADS_3

“Jadi mau jalan-jalan ke mana hari ini?” tanya Bisma sembari menikmati sarapan di restoran yang berada di hotel tersebut.


“Ke Farmhouse yuk Mas,” ajak Kanaya dengan menyodorkan handphonenya kepada suaminya.


Kanaya ingin menunjukkan beberapa foto mengenai tempat yang ingin datangi, selain itu ada juga beberapa hewan di farmhouse yang bisa membuat Aksara tertarik. Selain belajar tentang fauna di sana, udara sejuk di kawasan Lembang menjadi pilihan tersendiri bagi Kanaya.


Bisma lantas tersenyum, “Boleh … usai sarapan saja yah, biar kita enggak perlu sampai sore di sananya. Okey?”


“Okey Ayah, siap,” sahutnya sembari menyuapi Aksara dan Kanaya sembari juga sembari mengisi perutnya dengan menu sarapan tersebut.


Setelah sarapan usai, Bisma terlebih dahulu mengisi ranselnya dengan berbagai keperluan Aksara seperti baju ganti, diapers, minyak telon, handuk kecil, dodot asip, tissue basah, dan tissue kering, tidak ada yang terlewatkan. Lebih baik peralatan untuk Aksara semuanya siap, daripada harus mencari-cari. Setelah itu, Bisma juga melihat rute menuju farmhouse dengan aplikasi peta di handphonenya, mencari rute yang dekat dan juga tentunya yang tidak macet.


“Yuk sekarang Sayang,” ajak Bisma.


Pria itu lantas mulai menggendong Aksara di depan, dan menggendong ranselnya di belakang. Bisma benar-benar tipe Ayah idaman, dia tidak mengeluh. Justru kesempatan untuk berjalan-jalan dengan Aksara seperti ini dinikmatinya dengan sepenuh hati. Sebab, Bisma sadar bahwa pekerjaannya sebagai Dokter Spesialis Anak cukup sibuk. Kesempatannya untuk bisa bermain dengan Aksara hanya saat dirinya pulang kerja, weekend, dan saat liburan keluarga seperti ini.


“Mas, biar aku saja yang bawa tas ranselnya,” pinta Kanaya. Sebab, Kanaya pun juga kasihan dan tidak enak karena Bisma sudah menggendong Aksara di depan dan masih menggendong ransel di belakang.


Akan tetapi, Bisma justru menolaknya, “Tidak apa-apa Sayang … kan gendong ransel cuma sampai parkiran aja. Abis ini kan ranselnya ditaruh di mobil juga. Nanti waktu di farmhouse kita bawa pockit (kereta dorong untuk anak) saja ya Sayang,” ucap Bisma.


“Eh, bawa hipseatnya juga dong Mas, sapa tau nanti Aksara bosen duduk di Pockit. Jadi kita bawa hipseat sekalian saja. Taruh di bawah Pockit itu kan bisa,” sahutnya.


Setelahnya, Bisma, Kanaya, dan Aksara pun menaiki mobil. Ayah Bisma segera mengemudikan mobilnya menuju kawasan Lembang, dan tujuannya adalah ke Farmhouse. Salah satu tempat wisata edukasi yang cocok untuk anak-anak.


“Pemandangannya indah banget ya Mas, kanan-kiri hijau semua, rasanya adem banget,” ucap Kanaya yang tampak terpukau melihat pemandangan alam yang ada di sepanjang jalan. Kota Lembang yang berudara sejuk, berpadu dengan pepohonan dan tanaman hijau di pinggir jalan membuat kian sejuk rasanya.

__ADS_1


“Kayaknya tinggal di Bandung, enak ya Sayang …” ucap Bisma kali ini.


Kanaya kemudian mengangguk, “Iya, enak banget. Adem dan sejuk gitu, jadi pengen tinggal di Bandung. Hanya saja, kerjanya di Jakarta ya jadi mau tidak mau tinggal di Jakarta deh,” sahutnya dengan tertawa.


Perjalanan yang mereka tempuh akhirnya membawa mereka menuju Farmhouse di Lembang. Mengunjungi Farmhouse ini, seolah-olah Kanaya dan Bisma tengah mengunjungi area peternakan di negara Eropa. Rumah-rumah yang dibangun layaknya bangunan rumah di Amsterdam, juga ada beberapa hewan di sana seperti Sapi, Kambing, Kelinci, dan beberapa jenis burung. Seperti rencana mereka, kali ini Kanaya mendudukkan Aksara di sebuah Pockit (kereta dorong bayi/Stroller). Lantaran di Lembang begitu sejuk dan udaranya justru terasa dingin, maka Kanaya memakaikan jaket untuk Aksara.


“Kita jalan-jalan di Peternakan ya Mas Bayi … anggap saja sekarang Ayah dan Bunda sedang mengajak Mas Bayi jalan-jalan ke Amsterdam, Belanda,” ucapnya dengan terkekeh.


Lucu saja sekarang bukan hanya meminta Aksara berandai-andai layaknya berada di Amsterdam, Belanda. Akan tetapi, Kanaya pun juga merasakan keindahan seperti ini dan beberapa pegawai di Farmhouse yang mengenakan baju ala-ala Belanda tentu membuat suasana kian terasa layaknya di Eropa.


“Yuk, Nak … Aksara mau lihat apa. Itu ada Sapi … bunyinya Sapi, gimana?” tanya Bisma sembari mendorong stroller Aksara.


“Moo … moo, Yayah,” jawab Aksara yang seolah menirukan suara sapi itu ‘moo.’ Aksara terlihat lucu dan jari telunjuknya tampak menunjuk-nunjuk pada Sapi yang berjenis Sapi Perah di Farmhouse itu.


“Wah, Aksara pandai ya … sekarang kita lihat hewan yang lain yah. Itu Kambing tuh, Nak … coba Ayah pengen denger suara kambing itu bagaimana ya?” tanya Bisma gini.


Kanaya hanya tertawa melihat interaksi suaminya dan Aksara. Pemandangan yang lucu dan menggemaskan, hingga beberapa kali Kanaya mengabadikan momen keduanya dengan jepretan kamera handphonenya.


Bukan hanya Aksara yang senang karena bisa melihat berbagai hewan peliharaan atau hewan-hewan yang ada di peternakan secara langsung, tetapi Kanaya dan Bisma juga senang. Mereka tidak hanya sedang membangun sebuah waktu yang berkualitas, tetapi sekaligus menstimulasi tumbuh kembang Aksara. Mendengar Aksara bisa menirukan suara-suara beberapa binatang saja sudah membuat keduanya senang.


“Moo nya cucuuu, Yah,” ucap Aksara lagi dengan menunjuk sapi yang tengah diperas dan mengeluarkan susu.


Bisma kemudian mengangguk, “Iya, Nak … itu Sapinya diperah, dan menghasilkan susu. Itu namanya Sapi perah. Nanti kalau Aksara sudah 2 tahun, sudah lulus minum ASI, Aksara minum susu sapi ya,” jelasnya kini kepada Aksara.


“Cucuuu Nda, Yah,” celetuk Aksara lagi. Dalam pemikirannya jikalau dia meminum susu, sudah pasti itu adalah ASI milik Bundanya.

__ADS_1


Bisma kemudian tertawa dan sedikit berjongkok di depan Aksara, “Susu sapi juga enak kok, Nak … kaya nutrisi juga. Aksara nanti juga akan sehat kalau mau minum susu sapi. Okey,” jelasnya secara pelan-pelan kepada Aksara.


“Cuuccuuu Moo, Yah?” tanya Aksara lagi dengan kemampuan bicaranya yang memang masih terbatas.


Bisma kemudian mengangguk, “Iya Susu Moo, enak,” sahutnya.


Kanaya pun tertawa. Rasanya perutnya sakit saat ini melihat suami dan anaknya yang tampak heboh membahas Sapi perah. Wajah Kanaya pun memerah, karena pembicaraan antara Ayah dan anak itu.


“Kamu ini loh, Mas … belum tentu Aksaranya paham loh,” sahut Kanaya.


“Enggak apa-apa Sayang, kan kita beri pengertian kepada anak. Harus diberitahu yang benar, ya memang saat ini Aksara belum tahu, tetapi nanti ke depannya pasti dia akan tahu kok,” balas Bisma.


Kanaya kemudian mengangguk, “Iya, aku tahu … cuma kalian berdua heboh bahas cucuuu coba,” sahut Kanaya dengan kembali terkekeh geli.


Tidak mengira Bisma pun turut tertawa, tidak menyangka rupanya Kanaya juga mendengarkan pembicaraannya dengan Aksara. “Kamu dengerin yah? Ssstsss, jangan kenceng-kenceng ketawanya, ini obrolan pria,” sahut Bisma dengan membawa jari telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkan supaya Kanaya untuk diam.


“Emang yah, Ayah dan Anak sepaket banget sih,” ucap Kanaya.


Bisma mengangguk, “Loh, harus dong … kan nanti Aksara kalau besar jadi temannya Ayah. Teman nonton Moto Gp sama Ayah, jadi harus sepaket. Harus kompak,” sahutnya.


“Lalu, temannya Bunda sapa dong Yah?” tanya Kanaya kini.


Bisma kemudian tersenyum menatap wajah Kanaya, “Mau program adik buat Aksara? Sapa tahu dapat anak perempuan yang cantiknya sama seperti Bunda Kanaya?” tanyanya sembari berbisik di telinga Kanaya.


Akan tetapi, Kanaya cepat-cepat mencubit pinggang suaminya itu, “Ishhs, apaan sih Mas. Belum tiga tahun, kan dulu Dokter Indri bilang karena melahirkan Aksara itu Caesar jadi harus menunggu paling tidak tiga tahun,” sahutnya dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


“Kan Aksara sudah hampir 2 tahun kan Sayang, hamilnya 9 bulan 10 hari, jadi ya estimasinya kurang lebih sudah mau 3 tahun lah. Gimana? Sapa tahu loh adiknya Aksara cewek,” tawarnya lagi kepada Kanaya.


Seolah tak ingin berdebat dengan suaminya, Kanaya memilih diam dan berjalan mendahului suaminya itu. Sebab, Kanaya memang belum siap untuk melahirkan lagi. Selain itu, fokusnya kini adalah kepada Aksara terlebih dahulu. Paling tidak sampai Aksara bisa berbicara dengan lancar, dan Aksara bisa bertumbuh ke arah yang baik tentunya.


__ADS_2