
“Nda … Nda … da … da …”
Pagi itu Aksara bangun dengan berceloteh ria. Lantaran semalam menghadiri pernikahan Giselle dan Gibran hingga malam, sehingga pagi ini Kanaya bangun lebih siang. Bahkan Aksara lah yang membangunkan Bundanya.
“Nda … Nda … Nda Aya,” ucap bayi yang berusaha hampir satu setengah tahun itu sembari memeluk Bunda.
Refleks, Kanaya pun langsung mengerjap, dia merasa ada Aksara yang membangunkannya. Hingga Kanaya pun langsung membuka kedua matanya, dan melihat Aksara yang sudah duduk di hadapannya.
“Pagi Mas Bayi Aksara, kamu sudah bangun yah?” tanya Kanaya sembari mengusap lembut wajah putranya itu.
“Nda … Nda … Nda Aya,” ucap Aksara lagi.
Mendengar ucapan dari Aksara, sontak saja pagi itu kedua matanya langsung berkaca-kaca, mungkinkah itu adalah kata pertama yang baru saja diucapkan Aksara. Tanpa menunggu lama, Kanaya langsung duduk dan menggendong putranya itu.
“Iya Sayang, ini Bunda. Bun … da. Bunda Naya,” sahutnya dengan mengecupi pipi Aksara.
“Nda … Nda,” sahut Aksara lagi yang seolah memanggil Bundanya.
Bagi Kanaya, mendengar kata pertama Aksara membuatnya bahagia dan terharu. Momen indah dan tak terlupakan dalam hidupnya. Sementara itu, bagi seorang bayi pun mengucapkan kata pertamanya juga tidaklah mudah, karena membuktikan bahwa dia sedang bertumbuh. Kedua mata Kanaya pun berkaca-kaca.
“Akhirnya, kamu bisa memanggil Bunda juga. Belajar ya Sayang … pelan-pelan enggak apa-apa. Nanti lama-lama Aksara bisa mengucapkan banyak kosakata dan jadi temen curhatnya Bunda yahh …,” ucapnya dengan menciumi Aksara.
Setelah itu, Bisma pun masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas putih. Melihat Kanaya yang berkaca-kaca dengan memangku Aksara, membuat sang Ayah bertanya-tanya kepada istrinya itu.
__ADS_1
“Kenapa, Sayang? Pagi-pagi kok matanya sudah berkaca-kaca gitu sih?” tanyanya.
Kali ini buliran air mata benar-benar jatuh di kedua pipi Kanaya. “Aksara tadi bangunin aku, dan kata pertamanya adalah Nda … Nda Aya,” jawabnya dengan menyeka air matanya. “Terharu aku, Mas … sudah lama aku menunggu Aksara bisa berbicara, dan tadi terdengar jelas kalau dia bilang Nda, biasanya dia kan hanya mengoceh saja,” lanjutnya bercerita kepada Bisma.
Mendengar pengakuan Kanaya, Bisma pun turut bergabung di tempat tidur itu, dia mengusap dengan lembut puncak kepala Aksara, “Iya, Nak … kamu manggil Bunda tadi,” ucap Bisma kali ini.
“Nda … Nda Aya,” sahut Aksara dengan suaranya yang seperti berteriak dan dia menunjuk Kanaya. Sebuah kode kalau si bayi sedang memanggil Bundanya, Bunda Naya.
“Wah, pinter anak Ayah … iya, itu Bunda, Bunda Naya. Kalau ini siapa coba? Aksara bisa memanggil Ayah, enggak? Coba yuk, A … yah,” ucapnya mencoba mengajari Aksara berbicara dengan mengeja kata Ayah.
“Yayah …,” sahut Aksara yang rupanya justru mengatakan demikian.
Bisma pun tersenyum saat mendengar Aksara memanggilnya Ayah, sekali pun masih belum jelas dan juga masih terdengar bahasa bayinya, tetapi Bisma juga cukup bahagia karena putranya itu akhirnya memanggilnya Ayah.
“Yayah emma,” rupanya Aksara pun mengikuti dan memanggil Ayah Bisma kali ini.
Kanaya kemudian tersenyum, walaupun matanya masih berkaca-kaca, “Bunda sudah lama menunggu kamu memanggil Bunda. Wah, hari ini rasanya Bunda sangat seneng deh. Pelan-pelan saja belajarnya Aksara, nanti makin lama Mas Bayi makin pinter ya. Jadi temen ngobrol dan temen curhatnya, Bunda,” ucap Kanaya lagi.
Seolah sependapat dengan istrinya, Bisma pun juga mengangguk, “Iya, benar … pelan-pelan saja ya Aksara, nanti lama-lama kosakatanya bertambah kok. Wah, kata pertama kamu Ayah dan Bunda ya,” ucapnya kali ini dengan senyuman bahagia yang tercetak di wajahnya.
Memang biasanya bayi akan mengucapkan kata pertamanya adalah Ayah, Bunda, Mama, atau Papa. Hal itu karena kata itu adalah mudah diucapkan, selain itu bayi hampir setiap hari mendengar Mama dan Papanya atau Ayah dan Bundanya yang sering mengucapkan kata itu di telinganya. Sehingga kata itu terekam di dalam otak bayi, saat kemampuan berbicara mulai terasah, maka kata pertama yang mereka ucapkan adalah Mama, Papa, Ayah, dan Bunda. Selain itu, kata itu juga mudah dilafalkan, ibarat kata bayi tinggal membuka mulut saja sudah terdengar huruf vokal a.
“Aku senang banget sih, Mas … dibangunin Aksara dan dipanggil namaku,” ceritanya kepada Bisma kali ini. “Sering panggil Bunda, ya Sayang … hanya kamu panggil aja, Bunda sudah bahagia banget,” lanjut Kanaya kali ini.
__ADS_1
Bisma tertawa mendengar ucapan istrinya itu, “Jadi, sekarang lebih senang dipanggil Aksara ya daripada dipanggil Ayahnya Aksara?” godanya kali ini kepada Kanaya.
“Ya enggak gitu juga, Mas … dipanggil Ayahnya Aksara aku juga seneng kok. Ayah Bisma cintaku,” jawabnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu Bisma.
Bisma pun menggerakkan dagunya di atas kepala Kanaya, begitu gemas rasanya dengan istrinya itu. “Iya, Bunda Naya, Cintanya Ayah,” sahut Bisma kali ini.
Perlahan Kanaya menengadahkan wajahnya guna melihat Bisma, “Aku enggak sabar bisa melihat kejutan-kejutan lainnya dari Aksara. Mereka bilang, setiap tahap tumbuh kembang bayi itu penuh kejutan, jadi aku ingin melihat semuanya itu dan terkejut dengan penuh syukur dan bahagia,” ucapnya kali ini.
“Iya, Sayang … sama. Kita lihat kejutan-kejutan lainnya dari Aksara ya, semoga saja Aksara tumbuh kembangnya makin optimal. Oh, iya … kalau menstimulasi kemampuan bicaranya, saat mata bayi menatap kita, Sayang. Lebih cepat mereka merespons dan mengikutinya, selain itu bacakan buku juga dan ajak bercerita,” pesan Bisma kali ini kepada Kanaya.
Dengan cepat Kanaya pun mengangguk, “Iya, siap Pak Dokter … aku juga seperti itu kok, kapan hari itu bacain buku Aksara sampai bibirku pegal,” akunya karena habis membacakan hampir tiga buah buku saat menemani Aksara tidur.
Bisma kemudian tertawa, “Enggak apa-apa, kan buat anak. Nanti kalau bibirnya pegal, aku pijitin bibirnya,” celotehnya dengan mengerlingkan matanya kepada Kanaya.
Sontak Kanaya pun terkekeh geli, “Isshhs, bisa saja sih Mas, pijitin bibir gimana caranya coba?” tanya yang merasa jawaban dari suaminya itu memang aneh-aneh.
“Bisa, bisa kok … pakai bibir aku lah, di-vacuum sama bibirku,” jawabnya dengan turut terkekeh. Membayangkan rasanya vacuum kissing dengan istrinya sendiri.
“Tuh kan, pasti mikiran yang enggak-enggak … ya sudah, aku mau mandiin Aksara dulu. Yuk, Aksara mandi dulu yuk,” ucap Kanaya yang segera menggendong Aksara dan membawanya ke kamar mandi.
“Nda … Yayah,” ucap Aksara lagi yang seolah kembali memanggil Ayah dan Bundanya.
Sembari menggendong Aksara, Kanaya pun mengangguk, “Iya, mandi dulu sama Bunda ya. Nanti kalau udah, Aksara main dulu sama Ayah … Bunda masakkan buat makannya Aksara dulu. Okey?”
__ADS_1
Sementara Aksara di sana justru kembali berceloteh dan memanggil nama Bunda. Rasanya, momen hari ini akan selalu Kanaya ingat, kali pertama putranya memanggilnya Bunda. Sungguh, Kanaya benar-benar terharu sekaligus bahagia. Kendati demikian, Kanaya terus berharap bahwa kosakata Aksara kian bertambah dan bisa mengucapkan kata-kata sederhana lainnya. Dia tidak keberatan untuk menstimulasi kemampuan berbicara Aksara, asalkan Aksara akhirnya bisa berbicara dengan benar.