
Pernikahan Giselle dan Gibran masih berlangsung, seolah tamu undangan yang hadir seakan tidak pernah ada habisnya. Kanaya sendiri, sekarang lebih memilih duduk bersama Bisma dan memperhatikan setiap tamu yang hadir. Barisan tamu undangan yang meminta untuk berfoto bersama pengantin pun mengekor layaknya ular yang panjang.
“Kalau diposisi Giselle, aku udah kecapean banget kali, Mas … malamnya langsung tepar,” ucap kali ini dengan terlihat begitu capek melihat tamu undangan yang seolah tidak pernah ada habisnya.
Bisma justru tertawa mendengar ucapan istrinya itu, “Kamu bisa saja sih, tetapi ini sebanding sih Sayang … siapa yang tidak kenal Jaya Corp? Sudah pasti kenalan dan mitra bisnis mereka itu sangat banyak. Jadi, wajar sih kalau tamu undangannya sebanyak ini,” jawab Bisma.
Ya, untuk perusahaan rekonstruksi sebesar Jaya Corp memang jumlah tamu yang berdatangan pun sebanding dengan nama besar Jaya Corp di luar sana. Relasi dan mitra bisnis Jaya Corp sangat banyak, maka dari itu lah tamu undangan di pernikahan Giselle dan Gibran kali ini benar-benar melimpah ruah.
“Benar sih, soalnya Papa Jaya dan terkenal banget. Crazy Rich, beliau itu,” sahut Kanaya lagi.
Bisma kemudian tertawa, “Berarti aku nikahin anak angkatnya crazy rich dong Sayang?” tanyanya kali ini dengan terkekeh geli.
Kanaya justru memincingkan matanya dan mengerucutkan bibirnya, “Aku tuh, bukan siapa-siapa, Mas … aku cuma beruntung saja diangkat anak sama mereka. Akan tetapi, aku tetap bersikap biasanya saja kok,” sahut Kanaya.
Bisma kemudian mengangguk, “Iya, kamu memang bersikap biasa saja. Aku harap, semakin tingginya kariermu di Jaya Corp, kamu akan tetap biasa saja,” ucap Bisma kali ini.
“Iya Mas, toh ya sampai kapan pun aku bakalan tetap seperti ini. Aku tetap Kanaya milikmu, pekerjaan itu hanya sementara, Mas … tetapi mendampingimu dan menjadi Bundanya Aksara itu sifatnya lama sampai seumur hidupku, sampai akhir usiaku,” jawabnya kali ini dengan sungguh-sungguh.
“Makasih Sayang, Love U,” sahut Bisma yang lagi-lagi mengucapkan kata cinta kepada Kanaya.
Rupanya memang Si Dokter itu pandai membuat wajah istrinya merona merah dan tertunduk malu-malu. Hanya sekadar mendengar ucapan cinta saja, rasanya blush on di pipi Kanaya naik dua tingkat lebih cerah warnanya.
***
Begitu pesta berakhir, rupanya Papa Jaya dan Mama Sasmita meminta Kanaya dan Bisma untuk berkumpul dengan mereka terlebih dahulu.
__ADS_1
“Jangan pulang dulu, Nay … sepuluh menit lagi,” pinta Papa Jaya yang meminta Kanaya untuk tinggal sepuluh menit lagi.
Tidak langsung mengiyakan, tetapi Kanaya terlebih dahulu meminta pertimbangan dari suaminya. Setelah Bisma mengangguk, barulah Kanaya dan Bisma bergabung dengan keluarga Wardhana. Di sana ada Papa Jaya, Mama Sasmita, Giselle, Gibran, Darren, Sandra, Bisma, dan Kanaya.
“Kenapa semuanya dikumpulkan seperti ini, Mas?” tanya Kanaya berbisik lirih di sisi telinga suaminya.
Akan tetapi Bisma terlihat mengedikkan bahunya, “Aku juga kurang tahu, Sayang … semoga saja tidak lama-lama ya. Ini saja sudah hampir jam sembilan malam,” ucap Bisma.
Hingga akhirnya, Papa Jaya pun menatap wajah anak-anaknya satu per satu. Namun, dapat terlihat bahwa pria paruh baya itu menatap Darren untuk waktu yang lama.
“Baiklah, Papa sengaja mengumpulkan kalian di sini karena Papa ingin memberikan wejangan pernikahan untuk kalian semua. Terkhusus untuk Giselle dan Gibran yang baru saja menikah hari ini. Pertama-tama, Papa ucapkan selamat datang dan selamat bergabung menjadi bagian dari keluarga Wardhana. Kemudian, Papa sebagai orang tua ingin memberi nasihat supaya kalian berdua bisa saling menyayangi. Pernikahan itu bukan sekadar menyatukan dua pribadi, tetapi juga menyatukan dua keluarga. Terima pasangan kalian masing-masing dengan kekurangan dan kelebihannya,” ucap Papa Jaya kali ini.
Papa Jaya tampak menjeda sejenak ucapannya, kemudian kini pandangan matanya jatuh pada Gibran, “Gibran, kepadamu, Papa titipkan dan serahkan putri Papa, Giselle. Papa tahu kalau Giselle mungkin wanita yang tidak sempurna untukmu. Akan tetapi, jika suatu saat kamu menyakitinya dan merundungnya karena fisiknya sekarang ini, maka Papa yang akan memperingatkanmu langsung. Papa berharap cintamu kepada Giselle tidak berdasar pada penampilan fisiknya kali ini.”
Hal ini disampaikan Papa Jaya karena sebagai orang tua, dirinya cukup khawatir jika Giselle akan diperlakukan buruk oleh suaminya. Sama seperti Kanaya, yang dulu diperlakukan buruk oleh Darren, saat Kanaya masih menjadi menantunya.
Sementara Gibran pun mengangguk, “Gibran tulus mencintai Giselle, Pa … Gibran juga berjanji bahwa Gibran tidak akan merundung dan memperlakukan Giselle dengan buruk,” ucap Gibran dengan sungguh-sungguh.
Mendengar perkataan Gibran yang serius, Giselle pun sejenak menatap wajah suaminya itu. Dia tahu pasti bahwa Papa Jaya mengumpulkan mereka semua dan memberikan wejangan ini pasti teringat dengan kisah sedih yang menimpa Kanaya dulu. Maka dari itu, Giselle pun meyakinkan dirinya bahwa Gibran akan benar-benar tulus mencintainya dan tidak merundungnya karena berat badannya kali ini.
“Baik Gibran, Papa akan memegang ucapanmu. Tidak ada rumah tangga yang sempurna, terkadang cekcok itu juga tidak apa-apa, asalkan tidak berlarut-larut, menyatukan dua kepala itu sukar. Jadi, bila suatu hari kamu merasa ada yang salah dengan putri Papa, lebih baik kamu tegur secara langsung dan bantu dia untuk memperbaiki kesalahannya. Saling membimbing,” nasihat Papa Jaya lagi kepada Gibran.
“Ya, Pa … Gibran akan selalu ingat dengan nasihat Papa,” jawab Gibran kali ini.
Kemudian Papa Jaya kini menatap pada Darren dan Sandra, kali ini dia harus segera berbicara, karena malam ini juga Darren harus kembali ke Lembaga Permasyarakatan.
__ADS_1
“Untuk Darren, Papa berharap bahwa kamu bisa menjalani masa hukumanmu dengan baik. Selain itu, Papa berharap saat kamu akan bebas nanti, kamu akan menjadi pribadi yang baru. Hati-hati dalam bersikap, karena risikonya bisa besar. Lebih bijaksana, itu yang Papa harapkan dari kamu.” Papa Jaya berbicara dengan menatap Darren.
Akhirnya pria itu pun mengangguk, “Baik Pa,” hanya itu saja yang bisa Darren ucapkan. Dia tahu memang perbuatannya dulu hanya asal dan tidak memperhatikan risikonya. Kali ini, apa yang diucapkan Papa Jaya benar, sehingga Darren pun mengangguk setuju.
“Dan, kamu Sandra … doa Papa hanya kamu bisa mempersiapkan persalinanmu dengan baik. Dampingi Darren, dan bijaksana juga.” Papa Jaya kali ini menasihati Sandra.
Wanita yang tengah berbadan dua itu pun mengangguk, “Baik Pa,” sahutnya singkat.
Rupanya usai itu, petugas dari Lembaga Permasyarakatan mendekat dan segera memakaikan borgol di tangan Darren. Pria itu harus kembali digelandang menuju Lembaga Permasyarakatan. Oleh karena itu, keluarga Wardhana tidak bisa berbuat apa-apa, selain membiarkan Darren dibawa kembali menuju ke Lapas.
Semua mata yang ada di situ pun tampak memperhatikan Darren, Sandra sontak berpikir dan memeluk suaminya itu.
“Hati-hati,” ucapnya lirih dengan air mata yang berlinangan di matanya.
Rasanya memang tidak tega melihat Darren yang harus kembali diborgol dan dibawa kembali ke dalam Lapas. Akan tetapi, itu semua memang adalah konsekuensi dari masa hukuman penjara yang masih dijalani oleh Darren.
“Tunggulah sampai Darren bebas, San,” ucap Mama Sasmita kali ini.
Sandra pun mengangguk dengan sesegukan, “Iya Ma,” jawabnya.
Setelah itu, Papa Jaya kembali melanjutkan nasihatnya, “Buat Kanaya dan Bisma, sekali pun kalian berdua bukan darah daging Papa, tetapi Papa dan Mama juga menyayangimu. Semoga kalian selalu rukun, saling mengisi satu sama lain. Pernikahan dan hidup rumah tangga kalian berdua semoga menjadi contoh juga bagi Giselle yang baru saja akan belajar berumahtangga,” wejangan dari Papa Jaya kali ini.
“Kami masih belajar, Pa … kami juga masih jatuh bangun,” sahut Kanaya.
“Benar Pa, kami masih jatuh bangun dan masih berusaha untuk bisa bergandengan tangan sampai tua nanti,” ucap Bisma yang seolah membenarkan ucapan Kanaya.
__ADS_1
Papa Jaya pun mengangguk, “Tidak apa-apa, memang tidak ada rumah tangga yang sempurna. Semua rumah tangga memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri-sendiri. Ya, tetaplah jatuh bangun untuk membina rumah tangga kalian berdua.” Papa Jaya kembali berbicara, baginya tidak masalah jatuh dan bangun karena itu memang bumbu yang akan mewarnai kehidupan berumahtangga.