Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Welcome To The World Baby A!


__ADS_3

Minggu ini usia kehamilan Kanaya tepat berusia 39 minggu. Sebagaimana advice yang sudah diberikan oleh Dokter Indri sebelumnya adalah mereka akan melakukan tindakan operasi Caesar karena posisi janin Kanaya yang melintang sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan persalinan secara normal.


Usai mendengar advice dari Dokter Indri, Kanaya sendiri seolah mempersiapkan diri dengan membuka beberapa artikel mengenai persalinan Caesar. Selain itu, dia juga banyak bertanya kepada suaminya.


"Jadinya Caesar, Mas ..." ucap Kanaya yang disertai dengan helaan napasnya.


Bisma seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu, perlahan pria itu merangkul bahu istrinya. "Tidak apa-apa Sayang ... kamu masih belum ikhlas ya?" tanyanya lagi.


"Bukannya enggak ikhlas, tetapi ada beberapa momen yang enggak bisa aku rasakan seperti gimana momen pembukaan dari satu dari sepuluh yang katanya sakit banget itu. Juga kan operasi Caesar kan ya lebih cepat kan durasi operasinya dibandingkan dengan operasi normal." cerita Kanaya kepada suaminya itu.


Bisma mengangguk, "Iya ... sekarang ada operasi Caesar dengan metode ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) yang memiliki keunggulan minim rasa sakit dan proses penyembuhannya lebih cepat. Kamu nanti memakai yang ERACS aja." ucap Bisma yang memberitahu metode operasi Caesar yang lebih cepat penyembuhannya dan juga tidak terlalu menimbulkan rasa sakit.


"Yang baik saja Mas ... aku ngikut aja. Doakan aku ya Mas, tidak dipungkiri. Aku pun takut." akunya bahwa dalam dirinya pun merasakan takut menjelang operasi Caesar yang harinya sudah ditentukan keduanya bersama pihak Dokter Indri itu.


***


Di Ruang Operasi ...


Sejak semalam Kanaya sudah berpuasa sebelum dilakukan operasi Caesar pada hari ini. Seperti yang dianjurkan oleh suaminya, kali ini Bisma mengatakan kepada Dokter Indri bahwa mereka akan memilih metode ERACS di mana Kanaya tidak akan merasa sakit berlebihan, selain itu Kanaya bisa lebih cepat pulih.


"Mas, aku takut ..." ucap Kanaya lagi di dalam ruangan operasi itu.


Wanita hamil itu sudah berbaring dan mengenakan baju pasien. Pun sama dengan Bisma yang saat ini bersiap dengan menggenggam tangan istrinya itu. Sebenarnya Bisma pun takut, ini adalah kali pertama dirinya mendampingi istrinya melahirkan. Tetap saja hatinya bergejolak, perutnya juga terasa mual. Akan tetapi, dia harus mengalahkan semua rasa itu dan menjadi sosok yang bisa mendampingi istrinya.


Perlahan Bisma menggenggam tangan Kanaya dan mencium kening istrinya itu. "Ada aku, Sayang ... aku temani." ucapnya dengan melantunkan doa-doa dalam hatinya untuk kelancaran operasi yang akan segera berlangsung.

__ADS_1


Setelahnya, Dokter Indri bersama tim medis dan beberapa perawat pun masuk. Mulailah sebuah kain berwarna hijau direntang menutupi bagian perut Kanaya. Kemudian mulailah perawat memasang Kateter ke dalam kandung kemih guna mengambil urine. Jarum infus atau intravena juga dimasukkan ke dalam pembuluh darah di tangan untuk memasukkan cairan infus dan obat-obat yang akan dimasukkan melalui infus.


Mulailah Dokter Indri melakukan anestesi epidural (suntikan bius yang disuntikkan langsung ke sumsum tulang belakang) yang akan menimbulkan mati rasa dari bagian perut hingga kaki saja. Sementara untuk perut ke atas sampai kepala tetap dalam kondisi biasa.


"Mulai kita lakukan prosedur Caesarnya ya Dok ..." Dokter Indri berbicara kepada Dokter Bisma.


Pria itu kemudian mengangguk dan kian menggenggam erat tangan istrinya yang terasa begitu dingin itu.


"Sabar ya Sayang ... tidak lama lagi." ucapnya memenangkan Kanaya yang sudah berlinangan air mata.


Sementara di bawah sana, Dokter Indri dan tim medis mulai membersihkan area perut Kanaya dan membuat sayatan vertikal mulai dari bawah pusai sampai tulang ke-maluan. Kemudian Dokter Indri membuka rongga perut Kanaya dengan membuat sayatan satu per satu pada setiap lapisan perut.


Setelah rongga perut Kanaya terbuka, mulailah dibuat sayatan horizontal di bagian bawah rahim. Hingga perlahan rahim itu telah terbuka. Perlahan bagaimana bayi itu masih terbungkus dengan air ketuban dan plasentanya terlihat. Kemudian, perlahan Dokter Indri mengambil bagian tersebut dari bagian perut Kanaya dan memecahkan air ketubannya di luar, setelahnya mulai terdengarlah suara tangisan bayi yang begitu kencang.


"Seperti hasil USG ya Bu Kanaya dan Dokter Bisma, debaynya cowok." ucap Dokter Indri mengangkat bayi laki-laki di mana badannya masih dipenuh dengan cairan ketuban, lendir, dan beberapa darah di bagian mulut dan hidung.


Bisma tak kuasa menahan air matanya. Pria itu benar-benar tak kuasa menahan rasa haru dan bahagia yang seolah membuncah di dalam dadanya. Detik pertama dia memandang buah hatinya, itulah momen di mana pria itu menjadi seorang Ayah.


Sementara Kanaya pun turut menangis sesegukan. Rasanya dia begitu bersyukur kepada Allah yang menganugerahkan seorang bayi laki-laki yang melengkapi hidupnya bersama Bisma.


"Baby kita Sayang ... cowok." ucap Bisma dengan menangis dan menciumi kening istrinya itu.


"Iya ... dia cowok, Mas." jawab Kanaya.


Di saat sepasang orang tua baru itu haru dalam tangis dan kebahagiaan. Dokter Indri mulai membersihkan mulut dan hidung bayi terlebih dahulu, kemudian barulah tali pusatnya dipotong. Dilanjutkan dengan Dokter Indri mengambil plasenta dari dalam rahim Kanaya.

__ADS_1


Setelah bayi itu dibersihkan dari lendir yang menempel di badannya dan darah di bagian hidung dan mulutnya, Dokter Indri menaruh bayi itu di dada Kanaya untuk melakukan Imisiasi Menyusui Dini (IMD).


"Babynya Bu Kanaya ... cowok kayak Ayahnya." ucap Dokter Indri dengan tersenyum.


Kanaya menangis dengan air matanya yang terus terurai, tak usai menahan haru dan bahagia saat buah hatinya tengah berada di atas dadanya dengan suara tangisannya yang begitu kencang.


Bisma menautkan jari telunjuknya dalam genggaman jari-jemari buah hatinya itu.


"Welcome to the World, Buah hatiku ..." ucap pria itu dengan menitikkan air matanya.


Rupanya baby laki-laki itu bisa menemukan sumber kehidupan pertamanya, dia belajar menghisap dan mendapatkan Colostrum yang sangat baik untuk sistem imun dan perkembangannya.


“Belajar minumnya sudah pinter nih anak Ayah …” celetuk Bisma dengan tersenyum. Semua momen pertama yang dia kali ini benar-benar menjadi momen yang tidak akan pernah dia lupakan.


Kanaya kemudian mengangguk, “Iya … sudah belajar menemukan sumber kehidupannya. I Love U, Nak …” ucap Kanaya dengan penuh haru.


Sementara saat bayi laki-laki itu belajar untuk kali pertama dalam proses kehidupannya, di bawah sana Dokter Indri kembali menjahit luka sayatan di perut Kanaya.


“Jadi nama babynya sapa nih Dokter Bisma dan Bu Kanaya?” tanya Dokter Indri sembari menggerakkan jarum dan benang dari gelantin di area perut Kanaya.


Bisma dan Kanaya kemudian saling pandang. “Namanya siapa Mas?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.


“Aksara … Aksara Adhinata Pradana.” ucap pria itu dengan menatap dengan lembut bayi laki-laki yang masih berada di atas dada istrinya itu.


“Nama yang indah … hai Aksara … putranya Ayah dan Bunda.” ucap wanita itu dengan begitu lembut. Tangisan yang semula menghiasi wajah ayunya kini berganti dengan senyuman yang seolah tak pernah pudar menatap bayi laki-laki yang merupakan buah hatinya, buah cintanya bersama suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2