Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Kabar dari Rumah Tahanan


__ADS_3

“Selamat siang, benarkah ini adalah Bapak Jaya Wardhana?”


Terdapat sebuah panggilan telepon yang masuk ke dalam nomor telepon Papa Jaya siang itu.


Papa Jaya yang menerima panggilan telepon itu pun perlahan mengangguk, “Ya, saya Jaya Wardhana. Ada apa?” tanyanya.


“Begini Pak Jaya, kami dari Rumah Tahanan mengabarkan jika anak Bapak yaitu Saudara Darren tengah sakit dan sekarang dibawa Rumah Sakit,” kabar dari salah satu petugas rumah tahanan tersebut.


Mendengar kabar bahwa Darren sakit, sebagai seorang Papa tentu saja Papa Jaya panik dan seketika memikirkan bagaimana keadaan putranya itu.


“Dirawat di Rumah Sakit mana Pak? Bisakah pihak keluarga menemuinya?” tanya Papa Jaya kepada petugas rumah tahanan yang tengah meneleponnya.


“Bisa dijenguk Pak, hanya saja tetap mengikuti aturan menjenguk pasien. Selain itu, tetap ada petugas dari rumah tahanan yang menjaganya,” penjelasan dari petugas rumah tahanan tersebut.


Papa Jaya tampak menghela napas panjang, dia sungguh mengira bahwa anaknya akan dirawat di Rumah Sakit.


“Apakah bisa dirujuk ke rumah sakit yang lebih baik?” tanya Papa Jaya lagi.


“Tidak Pak, karena semua sudah diatur oleh Rumah Tahanan. Lagipula jika ada pasien yang sakit dan harus dilarikan ke Rumah Sakit maka seluruh biaya biaya perawatan akan dibebankan kepada negara,” penjelasannya lagi.


Memang benar yang disampaikan petugas Rumah Tahanan itu, bahwa seorang narapidana apabila sakit bisa dilarikan di Rumah Sakit yang berada di luar Rumah Tahanan atau Lapas, semuanya sudah diatur dalam Undang Undang. Dan, tahanan yang sakit juga seluruh biaya yang dikeluarkan oleh pihak Rumah Sakit akan dibebankan pada negara.


Mendengar penjelasan dari petugas Rumah Tahanan, Papa Jaya pun mengangguk. Ada rasa menyesal dalam hatinya karena saat anaknya sakit pun, dia ingin mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan Darren, tetapi tidak bisa. Yang bisa dia lakukan adalah tetap mengikuti apa yang sudah diatur oleh Rumah Tahanan berdasarkan Undang Undang.


***


Siang harinya …


Papa Jaya dan Mama Sasmita memutuskan untuk mengunjungi Rumah Sakit yang disebut oleh Rumah Tahanan tersebut untuk mengunjungi Darren. Keduanya sama-sama kalut, sebenarnya apa yang membuat Darren hingga dilarikan ke Rumah Sakit.

__ADS_1


Begitu sudah sampai di Rumah Sakit, keduanya mencari kamar Darren sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh petugas rumah tahanan sebelumnya.


“Boleh kami masuk?” tanya Mama Sasmita yang tampak begitu khawatir dengan keadaan Darren.


Untunglah saat itu, petugas dari rutan yang menjaga Darren pun memperbolehkan Mama Sasmita dan Papa Jaya untuk masuk.


“Darren,” sapa Mama Sasmita melihat putranya yang tengah berbaring di sebuah brankar. Sebuah selang infus terpasang di tangannya. Wajah putranya itu terlihat begitu pucat.


“Kenapa bisa begitu, Darr?” tanya Mama Sasmita lagi yang kali ini tidak bisa menahan air matanya melihat Darren yang terbaring lemah di atas brankar itu.


Hingga tidak lama, pintu terbuka dan juga seorang perawat masuk untuk mengecek kondisi Darren.


“Permisi, kami akan kembali memeriksa kondisi pasien,” ucap perawat itu dengan membawa beberapa obat yang akan disuntikkan melalui selang infus.


Merasa bahwa perawat tersebut datang di saat yang tepat, maka Mama Sasmita bertanya kepada perawat tersebut. “Sebenarnya anak saya sakit apa, Sus?” tanyanya.


“Pasien mengalami asam lambung. Terjadi peradangan dari saluran tenggorokan menuju lambung atau esofagus,” jelas sang perawat kepada Mama Sasmita.


Setelah perawat keluar, Mama Sasmita menatap putranya itu dan menggenggam tangannya. Di saat yang sama, kelopak mata Darren tampak mengerjap. Kedua matanya perlahan-lahan terbuka.


“Ma,” sapanya dengan suara yang terdengar lemah.


Mama Sasmita kemudian mengangguk, “Iya, ini Mama … Papamu juga berada di sini,” jawab Mama Sasmita yang memberitahukan bahwa bukan hanya dirinya yang datang. Tetapi Papanya juga turut menjenguknya.


Perlahan mata Darren beredar guna bisa melihat sosok Papanya. Saat matanya menatap sosok Papanya yang tengah terduduk di sofa, Darren menghela napasnya, tidak mengira bahwa Papanya mau menemuinya. Dia mengira bahwa Papanya sangat membencinya dan enggan untuk bertemu lagi dengannya, sekarang setelah sekian lama barulah dia bisa menatap sosok Papanya itu.


“Kenapa kamu bisa terkena asam lambung? Hati-hati, Darren. Jangan menyepelekan asam lambung. Sebab, beberapa orang tidak bisa bertahan bahkan mereka meninggal karena asam lambung,” ucap Mama Sasmita yang memperingatkan anaknya itu.


Perlahan Darren mengangguk, situasi seperti ini yang dia rindukan. Setahun lebih dirinya tinggal di balik jeruji besi, ada hari di mana dia sangat merindukan orang tuanya, merindukan kehidupannya yang dulu. Diperhatikan oleh sang Mama seperti ini, benar-benar membuat pria itu bahagia, Sekalipun tidak terucap, tetapi Darren sangat bahagia.

__ADS_1


“Iya Ma,” jawabnya singkat. Tubuhnya masih terasa lemah, bahkan sekadar berbicara pun rasanya sakit dan tidak enak.


Keheningan kembali menyelimuti ruangan tempat Darren dirawat itu, “Ma, Darren mendapat pengurangan masa tahanan,” ungkapnya kini kepada Sang Mama.


Mendengar apa yang diucapkan Darren, Mama Sasmita pun menatap wajah putranya dengan sedikit jambang yang mulai tumbuh di dagu putranya itu, “Itu bagus, bagaimana kamu bisa mendapatkan pengurangan masa tahanan?” tanya Mama Sasmita.


“Remisi saat hari Idul Fitri lalu, Ma … Darren berharap bisa segera keluar dari sana. Darren ingin memulai hidup baru.” Darren mengungkapkan isi hatinya, dia ingin memulai hidup baru, dia benar-benar menginginkan sebuah kebebasan. Sayangnya, kebebasan itu masih begitu jauh dari jangkauannya. Masih ada masa tahanan sekian tahun lagi yang harus dia lakukan.


Papa Jaya pun hanya terdiam, tidak merespons ucapan Darren. Dia sangat tahu bahwa dirinya juga tidak membantu Darren, membiarkan sang anak untuk menanggung akibat dari sebuah kesalahan yang dia lakukan. Dalam benaknya, Papa Jaya ingin bahwa Darren akan belajar sesuatu dari hidupnya. Pelajaran berharga yang selama ini tidak dia dapatkan, dan berharap bahwa putranya itu akan menjadi sosok yang lebih baik lagi.


“Syukurlah, Darren … setidaknya hukuman kurungan penjaramu kian ringan,” ucap Mama Sasmita dengan masih menggenggam tangan putranya itu.


Darren pun mengangguk, “Iya Ma … Darren berharapnya bisa segera keluar,” jawabnya. Sejenak pria itu diam, sebenarnya ada pertanyaan yang dia tanyakan, tetapi menyadari keberadaan Papanya ada rasa enggan untuk bertanya kepada Mamanya. Akan tetapi, didesak dengan rasa penasaran dan ingin tahu, maka kali ini Darren memaksakan dan sekaligus memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Mamanya.


“Ma, apa Kanaya sudah melahirkan ya Ma?” tanyanya perlahan.


Mama Sasmita cukup kaget dengan pertanyaan dari Darren, tidak menyangka bahwa putranya yang tengah terbaring sakit itu masih menanyakan keberadaan Kanaya dan menanyakan apakah Kanaya sudah melahirkan.


Enggan untuk menjawab, Mama Sasmita sejenak melirik pada sosok suaminya terlebih dahulu, hingga akhirnya sebuah anggukan samar diberikan Mama Sasmita, “Itu benar.”


Darren menghela napasnya, rupanya kabar yang diberikan Sandra bahwa Kanaya telah melahirkan benar adanya. Kini, pria itu memikirkan bahwa keluarga Kanaya benar-benar bahagia, terlebih dengan kelahiran bayi tersebut.


Ada rasa sakit yang seolah menghantam dadanya, dia yang kesakitan dan harus mendekam di balik jeruji besi, berusaha setengah mati melupakan rasa yang dia miliki untuk Kanaya. Perasaan yang muncul dengan sangat terlambat, tetapi waktu berjalan hampir 2 tahun dan rasa itu seolah masih tersisa di hatinya. Datangnya Sandra pun, seolah tidak benar-benar mengikis rasa itu.


Info:


Jadi, seorang narapidana atau tahanan bisa dilarikan di rumah sakit apabila dalam keadaan sakit serius, dan seluruh beban perawatan dan pengobatan akan dibebankan oleh negara. Juga, akan ada petugas yang menjaga narapidana tersebut selama perawatan, hal ini dilakukan untuk menyiasati supaya tahanan tidak kabur.


Diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58/1999 tentang Syarat-Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Wewenang, Tugas, dan Tanggung Jawab Perawatan Tahanan.

__ADS_1


Happy Reading^^


__ADS_2