Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Bertemu Orang Tua Bisma


__ADS_3

Mengikuti langkah kaki Bisma memasuki rumahnya, jantung Kanaya seolah berdegup dengan begitu kencangnya. Kakinya enggan untuk melangkah, tetapi dua kaki Bisma seolah yang terus menuntunnya untuk bisa memasuki rumah yang terlihat begitu asri itu. Rumah dengan pekarangan yang berisi berbagai jenis tanaman hias dan sebuah kolam ikan di tepi taman itu menjadikan rumah tersebut terlihat begitu asri.


“Sore Ayah, Bunda …,” sapa Bisma kepada Ayah dan Bunda yang ternyata saat itu sudah duduk di ruang tamu. Pasangan paruh baya yang terlihat akur satu sama lain, Tirta Pradana adalah ayah dari Bisma, seorang pengusaha dan juga rekan bisnis dari Jaya Corp, dan juga Hesti Pradana adalah bunda dari Bisma yang berprofesi sebagai seorang Bidan. Dari sini terlihat bahwa Bisma bisa menjadi seorang Dokter lantaran Bundanya adalah seorang Bidan atau Dolla.


“Selamat sore Om, Tante …,” sapa Kanaya kepada kedua orang tua Bisma tersebut.


“Ya silakan masuk. Mari Mbak, silakan duduk …,” dengan ramah Bunda Hesti mempersilakan Kanaya untuk duduk.


Sembari menghela napasnya, Kanaya lantas menjabat tangan kedua orang tua Bisma satu per satu, kemudian duduk di hadapan kedua orang tua Bisma. Perasaannya campur aduk saat ini. Pengalaman pertama bagi Kanaya untuk berhadap-hadapan dengan orang tua Bisma.


Setelah semuanya duduk, Bisma lantas mulai membuka suaranya, “Ayah … Bunda, dia adalah Kanaya, wanita yang selama ini Bisma sukainya. Bisma ingin mengenalkan Naya secara langsung kepada Ayah dan Bunda, dan Bisma ingin menjalin hubungan yang serius. Jika Ayah dan Bunda memberikan restu, usai program spesialisasi Bisma selesai, Bisma ingin menikahi Naya.”

__ADS_1


Rupanya Bisma memang tidak main-main dengan ucapannya, pria itu dengan tegas mengutarakan keinginannya untuk menikahi Kanaya usai dia menyelesaikan program spesialisasi di Singapura. Ucapan Bisma pun seolah membuat kedua orang tuanya tertegun dan bergantian menatap Bisma dan juga Kanaya.


“Anak Bunda, yang baru pertama kali ini membawa seorang gadis ke rumah, rupanya langsung ingin menikah. Kamu sudah benar-benar serius. Benar begitu Mbak Naya? Jadi Mbak Naya ini pacarnya Bisma? Bekerja di mana Mbak?” Tanya Bunda Hesti yang sudah tentu ingin mengenal terlebih dahulu gadis yang saat ini dibawa oleh anaknya ke rumah itu.


Kanaya pun tersenyum, “saya bekerja di Jaya Corp, Tante … di waktu luang, saya juga menulis novel digital untuk sekadar menyalurkan hobbi.” jawab Kanaya perlahan. Rasanya jika hanya sebatas berkenalan, cukup baginya untuk menjelaskan pekerjaannya saja. Tidak perlu menjelaskan terlalu detail pikirnya.


“Mbak Naya ini mantan menantunya Pak Jaya Wardhana bukan?” tanya Ayah Tirta sembari menatap Kanaya.


Pertanyaan yang membuat Kanaya seketika menundukkan kepalanya. Ada rasa takut tertolak dan juga rendah diri yang membuat Kanaya merasa tidak layak untuk menjadi bagian dari keluarga Pradana. Gadis itu pun kemudian mengangguk pias, “ya benar Om.” jawab Kanaya dengan lirih.


Rupanya sebelum Kanaya menjawab, Bisma lah yang terlebih dahulu bersuara, “benar Ayah dan Bunda … status Kanaya memang seorang janda, tetapi bagaimana lagi hati Bisma justru tertambat pada Kanaya. Kami sudah mengenal sejak lama, kami saling mengenal sejak di bangku SMA. Jadi Bisma sangat mengenali Kanaya, lagipula Kanaya adalah wanita yang baik. Tidak semua janda berkonotasi negatif kan.” sebuah jawaban yang menjelaskan bagaimana Bisma tampak menekankan bahwa Kanaya adalah wanita yang baik, dan dia menekankan bahwa tidak semua janda berkonotasi negatif.

__ADS_1


Bunda Hesti pun tersenyum menatap Bisma dan Kanaya bergantian, “Bunda sendiri tidak mempermasalahkan status kamu sebagai seseorang yang pernah gagal dalam membina pernikahan, Mbak Naya … itu semua hanya masa lalu kan. Gagal sebelumnya, tidak bisa dijadikan tolok ukur akan gagal pada hubungan yang selanjutnya. Semua wanita, baik gadis mau pun janda memiliki kesempatan yang sama kan.” ucap Bunda Hesti yang terlihat bijaksana dan seolah membuka tangannya untuk menerima tangannya.


Usai mengucapkan itu, perlahan Bunda Hesti menatap suaminya yang duduk di sebelahnya, “Ayah juga jangan begitu, Yah … Mbak Naya nya kan jadi tidak enak hati kalau Bapak tiba-tiba menanyakan masa lalunya. Sekalipun Ayah sudah tahu, karena Ayah kan mitranya Bapak Jaya,” dengan lembut Bunda Hesti juga menegur suaminya itu, supaya tidak terang-terangan menanyakan perihal masa lalu Kanaya.


Tampak Ayah Tirta seketika berdehem, “Ehem, bukannya Ayah bermaksud begitu. Ayah cuma bertanya saja kok Bunda?” Kemudian pria paruh baya itu, menatap Kanaya, “maaf ya Mbak Naya … bukan maksud Om bertanya tentang masa lalu kamu. Lagipula semua itu sudah menjadi masa lalu kan? Om sendiri, sama seperti Bunda, tidak masalah jika Bisma memilih kamu.”


Wajah Bisma yang semula tegang, sontak menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, sementara Kanaya hanya tampak menghela napasnya. Gadis itu hanya tersenyum kecil dan menundukkan wajahnya. Bisma sangat tahu, mungkin Kanaya merasa tidak nyaman kali ini, oleh karena itu mungkin tidak perlu berlama-lama, Bisma harus meyakinkan Kanaya lagi bahwa orang tuanya tidak mempermasalahkan statusnya yang adalah seorang janda.


“Ayah … Bunda, ini tadi Bisma langsung mengajak Kanaya kemari usai dia bekerja, Bisma rasa, sekarang Bisma cuma bisa mengenalkan Naya sebentar karena Naya pasti sudah kecapean seharian. Nanti di lain waktu, Bisma akan mengajak Naya untuk ke rumah lagi,” ucapnya kemudian berdiri dan menggandeng tangan Kanaya, “ayo Nay … aku antar pulang.”


Kanaya pun ikut berdiri kemudian, berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tua Bisma, gadis itu menampakkan senyumannya sekalipun hatinya masih belum yakin. Yang pertama, Kanaya belum yakin dengan dirinya sendiri, ada rasa trauma dengan pernikahan yang membuatnya seolah tidak siap memulai lembaran yang baru. Terlebih pernikahannya terdahulu penuh duka dan air mata, ada rasa takut dari sisi Kanaya untuk memulai lagi awal yang baru. Yang kedua, Kanaya masih belum yakin bahwa orang tua Bisma akan benar-benar menerimanya. Sekalipun Ayah Tirta dan Bunda Hesti mengatakan bahwa mereka tidak mempermasalahkan status Kanaya, tetapi pertanyaan yang sempat diucapkan Ayah Tirta pun membuat Kanaya seolah waspada.

__ADS_1


“Kamu enggak apa-apa kan Nay?” tanya Bisma kepada Kanaya. Dia tahu persis bahwa perubahan raut wajah Kanaya mungkin berkaitan erat dengan perubahan situasi hatinya. Pertanyaan yang ditanyakan oleh Ayahnya mungkin terlalu sensitif bagi wanita yang pernah gagal dalam berumah tangga.


Kanaya hanya menggelengkan kepalanya, “enggak kok … aku gak apa-apa.” sekalipun bibirnya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi Bisma sangat yakin bahwa wanita yang kini duduk di sisinya dalam satu mobil itu tengah memikirkan sesuatu.


__ADS_2