
Kembali berhadapan dengan seseorang yang sama sekali tidak ingin Kanaya temui membuatnya mengalami perubahan suasana hati yang begitu drastis (mood swing). Terlebih sekarang, dirinya berada di pusat berbelanjaan yang begitu ramai, rasanya tidak elok jika justru terjadi keributan di tempat ini.
Masih bersikap sopan, Kanaya pun mengangguk, “Maaf … semua itu gak ada hubungannya sama aku. Permisi.” ucapnya yang ingin mempercepat langkah kakinya.
Akan tetapi, tampaknya Sandra masih ingin menghadang Kanaya. “Jadi lo enggak merasa bersalah atas semua yang udah lo lakuin. Gara-gara lo, Darren memilih ninggalin gue.” ucapnya dengan memincingkan matanya.
Dengan mudahnya, Sandra justru mengkambing hitamkan Kanaya karena Darren yang memilih meninggalkan Sandra. Wanita itu tidak menyadari bagaimana sikapnya di belakang Darren yang justru bermain api dengan fotografernya sendiri.
Mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh Sandra, Kanaya lantas membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada, “O … jadi pria itu sudah sadar, selamat ya.” sahut Kanaya yang kali ini justru terdengar seakan-akan menabuh genderang perang.
Sandra pun mendesis, “Isshs, jangan mengira kalau penampilan lo yang sekarang, lo merasa di atas angin. Kalkun jelek selamanya tetaplah kalkun jelek, dia tidak akan pernah bisa berubah menjadi angsa.” ucap wanita itu yang terlihat merendahkan Kanaya.
“Sorry ya, sayangnya kalkun jelek atau itik buruk rupa itu sekarang sudah menjelma menjadi seorang angsa. Dongeng itu bukan sekadar isapan jempol semata.” sahut Kanaya yang seolah justru terlihat meladeni ucapan Sandra.
“Ayo Sayang, kita lanjutkan perjalanan kita.” ucap Bisma yang sesungguhnya ingin menengahi jangan sampai terjadi keributan antara istrinya dengan wanita yang merupakan wanita masa lalu dari mantan suami Kanaya itu.
Kanaya pun mengangguk, dan dia mulai mengikuti suaminya yang berjalan dua langkah di depannya, tetapi Sandra seakan ingin memercik api pertengkaran.
“Huhh, palingan kalau badan lo jumbo, gak akan ada cowok yang mau sama lo. Sekarang kalau badan lo udah proporsional, lo tinggal buka paha lo aja.” ucap Sandra dengan pedas.
Merasa tidak terima, Kanaya berbalik dan ingin membalas perkataan pedas wanita itu, akan tetapi Bisma justru terlebih dahulu berjalan dan kini pria itu berdiri di hadapan Sandra.
__ADS_1
“Maaf, saya tidak mengenal kamu. Namun, kalau bicara itu yang benar. Jangan asal mengatai istri saya dengan perkataan yang kasar seperti itu. Kamu seorang perempuan, bisa-bisanya merendahkan perempuan.” ucap Bisma yang kali ini tidak terima dengan ucapan Sandra.
Bisma akhirnya menatap Sandra dengan tajam, “Bisma berdiri di sini untuk sebuah harga diri, ya harga diri Kanaya, wanita yang kamu panggil kalkun jelek itu. Tolong, hati-hati jika bersikap, karena ucapanmu harimaumu. Saya tidak akan segan-segan melaporkan perbuatan Anda ini kepada pihak yang berwajib atas tuduhan pencemaran nama baik dan tindakan tidak terpuji.” ucap Bisma dengan tegas.
Setelah pria itu membalikkan badannya, dan satu tangannya menggenggam erat tangan Kanaya, “Ayo Sayang … kita pergi dari sini. Tidak ada untungnya meladeni orang seperti dia.” ucapnya dengan tegas dan segera menarik tangan Kanaya untuk mengikuti langkah kakinya.
Kanaya hanya diam, dan sorot matanya mengikuti gerakan kaki suaminya yang berjalan cukup cepat itu, lantaran merasa langkah kaki suaminya begitu besar dan cepat, Kanaya pun mengurai tangannya dalam genggaman suaminya itu, “Mas …” dipanggilnyalah suaminya itu.
Uraian tangan Kanaya dan sekarang panggilan dari istrinya itu, membuat kedua kaki Bisma terhenti, pria itu lantas berbalik dan menatap istrinya yang kini berada di belakangnya. “Kenapa, hmm?”
“Perutku kenceng, kamu jangan cepat-cepat dong jalannya.” ucapnya sembari sedikit menunduk dan mengusapi perutnya yang terasa kencang karena berjalan cukup cepat.
“Tunggu di sini dulu … aku belikan air minum.” Bisma kemudian berlari dan mencari tempat yang menjual air minum. Pria itu sedikit berlari untuk kembali menghampiri istrinya.
Kini pria itu berjongkok di hadapan istrinya sembari menyerahkan sebuah botol berisi air mineral kepada istrinya, “Diminum dulu Sayang … maaf ya. Masih kenceng perutnya?” tanyanya lagi kepada istrinya.
Kanaya meminum air mineral tersebut dan menggelengkan kepalanya, “Enggak … sudah mendingan kok.” jawabnya sembari matanya justru berkaca-kaca.
Melihat kedua bola mata istrinya yang terlihat memerah dan tampak berkaca-kaca, Bisma pun kini memilih duduk di samping istrinya dan satu tangannya memegangi tangan istrinya itu. “Kamu kenapa? Masih sakit?” tanyanya dengan begitu lembut.
Kanaya justru menggeleng, “Enggak … aku tadi enggak nyangka aja kalau kamu bakalan belain aku. Maaf ya Mas.” ucapnya.
__ADS_1
Jujur saja, Kanaya merasa tidak enak harus beradu mulut dengan Sandra. Ada rasa malu yang menjalar dalam dirinya karena membalas setiap ucapan Sandra.
Bisma justru menggeleng, “Aku suami kamu, Sayang … jadi aku akan membela kamu karena aku tahu apa yang diucapkan perempuan tadi tidak benar. Aku suamimu sekaligus saksimu. Seorang istri adalah kehormatan bagi suaminya, dan aku akan menjagamu.” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Mendengarkan ucapan dari suaminya itu membuat hati Kanaya terasa begitu menghangat, pria yang menjadi suaminya ini benar-benar seorang pria yang sangat baik baginya.
“Makasih Mas … aku jadi terharu. Malahan pengen nangis deh.” ucapnya sembari mengipasi matanya, berharap buliran bening layaknya kaca tidak akan menetes dari sudut matanya.
“Hmm, tapi jangan menangis di sini Sayang … malu, dikira orang-orang kita pacaran yang baru marahan.” sahutnya dengan tersenyum melihat istrinya.
“Pacaran?” sahut Kanaya dengan cepat.
“Iya, kalau kayak gini kan kita seperti pasangan pacaran yang baru ngedate. So, jangan sampai menangis ya.” pintanya kali ini dengan tulus.
Kanaya justru mengerucutkan bibirnya, “Mana ada orang pacaran, belinya susu ibu hamil dan cookies khusus ibu hamil kayak gini.” gerutunya kepada suaminya itu.
“Pacaran halal maksudnya Sayang … kan kamu udah Mas halalin.” sahut Bisma dengan terkekeh melihat Kanaya.
Begitu bahagia bagi Bisma bisa meredakan emosi Kanaya yang mungkin saja tersulut usai berhadapan dengan Sandra. Pria itu kian bahagia saat melihat rona merah di pipi istrinya yang terlihat tertunduk malu dengan ucapannya barusan.
“Ah, Mas Dokter emang paling bisa deh bikin blush on aku naik dua tingkat lebih terang seperti ini.” ucapnya sembari tersenyum dan menundukkan wajahnya. Beberapa saat lalu moodnya berantakan dan sekarang suaminya bisa kembali menghadirkan kebahagiaan untuknya.
__ADS_1